Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

IBU DAN PANTI SOSIAL DALAM FOTOGRAFI POTRET Dani, Dani Aulia Rahman; yusril, Yusril; Sastra, Andar
Matalensa: Journal of Photography and Media Vol 2, No 1 (2022): Matalensa: Journal Of Photography and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/matalensa.v2i1.3209

Abstract

AbstrakIbu adalah orangtua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Seseorang yang memiliki peran sebagai istri, sebagai orang yang melahirkan dan merawat anak-anaknya. Ibu juga merupakan benteng yang dapat menguatkan setiap anggota keluarga. Perbedaan sikap dan tingkah laku yang berbeda dari Ibu (orangtua lanjut usia) dapat memicu ketidakharmonisan dalam keluarga. Hal ini bertentangan dengan keinginan setiap keluarga yang ingin orang tuanya yang sudah berusia lanjut dapat terawat dengan baik. Namun, karena suatu kesibukan maka mereka memilih untuk menitipkan keluarganya yang sudah berusia lanjut di panti jompo yang memang disediakan untuk menampung dan merawat kelompok lansia. Terkait fenomena di atas, pengkarya menggunakan metode EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, Time), yaitu suatu pembiasaan dalam fotografi spontan, membantu pengkarya dalam proses percepatan pengambilan keputusan terhadap momen atau kondisi visual bercerita dan bernilai berita dengan cepat dan lugas serta difungsikan sebagai metode observasi obyek esai foto. Melalui pendekatan metode EDFAT tersebut, pengkarya mendapatkan kesimpulan bahwa dengan Fotografi Potret ibu dan panti sosial  ini menjadi penekanan dalam menciptakan sebuah karya fotografi potret, yaitu bagaimana menciptakan ingat-ingatan dalam fotografi potret dengan menonjolkan pribadi-pribadi sosok Ibu untuk melahirkan kembali peran penting sosok Ibu sesungguhnya. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang peran sosok Ibu kepada anak-anak yang tega menelantarkan Ibunya.
ME+YOU=MET: ACTIVATION OF THE COFFEE SHOP PUBLIC SPACE INTO A THEATER PERFORMING ARTS SPACE WITH AN ENVIRONMENTAL THEATER AND POST DRAMATIC APPROACH Wahyuni, Yeni; Yusril, Yusril
Journal of Learning on History and Social Sciences Vol. 1 No. 7 (2024): Journal of Learning on History and Social Sciences
Publisher : PT ANTIS INTERNATIONAL PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61796/ejlhss.v1i7.934

Abstract

This research examines the transformation of a public coffee shop space into a theater performing arts space by applying environmental theater and post-dramatic theater approaches. Public spaces, especially coffee shops, have great potential as alternative spaces for theatrical performances, given their informal characteristics and ability to attract various levels of society. The environmental theater approach emphasizes interaction between audience and actors as well as non-conventional use of space, thereby blurring the boundaries between stage space and audience space. Meanwhile, post-dramatic theater, which emerged as a response to traditional theater structures, prioritizes elements such as visuals, sound, and movement over linear narrative. The performance Aku+Kamu=Bertemu moves the perspective form of the arena stage and proscenium to the public space, by reading the issues in the public space. The conclusion from the Aku+Kamu=Bertemu performance is that integrating public spaces such as coffee shops into theater performing arts practices can revive the local culture and create a space for dynamic social interaction. This study also offers practical guidance for theater practitioners and coffee shop owners in designing and executing performances that take full advantage of the potential of these public spaces. Thus, this thesis contributes to the development of new strategies in the performing arts and public space management.
Sumpah Suci Anggun Nan Tongga : Indang Piaman Pada Penciptaan Teater Musikal Putra Ridho Ilahi; Yusril Yusril; Dharminta Soeryana
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 1 No 2 (2021): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v1i2.28217

Abstract

Sumpah Suci Anggun Nan Tongga adalah pertunjukan teater yang menggunakan pendekatan bentuk teater musikal dan memanfaatkan pola Indang Piama. Rumusan masalah dari proses penciptaan teater ini adalah bagaimana mewujudkan pertunjukan teater musikal Sumpah Suci Anggun Nan Tongga dengan pola indang piaman. Tujuan dari penciptaan karya ini terbagi menjadi dua, yaitu praktis dan akademis. Secara praktis karya ini bertujuan untuk menawarkan dan mengenalkan bentuk teater musikal kepada masyarakat. Secara akademis karya ini bertujuan untuk menawarkan konsep dan metode untuk menciptakan pertunjukan teater musikal berbasis seni tradisi. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari dua metode, yaitu metode penelitian dan metode penyutradaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan wawancara, sedangkan metode penyutradaraan yang digunakan adalah menentukan cerita, penyeleksian pemeran, pelatihan akting, komposisi musik, koreografi tari, latihan gabungan.  Hasil yang dicapai dari proses penciptaan karya teater ini adalah pertunjukan teater musikal yang menitikberatkan pada kekuatan akting dan nyanyian. Kata Kunci: Anggun Nan Tongga, Indang Piaman, Teater Musikal
Transformasi Dramaturgis Indang Piaman dalam Pertunjukan Teater “Anggun Nan Tongga” Karya Wisran Hadi N, Sahrul; Yusril, Yusril; H, Afrizal
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4170.68--82

Abstract

Kaba "Anggun Nan Tongga" is a Minangkabau folktale, precisely in the Pariaman area. This Kaba tells a story of power struggle and a very complex love affair, then transformed by Wisran Hadi (director and leader of the Bumi Teater group) into a modern theater form. Wisran Hadi interpreted the Kaba "Anggun Nan Tongga" differently, so it can be said that this work is a counter kaba to the traditional kaba. For Wisran Hadi, kaba is not a holy book that cannot be changed. The majority of Wisran Hadi's works rely on kaba as inspiration for the creation of his plays and theater performances, so they are different from the original form. The interesting thing in the theater work "Anggun Nan Tongga" lies in the pattern of three lines on the left, right and back. This pattern is basically based on one of the traditional Minangkabau art forms in Pariaman, called Indang Piaman. This Indang Piaman pattern is then used as an attractive performance spectacle element in motion, as well as dendang (singing) combined with modern western theater dramaturgy. This research method relies on a qualitative method that prioritizes interviews and literature studies. Meanwhile, to answer the research problem, the dramaturgical approach developed by Mary Luckhurst is used. Through this dramaturgy, the theater can be analyzed to see the extent to which the dramatic potential of Indang Piaman is able to make a significant contribution to the spectacle of the theater work "Anggun Nan Tongga" by Wisran Hadi. This research is expected to find various aspects that shape the creation of Indang Piaman's dramatic potential in the theater work "Anggun Nan Tongga". AbstrakKaba “Anggun Nan Tongga” merupakan cerita rakyat Minangkabau, tepatnya di daerah Pariaman. Kaba ini mengisahkan tentang perebutan kekuasaan dan hubungan percintaan yang sangat kompleks, kemudian ditransformasi oleh Wisran Hadi (sutradara dan pimpinan kelompok Bumi Teater) ke dalam bentuk teater modern. Wisran Hadi melakukan penafsiran yang berbeda terhadap Kaba “Anggun Nan Tongga” tersebut, sehingga bisa dikatakan karya ini merupakan kontra kaba terhadap kaba tradisi. Bagi Wisran Hadi, kaba bukan kitab suci yang tidak boleh diubah. Mayoritas karya Wisran Hadi bertolak pada kaba sebagai inspirasi penciptaan naskah drama maupun pertunjukan teaternya sehingga memiliki perbedaan dengan bentuk aslinya. Hal yang menarik di dalam karya teater “Anggun Nan Tongga” terletak pada pola tiga garis yang berada di sebelah kiri, kanan, dan belakang. Pola seperti ini pada dasarnya bertolak pada salah satu bentuk kesenian tradisi Minangkabau di Pariaman, yang disebut dengan istilah Indang Piaman. Pola Indang Piaman ini, kemudian dijadikan sebagai elemen spektakel pertunjukan yang atraktif secara gerak, maupun dendang (nyanyian) yang dipadukan dengan dramaturgi teater modern barat. Metode penelitian ini bertolak pada metode kualitatif yang mengutamakan pada aspek wawancara dan studi literatur. Sementara, untuk menjawab permasalahan penelitian, digunakan pendekatan dramaturgi yang dikembangkan oleh Mary Luckhurst. Melalui dramaturgi ini, teater mampu dianalisis untuk melihat sejauh mana potensi dramatik Indang Piaman mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap spektakel karya teater “Anggun Nan Tongga” karya Wisran Hadi. Penelitian ini diharapkan mampu menemukan berbagai aspek yang membentuk terciptanya potensi dramatik Indang Piaman pada karya teater “Anggun Nan Tongga”. 
Adaptation of the Traditional Randai Performing Art into an Ethno-Fiction Film Scenario: The Story of 'Panyamun' Muhammad Jel Fadjri Matenas; Yusril
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i1.1043

Abstract

Randai is a traditional Minangkabau performing art based on storytelling that combines elements of dance, martial arts, singing, and traditional music. The strength of Randai lies in its oral narration, rhythmic dialogue, and improvisation by the performers. This is what makes Randai attractive for adaptation into an ethno-fiction film script. Ethno-fiction film is an ethnography-based cinematic approach that is fictional in nature, combining cultural observation methods with artistic dramatisation. This paper discusses the concept, adaptation process, and application of Sapardi Djoko Damono's method in transforming the Randai Panyamun story into a film script, rather than a finished film. This study finds that translating the narrative elements of Randai into a screenplay requires a strategy of narrative deconstruction, re-contextualisation of characters, and visual dramaturgical adjustments. The resulting screenplay retains the essence of Randai but is transformed into a cinematic ethno-fiction narrative.
Representation of the Dynamics of ID Ego and Superego in the Film Screenplay Melawan Waktu Gilang Sukma Ramadhan; Yusril
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i1.1044

Abstract

This study aims to analyse the dynamics of Alif's personality structure in the Melawan Waktu scenario using Sigmund Freud's psychoanalytic approach. The focus of the study is on the imbalance between the id, ego, and superego after Alif loses his father, as well as its impact on family relationships and his life decisions. The method used is descriptive qualitative with a documentary study technique of the script. The data were analysed by identifying dialogues and scenes that represent psychological conflicts based on the concepts of the id, ego, and superego. The results show that the dominance of the id is evident through anger and impulsive behavior, while the superego is present in the form of guilt and moral pressure. An unstable ego gives rise to anxiety and interpersonal conflict. As the story progresses, a process of acceptance is evident, signifying a strengthening of ego function. This study confirms that dramatic conflict in the screenplay represents the psychological dynamics of humans in dealing with loss.