Claim Missing Document
Check
Articles

PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURALISME Saihu Saihu
Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam Vol 1, No 02 (2018): Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam
Publisher : STIT AL-AMIN KREO TANGERANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.988 KB) | DOI: 10.36670/alamin.v1i2.8

Abstract

A simple definition of education is how to improve the potential of human life adapted with our values and cultures. While multiculturalism many experts define a diverse or compound. Indonesia has got more than 300 tribes actually they have different cultures, values, languages etc that sometimes happening a conflict. in this way Islamic Multiculturalism Education expected can solve the problems in our  state or communities, at least give some awareness that conflict is not good situation to developed. Education has to capable give the bids which a smart solution, such as designing material, method and curriculum that make the communities understood the importance of tolerance, honor  each other, can live together with different background
MULTICULTURAL EDUCATION APPROACH TO PESANTREN IN INDONESIA (ANALYSIS STUDY OF JAMES A. BANK MULTICULUTAL EDUCATION APPROACH) Made Saihu; Taufik Taufik
Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam Vol 3, No 02 (2020): Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam
Publisher : STIT AL-AMIN KREO TANGERANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36670/alamin.v3i02.67

Abstract

This paper discusses the multicultural education approach to pesantren in Indonesia. Critical studies on critical analysis of James A. Bank's multicultural approach empathy include: content integration, knowledge construction processes, reduction of prejudice, equity pedagogy, which in fact only educates emotional intelligence. If this continues to be manifested, then human intellectual and spiritual intelligence will be empty and the aspiration to instill multicultural understanding is felt to be less than optimal. This study aims to develop James A. Bank's multicultural approach through a study of multicultural approaches to education in Islamic boarding schools in Indonesia. This paper is a literature study with data sources obtained through literature and books on multiculturalism education and education models in Islamic boarding schools. The result of this paper is that the process of planting multicultural values in Islamic boarding schools is carried out through balancing the development of the physical aspects, the development of the intellectual aspects, the development of the aspects, and the development of the spiritual aspects. By balancing these components possessed by humans, the five souls, including the spirit of sincerity, the spirit of simplicity, the spirit of independence, the spirit of ukhuwah Islamiyah, and the spirit of freedom, are well planted, and efforts to create ukhuwwah Islamiyyah (brotherhood due to Islam), ukhuwwah wathaniyyah (brotherhood due to homeland), and ukhuwwah basyaraiyyah (brotherhood due to humanity) are easy to implement.
PEDIDIKAN MODERASI BERAGAMA: KAJIAN ISLAM WASATHIYAH MENURUT NURCHOLISH MADJID Made Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 3, No 1 (2021): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/andragogi.v4i01.151

Abstract

Kajian ini membahas tentang terminologi Islam Wasathiyah menurut Nurcholis Madjid dan relevansinya dengan Surat Al-Baqarah ayat 143. Kajian ini merupakan penelitian kepustakaan yang bersumber dari karya-karya Nurcholis Madjid sebagai tokoh yang diteliti, maupun sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian tentang Islam Wasathiyah. Studi ini menegaskan bahwa Islam wasathiyah perspektif Nurkholis Madjid adalah Islam yang universal. Sebagai salah satu peletak ide Islam moderat di Indonesia, gagasannya tentang pluralism, toleransi, modernisasi menjadi rujukan di Indonesia bahkan dunia sebenarnya terambil terminologi Ummatan Wasthan dalam Surat Al-Baqarah ayat 143. Menurutnya Islam wasathiyah adalah sebuah model keberaga-maan yang selalu mengejewantahkan keselamatan, keadilan, kedamaian, yang bersendikan pada nilai-nilai tauhid dan sifat dasar kemanusiaan yang tidak saja berpatokan pada iman, ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman aspek sosial sehingga kesuksesan dan kejayaan dan peradaban Islam dapat tercipta. Konsepsi ini merupakan substansi dari Surat Al Baqarah ayat 143 menegaskan bahwa umat Islam sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan). Meski universalitas Islam telah disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 143, tetapi banyak diantara umat Islam memiliki pandangan yang sempit bahkan eksklusif. Pentingnya kajian ini adalah untuk meneguhkan kembali universalitas Islam dan kedewasaan dalam beragama. Sebuah cara pandang inklusif untuk peradaban dunia.
KOMUNIKASI PENDIDIK TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH KHUSUS ASY-SYIFA LARANGAN Saihu Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 1, No 3 (2019): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.65 KB) | DOI: 10.36671/andragogi.v1i3.66

Abstract

Tulisan ini membahas tentang model komunikasi pendidik terhadap peserta didik berkebutuhan khusus di Sekolah Khusus Asy-syifa Larangan Tangerang. Tulisan ini berfokus pada penelusuran model interaksi yang digunakan oleh pendidik dalam memberikan materi pelajaran kepada anak berkebutuhan khusus. Sumber data diperoleh melalui observasi dan wawancara tak terstruktur selama bulan Agustus sampai dengan Maret Nopember 2019. Tulisan menggunakan teori interaksionisme simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer. Tulisan memperlihatkan bahwa proses pembelajaran di dalam kelas terhadap anak berkebutuhan khusus dilakukan secara individu dengan melibatkan 3 orang guru dalam satu kelas. Sementara metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dimana guru bertugas sebagai model dalam pembelajaran tersebut. Melalui metode ini, proses meaning (pemaknaan), language (kebahasaan), dan thought (pemikiran) dapat ditransferkan ke peserta didik dengan baik.
KONSEP MANUSIA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PERUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT MURTADHA MUTHAHHARI Saihu Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2019): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.676 KB) | DOI: 10.36671/andragogi.v1i2.54

Abstract

Manusia menurut Murtadha Muthahhari adalah makhluk yang sangat unik, memiliki kecerdasan tanggung jawab dan makhluk yang rasional. Manusia dilahirkan dengan keadaan tidak tahu apapun akan tetapi Allah memberi manusia kelebihanya itu dengan pendengaran, pengelihatan, akal dan hati yang digunakan untuk membekali kehidupannya menjadi manusia yang baik dan bersyukur. Dengan itu manusia dapat beribadah, bertakwa kepada Tuhannya dan berbakti kepada-Nya yaitu dengan mengabdikan kemampuannya di dunia ini itulah yang dinamakan manusia sempurna. Konsep manusia ini tercermin pada rumusan tujuan pendidikan bahwa tujuan pendidikan itu manusia yang sempurna dengan cara melatih jiwa, akal, pikiran, perasaan dan fisik manusia dengan demikian, pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa baik secara individual maupun kelompok. Melalui akal dan qalbu yang telah diberikan oleh Allah dan dengan pendidikan yang diterima manusia akan mampu bersosialisasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan kajian pustaka. Setelah data terkumpul dan tercatat dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data.
PENDIDIKAN ISLAM DI ERA PLURALITAS AGAMA DAN BUDAYA: SEBUAH KAJIAN RESOLUSI KONFLIK MELALUI MODEL PENDIDIKAN PLRUALISME Saihu Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 2, No 2 (2020): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/andragogi.v2i2.107

Abstract

Tulisan ini membahas tentang model pendidikan Islam di era pluralitas agama dan budaya. Kajian ini memfokuskan pada sebuah resolusi konflik pada masyarakat majemuk atau multikultural melalui model pendidikan pluralisme. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui kajian literatur melalui beberapa mesin pencari seperti Google scholar, DOAJ, Libgen.is, Elsevier. Hasil dari kajian ini memperlihatkan bahwa untuk menghadirkan sebuah model pendidikan pluralisme perlu merevitalisasi beberapa pendekatan pendidikan, yaitu dari pendekatan pendidikan yang “misterius” menjadi rasional dan dari pendekatan yang eksklusif menjadi inklusif. Selain itu juga perlu dilakukan untuk memahami perbedaan pemahaman keagamaan yang bersifat absolut, relatif dan bahkan relatif absolut menggunakan metode bayani, burhani, dan irfani melalui pendekatan hermenutika. Kajian ini menyimpulkan bahwa model pendidikan pluralisme adalah sebuah model pendidikan yang tidak saja berguna untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan, tetapi di saat yang sama juga mengakui keberadaan umat lain yang melakukan aktivitas yang sama. Sebuah model pendidikan yang komprehensif berguna untuk menciptakan sebuah asosiasi, integrasi, komplementasi, dan sublimasi yang kuat ditengah-tengah masyarakat yang multikultural.
KONTEKSTUALISASI PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU SINA DI ERA KONTEMPORER Made Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 3, No 2 (2021): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/andragogi.v3i2.227

Abstract

Kajian ini membahas tentang kontekstualisasi pemikiran Ibnu Sina di era kontemporer dilihat dari sudut pandang subjektif mengacu pada aspek penyucian jiwa. Ibnu Sina membagi jiwa manusia itu atas tiga bagian, yaitu: jiwa nabâtiyyah, hayawâniyyah, dan insâniyyah.  Ketika manusia berada pada jiwa nabâtiyyah, pelajaran yang harus diberikan adalah pelajaran akhlak, kebersihan, dan kesenian yang harus diimplementasikan pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, sementara hayawayyah, yang berarti menanggapi dan menggerakkan melalui pengindraan, anak dalam kondisi jiwa ini harus dirangsang melalui pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak saja terkait dengan cara membaca atau mentilawahkannya, tetapi yang lebih penting adalah anak dirangsang untuk mengkaji, menganalisis dan kritis terhadap makna-makna dari setiap firman Allah Swt. Pada jiwa insâniyyah, mengharuskan adanya integrasi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, yang darinya akan terbangun sebuah paradigma pendidikan yang non-dikotomi (integralistik) yang mempertemukan dimensi jasa (al-‘Amilah) dan rohani (al-‘Alimah). Studi literatur ini menegaskan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, seharusnya pendidikan di Indonesia tidak didikotomi, karena dengan adanya dikotomi pendidikan, semakin membuka nilai-nilai sekuler dalam dunia pendidikan di Indonesia. Meski aspek integrasi tiga kecerdasan yang bermuara pada paradigma pendidikan non-dikotomik, tidak lantas menghilangkan tujuan akhir dari pemikiran pendidikannya yaitu pada aspek penyucian jiwa. Karena dengan jiwa yang suci anak didik akan mudah menerima segala pengetahuan dan dengan sendiri akan terbentuk pribadi-pribadi yang unggul. Sebuah perspektif pendidikan yang mendudukkan penyucian jiwa sebagai sebuah tawaran pendidikan di era kontemporer
KONSEP PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT FAZLURRAHMAN Saihu Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 2, No 1 (2020): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/andragogi.v2i1.76

Abstract

Tulisan ini membahas tentang konsep pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlurrahman. Tulisan berfokus pada penelusuran pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh Fazlurrahman dalam memodernkan model pendidikan Islam sehingga relevan dengan situasi dan kondisi dimana model pendidikan itu diejewantahkan. Sumber data dalam tulisan ini diperoleh adalah melalui kajian pustaka buku-buku yang ditulis oleh Fazlurrahman dan undang-undang pendidikan atau undang-udang yang terkait dengan masalah pendidikan di Indonesia. Tulisan ini berupa penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kajian pustaka (library research). Hasil dari tulisan ini memperlihatkan bahwa konsep pembaharuan pendidikan islam menurut Fazlurrahman, melibatkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu: 1) Mengislamkan pendidikan sekuler modern; 2) Menyederhanakan silabus-silabus dalam rangka pendidikan tradisional; 3) Menggabungkan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Melalui tiga pendekatan ini, fazlurrahman berargumen bahwa pendidikan Islam akan semakin berkembangan dan individu-individu (Muslim) dapat terhidar dari  (split personality) atau pribadi-pribadi yang terpecah-pecah.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM UPAYA MENANGKAL RADIKALISME DI SMA NEGERI 3 KOTA DEPOK, JAWA BARAT Saihu Saihu; Marsiti Marsiti
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 1, No 1 (2019): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.391 KB) | DOI: 10.36671/andragogi.v1i1.47

Abstract

Pendidikan karakter dalam upaya menangkal radikalisme di SMA Negeri 3 Kota Depok, Jawa Barat menggunakan implementasi pendidikan karakter yang diintegrasikan pada kurikulum formal dan hidden curriculum. Kurikulum formal biasanya terprogram dan tertulis pada saat IHT di sekolah pada awal tahun pelajaran, sedangkan hidden curriculum mengikuti kondisi pelaksanaan kurikulum formal karena keduanya tidak dapat dipisahkan untuk ketercapaian tujuan pembelajaran, seperti penanaman nilai karakter ketertiban yang diatur oleh wali kelas di kelas perwaliannya masing-masing, penanaman nilai karakter kedisiplinan dilakukan melalui kesepakatan  guru mata pelajaran pada saat jam pelajaran di kelas, penanaman nilai karakter kejujuran pada saat ujian atau ulangan harian, penanaman nilai karakter ramah, sopan, santun dilakukan pada tegur sapa di kelas dan diluar kelas, penanaman nilai karakter religius  dilaksanakan dengan pembiasaan memulai pembelajaran dengan doa dan pembacaan kitab suci masing-masing agama yang dianut siswa, penanaman nilai karakter cinta tanah air dilakukan dengan menyanyikan lagu wajib nasional setelah membaca doa, penanaman nilai karakter cinta kebersihan dan peduli lingkungan dilakukan dengan membuat jadwal piket kebersihan kelas, jika kelas kotor tidak akan dimulai belajar,  dan lain sebagainya. Itu semua  merupakan bagian dari hidden curriculum dalam upaya ketercapaian kurikulum formal berbasis pendidikan karakter.
MENCIPTAKAN HARMONISASI DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN MELALUI MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN ISLAM MULTIKULTURAL (STUDI DI SMAN 1 NEGARA JEMBRANA-BALI) Made Saihu
Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Vol 2, No 3 (2020): Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam dan Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/andragogi.v2i3.116

Abstract

This paper discusses the implementation of the Islamic religious learning approach model in Jembrana-Bali, a case study at State Senior High School (SMAN) 1 Negara. The focus of this paper is to explore the effectiveness of the multicultural learning model used in learning Islamic religious education. This multicultural learning model is a means of creating harmonious interactions and integrating understanding of diversity between Hindu and Muslim students, thus leading to peaceful practices in the educational environment. Sources of data were obtained through unstructured observations and interviews from July to September 2019. This paper shows that the learning process of Islamic religious education with a multicultural approach turns out to be able to shape the character of students, both Hindu and Muslim to become humanist, tolerant, and inclusive. In shaping character and to develop understanding of diversity, the learning approaches used are the contribution approach, additive approach, and decision-making and social action approaches proposed by Allison Cumming-McCann. Thus the interaction of students at SMAN 1 Negara, both Hindu and Muslim, leads to the process of acculturation and enculturation of two different religions and traditions.