Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERJUANGAN SULTAN THAHA SAIFUDDIN DALAM MENENTANG KOLONIAL BELANDA DI JAMBI (Tinjauan Historis 1855-1904 M) Ona Yulita; Doni Nofra; Muhammad Ahat
Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban Vol 13, No 2 (2019): Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.524 KB) | DOI: 10.15548/h.v13i2.1112

Abstract

Kolonial Belanda masuk ke daerah Kesultanan Jambi pada tahun 1615 M pada masa kekuasaan Sultan Abdul Kahar. Tindakan bangsa Belanda yang datang ke Jambi untuk melaksanakan sistem monopoli perdagangan serta adanya usaha hendak menanamkan kekuasaan mendapat perlawanan rakyat yang digerakkan oleh Sultan dan pejuang rakyat Jambi. Perbedaan agama dengan bangsa Belanda yang ingin memerintah dan mengatur kehidupan mereka telah menimbulkan kebencian seluruh rakyat, karena hal ini bertentangan dengan prinsip agama Islam yang telah mereka anut selama ini. Sejak kehadiran Belanda di daerah Jambi dan campur tangan dalam urusan politik pemerintahan kesultanan, daerah Jambi secara pelan tapi pasti mengarah kepada situasi perlawanan rakyat.
BENDA CAGAR BUDAYA DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIANNYA DI BATUSANGKAR Doni Nofra
Nazharat: Jurnal Kebudayaan Vol. 28 No. 2 (2022): NAZHARAT: Jurnal Kebudayaan
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nazharat.v28i2.83

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana partisipasi masyarakat Batusangkar dalam pelestarian Benda Cagar Budaya di Batusangkar. Penelitian ini dilatar belakangi oleh perjalan peneliti ke situs-situs cagar budaya Batusangkar, dalam perjalanan itu ditemukan banyak benda cagar budaya yang tidak terawat dengan baik, dibuktikan degan sudah banyak benda cagar budaya  yang rusak bahkan lokasih cagar budaya tersebut tidak terawat dalam artian tidak bersih. Melalui permasalahan yang dipaparkan di atas penulis juga ingin melihat sejauh mana partisipasi masyarakat disekitar benda cagar budaya yang ada di Batu sangkat terhadap pelestariannya sehingga benda cagar budaya tersebut dapat terjaga dengan baik. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif untuk memahami simbol-simbol serta perilaku masyarakat. Hasil penelitian diungkapkan dengan cara deskriptif analitis. Dengan metode penelitian Sosial yaitu dengan teori partisipasi. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa Benda Cagar Budaya di Batusangkar secara umum tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat setempat.
Tokoh Pelopor Islam di Sumatera Barat pada Zaman Kolonial Fitri Fitri; Julia Parawansa; Siti Rahma; Korie Lili Muslim; Doni Nofra
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 27 No. 1 (2023): Majalah Ilmiah Tabuah: Ta'limat Budaya, Agama, dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui para pelopor Islam merupakan ahli-ahli agama Islam yang memiliki kaitan dengan Minangkabau secara geneologis. Mereka kerap dipanggil dengan sebutan syech, tuanku, dan buya di Minangkabau. Syech begitu populer karena pengaruh mereka dalam perubahan politik dan sosial. Mereka mengggunakan majalah dan surat kabar serta bentuk penerbitan dalam menyebarluaskan ide-ide mereka. Pada awal abad ke-19 syech atau ulama di Minangkabau memulai usaha membebaskan praktek Islam yang bercampur dengan praktek Islam dan praktek adat. Campur tangan Belanda dalam konflik antara Kaum Padri dengan Kaum Adat berujung perang yang mengakibatkan Minangkabau berada dibawah Kolonialisme Belanda. Syech Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, diikuti oleh murid-muridnya mengangkat kembali gagasan pemurnian Islam. Ahmad Chatib Al-Minangkabawi dan murid-muridnya dijuluki sebagai Ulama Kaum Muda, mencetuskan gerakan pembaharuan Islam yang ditandai dengan maraknya penerbitan media masa Islam seperti Al-Munir dan pembukaan lembaga pendidikan modern seperti Sumatera Thawalib. Gerakan pembaharuan Islam sempat ditentang oleh ulama tua, yang berhubungan dengan tarekat kaum adat yang bertahan dengan hukum waris adat menurut garis keturunan ibu (Matrelineal). Ketegangan antara kaum muda dan kaum tua serta kaum adat segera dipecahkan dalam usaha bersama melawan Kolonial Belanda , Kristenanisasi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terpecahnya Minangkabau kedalam wilayah administratif Sumatera Barat pasca-kemerdekaan, istilah yang diapakai semula dengan sebutan ulama berubah menjadi sebutan Syech.
PERISTIWA BENCANA GEMPA BUMI DI PADANG PANJANG PADA TAHUN 1926 (STUDI NASKAH-NASKAH GEMPA) Imratul Sa'diah; Doni Nofra
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 27 No. 2 (2023): Majalah Ilmiah Tabuah: Ta'limat Budaya, Agama, dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37108/tabuah.v27i2.1106

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh beberapa masalah dimana sedikit sekali masyarakat yang bisa memahami dan mengkaji tentang bencana alam melalui studi naskah. Dikarenakan kurangnya penelitian akan naskah-naskah lama yang berada di Minangkabau. Selanjutnya, hanya sebagian masyarakat mengetahui tentang peristiwa-peristiwa bencana gempa bumi. Kemudian, mengetahui dampak positif dan negatif dari gempa bumi terhadap masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Deskriptif Naratif. Meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi dan penulisan. Sumber data yang didapatkan dipenelitian ini adalah naskah-naskah gempa seperti naskah sair gerak gempa, naskah takwil, naskah Padang Panjang koleksi salah satu ulama diMinagkabau yaitu Pak Apria Putra serta arsip Belanda yang ditulis oleh ditulis oleh Jas D. Emanules tentang bencana gempa bumi di Sumatera Barat dan dilengkapi dengan wawancara. Hasil penelitian peristiwa bencana gempa bumi di Padang Panjang pada tahun 1926 (studi naskah-naskah gempa) adalah peristiwa gempa bumi yang terjadi pada tahun 1926 yang diceritakan dalam naskah- naskah gempa sangat mengharukan. Bencana gempa bumi di Padang Panjang terjadi pada hari Senin tanggal 28 Juni 1926 lebih tepatnya terjadi pada masa kolonial Belanda. Gempa ini terjadi pada pukul 10:00 WIB dan banyak gempa susulan setelahnya. Goncangan dahsyat yang menghancurkan Padang Panjang memberikan akibat yang buruk bagi kondisi masyarakat baik itu kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur, maupun lingkungan sekitarnya. Dampak tersebut diceritakan oleh Abdul Syakur dalam naskahnya dimana daerah terparah yaitu Padang Panjang. Banyak bangunan yang rusak seperti Sekolah Diniyyah Padang Panjang, masjid, dan rumah penduduk, kereta api tidak bisa beroperasi. Sedangkan dalam naskah sair gerak gempa yang ditulis oleh Abdul Mu’in Musa mengatakan bahwa dampak gempa tidak hanya di Padang Panjang, tetapi juga daerah sekitarnya seperti Bukittinggi, Sungai Puar, Baso. Naskah-naskah tersebut mencatat lebih kurang 500 korban jiwa. Setelah itu ada juga manfa’at bagi kita yang kurang mengetahui bacaan arab melayu dan hasil dari penelitian ini kita bisa mengetahui dampak-dampak apa saja yang terjadi dan kronologi bencana gempa yang terjadi. Adapun signifikasi terhadap penelitian ini untuk memecahkan suatu kejadian yang sudah lampau yang susah kita ketahui melalui bacaan-bacaan Arab Melayu.
SEJARAH SOSIAL DAN KEHIDUPAN EKONOMI SUKU ANAK DALAM MUSLIM KECAMATAN AIR HITAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS Attohiroh, Attohiroh; Doni Nofra
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 28 No. 1 (2024): Majalah Ilmiah Tabuah: Ta'limat Budaya, Agama, dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37108/tabuah.v28i1.1313

Abstract

This research aims to explain how social and economic life of the Suku Anak Dalam that have been joined to Muslim. The Suku Anak Dalam is one of the remote tribes in Jambi Province. Previously, this tribe lived a simple life where they only ignored their lives in nature. However, over time, many changes have occurred in this tribe, many factors have caused these changes, one of which is interaction with outside society. This research is a type of field study research with a qualitative approach. Researchers went directly to the research location and conducted interviews with key sources, namely the Suku Anak Dalam, who are Muslims. The data analysis carried out in this research went through a series of steps in historical research methods which were preceded by heuristics, source criticism, interpretation and also historiography. The results of this research show that in 1998 the Suku Anak Dalam had already joined to Islam, they had abandoned old traditions such as melangun and basale, they had followed the way of life and rules of the village community, in addition, in terms of economics, they not only met their needs. just to eat, but already thinking about owning property.
UPACARA PERNIKAHAN LEK BATIN DI DESA RANTAU PANDAN KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI Indriyuliani, Wulan; Nofra, Doni
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1099

Abstract

Lek Batin merupakan salah satu tradisi pernikahan yang terdapat di Desa Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Eksistensi tradisi Lek Batin ini merupakan penanda kekuatan ekonomi suatu keluarga dalam melaksanakan pesta pernikahan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan prosesi dan perkembangan tradisi Lek Batin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapannya yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan penulisan. Sumber data yang didapatkan dipenelitian ini adalah wawancara dan arsip berupa buku nikah, catatan pernikahan dari KUA, serta foto-foto pernikahan. Hasil penelitian menjukkan bahwa upacara Lek Batin dilakukan dengan 3 tahapan: sebelum pernikahan, pelaksanaan pesta pernikahan, serta pasca pernikahan. Masyarakat kelas ekonomi kuat yang melaksanakan Lek Batin mampu menghadirkan hidangan hewan berkaki empat, iringan pesta musik dan arak-arakan pengantin. Lek Tengganai sebagai pesta kelas kedua tidak mampu menghadirkan itu semuanya. Seiring bertukarnya zaman tradisi lek batin tetap harus dilestarikan tanpa harus mengurangi bahkan menghilangkan ciri khas yang sudah melekat pada tradisi tersebut.
Eksistensi Komunitas Musik Darak Badarak Sumatera Barat (2010-2023) Nurul Hafsah; Doni Nofra
Nazharat: Jurnal Kebudayaan Vol. 30 No. 2 (2024): NAZHARAT: Jurnal Kebudayaan
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nazharat.v31i2.157

Abstract

Tulisan ini fokus membahas mengenai eksistensi Komunitas Musik Darak Badarak Sumatera Barat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perjalanan peneliti terhadap kesenian musik lokal Kota Pariaman, Sumatera Barat dalam menjaga dan melestarikan kembali kearifan musik lokal yang hampir punah akibat dari faktor globalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Komunitas Musik Darak Badarak dan perubahan yang terjadi dalam Komunitas Musik Darak Badarak pada tahun 2010-2023, serta eksistensi komunitas musik tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif penelitian sejarah. Pengambilan sampel menggunakan sampling incidental, yaitu mengumpulkan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tinjauan pustaka, kritik sumber, dan intepretasi, yaitu bentuk dari mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan data dalam bentuk histiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Komunitas Musik Darak Badarak sudah mulai berkembang sejak tahun 2010 di wilayah Kota Pariaman, Sumatera Barat. Komunitas Musik Darak Badarak dibentuk sebagai wadah edukasi musik ritmis lokal dan modern terhadap generasi muda dalam melestarikan dan mengeksistensikan kesenian musik lokal yang disajikan dalam bentuk konsep musik kontemporer.
Sejarah Evolusi Identitas Budaya Suku Anak Dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Pasca Orde Baru nofra, doni
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.385

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan evolusi budaya Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Kawasan TNBD merupakan kawasan yang menjadi pemukiman terpadat Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang dikenal dengan kehidupan nomaden. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode penelitian sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan observasi. Observasi bersamaan dengan kegiatan dokumentasi lapangan dan wawancara mendalam. Analisis data penelitian menggunakan teori evolusi budaya. Hasil penelitian menujukkan bahwa modernisasi seiring perkembangan zaman dan perubahan fungsi hutan telah mempengaruhi pola kehidupan dan identitas budaya mereka. Perubahan kehidupan dan identitas budaya SAD dimulai pada masa pembangunan Orde Baru, datangnya kelompok transmigran, munculnya perusahaan perkebunan swasta, hingga penetapan TNBD. Pergeseran pola hidup masyarakat SAD ditandai dengan sudah mulai menetap sebagian besar mereka, dan turunnya kesadaran generasi muda SAD akan kearifan lokal adat istiadat yang mereka miliki. Interaksi dengan masyarakat luar merubah hidup mereka secara perlahan menjadi modern, baik dalam tempat tinggal, pendidikan, ekonomi hingga persoalan kepercayaan. Hingga penelitian ini dilakukan, SAD kawasan TNBD sudah terbagi menjadi kelompok nomaden, semi-nomaden hingga menetap.
RITUAL HARI KEMATIAN RAJO NAN DUO SELO DAN RAJO BUEK DI NAGARI PADANG LAWEH KABUPATEN SIJUNJUNG (1973-2015) Nofra, Doni
Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban Vol 18, No 2 (2024): Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/h.v18i2.10745

Abstract

Permasalahan yang terdapat pada Ritual Hari Kematian Rajo Nan Duo Selo dan Rajo Buek Di Nagari Padang Laweh kabupaten Sijunjung adalah: bahwa didalam agama Islam jika ada yang meninggal dunia maka dianjurkan untuk bersedih dan dilarang untuk meratap, sedangkan pada hari kematian Rajo Nan duo Selo dan Rajo Buek Di Nagari Padang Laweh pada hari kematiannya dilaksanakan acara maratok serta mengarak jenazah hingga ke kuburan dengan iringan talempong dan gendang.Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, yang lokasi penelitiannya adalah di Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung. Sumber primer dari penelitian ini adalah sumber lisan yang dilakukan dengan cara wawancara. Hasil penelitian dari Ritual Hari Kematian Rajo Nan duo Selo dan Rajo Buek di Nagari padang Laweh adalah: 1. Rajo adat meninggal pada tahun 1973, dan digantikan oleh cucu nya dan menjabat hingga sekarang. Pada hari kematian Rajo adat di tahun 1973 dilaksanakan beberapa rangkaian acara, yaitu Marato’i mayat saat akan turun rumah, dan juga dengan arakan talempong serta gendang. 2. Rajo ibadat meninggal pada tahun 2008, nama datuak yang meninggal tahun 2008 adalah datuak Isrin, dan digantikan oleh kemenakannya Datuak Sahirman yang juga masih menjabat hingga sekarang, seeta pada hari kematiannya juga dilaksanakan ritual seperti pada hari kematian Rajo adat. 3. Rajo Buek meninggal pada tahun 2015. Dan digantikan oleh cucunya yang bernama Datuak Roni dan masih menjabat hingga sekarang.
Eksistensi Taman Nasional Bukit Dua Belas dalam Pelestarian dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup Suku Anak Dalam Doni Nofra; Fikri Surya Pratama; Attohiroh
Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Vol. 28 No. 2 (2024): Majalah Ilmiah Tabuah : Ta'limat, Budaya, Agama, dan Humaniora
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37108/tabuah.v28i2.1514

Abstract

The presence of Suku Anak Dalam (SAD) community within the Bukit Duabelas National Park (TNBD) area is inextricably linked to the park's management and existence. The SAD people live a nomadic lifestyle and rely on the natural resources within the park for their survival. This research will explain the TNBD management as an environmental protection, encompassing flora, fauna, and the habitat of SAD. This research is qualitative research and conducted at the Resort 2E TNBD area and the TNBD central office in Sarolangun City. The data collection techniques employed were field observation, interviews, documentation and a literature review. The data analysis employed triangulation techniques. The findings of this research demonstrate that effective management of the TNBD area necessitates a focus on maintaining the equilibrium of the ecosystem and the aspects of the lives of the Anak Dalam Tribe. As a biosphere reserve area with SAD in its vicinity, the Jambi regional government has been assisted by relevant partners and has actively involved SAD personnel and cultural aspects. The process commenced with the designation of national park zoning, proceeded with the protection of forest areas, and culminated in the empowerment of communities situated in the vicinity of Bukit Duabelas National Park.