Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF Chaetoceros calcitrans AGAINST PATHOGEN Staphylococcus aureus AND Staphylococcus epidermidis CAUSING SKIN INFECTION Naully, Patricia Gita
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2022.1757

Abstract

The microalgae Chaetoceros calcitrans has potential as a natural antibacterial but is rarely applied to pathogens that cause skin infections such as Staphylococcus aureus and S. epidermidis. The purpose of this study was to determine the optimum concentration of C. calcitrans extract to inhibit the growth of S. aureus and S. epidermidis. The antibacterial activity of C. calcitrans was tested by the Kirby Bauer diffusion method. The results showed that C. calcitrans extract dissolved in DMSO with the concentrations of 5, 10, 15, and 25 mg mL-1 could produce inhibition zones on S. aureus and S. epidermidis. The average diameter of the largest inhibition zone resulted in the concentration of 25 mg mL-1, namely 10.1 ± 0.5 mm in S. aureus and 9.3 ± 0.5 mm in S. epidermidis. It can be concluded that the extract of C. calcitrans has antibacterial activity against bacteria that cause skin infections S. aureus and S. epidermidis with the optimum concentration of 25 mg mL-1.
ANTIFUNGAL ACTIVITY OF N-HEXANE EXTRACT FROM Chaetoceros calcitrans AGAINST Candida sp. Rachmawati, Firdha; Naully, Patricia Gita; Kania, Prina Puspa; Pasha, Delia Ayu
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2024.6202

Abstract

Skin infections caused by Candida albicans and Candida krusei pose a serious health issue. One major concern regarding these infections is the resistance to antifungal drugs, highlighting the need for natural antifungals. Chaetoceros calcitrans, a microalgae, is known to contain natural antimicrobial compounds. This study aims to evaluate the antifungal potential of C. calcitrans n-hexane extract against both pathogens. The antifungal activity was tested using the diffusion method. The results indicated that the extract at a concentration of 100 mg mL⁻¹ inhibited the growth of C. albicans and C. krusei, showing the highest inhibition zones of 10.3 ± 0.9 mm and 9 ± 1.4 mm, respectively. GC-MS analysis revealed that the C. calcitrans extract contains antifungal compounds, including 2-Butyl-1-hexyloctahydro-1H-indene, at a concentration of 30.72%. Therefore, it can be concluded that C. calcitrans extract possesses antifungal activity and has potential as a drug candidate for fungal skin infections.
KOINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS DAN HEPATITIS B VIRUS PADA ORANG BERTATO DI CIMAHI naully, Patricia gita
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 2 No 2 (2018): volume 2 nomor 2 tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.051 KB) | DOI: 10.29407/judika.v2i1.12176

Abstract

Koinfeksi adalah infeksi simultan oleh dua virus. Salah satu kasus koinfeksi yang sering terjadi adalah infeksi Hepatitis B Virus (HBV) pada orang yang telah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hal ini terjadi karena kedua virus tersebut memiliki kesamaan jalur transmisi, salah satunya melalui pembuatan tato menggunakan jarum yang terkontaminasi. Peminat tato di Indonesia semakin bertambah, begitu pula di kota Cimahi. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan keberadaan kasus koinfeksi HIV-HBV pada orang bertato di Cimahi. Pengambilan spesimen berupa serum dilakukan pada 50 orang responden yang telah memenuhi kriteria yaitu mengisi informed consent, berdomisili di Cimahi, memiliki tato permanen, tidak berganti-ganti pasangan, tidak menggunakan narkoba jarum suntik, dan belum pernah melakukan transfusi darah. Keberadaan anti-HIV dan HBsAg dalam serum dideteksi menggunakan imunokromatografi dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Dari 50 orang responden yang terdiri dari 25 orang perempuan dan 25 orang laki-laki dengan rentang usia antara 17-48 tahun, didapatkan dua orang (4%) yang positif terinfeksi HIV dan satu orang (2%) positif terinfeksi HBV. Penelitian ini membuktikan adanya satu kasus koinfeksi HIV-HBV yang terjadi pada orang bertato di Cimahi.
Hasil Positif Palsu dan Negatif Palsu pada Pemeriksaan Cepat Antibodi SARS CoV-2 Naully, Patricia Gita; Nursidika, Perdina
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 6, No 2 (2021): May
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.62775

Abstract

Latar Belakang: Salah satu cara yang dilakukan Indonesia untuk mengendalikan dan mencegah penularan SARS CoV-2 sebagai penyebab COVID-19 adalah dengan menyediakan kit pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2. Metode pemeriksaan tersebut dapat mengatasi keterbatasan tenaga ahli dan alat laboratorium di Indonesia. Tujuan: Menentukan hasil pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 pada masyarakat di Kecamatan Cimahi Tengah.Metode: Sebanyak 50 orang diambil sebagai sampel penelitian dengan menggunakan teknik quota sampling. Pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 dilakukan dengan menggunakan imunokromatografi merek Lungene. Sampel penelitian yang reaktif diperiksa kembali dengan metode Quantitative Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR).Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan dengan imunokromatografi, terdapat satu orang (2%) anti-     SARS CoV-2 IgM reaktif dan tiga orang (6%) anti-SARS CoV-2 IgG reaktif. Pemeriksaan dengan qRT-PCR menunjukkan hasil yang berbeda. Keempat orang tersebut dinyatakan negatif COVID-19. Selain itu, satu orang (2%) yang mendapatkan hasil non-reaktif pada pemeriksaan cepat justru dinyatakan positif terinfeksi SARS CoV-2.Kesimpulan: Pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 yang dilakukan di Kecamatan Cimahi Tengah kurang akurat karena terdapat empat (8%) hasil positif palsu dan satu (2%) hasil negatif palsu.  
Pemanfaatan Multiplex Nested Polymerase Chain Reaction untuk Deteksi Patogen Penyebab Infeksi Kongenital Naully, Patricia Gita; Septriliyana, R. Noucie
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 7, No 1 (2022): February
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.64469

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi di Kabupaten Bandung adalah infeksi kongenital seperti Toxoplasma gondii, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simplex Virus (HSV). Untuk menurunkan angka tersebut dibutuhkan metode deteksi yang sensitif dan spesifik. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah multiplex nestedPolymerase Chain Reaction (PCR).Tujuan: Mendeteksi T. gondii, CMV, dan HSV pada wanita hamil di Klinik Praktek Mandiri Bidan Anna Rohanah Kabupaten Bandung dengan metode multiplex nested PCR.Metode: Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang. Gen B1 dari T. gondii, MIEA dari CMV, dan Glikoprotein D dari HSV diamplifikasi menggunakan primer spesifik. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif.Hasil: Dari 42 orang wanita hamil, terdapat 3 orang (7,14%) yang terinfeksi T. gondii dan 1 orang (2,38%) yang mengalami koinfeksi CMV – HSV. Dua dari tiga wanita hamil dengan toxoplasmosis tidak menunjukkan gejala sedangkan wanita dengan koinfeksi CMV - HSV mengalami keputihan, sakit buang air kecil, gatal pada area genital, dan terdapat bintil pada mulutnya.Kesimpulan: Metode multiplex nested PCR berhasil digunakan untuk mendeteksi infeksi T. gondii pada 3 orang wanita hamil dan koinfeksi CMV – HSV pada 1 orang wanita hamil di Klinik Praktek Mandiri Bidan Anna Rohanah Kabupaten Bandung.