p-Index From 2021 - 2026
1.204
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Dewi Rizzky Mutiarasari
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Pendampingan Gizi terhadap Perubahan Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Persen Lemak Tubuh pada Remaja Putri Sri Lailatussyuhada; Dewi Rizzky Mutiarasari; Kurnia Mar’atus Solichah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1086

Abstract

Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami overweight dan obesitas akibat perubahan pola makan dan gaya hidup, salah satunya tingginya konsumsi makanan cepat saji. Konsumsi makanan cepat saji berlebihan dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak tubuh dan berbagai masalah kesehatan. Pendampingan gizi merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki perilaku makan pada remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendampingan gizi terhadap perubahan frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan persen lemak tubuh pada remaja putri di SMP Muhammadiyah 1 Godean. Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan one group pre-test post-test. Penelitian dilaksanakan pada Januari–April 2026 dengan sampel sebanyak 35 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik stratified sampling dan purposive sampling. Data frekuensi konsumsi makanan cepat saji diperoleh menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) makanan cepat saji, sedangkan persen lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor frekuensi konsumsi makanan cepat saji menurun dari 141,29 ± 97,60 menjadi 77,14 ± 48,48 dengan nilai p-value < 0,05, sehingga terdapat pengaruh signifikan pendampingan gizi terhadap penurunan frekuensi konsumsi makanan cepat saji. Sementara itu, rata-rata persen lemak tubuh berubah dari 28,33 ± 10,27% menjadi 28,64 ± 11,33%, namun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p-value > 0,05). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pendampingan gizi efektif menurunkan frekuensi konsumsi makanan cepat saji, tetapi belum berpengaruh terhadap perubahan persen lemak tubuh selama periode intervensi.
Hubungan Obesitas Sentral dengan Hipertensi pada Usia Lanjut di Wilayah Kerja Puskesmas Juwiring, Klaten Indah Muftiana; Dewi Rizzky Mutiarasari; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1138

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada lansia. Berdasarkan data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS), pada kelompok lansia usia ≥ 60 tahun didapatkan prevalensi yang tinggi yaitu mencapai 57,6%. Obesitas sentral yang diukur menggunakan lingkar pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP) diketahui dapat menyebabkan kejadian hipertensi. Namun, hasil penelitian mengenai hubungan kedua indikator tersebut dengan kejadian hipertensi pada lansia masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (RLPP) dengan kejadian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Juwiring, Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 54 lansia yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik purposive sampling. Data lingkar pinggang, lingkar pinggul, serta tekanan darah diperoleh melalui pengukuran secara langsung. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (90,74%) dan berusia 60-69 tahun (70,37%). Analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lingkar pinggang dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 140/90 mmHg (p=0,031) maupun ≥ 150/90 mmHg (p=0,019). Selain itu, RLPP berhubungan signifikan dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 140/90 mmHg (p=0,030), tetapi tidak berhubungan secara signifikan dengan hipertensi berdasarkan cut off ≥ 150/90 mmHg (p=0,061). Berdasarkan hal tersebut, lingkar pinggang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia baik menggunakan cut off ≥ 140/90 mmHg maupun ≥ 150/90 mmHg. Sementara itu, RLPP hanya berhubungan dengan kejadian hipertensi pada cut off ≥ 140/90 mmHg. Kata kunci : Hipertensi, Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul, Obesitas sentral, Lansia
Hubungan Konsumsi Makanan Ultra Processed Food Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kotagede I Sabrina Puspita Ayu; Dewi Rizzky Mutiarasari; Agil Dhiemitra Aulia Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1154

Abstract

Hipertensi merupakan sillent killer yang prevalesinya terus meningkat khususnya pada usia lebih dari 30 tahun. Salah satu faktor risiko yang mulai banyak diperhatikan adalah konsumsi Ultra Processed Food (UPF) yang tinggi natrium dan lemak jenuh, yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.Prevalensi hipertensi di Puskemas Kotagede I, Kota Yogyakarta dalam 3 bulan terkahir cukup tinggi. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan konsumsi Ultra Processed Food (UPF) dengan kejadian hipertensi pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Kotagede I, Kota Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan data menggunakan consecutive sampling dengan total sampel 47 responden. Data kebiasaan konsumsi Ultra Processed Food diukur menggunakan kuesioner Q-FFQ dalam periode waktu 1 bulan. Data tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis data menggunakan STATA dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 47 responden, sebanyak (55,32%) sering mengonsumsi Ultra Processed Food (UPF) dan (51,06%) mengalami hipertensi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi Ultra Processed Food (UPF) dengan kejadian hipertensi pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Kotagede I Kota Yogyakarta.
Hubungan Konsumsi Minuman Berkafein dengan Fungsi Kognitif Pekerja di Yogyakarta Jihan Ranaa Faicha; Agil Dhiemitra Aulia Dewi; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1181

Abstract

Latar Belakang: Selama masa kerja fungsi kognitif yang optimal sangat penting untuk menunjang kinerja. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan angka kecelakaan kerja di Indonesia, yaitu 234.371 kasus pada tahun 2021 menjadi 370.747 kasus pada tahun 2023. Untuk mempertahankan konsentrasi dan kewaspadaan, beberapa pekerja cenderung mengandalkan konsumsi kafein. Di Yogyakarta, konsumsi minuman berkafein meningkat yang dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan pribadi melalui tersebarnya tradisi angkringan serta meningkatnya kedai modern saat ini. Tujuan Penelitian: Mengetahui bagaimana hubungan antara konsumsi minuman berkafein dengan tingkat fungsi kognitif pada pekerja. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional melalui pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pekerja, sampel ditentukan dengan quota sampling menggunakan rumus Stanley Lemeshow (1997) satu proporsi diperoleh 83 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner FFQ untuk mengukur frekuensi konsumsi kafein serta kuesioner Cognitive Failures Questionnaire (CFQ) untuk mengukur fungsi kognitif. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk melihat kekuatan hubungan variabel dan chi-square untuk melihat perbandingan sistem jam kerja dengan kedua variabel. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dengan nomor No.5417/KEP-UNISA/IV/2026. Hasil Penelitian: Pada variabel konsumsi minuman berkafein dari 82 responden sebagian besar responden termasuk dalam kategori sering konsumsi minuman berkafein sebanyak 42 responden (51,22%) sedangkan kategori jarang konsumsi minuman berkafein sebanyak 40 responden (48,78%) Sementara pada variabel kegagalan fungsi kognitif sebagian besar responden berada pada kategori rendah sebanyak 42 responden (51,22%), sedangkan kategori tinggi sebanyak 40 responden (48,78%). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi minuman berkafein dengan fungsi kognitif pekerja di Yogyakarta (p = 0,241) Kata Kunci: Minuman berkafein, fungsi kognitif, pekerja
Hubungan Antara Aktivitas Sedentari Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kotagede I Juliati; Dewi Rizzky Mutiarasari; Agil Dhiemitra Aulia Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1184

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia). Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah aktivitas sedentari. Aktivitas sedentari yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan darah melalui penurunan fungsi kardiovaskular dan peningkatan resistensi pembuluh darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara aktivitas sedentari dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Kotagede I. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 36 lansia (≥60 tahun) yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data aktivitas sedentari diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner (MOST) dengan metode 24 recall, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital Omron yang telah terkalibrasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan perangkat STATA. Hasil sebagian besar responden memiliki aktivitas sedentari sedang (58,33%) dan mengalami hipertensi (61,11%). Proporsi hipertensi lebih tinggi pada kelompok dengan aktivitas sedentari tinggi (86,66%) dibandingkan kelompok dengan aktivitas sedentari sedang (42,85%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas sedentari dengan kejadian hipertensi (p=0,008).
Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh Dan Lemak Visceral Dengan Hipertensi Pada Mahasiswa Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta Muhammad Raffa Januarsyah; Siti Fadhilatun Nashriyah; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1253

Abstract

Background: Hypertension is known as a silent killer because in most sufferers it does not cause symptoms, so it often goes unnoticed until complications in target organs occur. Hypertension not only occurs in the elderly but is also commonly found in young people. College students are a group included in the young adult category. In this age group, hypertension can have an impact not only related to physical health conditions, but also on cognitive function and academic activities. Body mass index and visceral fat are factors that play a role in increasing the risk of hypertension. Research Objective: This study aims to analyze the relationship between body mass index and visceral fat with hypertension in students at 'Aisyiyah University Yogyakarta. Research Method: This study is a quantitative study with an observational analytical design using a cross-sectional approach. The study sample consisted of 97 active students selected using a purposive sampling technique. Measurements of body mass index and visceral fat were carried out using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), while blood pressure was measured using a digital sphygmomanometer. In addition, height measurements were used to calculate body mass index using a stadiometer. Data analysis used the Chi-Square test for eligible variables and Fisher's Exact Test for variables that did not meet the Chi-Square test requirements. Research Result: The results showed that most respondents had a body mass index in the non-overweight category (65%), normal visceral fat category (84%), and did not experience hypertension (80%). The proportion of hypertension was higher in respondents with the overweight category (41%), as well as in respondents with high visceral fat (69%). The results of the analysis showed a significant relationship between body mass index and hypertension (p = <0.001), and there was a significant relationship between visceral fat and hypertension (p = <0.001). Conclusion: The results of this study indicate that body mass index and visceral fat are statistically significantly associated with the incidence of hypertension in students at 'Aisyiyah University Yogyakarta.
Hubungan Obesitas Sentral Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Wanita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sedayu 2 Rahma Annisa; Siti Fadhilatun Nashriyah; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1300

Abstract

Hypertension is a major non-communicable disease and a significant public health concern because it increases the risk of cardiovascular disease, stroke, and kidney failure. Central obesity, characterized by excessive abdominal fat accumulation, is one of the modifiable risk factors associated with elevated blood pressure. This study aimed to determine the relationship between central obesity and the incidence of hypertension among adult women. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 70 adult women selected using purposive sampling. Central obesity was assessed by measuring waist circumference, while hypertension was determined through blood pressure measurements. Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed a significant relationship between central obesity and the incidence of hypertension (p = 0.001). Women with central obesity had a 2.06-fold higher prevalence of hypertension than those without central obesity (PR = 2,06). In conclusion, central obesity is significantly associated with the incidence of hypertension among adult women, highlighting the importance of preventing and controlling central obesity as part of hypertension prevention strategies.
Hubungan Perilaku Makan External Eating dengan Status Gizi Lebih pada Remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Ratna Cahyaningrum; Nor Eka Noviani; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1529

Abstract

Status gizi lebih pada remaja merupakan salah satu masalah gizi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya perilaku makan. External eating merupakan kecenderungan makan sebagai respons terhadap rangsangan eksternal makanan, seperti tampilan, aroma, rasa, dan ketersediaan makanan, tanpa didasarkan pada rasa lapar fisiologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku makan external eating, mengidentifikasi status gizi lebih, serta menganalisis hubungan perilaku makan external eating dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 43 siswa kelas VII dan VIII berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data external eating diperoleh menggunakan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) subskala external eating, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 siswa (51,2%) memiliki external eating kategori rendah dan 21 siswa (48,8%) kategori tinggi. Sebanyak 13 siswa (30,3%) mengalami status gizi lebih, yang terdiri atas 7 siswa (16,3%) overweight dan 6 siswa (14,0%) obesitas, sedangkan 30 siswa (69,7%) tidak mengalami gizi lebih. Hasil uji Chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku makan external eating dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta (p = 0,119). Kata kunci: external eating; status gizi lebih; remaja; DEBQ; cross-sectional