Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Amerta

Tumbuhan dalam Konteks Permukiman dan Penguburan: Studi Fitolit dari Situs Doro Mpana, Dompu, Nusa Tenggara Barat Wahyu Pratama, Aldhi; Anggraeni; Juliawati, Ni Putu Eka
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.712

Abstract

Abstract. Plants in the Settlement and Burial Context: Phytolith Study from Doro Mpana Site, Dompu, West Nusa Tenggara. The Doro Mpana site in Dompu, West Nusa Tenggara is one of the sites with traces of human interaction with the surrounding vegetation. Excavations have revealed human activities in the past, specifically settlement and burial activities. Archaeobotanical research conducted at the Doro Mpana site aims to determine the use of plants by its inhabitants. The research took an archaeobotanical approach, using phytolith data from pottery residues. Eighteen fragments of pottery edges and 3 fragments of pottery bodies were taken from box S20B1, and 10 fragments of pottery edges and 4 fragments of pottery bodies were taken from box T1S20, which had a settlement context. Meanwhile, samples with burial context were taken from concentrated pottery in spit 7 of box S20B1 and spit 4 of box T1S20. Phytolith extraction was carried out using a heavy-liquid floatation method with SPt (Sodium Polytungstate) solution, and identification was done using ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). The results showed the presence of various plants such as palm tree (Arecaceae), bamboo (Poaceae) and ginger plants (Zingeberaceae) that were likely utilised in the past by the inhibitants of the Doro Mpana Site in the XIII-XV centuries AD. Keywords: sediments, residue, phytolith, earthenware, Doro Mpana Site   Abstrak. Situs Doro Mpana di Dompu, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu situs dengan indikasi adanya interaksi manusia dengan tumbuhan di sekitarnya. Ekskavasi yang telah dilakukan menemukan adanya aktivitas manusia di masa lalu, yakni aktivitas permukiman dan penguburan. Penelitian arkeobotani yang dilakukan pada Situs Doro Mpana, bertujuan untuk mengetahui bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh manusia pendukungnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan arkeobotani menggunakan data fitolit yang diambil dari residu gerabah. Sampel yang diambil adalah 18 fragmen tepian gerabah dan 3 fragmen badan gerabah dari kotak S20B1, serta 10 fragmen tepian gerabah dan 4 fragmen badan gerabah dari kotak T1S20 yang memiliki konteks permukiman. Sementara, sampel dengan konteks penguburan diambil dari gerabah terkonsentrasi pada spit 7 kotak S20B1 dan spit 4 kotak T1S20. Ekstraksi fitolit dengan metode heavy-liquid floatation dengan larutan SPt (Sodium Polytungstate) dan identifikasi menggunakan nomenklatur ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa tumbuhan seperti palem-paleman (Arecaceae), bambu (Poaceae) dan tumbuhan temu-temuan (Zingeberaceae) yang kemungkinan dimanfaatkan di masa lalu oleh manusia pendukung Situs Doro Mpana pada abad XIII–XV M. Kata kunci: sedimen, residu, fitolit, gerabah, Situs Doro Mpana
LANSKAP HUNIAN PRASEJARAH DI KAWASAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KARAMA, MAMUJU, SULAWESI BARAT Darojah, Citra Iqliyah; Anggraeni
AMERTA Vol. 37 No. 2 (2019)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract, Landscape of Prehistoric Settlement in Karama River Basin Sites, Mamuju, South Sulawesi. Researches at Karama River Basin sites have been conducted for years which gave indication of intensive human occupation during Prehistoric period. Hence, it is necessary to reveal and to understand the reason behind this human occupation based on the correlation between morphology, site characteristics, and site distributions. Scientific method was applied to obtain data from the field and to conduct spatial analysis. Disturbance caused by erosion and morphologic changes led to archaeological data transformation and also affected physical environment of archaeological sites. However, that kind of disturbance did not reduce the the importance of physical environment as spatial analysis data. Spatial analysis of sites along the main stem of Karama River both in downstream region and upstream region indicates occupation landscape characteristics. These characteristics can be seen from the location of the occupation which was close to waterway alluvial morphology (hilltop, hill terrace, and river terrace), at relatively flat surface area, and along the riverside or river confluence. There are two highlighted factors from landscape characteristics to support human occupation: accessibility and protection. Accessibility means there is no difficulties to access natural resources and there is possible access to secure interaction between communities. Protection means the location is relatively safe or less affected by both natural and human hazards. Those factors were probably the main reasons to choose Karama River Basin for human settlement. Keywords: Landscape, occupation, Prehistoric, river Basin, Karama   Abstrak, Penelitian situs di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Karama, Sulawesi Barat, telah dilakukan selama bertahun-tahun dan menghasilkan indikasi aktivitas hunian yang intensif pada masa Prasejarah. Dengan demikian, perlu diupayakan mencari alasan di balik penghunian manusia di DAS Karama berdasarkan korelasi antara morfologi, karakteristik situs, dan distribusi situs. Metode saintifik diterapkan untuk mendapatkan data dari lapangan dan melakukan analisis spasial. Perubahan morfologi lokasi situs dan erosi di kawasan DAS Karama menyebabkan transformasi data arkeologi serta memengaruhi lingkungan fisik lokasi situs. Meskipun demikian, pengaruh tersebut tidak lantas mengurangi pentingnya komponen fisik lokasi situs sebagai data analisis spasial. Analisis korelasi data dari situs, baik di sepanjang aliran utama Sungai Karama di kawasan muara maupun di kawasan pedalaman, mengindikasikan karakteristik lanskap hunian. Karakteristik tersebut menunjukkan lokasi hunian berada pada morfologi aluvial sungai (puncak bukit, teras bukit, dan teras sungai), berada pada topografi lahan yang relatif datar dan berlokasi di tepi aliran utama sungai atau di tepi pertemuan sungai (confluence). Ada dua faktor utama yang mendukung kawasan DAS Karama sebagai lokasi hunian, yakni aksesibilitas dan keamanan. Faktor aksesibilitas meliputi kemudahan akses terhadap sumber daya alam dan akses yang memungkinkan terjadinya interaksi antarkomunitas. Faktor keamanan menunjukkan bahwa lokasi situs relatif terlindungi dari ancaman bencana alam dan manusia. Kedua faktor tersebut kemungkinan besar menjadi alasan utama manusia memilih kawasan DAS Karama sebagai lokasi hunian. Kata kunci: Lanskap, hunian, Prasejarah, DAS Karama