Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengukuran Erosi Tanah di Bawah Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr) pada Tiga Tingkatan Umur Tanaman di Kecamatan Lintau Buo Utara, Sumatra Barat Via Permata Sari; Yulnafatmawita Yulnafatmawita; Gusmini Gusmini
Agrikultura Vol 32, No 1 (2021): April, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i1.32555

Abstract

Erosi tanah dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan dan lingkungan. Pengukuran erosi tanah sudah banyak dilakukan dengan tujuan untuk menentukan banyaknya tanah yang terangkut erosi sehingga dapat dilakukan pencegahan untuk meminimalisir terjadinya erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya erosi pada lahan yang ditumbuhi tanaman aren (Arenga pinnata Merr) dengan tiga tingkatan umur tanaman di Kecamatan Lintau Buo Utara, Sumatra Barat. Penelitian dilakukan dari bulan November sampai Desember 2020 yang dimulai dengan melakukan survei pendahuluan di lapangan yaitu meninjau dan menentukan lokasi serta melakukan penentuan titik-titik pengamatan pada masing-masing penggunaan lahan. Pengukuran erosi tanah dilakukan dengan metode petak kecil pada lahan aren yang berbeda umurnya, serta dari lahan yang memiliki vegetasi rumput sebagai pembanding. Disamping tanah tererosi, beberapa sifat fisika tanah juga diamati, diantaranya tekstur, bahan organik, permeabilitas, bobot isi, dan porositas tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi pada lahan yang ditumbuhi aren lebih rendah dari lahan semak belukar. Besarnya tanah tererosi pada padang rumput mencapai 0,99 ton/ha, sedangkan pada lahan di bawah tanaman aren yaitu 0,91, 0,62 and 0,95 ton/ha pada tanaman berumur 6, 15, dan 25 tahun, secara berturut-turut. Hal ini didukung oleh sifat fisika tanah yang lebih baik di bawah lahan yang ditumbuhi aren, yang dicirikan oleh kandungan bahan organik yang tinggi (14,10-17,61%), bobot volume tanah yang rendah (0,44-0,63 g/cm3), total ruang pori tanah yang tinggi (76-83%), dan permeabilitas yang agak cepat (8,23-10,12 cm/jam). Tekstur tanah didominasi oleh partikel halus (debu dan liat) dengan kelas tekstur liat pada semak belukar dan liat berdebu pada lahan aren.
PENGUKURAN INTERSEPSI CURAH HUJAN PADA TANAMAN AREN (Arenga pinnata. Merr) DI KECAMATAN LINTAU BUO UTARA, SUMBAR Via Permata Sari; Yulnafatmawita Yulnafatmawita; Gusmini Gusmini
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 6, No 1 (2021): Jurnal AGROHITA
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v6i1.3421

Abstract

Intersepsi curah hujan merupakan jumlah air hujan yang tertangkap oleh tajuk tanaman yang kemudian diuapkan lagi ke atmosfer melalui proses evaporasi atau proses sublimasi. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk untuk mengetahui besarnya nilai intersepsi curah hujan pada tanaman aren (Arenga pinnata Merr) pada 3 tingkatan umur tanaman di Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Penelitian dimulai dengan melakukan survei pendahuluan di lapangan yaitu meninjau dan menentukan lokasi. Pengukuran intersepsi dilakukan dengan pengukuran air lolos tajuk dan aliran batang tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur tanaman memberikan pengaruh terhadap intersepsi curah hujan yang terjadi. Secara umum intersepsi meningkat seiring dengan peningkatan umur tanaman tetapi mengalami penurunan kembali pad umur tanaman yang sudah tua. Jumlah air yang terntersepsi tertinggi terdapat pada umur tanaman 15 tahun (160.41 mm), dengan aliran batang terendah (0.28 mm) dan air hujan yang lolos tajuk tertinggi sebanyak 767.88 mm.curah hujan memiliki hubungan terhadap besarnya nilai aliran batang, lolos tajuk dan intersepsi yang diperoleh.
Keragaan Morfologi dan Fisiologi Seledri pada Pemberian Naungan dan Ekstrak Taoge Trizayuni, Riskia; Warnita; Ardi; Zafitra; Via Permata Sari
Jurnal Agrosains dan Teknologi Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.v10i1.26978

Abstract

Celery offers a distinctive flavor to culinary dishes and has biopharmaceutical potential in addressing various health issues. Efforts to obtain high-quality celery in terms of appearance and content continue to be made to meet human needs. The objective of the study is to determine the morphological and physiological responses of celery plants to shade treatment and mung bean sprout extract. The experimental design used a completely randomized design with 2 factors, namely the provision of shade (without shade, 65% shade, 75% shade, and 85% shade) and the provision of bean sprout extract (without bean sprout extract, 10% bean sprout extract, and 30% bean sprout extract). Each treatment was repeated 3 times. Data were analyzed by analysis of variance and Duncan's New Multiple Range Test (5%). Results indicated that 85% shading combined with 30% mung bean sprout extract yielded the highest stomatal density. The same extract concentration also produced the highest chlorophyll a and total content. In contrast, 65% shading resulted in the largest leaf area of celery plants.
Increasing the Growth and Yield of Green Bean Plants (Vigna radiata L.) by Providing Fly Ash and Organic Materials in Ultisol Soil Nursiani Lubis; Idwar; Fetmi Silvina; Via Permata Sari; Faizul Luthfi
JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Agronomi Tanaman Tropika (JUATIKA) Vol. 8 No. 1 January 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/juatika.v8i1.4855

Abstract

Mung bean (Vigna radiata L.) is an important source of plant-based protein; however, its production has been declining. Efforts to increase mung bean production can be achieved through land extensification and intensification. Extensification can be implemented by utilizing Ultisol soils, while intensification can be accomplished through the application of fly ash and organic amendments. This study aimed to evaluate the effects of fly ash and organic amendments on the growth and yield of mung bean (Vigna radiata L.) grown on Ultisol soil. The experiment was conducted at the experimental field and Soil Laboratory of the Faculty of Agriculture, Riau University, using three fly ash rates and four organic amendments. Data were statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's New Multiple Range Test (DNMRT) at the 5% significance level, using SAS software. Observed parameters included the number of filled pods, percentage of filled pods, dry seed weight per plant, root volume, and percentage of effective root nodules. The results showed that fly ash application increased soil pH and organic carbon content while reducing exchangeable aluminum (Al-dd). The application of cattle manure at different fly ash rates significantly increased the number and percentage of filled pods, dry seed weight per plant, root volume, and the percentage of effective root nodules. Fly ash application at rates of 12.5 and 25 g per polybag did not result in significant differences in the number of filled pods, percentage of filled pods, dry seed weight per plant, or root volume compared to the control, but it did significantly increase the percentage of effective root nodules. Overall, applying 25 g of cattle manure per polybag resulted in higher mung bean growth and yield on Ultisol soil than cattle urine or cattle manure bokashi across various fly ash rates.
PENDUGAAN EROSI TANAH PADA LAHAN KEBUN CAMPURAN DENGAN METODE Universal Soil Loss Equation (USLE) Via Permata Sari
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v10i2.20553

Abstract

Erosi tanah dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan dan lingkungan. Pendugaan erosi tanah sudah banyak dilakukan dengan tujuan untuk menentukan banyaknya tanah yang terangkut erosi sehingga dapat dilakukan pencegahan untuk meminimalisir terjadinya erosi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besarnya erosi pada lahan dengan kemiringan tertentu, dengan memperhatikan berbagai faktor utama yang berpengaruh, yaitu tekstur tanah, kandungan karbon organik (C-organik), tingkat permeabilitas, intensitas curah hujan, derajat kemiringan lereng, jenis tutupan lahan, serta penerapan tindakan konservasi. Penelitian ini dilakukan mulai April 2025 yang dimulai dengan melakukan survei pendahuluan di lapangan yaitu meninjau dan menentukan lokasi serta melakukan penentuan titik-titik pengamatan pada masing-masing penggunaan lahan. Pengumpulan data dan analisis data dilakukan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Riau, prediksi erosi tanah dilakukan dengan menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) sebagai alat prediksi erosi. Berdasarkan hasil analisis, tanah diklasifikasikan sebagai bertekstur lempung berdebu (silt loam), memiliki kandungan C-organik sebesar 3,394% dan bahan organik 5,84% (termasuk kategori tinggi), serta permeabilitas sebesar 3,56 cm/jam (masuk kategori agak lambat). Nilai faktor erosivitas sebesar 6,56 MJ mm/ha/hr menunjukkan potensi erosi yang rendah, sedangkan faktor erodibilitas sebesar 0,2065 tergolong sedang. Nilai LS adalah 1,351, nilai C sebesar 0,200, dan nilai P sebesar 0,75. Dengan parameter tersebut, tingkat erosi aktual dikategorikan ringan, yaitu berkisar antara 15 hingga 60 ton/ha/tahun. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan strategi konservasi seperti penanaman mengikuti kontur, peningkatan kandungan bahan organik tanah, dan menjaga tutupan vegetasi sebagai langkah mitigasi erosi dan upaya menjaga kelestarian produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Karakteristik Fisik Tanah Gambut pada Perkebunan Kelapa di Pulau Burung, Indragiri Hilir, Riau, Indonesia M. Joehari Jamili; Eko Wahyudi; Via Permata Sari; Zafitra Zafitra; Ahmad Imtaz Sumbari; Irwin Mirza Umami
Plumula : Berkala Ilmiah Agroteknologi Vol. 14 No. 1: Januari 2026
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/plumula.v14i1.277

Abstract

Lahan gambut memiliki peran penting dalam ekosistem, namun sangat rentan terhadap degradasi akibat perubahan penggunaan lahan dan kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisik tanah gambut pada penggunaan lahan kelapa dua tipe penggunaan lahan gambut di Pulau Burung, Indragiri Hilir, Riau, yaitu lahan perkebunan kelapa dan lahan gambut terbakar yang telah berkembang menjadi semak belukar. Contoh tanah diambil dari kedalaman 0–20 cm dan 20–40 cm, lalu dianalisis untuk parameter fisik tanah. Analisis deskriptif-komparatif menunjukkan bahwa lahan perkebunan kelapa memiliki sifat fisik tanah yang berbeda, dengan bobot isi rendah (0.18-0.11 g/cm³), kerapatan partikel <1 g/cm³, dan porositas tinggi (80–84%). Sebaliknya, lahan semak belukar bekas terbakar menunjukkan peningkatan bobot isi dan kerapatan partikel. Perbedaan ini mencerminkan dampak dari kebakaran, serta manajemen dari perkebunan kelapa. Hasil penelitian menekankan pentingnya pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan tanpa kegiatan pembakaran.
Kajian Sifat Fisika Tanah Pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Kecamatan Tambang, Kampar Sari, Via Permata; trizayuni, Riskia; Zafitra, Zafitra
Soilrens Vol 24, No 1 (2026)
Publisher : Dept Ilmu Tanah & Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/soilrens.v24i1.72278

Abstract

This study aims to identify and analyze the physical properties of soils in oil palm plantation areas in Tambang District, Kampar Regency. Soil sampling was conducted purposively at depths of 0–30 cm and 30–60 cm, and the samples were analyzed in the laboratory for parameters including permeability, moisture content, bulk density (BD), particle density (PD), total pore space (TPS), organic carbon (C-organic), and organic matter. The results showed soil permeability at the 0–30 cm depth was classified as slow (0.47 cm·hour⁻¹), while at the 30–60 cm depth it was moderately slow (1.026 cm·hour⁻¹). Moisture content decreased from 17.63% in the upper layer to 10.14% in the lower layer. BD and PD values were very low, at 0.2171 g·cm⁻³ and 0.6391 g·cm⁻³ in the upper layer, and 0.1382 g·cm⁻³ and 0.5428 g·cm⁻³ in the lower layer. Total pore space was extremely high, at 66.04% and 74.54%, respectively. Organic carbon and organic matter contents were classified as very high at both depths, with values ranging from 56.77% to 57.1% and 97.8% to 98.44%, respectively. The high organic matter content results in low bulk density, high porosity, and substantial water holding capacity; however, the dominance of macropores in the lower layer leads to relatively lower moisture content. These conditions reflect the characteristics of peat soils, which are highly porous but require proper water and nutrient management to optimize oil palm productivity.