Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Konstruksi Identitas Guru Bimbingan Konseling sebagai Komunikator Pendidikan Astiti, Putri; Suminar, Jenny Ratna; Rahmat, Agus
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 1 (2018): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 48a/E/KPT/2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.949 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i1.7738

Abstract

Penelitian ini bermula dari dihilangkannya jam kelas bagi guru bimbingan dan konseling (BK) serta masih kurangnya jumlah guru BK di SMA Negeri di Kota Bandung. Peneliti ingin mengkaji lebih jauh mengenai motivasi, makna profesi, dan pengalaman komunikasi yang dialami oleh guru BK. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini mencoba untuk mencari pemaknaan mengenai bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas. Pada penelitian ini data diperoleh dari tujuh guru BK sebagai key informant. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga kategori yang melatarbelakangi alasan untuk menjadi guru, yaitu keinginan pribadi, arahan orang tua dan lingkungan pergaulan atau pertemanan. Hasil penelitian ini juga memunculkan dua kategori makna identitas guru BK, yaitu makna positif dan makna negatif. Makna positif dinyatakan pada guru sebagai orang tua, dicintai anak-anak, membantu siswa mengenali dirinya, harus tahu segala hal, dan guru yang sempurna. Makna negatif dinyatakan pada guru sebagai ganjal pintu dan guru yang masih dianggap sebagai polisi sekolah. Pengalaman komunikasi guru BK berlangsung pada konteks komunikasi antarpribadi, kelompok dan organisasional. Guru BK sebagai komunikator pendidikan harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Gambaran kondisi guru BK dalam memaknai profesi diharapkan dapat dijadikan rujukan pengambil kebijakan agar lebih memahami secara mendalam mengenai pentingnya keberadaan guru BK di sekolah.
Konstruksi Identitas Guru Bimbingan Konseling sebagai Komunikator Pendidikan Putri Astiti; Jenny Ratna Suminar; Agus Rahmat
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.949 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i1.7738

Abstract

Penelitian ini bermula dari dihilangkannya jam kelas bagi guru bimbingan dan konseling (BK) serta masih kurangnya jumlah guru BK di SMA Negeri di Kota Bandung. Peneliti ingin mengkaji lebih jauh mengenai motivasi, makna profesi, dan pengalaman komunikasi yang dialami oleh guru BK. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini mencoba untuk mencari pemaknaan mengenai bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas. Pada penelitian ini data diperoleh dari tujuh guru BK sebagai key informant. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga kategori yang melatarbelakangi alasan untuk menjadi guru, yaitu keinginan pribadi, arahan orang tua dan lingkungan pergaulan atau pertemanan. Hasil penelitian ini juga memunculkan dua kategori makna identitas guru BK, yaitu makna positif dan makna negatif. Makna positif dinyatakan pada guru sebagai orang tua, dicintai anak-anak, membantu siswa mengenali dirinya, harus tahu segala hal, dan guru yang sempurna. Makna negatif dinyatakan pada guru sebagai ganjal pintu dan guru yang masih dianggap sebagai polisi sekolah. Pengalaman komunikasi guru BK berlangsung pada konteks komunikasi antarpribadi, kelompok dan organisasional. Guru BK sebagai komunikator pendidikan harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Gambaran kondisi guru BK dalam memaknai profesi diharapkan dapat dijadikan rujukan pengambil kebijakan agar lebih memahami secara mendalam mengenai pentingnya keberadaan guru BK di sekolah.
The Role Of Instagram Social Media As A Public Communication Media At Puskesmas Cilengkrang Kabupaten Bandung Putri Astiti; Duane Masaji Raharja
Journal of Public Administration Vol 2 No 1 (2023): Volume 2 Number 1, April 2023
Publisher : STIA Bagasasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61317/jc.v2i1.58

Abstract

Social media used by government agency can act as a medium of communication with the masses, not only by verbal means. Nowdays, government agency on various level have used social media to spread information to the people. They are certainly cannot be detach from Public Communication. Public Communication is a process of delivering messages or interaction with the public where the message can be in a form of education, instruction, or information. Puskesmas is a government agency as a center for development, construction, and service. Also function as vanguard post for developmentof community healthcare services. Therefore, Puskesmas Cilengkrang utilize social mediaas a channelto deliver various information about healthcare. In this case they used Instagram. The role of @pkm_cilengkrang_kabbandung Instagram is to convey information about various government programs and all event held by Puskesmas Cilengkrang Kabupaten Bandung. This research shows that type of information conveyed by Puskesmas Cilengkrang Kabupaten Bandungon Instagram is about government program to support people healthcare, training or workshop event held there, education regarding community healthcare, and also schedule of immunizations or regular vaccinations.
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS LAYANAN CUSTOMER SERVICE DENGAN KEPUASAN PELANGGAN Putri Astiti
JP3M: Jurnal Pendidikan, Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 1 No 1 (2019): JURNAL PENDIDIKAN PEMBELAJARAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The proposed research study the correlation between five dimension of service quality and customer satisfaction, in which the five dimension include of tangibility, reliability, ability to response, assurance, and empathy. Correlation method and quantitative analysis technique are used in this research. Data and information needed should be accurate and factual to be gathered and arranged systematically, supported by deep observation, literature study, and interview to management of Toserba in Banding City. Therefore, 98 of 5,428 active Toserba Card users on Toserba was taken as sample.The result of this research shows a strong correlation between Service Quality Of Customer Service And Customer Satisfaction Toserba which mean service quality has significant contribution to customer satisfaction on Pasaraya Toserba . The results of this study indicate that Toserba need additional training in order to improve the quality of customer service.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENERTIBAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BANDUNG Sunandie Eko Ginanjar; Hendra Permana; Putri Astiti; Dea Melati; Jiwa Riwayanti
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 10, No 3 (2023): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/dak.v10i3.12686

Abstract

Pedagang Kaki Lima merupakan fenomena umum yang terjadi di kota-kota besar Indonesia. Kasus PKL dinilai banyak pihak sebagai suatu bentuk dari kegagalan pemerintah menyediakan lapangan kerja untuk kaum miskin. Kota Bandung merupakan salah satu kota yang juga banyak dihuni oleh para PKL. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Keberadaan PKL di Kota Bandung telah menimbulkan banyak permasalahan, diantaranya membuat kota menjadi tidak tertib, kotor dan menimbulkan kemacetan. Tindakan penertiban telah dilakukan oleh aparatur Satpol PP. Kegiatan penertiban yang dilakukan oleh para aparatur penertiban biasanya dalam bentuk pengusiran terhadap para PKL tersebut. Tidak jarang juga aparat penertiban melakukan penggusuran dan penyitaan terhadap tempat berjualan PKL yang masih membandel dan tidak mendengarkan para petugas. Penertiban PKL di Kota Bandung selama ini dilakukan belum berjalan dengan maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: (1) Belum adanya hukuman yang tegas terhadap para PKL yang masih tetap berjualan dipinggir jalan walaupun telah berulang kali diperingatkan oleh petugas. Hukuman yang diberikan hanya bersifat administratif atau teguran-teguran, pengusiran dan penyitaan barang PKL untuk sementara waktu. (2) Pemerintah Kota Bandung belum konsisten dan kompak dalam menyikapi keberadaan PKL, terlihat dengan dilakukannya kutipan retribusi terhadap para PKL yang berjualan di pinggir jalan, sedangkan keberadaan PKL dilarang. Kata Kunci : Implementasi; Kebijakan; Pedagang Kaki Lima
Implementasi Kebijakan Rumputisasi UPT Wilayah 1 TPU Cibarunay Kota Bandung: - Ferninda, Muhammad Dimas; Ramdan, Mochamad; Daffa Rafyandi, Muhammad; Astiti, Putri
Jurnal Administrasi Publik dan Bisnis Vol 6 No 2 (2024): September
Publisher : LPPM STIA Lancang Kuning Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36917/japabis.v6i2.159

Abstract

Identifikasi dan memperoleh informasi merupakan tujuan dari penelitian tentang Implementasi Kebijakan Rumputisasi UPT wilayah 1 TPU Cibarunay Kota Bandung. Metode yang digunakan merupakan metode deskriptif pendekatan kualitatif dan menggunakan teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini memberikan penjelasan tentang Implementasi Kebijakan Rumputisasi UPT wilayah 1 TPU Cibarunay Kota Bandung. Hasil dari penilitian ini menggambarkan dan menunjukan bahwa berdasarkan implementasi nya terdapat ketidak konsistenan dalam pelaksanaan regulasi kebijakan yang sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandung, karena hambatan dan kekurangan nya.
Peran Komunikasi Dalam Pendidikan Era Digital Astiti, Putri; Raharja, Duane Masaji
Gandiwa Jurnal Komunikasi Vol 3, No 2 (2023): Gandiwa Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/g.v3i2.2514

Abstract

Penelitian ini menginvestigasi dinamika proses komunikasi pendidikan di era digital, dengan fokus pada pengalaman pembelajaran di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bagasasi. Pendidikan di era digital memperkenalkan paradigma baru dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa, serta penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran komunikasi dalam pembelajaran online dan mengevaluasi dampaknya terhadap interaksi, keterlibatan mahasiswa, dan hasil pembelajaran.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan dosen, observasi pembelajaran online, dan analisis dokumen seperti Rencana Pembelajaran Semester (RPS), materi ajar, serta umpan balik mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik, mengidentifikasi pola-pola utama dalam dinamika komunikasi pendidikan di STIA Bagasasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa STIA Bagasasi telah berhasil mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran, memanfaatkan platform seperti Zoom, Google Meet, dan Google Classroom. Proses komunikasi antara dosen dan mahasiswa melibatkan pemberian materi melalui berbagai media, tugas daring, dan umpan balik yang dilakukan secara online. Kendala seperti penggunaan bahasa yang kurang baik, hambatan teknologi, dan tantangan citra pendidik juga diidentifikasi. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana komunikasi pendidikan beradaptasi dengan era digital di STIA Bagasasi. Implikasi temuan ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi, utamanya pada konteks pembelajaran era digital.
MODEL KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK Astiti, Putri; Winarti, Agus; Astuti, Livia
JP3M: Jurnal Pendidikan, Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 1 (2025): JURNAL PENDIDIKAN PEMBELAJARAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jp3m.v7i1.925

Abstract

Abstrak: Komunikasi merupakaan fondasi kehidupan manusia yang dibangun untuk menjalin hubungan sesama. Komunikasi orang tua pada anak terjadi pada diri anak yang berkelanjutan dan secara sendirinya akan membentuk karakter anak. Keluarga menjadi tempat yang pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Fokus penelitian ini adalah model komunikasi keluarga untuk membentuk karakter anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana implementasi model komunikasi keluarga dalam membentuk karakter anak. Apa yang menjadi pendukung dan penghambat dalam menerapkan model komunikasi yang di aplikasikan dalam keluarga antara orang tua dan anak. Model komunikasi keluarga yang umum di gunakan dalam keluarga adalah Model otoriter dengan menggunakan aturan yang ketat dan mengharapkan kepatuhan tanpa banyak diskusi; Model permisif orang tua cenderung memberikan kebebasan yang besar pada anak dan jarang memberian batasan atau disiplin dan; Demokratis, orang tua berdiskusi dan berkolabrasi dalam mengambil keputusan, dengan memberikan ruang bagi anak untuk kebebasann kepada kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif mendengarkan pendapatnya, dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dan prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisa data: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Implementasi model komunikasi keluarga dalam membentuk karakter anak mayoritas dengan menggunakan model demokratis; (2) Faktor pendukung adalah latar belakang orang Jawa masih hormat dan taat kepada kedua orang tuanya atau yang di tuakan dalam keluarga. (3) Faktor penghambat adalah adanya kemajuan teknologi, anak lebih banyak bermain dengan hadirnya smartphone sehingga waktu untuk komunikasi bersama berkurang. Kunci: komunikasi; keluarga; karakter. Abstract Communication serves as the fundamental foundation of human life, built to foster relationships. Parent-child communication is a continuous process that intrinsically shapes a child's character. The family is the primary and most crucial environment for a child's character formation. This study focuses on family communication models in shaping children's character. The objectives of this research are to understand the implementation of family communication models in shaping children's character and to identify the facilitating and hindering factors in applying these communication models within families, specifically between parents and children. Common family communication models include: the Authoritarian model, which uses strict rules and expects obedience without much discussion; the Permissive model, where parents tend to grant great freedom to children and rarely impose limits or discipline; and the Democratic model, where parents discuss and collaborate in decision-making, providing children with the opportunity for active participation, listening to their opinions, and involving them in the decision-making process. This study employs a descriptive qualitative method, with data collection procedures involving observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings indicate that: (1) The implementation of family communication models in shaping children's character predominantly utilizes the democratic model; (2) Supporting factors include the Javanese cultural background, where children still show respect and obedience to their parents or elders within the family; (3) Hindering factors include the advancement of technology, leading children to spend more time with smartphones, thus reducing time for shared communication. Keywords: communication; family; character.
Konstruksi Identitas Sosial dan Budaya Konsumtif di Era Digital Putri Astiti
Konsensus : Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2026): Februari : Konsensus : Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/konsensus.v3i1.1508

Abstract

Advances in information technology have ushered society into the new media era, where social media is not just an information tool but also a new social space for teenagers. Instagram, as a visual-based platform, plays a significant role in shaping the reality of ideal lifestyles. Teenagers, who are in the process of discovering their identities, are susceptible to the influence of influencers and aesthetically constructed lifestyle trends on social media. This often triggers a shift in consumption patterns from functional to symbolic needs. This study used a qualitative descriptive approach. The subjects consisted of 10 students from the 2025 class of International Women University in Bandung, aged 18-20. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed through data reduction and presentation. The findings indicate that all subjects are active social media users, spending 4 to 9 hours per day. They use Instagram as a means of building their personal branding and seeking lifestyle references. There is a tendency for consumer behavior driven by four main factors: peer influence and the Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon, the use of goods as symbols of social identity (sign value), exposure to persuasive content from opinion leaders or influencers, and consumption as psychological compensation (self-reward) to relieve academic stress. Students tend to make impulsive purchases of viral fashion, beauty, and culinary products to gain social recognition online.
Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan Penyemaian Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Putri Astiti; Sunandie Eko Ginanjar; Gina Sofia Rahman; Suci Larassati Anjani
ALKHIDMAH: Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober : Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat
Publisher : LP3M INSTITUT KH YAZID KARIMULLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/alkhidmah.v1i4.522

Abstract

Waste is remainder from people's daily activities. Waste that is not properly managed, will gradually become a serious problem for the environment. The aim of this community service is to give knowledge to the people of Loa Village on how to manage waste properly, by utilizing organic waste into Liquid Organic Fertilizer or Pupuk Organik Cair (POC) and understand the importance of Family Medicinal Herbs or Tanaman Obat Keluarga (TOGA) for the family use. The method used in this service is delivering material on how to make POC and planting TOGA. The results of this activity can be concluded that the people/residents of Loa Village who took part in the activity were able to understand well about how to make POC and the benefits obtained from POC and TOGA.