Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Islam dan Dakwah di Indonesia Pada Masa Kontemporer Inggria Kharisma; Doni Nofra; Wahyu Wedri Yani; Nurul Khomariah
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 24 No. 1 (2020): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.67 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v24i1.258

Abstract

Masuknya Islam ke Indonesia melalui beberapa Fase, pertama, sejak akhir abad ke- 8 M sampai ke-12 M ditandai dengan hubungan perdagangan. Inisiatif. Fase kedua, dari abad ke-12 M sampai akhir abad ke -15, hubungan antara bangsa Arab dan India mengambil aspek aspek lebih luas. Muslim Arab dan India yang terdiri dari pedagang atau pengembara sufi, mulai mengintensifikasikan penyebaran Islam di berbagai wilayah Nusantara.. Kemudian pada tahap berikutnya, yaitu sejak abad ke-16 sampai paruh kedua abad ke-17 yang ditandai dengan hubungan yang mengarah ke ranah politis di samping keagamaan itu sendiri. Dakwah di Indonesia pada masa orde lama merupakan dakwah meletakkan dasar nilai-nilai kehidupan keagamaan dalam kehidiupan berbangsa dan bernegara. Pada orde baru pemerintah melakukan rekontruksi yang sangat mendasar dalam pembangunan ekonomi, sosial dan politik. Pemerintahjan pada orde ini lebih terpusat pada stabilitas politik guna mendukung kedamaian kehidupan nasional. Oleh sebab itu terciptalah Trilogi Pembangunan, yaitu adanya pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas politik. Pada masa reformasi, kehidupan politik yang terbuka membawa angin segar bagai masyarakat muslim dalam menyampaikan segala aspirasinya. Perkembangan dakwah pada masa reformasi menjadi lebih terbuka dan kondusif, karena adanya publikasi melalui media massa, baik cetak maupun elektronik.
WANITA TUNA SUSILA DI SUMATERA BARAT DAN PEMBINAANNYA (STUDI KASUS PANTI ANDAM DEWI SOLOK) Doni Doni Nofra; Inggria Kharisma
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.943 KB) | DOI: 10.30983/it.v3i1.961

Abstract

Tuna Susila (WTS) women are women who sell themselves and perform sexual acts as a livelihood, in terms of religion and health, the actions of Tuna Susila (WTS) women violate the norms in living life. In overcoming their efforts, there needs to be a guidance for Women Tuna Susila (WTS) to change their mindset so that they leave acts that are not following the prevailing norms in life. They can find better jobs and develop the knowledge that is in themselves as well as the knowledge that has been given while in the institution and return to the right path. The theory used in this study is the social theory of phenomenology (phenomenology Sociology), which was put forward by Alfred Schutz, who states that human action becomes a social relationship if humans give meaning or meaning to their activities as something meaningful. This study uses qualitative methods with descriptive types to develop the problems to be studied. From the results of the study, it was concluded that the coaching process that was obtained by Women Tuna Susil (WTS) while in the Andam Dewi Solok orphanage, had made most of the Tuna Susil Women (WTS) leave their jobs as Tuna Susil (WTS) and could continue their lives towards better. Forms of guidance given to Women with Tuna Susil (WTS) at Andam Dewi Solok orphanage can be grouped into four of them: (a). Physical guidance aims to improve the physical and health conditions of Tuna Susila Women (WTS) to be able to absorb the guidance material delivered. (b). Thoughtful guidance, the aim is to guide and improve the mental or psychological of the client. (c). Community social guidance aims to lead to harmony and community life togetherness. (d). Skills guidance, the purpose of this skill is for those who are trained to gain knowledge and skills so they can open their own business from the skills they have.
Persatuan Mahasiswa Islam Patani Thailand Indonesia (PMIPTI) Kota Padang Dalam Mempertahankan Eksistensi Budaya Melayu Doni Nofra; Inggria Kharisma
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 10 No. 1 (2020): Januari - Juni
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.389 KB) | DOI: 10.15548/khazanah.v10i1.261

Abstract

PMIPTI adalah sebuah organisasi mahasiswa Patani Thailand yang ada di Indonesia, organisasi ini didirikan untuk menyatukan mahasiswa Patani yang menuntut ilmu ke Indonesia. Organisasi ini suda memiliki beberapa cabang di seluruh Indonesia, juga salah satunya di Kota Padang. Penelitian ini dilakukan untuk melihat usaha yang dilakukan anggota PMIPTI dalam mempertahankan budaya Melayu di Indonesia khususnya di Padang. Penelitian ini dilaksanakan berkaitan dengan hasil diskusi penulis dengan beberapa orang anggota PMIPTI Padang tentang kondisi keberadaan mereka di Indonesia khususnya di Padang, begitu juga berkaitan dengan kampung halamannya Thailand Selatan Patani. Keberadaan anggota PMIPTI di indonesia khususnya Padang, tidak hanya berkumpul-kumpul saja melainkan juga mencapai satu misi untuk mempertahankan budaya Melayu yang di Patani hari ini sudah banyak dihilangkan bahkan generasi muda Patani hari ini banyak yang tidak mengenal budaya Melayu yang merupakan jati diri Patani dahulunya. Mulainya hilang budaya Melayu di Patani salah satunya disebapkan oleh kebijakan pemerintahan Thailand yang ingin menghilangkan budaya Melayu yang pernah ada di Thailand. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah Thailand adalah melalui program pendidikan yang menggunakan bahasa Thai dalam kurikulumnya. Selain itu, anak-anak Patani sedikit sekali mendapatkan pencerahan berkaitan budaya Melayu. Untuk mempertahankan budaya Melayu Patani, PMIPTI Padang berusaha untuk mengulang dan mempelajari agar budaya mereka tetap bisa dipertahankan. Salah satu usaha yang dilakukan PMIPTI Padang adalah melakukan pembinaan bahasa Melayu bagi anggota PMIPTI, membudayakan berpakayan Melayu di setiap acara PMIPTI dan kegiatan lainnya. Kegiatan ini dilakukan PMIPTI padang agar mereka bisa mengetahui bagaimanabudaya mereka dahulunya sangat baik, namun hari ini sudah mulai hilang dan tidak ada lagi.
TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI SUMATERA DAN JAWA Arki Auliahadi; Doni Nofra
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 23 No. 1 (2019): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.439 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.v23i1.210

Abstract

Islam menjadi kepercayaan yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Masuknya Islam di Indonesia tidak terlepas dari peran para ulama dan pedagang muslim hingga terbentuklah berbagai Kerajaan Islam di Indonesia. Jejak-jejak adanya persebaran Islam di tanah air pun sudah banyak kita jumpai, salah satunya yakni berbagai jejak Kerajaan Islam di Indonesia, khususnya yang terdapat di pulau Sumatera dan Jawa.
PERAN STRATEGIS PITI SUMATERA BARAT Doni Nofra Nofra; Inggria Kharisma
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 23 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.148 KB) | DOI: 10.37108/tabuah.vi.240

Abstract

Indonesia merilis perbedaan istilah-istilah tersebut, yaitu Cina, China, Tionghoa dan Tiongkok. Cina adalah sebutan untuk orang yang berwarga negara Cina yang setara dengan orang Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Indonesia yang berarti warga negara asing. Kemudian China (dengan tambahan ‘h’) adalah penulisan resmi oleh Kedutaan Republik Rakyat Cina yang merujuk pada negara Republik Rakyat China (RRC) dalam bahasa Indonesia. Istilah Tionghoa adalah sebutan untuk orang-orang keturunan Cina di Indonesia yang sepadan dengan orang Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Sedangkan Tiongkok adalah penyebutan negara China untuk Indo-nesia. Dalam kaitan ini Presiden SBY pada 14 Maret 2014 mengubah istilah China dengan sebutan Tionghoa. Pencabutan surat edaran itu berdasarkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014 yang ditandatanganinya. Sejarah tentang Muslim Tonghoa di Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dari sejarah masuknya agama Islam ke wilayah Nusantara, Muslim Tionghoa merupakan salah satu komunitas masyarakat yang berada di Indonesia yang berasal dari Tionghoa. Sebutan Tionghoa merujuk kepada identitas masyarakat yang berasal dari kawasan Tiongkok. Teori lain tentang keberadaan China di Padang adalah berasal dari Pariaman. Menurut Ernawati, dalam buku Asap Hio di Ranah Minang, bahwa komunitas Tionghoa di Sumatera Barat sudah berada di Pariaman sejak abad XII Masehi. Saat Aceh masuk ke Pariaman, kawasan ini menjadi surga bagi kaum pedagang di zaman itu.
ORGANISASI PITI DALAM MEMPERCEPAT PEMBAURAN ETNIS TIONGHOA MUSLIM DI KOTAPADANG Doni Nofra; Arki Auliahadi
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 9, No. 17, Januari-Juni 2019
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.972 KB) | DOI: 10.15548/khazanah.v0i0.189

Abstract

Penelitian ini menggunakanpendekatan organisasi dan sosiologi yaitu Toleratin merupakan bagian dari Akomudasi, (Sebagai suatu usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu untuk mencapai kestabilan). pendekatanyang digunakan adalah analisis historis yang bertujuan untuk melihat sejarah berdiri danperananorganisasi PITI Padang dalam mempercepat pembauran. Penulis mewawancarai informan dan mencaridokumentasi lainnya yang mendukung untuk sumber data.Peran PITI Padang sangat diperlukan oleh etnis Tionghoa baik yang muslimmaupun non-muslim. Bagi Muslim Tionghoa, PITI sebagai wadahsilaturrahmi, untuk saling memperkuat semangat dalam menjalankan agama Islam. Bagi etnis Tionghoa non-Muslim,PITI menjadi jembatan antara mereka dengan umat Islam.Bagi pemerintah, PITIsebagai komponen bangsa yang berperan strategis sebagai jembatanpenghubung antar suku dan etnis,untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara KesatuanRepublik Indonesia. Usaha pembauran yang dilakukan PITIdalam kalangan etnis Tionghoa Muslim di Kota Padang, seperti jalur Kontak kerjasama, perdagangan, keagamaan, pola pemukiman, organisasi, perpolitikan, berganti nama atau tukar identitas, seni, budaya, penggunaan bahasa, pendidikan, dan pernikahan.
PERLAWANAN KESULTANAN MELAYU JAMBI TERHADAP KOLONIAL BELANDA: KASUS SULTAN MUHAMMAD FACHRUDDIN (1833-1844 M) DAN SULTAN THAHA SAIFUDDIN (1855-1904 M) Ona Yulita; Doni Nofra
Tamaddun Vol 2, No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.913 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v2i2.2068

Abstract

Disclosure about the formation and development of the Islamic empire in the archipelago, including the underdeveloped field of study. Though the history of the empire in the archipelago is very much to be discussed, both large and small that affect the form of local Islamic traditions and culture. Writing about the sultanate of the archipelago is very little, this is because of limited resources such as local texts, tambo, chronicles, saga, genealogies and so forth. Moreover, an empire in the archipelago that is not too large, will increasingly difficult to express its history and development. Therefore, the study of the Islamic Sultanate in Jambi is a rather neglected study. In fact, according to Azyumardi Azra Jambi is one of the regions in the archipelago that was first visited by Muslim traders from Arabia. The history of the empire in the archipelago is full of tension and conflict, this has made it easier for Western Imperialism to colonize the archipelago. This is not because of its enormous military strength but because of the internal weaknesses of the sultanates in the archipelago who often wage war, intrigue, and try to master each other. One by one the sultanates in the archipelago were controlled, and Western Imperialism took huge profits through the trade routes controlled by the kingdom. The sultanate who was too violent in giving resistance was threatened to be abolished by Western Imperialism.
DAKWAH DI TURKI PADA MASA DINASTI UTSMANI Desi Syafriani; Doni Nofra
Tamaddun Vol 2, No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.874 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v2i1.2025

Abstract

The Ottoman dynasty was a dynasty that was quite involved in the development and spread of Islam in Asia, Africa and Europe. The Ottoman dynasty emerged in Turkey when the Islamic world suffered a setback, namely the second period of the Abbasid dynasty, estimated in the 9th century AD. In the development of da'wah in Turkey, the strategy used is not to force in da'wah and to show an attitude of tolerance, through this da'wah strategy in Turkey can run well. In addition to this strategy we must know about the character and character of the Turkish people, namely discipline and obedience to the rules in force. Da'wah activities and developments in Turkey are supported by Catholicism. During his time, Dakwan's activities during the Ottoman period were able to bring Islam to various parts of the Balkan countries such as Bosni, Serbia and Crete.
WANITA TUNA SUSILA DI SUMATERA BARAT DAN PEMBINAANNYA (STUDI KASUS PANTI ANDAM DEWI SOLOK) Doni Doni Nofra; Inggria Kharisma
Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies Vol 3, No 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.087 KB) | DOI: 10.30983/it.v3i1.961

Abstract

Tuna Susila (WTS) women are women who sell themselves and perform sexual acts as a livelihood, in terms of religion and health, the actions of Tuna Susila (WTS) women violate the norms in living life. In overcoming their efforts, there needs to be a guidance for Women Tuna Susila (WTS) to change their mindset so that they leave acts that are not following the prevailing norms in life. They can find better jobs and develop the knowledge that is in themselves as well as the knowledge that has been given while in the institution and return to the right path. The theory used in this study is the social theory of phenomenology (phenomenology Sociology), which was put forward by Alfred Schutz, who states that human action becomes a social relationship if humans give meaning or meaning to their activities as something meaningful. This study uses qualitative methods with descriptive types to develop the problems to be studied. From the results of the study, it was concluded that the coaching process that was obtained by Women Tuna Susil (WTS) while in the Andam Dewi Solok orphanage, had made most of the Tuna Susil Women (WTS) leave their jobs as Tuna Susil (WTS) and could continue their lives towards better. Forms of guidance given to Women with Tuna Susil (WTS) at Andam Dewi Solok orphanage can be grouped into four of them: (a). Physical guidance aims to improve the physical and health conditions of Tuna Susila Women (WTS) to be able to absorb the guidance material delivered. (b). Thoughtful guidance, the aim is to guide and improve the mental or psychological of the client. (c). Community social guidance aims to lead to harmony and community life togetherness. (d). Skills guidance, the purpose of this skill is for those who are trained to gain knowledge and skills so they can open their own business from the skills they have.
Pelestarian Benda Cagar Budaya Di Batusangkar Arki Auliahadi; Doni Nofra
Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.231 KB) | DOI: 10.32939/altifani.v2i2.1696

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana pelestarian Benda Cagar Budaya di Batusangkar. Pengabdian ini dilatar belakangi oleh perjalanan ke situs-situs cagar budaya Batusangkar. Dalam perjalanan itu ditemukan banyak benda cagar budaya yang tidak terawat dengan baik, hal ini terbukti sudah banyak benda cagar budaya  yang rusak, bahkan lokasi cagar budaya tersebut tidak terawat dan kotor. Melalui permasalahan yang dipaparkan di atas penulis ingin melihat sejauh mana partisipasi masyarakat di sekitar benda cagar budaya yang ada di Batusangkar sehingga benda cagar budaya tersebut dapat terjaga dengan baik. Hasil pengabdian yang dilakukan bahwa Benda Cagar Budaya di Batusangkar secara umum untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat. Adapun alasan dari masyarakat untuk tidak ikut serta dalam pelestariannya di Batusangkar karena adanya pemahaman masyarakat tentang yang menjaga benda cagar budaya adalah orang yang sudah ditetapkan oleh pihak BPCB, tidak ikut lagi untuk membersikan dan menjaganya. Selain itu, ada beberapa benda cagar budaya yang mendapat perhatian dan partisipasi dari masyarakat setempat seperti Masjid Raya Lima Kaum dam Makam Panjang Tantejo Gurano. Dalam hal ini, bentuk partisipasi yang diberikan masyarakat berupa; Partisipasi Buah Pikiran. Partisipasi Tenaga. Partisipasi Harta Benda. Partisipasi Sosial