Claim Missing Document
Check
Articles

Komodifikasi Kecantikan Warna Kulit Raisa Qisthy Hermawan Putri; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.9358

Abstract

Abstract. Advertising is one of the means of conveying information/messages. In its dissemination, advertisements do various ways to be attractive to the audience, many advertisements raise feminism in order to attract audience interest in the products being marketed. One of the advertisements that can be studied regarding this issue is Citra's 2022 edition of ‘Ragam Cantik Indonesia Citra’. In contrast to the existing beauty standards in Indonesia, in some scenes in the advertisement, it shows the depiction of women who have diversity in the interpretation of a woman's beauty. This is in line with Indonesian society which has a diversity of ethnicity, culture, race, and religion. This research uses a qualitative research method with a critical paradigm using Sara Mills' critical discourse analysis model. This research aims to find out how the subject and object are positioned, and to find out how the reader/viewer positions himself. In addition, this research aims to find out how the media commoditizes women's skin color in Citra's 2022 edition of ‘Ragam Cantik Indonesia Citra’ advertisement. The result of this research is commodification. The commodification that occurs in this advertisement is that women and the concept of beauty become something that has a commodity and is used for marketing and economic benefits in order to gain profits. The diversity of skin color is raised by Citra as a means to increase the allure of their products in order to reach a wider and more diverse market. Abstrak. Iklan merupakan salah satu sarana penyampaian informasi/pesan. Dalam penyebar luasannya, iklan melakukan berbagai cara untuk dapat menarik bagi khalayak, banyak iklan yang mengangkat feminisme agar dapat menarik minat audiens terhadap produk yang dipasarkan. Salah satu iklan yang dapat dikaji menyangkut permasalah ini adalah iklan Citra edisi ‘Ragam Cantik Indonesia Citra’ tahun 2022. Berbeda dengan standar kecantikan yang ada di Indonesia, dalam beberapa adegan di iklan tersebut menampilkan penggambaran perempuan yang memiliki keragaman dalam penafsiran kecantikan seorang perempuan. Hal tersebut selaras dengan masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, ras, dan agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma kritis menggunakan model analisis wacana kritis Sara Mills. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana posisi subjek dan objek, serta mengetahui bagaimana pembaca/penonton memposisikan dirinya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media melakukan komodifikasi terhadap warna kulit wanita pada iklan Citra ‘Edisi Ragam Cantik Indonesia Citra’ tahun 2022. Hasil dari penelitian ini adalah terjadinya komodifikasi. Komodifikasi yang terjadi di dalam iklan ini yaitu terlihat bahwa perempuan dan konsep kecantikan menjadi sesuatu yang memiliki komoditas dan dimanfaatkan untuk pemasaran dan keuntungan dari segi ekonomi guna meraih keuntungan. Keberagaman warna kulit ini diangkat Citra menjadi sarana untuk meningkatkan daya pikat produk mereka agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan beragam.
Hubungan Antara Komentar Negatif di Media Sosial Instagram dengan Pembentukan Personal Branding: (Studi Korelasional antara Komentar Negatif dengan Personal Branding Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung Angkatan 2021) Fachri Muhammad Ghani; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.9450

Abstract

Abstract. Students are now very close to social media, one of which is Instagram. Especially for students who are in the middle phase of the lecture period, social media is one place to develop their character and personality. But it is undeniable that social media can avoid negative messages in the comments column on Instagram. Researchers used David K. Berlo's SMCR theory to find the relationship between negative comments on Instagram and the formation of Personal Branding. This study uses a correlational quantitative approach by measuring the number of samples of 100 respondents obtained from the number of Fikom students class of 2021 who are active on social media and have received negative comments. Data collection techniques are obtained through questionnaires, literature studies, and interviews. The data obtained will be processed by applying the spearman rank formula. Where the results will test the hypothesis of crosses between variants. Abstrak. Mahasiswa kini sangat dekat dengan media sosial, salah satunya Instagram. Khususnya pada mahasiswa yang berada di fase pertengahan periode perkuliahan, media sosial menjadi salah satu tempat pengembangkan karakter dan kepribadian mereka. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam media sosial dapat terhindar dari pesan yang bersifat negatif pada kolom komentar di Instagram. Peneliti menggunakan teori SMCR dari David K. Berlo untuk menemukan alur hubungan pada komentar negatif di Instagram dengan pembentukan Personal Branding. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan mengukur jumlah sampel sebanyak 100 responden yang diperoleh dari jumlah Mahasiswa Fikom angkatan 2021 yang aktif di media sosial dan pernah menerima komentar negatif. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui angket (Kuesioner), studi pustaka, wawancara. Data yang diperoleh akan diolah dengan mengaplikasikan rumus rank spearman. Dimana hasilnya akan menguji hipotesis dari persilangan antar variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara komentar negatif dengan pembentukan personal branding mahasiswa Fikom Unisba Angkatan 21, dengan hasil uji korelasional sebesar 0.460 pada pengabaian pesan terhadap pembentukan personal branding, dan sebesar 0.593 pada emosional pribadi terhadap pembentukan personal branding. Kategori hubungan sedang, signifikan, dan searah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pesan yang diabaikan maka pembentukan personal branding juga akan semakin tinggi. Dan semakin tinggi emosional pribadi maka pembentukan personal branding juga akan semakin tinggi.
Literasi Digital Anak dalam Menggunakan Media Sosial TikTok: Studi Kasus Fungsi Pengawasan Media Sosial TikTok pada Siswa Kelas 6 SDIT Anni’mah Azka Muhammad Razaka; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.9484

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to find out the supervision of parents and teachers in the use of social media TikTok on children in the 6th grade students of SDIT Anni'mah based on 4 aspects of digital literacy formulated by the Ministry of Communication and Informatics, namely digital skills, digital ethics, digital safety, and digital culture. This study uses a qualitative method with a case study approach to describe facts systematically based on the results of interviews, observations, and documentation in the field with the parents and teachers of SDIT Anni'mah who are the subjects of this research. The data were analyzed using data reduction analysis techniques, data presentation, and conclusion drawing, as well as triangulation to ensure the validity of the data. The results of the study show that children/students in the four aspects of digital literacy have been able to fulfill three of them, namely digital skills, digital ethics, and digital culture. Students have not been able to fulfill one of the four aspects of digital literacy, namely digital safety because children/students have not been given an understanding of this from both the teacher and their parents, it's just that parents and teachers have carried out monitoring activities for children by using the notification feature which provided by TikTok so that every child who uploads content, a notification will appear on the parent's account. Parents and teachers also supervise by occasionally looking at children's smartphones to find out what activities children are doing on social media TikTok. Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengawasan orang tua dan guru dalam penggunaan media sosial TikTok pada anak di lingkungan siswa kelas 6 SDIT Anni’mah berdasarkan 4 aspek literasi digital yang dirumuskan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yaitu digital skills, digital ethics, digital safety, dan digital culture. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mendeskripsikan fakta-fakta secara sistematis berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di lapangan dengan orang tua murid dan guru SDIT Anni’mah yang menjadi subjek penelitian ini. Data dianalisa dengan menggunakan teknik analisis reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta dilakukan triangulasi untuk memastikan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak/murid dalam keempat aspek literasi digital sudah mampu memenuhi tiga diantaranya yaitu digital skills, digital ethics, dan digital culture. Murid belum mampu memenuhi salah satu dari keempat aspek literasi digital yaitu digital safety karena anak/murid belum diberi pemahaman mengenai hal ini baik dari guru maupun dari orang tuanya, hanya saja orang tua dan guru sudah melakukan kegiatan pengawasan pada anak dengan cara menggunakan fitur notifikasi yang disediakan oleh TikTok sehingga setiap anak yang mengunggah suatu konten, maka akan muncul notifikasi di akun orang tua. Orang tua dan guru juga mengawasasi dengan cara sesekali melihat smartphone anak untuk mengetahui kegiatan yang anak lakukan pada media sosial TikTok.
Pengaruh Live Streaming Sales Tiktok terhadap Minat Beli Konsumen Muhammad Ali Fakri; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i2.7714

Abstract

Abstract. At this time online buying and selling transactions have been widely carried out, with ease and does not require more effort to make people prefer to transact online, technically consumers only have to choose the desired item with an explanation that has been explained by a company. However, not a few consumers feel disadvantaged because the items purchased are unsatisfactory or do not match the photos and descriptions listed. With the Tiktok live streaming feature, consumers can pay close attention to the detailed description of a product being sold, not only paying attention, but the Tiktok live streaming feature is also an interactive feature so that consumers have the opportunity to ask questions ranging from advantages and disadvantages to the size they are interested in. The purpose of this research is to find out how much influence the live streaming Sales of Tiktok have on consumer buying interest. The theory used in this research is S-O-R and AIDDA theory. This study also uses a quantitative approach with correlational analysis methods. Respondents in this study were followers of the Screamous brand, totaling 400 respondents Abstrak. Pada saat ini transaksi jual beli secara online sudah marak dilakukan, dengan kemudahan dan tidak memerlukan tenaga yang lebih membuat orang-orang lebih senang bertransaksi secara online, secara teknisnya konsumen hanya tinggal memilih barang yang diinginkan dengan penjelasan yang telah dipaparkan oleh suatu perusahaan. Namun tidak sedikit konsumen yang merasa dirugikan karena barang yang dibeli kurang memuaskan atau tidak sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera. Dengan fitur live streaming tiktok konsumen dapat memperhatikan secara detail deskripsi suatu produk yang dijual tidak hanya memperhatikan saja namun fitur live streaming tiktok juga terbilang fitur yang interaktif sehingga para konsumen memiliki kesempatan untuk bertanya mulai dari kelebihan dan kekurangan hingga ukuran yang diminati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh live streaming Sales tiktok terhadap minat beli konsumen. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori S-O-R dan AIDDA. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis korelasional. Responden dalam penelitian ini adalah followers dari brand Screamous yang berjumlah 400 responden. Hasil dari penelitian ini adalah H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian terdapat pengaruh live streaming Sales tiktok terhadap minat beli konsumen pada brand Screamous.
Peningkatan Kapasitas Literasi Lansia Dalam Penggunaan Media Digital Pada Forum Silahturahmi Pensiunan Fera Tri Susilawaty; Jumrana Jumrana; Marsia Sumule; Santi Indra Astuti; Giri Lumakto; Cecep Ibrahim; Rahmawati Rahmawati; Yunita Simatupang
MENARA RIAU Vol 17, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/menara.v17i2.22125

Abstract

Seniors who are digital immigrants, namely those born when digital media did not yet exist, were forced to move into a completely digital world. Habits and culture are certainly very different. In this dilemma, it is not uncommon for elderly citizens to be targets of misuse of digital devices. So, we carried out this activity to be able to provide knowledge related to digital literacy, train the elderly in fact-checking with methods and tools and be able to make the elderly become agents of digital literacy. The method of this activity is training accompanied by an activity facilitator. Delivery of training with lectures, discussions, and use of fact-checking tools. The results of the training show that participants can know about digital security and personal data protection, can identify hoaxes, and can carry out independent fact checks
Memberdayakan Komunitas Lokal dalam Gerakan Literasi Digital Santi Indra Astuti; Juli R. Binu
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 2, No. 2, Desember 2022 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v2i2.1350

Abstract

Abstract. Digital literacy is a skill needed by everyone in this information-rich society. Despite the increasing technology and its massive usage, the approach to develop digital literacy is still top down. Hence, it is difficult to reach the whole society to increase their ability and creating digital gap between digital literate versus digital illiterate group. A breakthrough in developing digital literacy by employing a bottom up-and-community based approach is indispensable to resolve the threat of digital gap. Tular Nalar Summit is an international scale event organized in collaboration with Magelang District government. The Program is consisted of seminar, talk show, call for paper symposium, and awarding. The whole event involve the local communities in Magelang District as the committee and participant. The aim of Tular Nalar Summit is organizing digital literacy initiative by empowering local community resources. The successful collaboration is determined by three variables, i.e. a solid coordination, transfer of knowlege for technical aspect, and the translation of the program vision and mission into the event. Abstrak. Literasi digital merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh siapa saja, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan penggunaannya yang masif di sekitar kita. Kendati demikian, gerakan literasi digital yang bersifat top down, sulit untuk menjangkau masyarakat secara menyeluruh guna meningkatkan kapasitas mereka. Padahal, ekses akibat minimnya literasi digital telah terjadi di mana-mana. Diperlukan terobosan berupa gerakan literasi digital secara bottom up dengan berbasis komunitas lokal agar ancaman kesenjangan digital dapat teratasi. Program Tular Nalar Summit berskala internasional diselenggarakan dalam kerangka kolaborasi dengan Kabupaten Magelang. Program tersebut terdiri dari Seminar Internasional, Tular Nalar Talks, Simposium Call for Paper, dan penganugerahan Tular Nalar Award. Keseluruhan acara melibatkan komunitas lokal baik sebagai pelaksana maupun partisipan. Sukses kolaborasi memperlihatkan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Magelang mampu menggelar perhelatan internasional. Sukses ini ditentukan oleh tiga hal, yaitu koordinasi yang solid, keberhasilan transfer of knowledge untuk menguasai aspek teknis, serta penerjemahan visi misi ke dalam detail acara.
Involvement of State Officials As Cast of Characters in Folk Theater Ketoprak RRI Yogyakarta Joe Harrianto Setiawan; Santi Indra Astuti; Rawi Diwangkara; Daniari Setiawati
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.57504

Abstract

Ketoprak is a traditional Javanese performing art that incorporates elements of karawitan, dance, comedy, song, acting, and artistic arrangements. Traditional art is divided into two types, such as folk art and classical art, or palace art. Ketoprak is a folk art that has its origins among the people who live outside the palace. As a folk art, ketoprak is also used to communicate to the authorities issues that the people are concerned about. Criticizing through the performing arts is a powerful way to express criticism without taking offense. Ketoprak is usually performed by a group of artists on stage. However, in recent years, ketoprak performances have been performed not only by community performer groups but also by state officials taking the cast of characters on stage. The involvement of state officials at all levels, from regional to ministerial, as well as guest stars and main characters. Including those carried out under the RRI Yogyakarta ketoprak program. The descriptive qualitative research method was used to figure out how the implementation of the ketoprak program at RRI can preserve ketoprak's dignity as a folk theater, despite the fact that it is represented by state officials, by conducting interviews with program producers and respected ketoprak performers from Yogyakarta. The study's findings show that in its development, ketoprak was divided into two forms, conventional ketoprak which was standard with rules or pakem that were still preserved by RRI Yogyakarta and ketoprak garapan which is open to be interpreted in various ways and is free to be casted by anyone, including officials who are performed in the live version of the RRI Ketoprak Program.
Migrasi Radio Konvensional menjadi Radio Digital Salman Aditya Rahman Santoso; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.12828

Abstract

Abstract. The digitalization process in the radio broadcasting industry has made radio easy to access and consume by loyal radio listeners. Digital radio is a new trend among broadcasters and even beginners in this field, starting from various social media to applications focused on radio broadcasting have begun to develop features to make it easier for people to produce their works in this field. This research discusses how Media Convergence is implemented on 24Station campus radio. This research aims to find out how the migration of conventional radio to digital radio within the framework of media convergence in the 24Station radio community. This research explores the views of individuals and communities on the migration of campus radio to digital media. The study focuses on how they apply digital radio as a form of media convergence, based on their experiences in running programs for listeners. This research uses a qualitative approach as well as a case study method. The research subjects chosen were Ex-Kasie. Radio Laboratory, Radio Laboratory Ex-Labourer, Radio Laboratory Labourer and Radio Laboratory Assistant. The data collection techniques used were unstructured interviews and direct observation. The results of this study are that with all the migration processes, through existing regulations and policies, as well as the development mechanisms created, and the interaction patterns that exist, Radio 24Station still cannot be called a digital radio because it still uses web streaming radio, but Radio 24Station is in the process of digitizing radio and becoming a form of media convergence in the campus environment. Abstrak. Proses digitalisasi pada industri penyiaran radio membuat radio menjadi mudah untuk diakses dan dikonsumsi oleh para pendengar setia radio. Radio digital menjadi tren baru di kalangan para pegiat penyiaran bahkan pemula di bidang penyiaran ini, dimulai dari berbagai media sosial hingga aplikasi yang difokuskan pada bidang penyiaran radio sudah mulai mengembangkan fitur-fitur untuk memudahkan khalayak menghasilkan karya-karyanya di bidang ini. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana Konvergensi Media diimplementasikan pada radio kampus 24Station. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana migrasi radio konvensional menjadi radio digital dalam kerangka konvergensi media pada komunitas radio 24Station. Penelitian ini mengeksplorasi pandangan individu dan komunitas terhadap migrasi radio kampus ke media digital. Studi ini fokus pada bagaimana mereka mengaplikasikan radio digital sebagai bentuk konvergensi media, berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalankan program-program untuk pendengar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan juga metode studi kasus. Subjek penelitian yang dipilih merupakan Eks-Kasie. Laboratorium Radio, Eks-Laboran Laboratorium Radio, Laboran Laboratorium Radio dan Asisten Laboratorium Radio. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara tidak terstruktur dan observasi secara langsung. Hasil dari penelitian ini adalah dengan segala proses migrasi, melalui regulasi dan kebijakan yang ada, serta mekanisme pengembangan yang dibuat, dan juga pola interaksi yang terjalin, Radio 24Station masih belum bisa disebut sebagai radio digital karena masih menggunakan radio web streaming, akan tetapi Radio 24Station sedang dalam proses digitalisasi radio dan menjadi wujud konvergensi media pada lingkungan kampus.
Pola Komunikasi Interpersonal Orang Tua terhadap Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Sylvi; Santi Indra Astuti
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i1.10462

Abstract

Abstract. This study aims to determine the pattern of interpersonal communication between parents and early childhood in Cimenyan State Kindergarten in supporting cognitive development. Children at an early age level (kindergarten) need guidance to help physical and spiritual growth and development so that children have the preparation to enter primary school. The discussion of this research focuses on parents' interpersonal communication patterns on cognitive development of early childhood, therefore researchers want to know more deeply about how parents' interpersonal communication patterns on children's cognitive development (kindergarten) with aspects of communication patterns. This study uses qualitative research methods, with data collection techniques of interviews and observations to parents, teachers and students of Cimenyan State Kindergarten as research subjects. Data were analyzed using data reduction analysis techniques, data presentation and conclusion drawing, as well as triangulation for data validity. The results of the study Interpersonal communication that exists between parents and early childhood at TK Negeri Cimenyan is going well, but parents as the main educators and those who have the most time with children are still not aware of factors that can hinder communication and child development. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak usia dini di TK Negeri Cimenyan dalam menunjang perkembangan kognitif. Anak pada jenjang usia dini (TK) memerlukan pembinaan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki persiapan untuk memasuki sekolah dasar. Pembahasan penelitian ini berfokus pada pola komunikasi interpersonal orang tua terhadap perkembangan kognitif anak usia dini, maka dari itu peneliti ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai bagaimana pola komunikasi interpersonal orang tua terhadap perkembangan kognitif anak (TK) dengan aspek-aspek pola komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan Teknik pengumpulan data wawancara dan observasi kepada orang tua, guru dan siswa TK Negeri Cimenyan sebagai subjek penelitian. Data dianalisa dengan menggunakan Teknik analisis reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, serta triangulasi untuk keabsahan data. Hasil dari penelitian Komunikasi interpersonal yang terjalin antara orang tua dan anak usia dini TK Negeri Cimenyan berjalan dengan baik namun orang tua sebagai pendidik utama dan pihak yang paling banyak memiliki waktu bersama anak masih belum menyadari faktor yang dapat menghambat komunikasi dan perkembangan anak.
Membedah Anime sebagai Media Edukasi Kesehatan Irsalina Nabilah; Astuti, Santi Indra
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.13218

Abstract

Abstrak. Anime adalah media hiburan berbentuk animasi dari Jepang yang populer dikalangan anak muda. Selain hiburan, anime merupakan media edukasi berdasarkan pesan yang disampaikan dari alur ceritanya. Anime Hataraku Saibou! Black merupakan anime bertema edukasi kesehatan mengenai penyakit dalam yang divisualisaikan menjadi karakter animasi. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui makna edukasi kesehatan terkait penyakit dalam pada anime Hataraku Saibou! Black dilihat dari denotasi, konotasi, dan mitos berdarkan analisis visual dari Mise en Scene. Metode pendekatan yang digunakan yaitu Semiotika Roland Barthes melalui analisis video visual dan studi literatur. Objek penelitian yang diteliti adalah anime Hataraku Saibou! Black pada episode 01, episode 06 dan episode 12. Pemilihan episode ini berdasarkan kesamaan dari segi representasi penyakit tubuh yang dapat terpicu akibat kebiasaan buruk yang terus berulang. Hasil dari penelitian ini, yaitu : pertama, makna denotasi dalam anime Hataraku Saibou! Black adalah terdapat tanda dari visual dan teks yang mengandung makna nilai edukasi kesehatan berdasarkan representasi pada tayangan anime. Kedua, konotasi dalam anime Hataraku Saibou! Black adalah memberikan peringatan atas bahaya dari kebiasaan buruk yang dilakukan tanpa disadari secara terus menerus. Ketiga, makna mitos dalam anime Hataraku Saibou! Black adalah fungsi anime tidak sebatas media hiburan namun dapat menjadi media edukasi berdasarkan fakta sains, menghindari kebiasaan buruk yang memicu penyakit serta meniru kebiasaan makanan orang Jepang berdasarkan anime.