Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penentuan Kebijakan Pengelolaan Suku Cadang Pada Sistem Reforming Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Spares (rcs) Dan Inventory Analysis Di Pt Pupuk Kalimantan Timur Luqman Arrezha Faiz Dirgantara; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Pupuk Kalimantan Timur merupakan perusahaan penghasil pupuk urea dan amonia terbesar di Indonesia. PT Pupuk Kalimantan Timur mengoperasikan tujuh unit pabrik, yaitu Pabrik 1-A, Pabrik 2, Pabrik 3, Pabrik 4, Pabrik 5, Pabrik 6 (Boiler Batubara), dan Pabrik 7 (NPK). Pabrik 4 memiliki jumlah produksi urea dan amonia paling rendah dibandingkan keempat pabrik lainnya. Hal ini dikarenakan oleh tingkat kegagalan yang lebih tinggi sehingga menyebabkan kegiatan produksi di Pabrik 4 terhenti sampai kegiatan maintenance selesai dilakukan. Dalam kasusnya, tidak jarang pula kegiatan maintenance terhambat karena suku cadang yang dibutuhkan tidak tersedia di gudang sehingga kegiatan maintenance harus menunggu sampai suku cadang yang dibutuhkan tiba setelah dipesan. Pabrik 4 terdiri dari enam sistem dan sistem yang paling vital adalah sistem Reforming. Dari sistem tersebut kemudian dilakukan spare part management untuk mengantisipasi ketidaktersediaan suku cadang sehingga dapat menunjang kegiatan maintenance perusahaan. Dari hasil Risk Matrix, subsistem yang terpilih dari sistem Reforming adalah subsistem Primary Reformer (1-H-201). Berdasarkan RCS Worksheet, komponen kritis dari subsistem tersebut ada enam, yaitu XV2009, XV-2003, XV-2004, FV-2013, PV-3008A, dan FV-2016. Komponen-komponen kritis tersebut kemudian dihitung jumlah kebutuhannya dalam satu periode menggunakan metode poisson process dan dari hasil tersebut, ditentukan kebijakan inventory-nya. Total biaya inventory komponen-komponen kritis tersebut adalah Rp Rp 324.490.250,00. Kata kunci: inventory analysis, maintenance, reliability centered spares Abstract PT Pupuk Kalimantan Timur is the largest producer of urea and ammonia fertilizer in Indonesia. PT Pupuk Kalimantan Timur operates seven factories, namely Plant 1-A, Factory 2, Factory 3, Factory 4, Factory 5, Factory 6 (Coal Boilers) and Factory 7 (NPK). Factory 4 has the lowest production of urea and ammonia compared to the other four plants. This is due to the higher failure rate causing the production activities at Factory 4 to stop until maintenance activities are done. In the case, maintenance activities are inhibited because the required parts are not available in the warehouse so that maintenance activities have to wait until the required spare parts arrive after the ordering. Factory 4 consists of six systems and the most vital system is the Reforming system. Spare part management then applied to anticipate the unavailability of spare parts so it can support the company's maintenance activities. From the Risk Matrix result, the selected subsystem of the Reforming system is the Primary Reformer (1H-201) subsystem. Based on the RCS Worksheet, there are six critical components of the subsystem, namely XV-2009, XV-2003, XV-2004, FV-2013, PV-3008A, and FV-2016. The critical components are calculated the number of needs in one period using the poisson process method and from these results, determined its inventory policy. The total cost of inventory of these critical components is Rp Rp 324.490.250,00. Keywords: inventory analysis, maintenance, reliability centered spares
Usulan Pengelolaan Spare Part Dan Kebijakan Maintenance Pada Subsistem Kritis Reelstand Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Spares (rcs) Dan Reliability Centered Maintenance (rcm) Di Pt Pikiran Rakyat Yuko Tsukada; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  PT Pikiran Rakyat merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang media cetak yaitu memproduksi surat kabar. Proses percetakan surat kabar menggunakan mesin cetak web Goss Universal yang mempunyai beberapa subsistem. Reelstand merupakan salah satu subsistem yang sering mengalami kerusakan dan memiliki permintaan maintenance terbesar. Dalam menentukan komponen kritis dari Reelstand, digunakan Risk Matrix dan terpilih komponen Dancing Roller dan Infeed sebagai komponen kritis yang perlu ditentukan pengelolaan spare part yang optimal dengan menggunakan metode Reliability Centered Spares (RCS) dan kebijakan maintenance yang tepat dengan menggunakan Reliability Centered Maintenance (RCM).  Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan metode Reliability Centered Spares (RCS) didapatkan bahwa komponen Dancing Roller dan Infeed termasuk kedalam komponen repairable dan didapatkan kebutuhan spare part masing-masing komponen sebanyak 4 buah untuk 1 tahun. Dan hasil pengukuran dari metode Reliability Centered Maintenance (RCM) didapatkan kebijakan maintenance untuk komponen Dancing Roller adalah 3 Scheduled On-Condition Task dan untuk komponen Infeed adalah 3 Scheduled On-Condition Task.  Kata kunci: Maintenance, Reliability Centered Spares, Reliability Centered Maintenance, Risk Matrix, Spare Part      Abstract PT Pikiran Rakyat is a company that focuses in printed media that produces daily newspaper. The process of newspaper printing is using Goss Universal printing machine that has several subsystems. Reelstand is one of the subsystems that often-suffered damage and has the biggest maintenance demand. Risk Matrix is used to determine the critical component of Reelstand and there are two components that selected as critical component which are Dancing Roller and Infeed, those subsystems need to be determined the optimal spare part management policy using Reliability Centered Spares (RCS) method and the right maintenance policy using Reliability Centered Maintenance (RCM) method. Based on the result of measurement using Reliability Centered Spares (RCS) method obtained that Dancing Roller and Infeed components are included into repairable component and got spare part requirement of each subsystem of 4 pieces for 1 year. And the result of measurement using Reliability Centered Maintenance (RCM) method obtained maintenance policy for Dancing Roller component is 3 Scheduled OnCondition Task and fot Infeed component is 3 Scheduled On-Condition Task. Key words: Maintenance, Reliability Centered Spares, Reliability Centered Maintenance, Risk Matrix, Spare Part
Analisis Biaya Perawatan Dengan Metode Cost Of Unreliability (cour) Mesin Tower 4 Untuk Satu Sistem Pasca Perbaikan Di Pt. Xyz Rizki Suryo Wibowo; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT.XYZ merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi surat kabar terbesar di Jawa Barat. Setiap harinya perusahaan mampu memproduksi hampir 100000 eksemplar setiap harinya. Untuk memenuhi pesanan koran setiap hari dengan tepat waktu. Salah satu cara untuk memperkecil kerugian yang kemungkinan harus ditanggung oleh perusahaan adalah dengan meningkatkan Reliability dari sistem produksi itu sendiri dan Cost of Unreliability untuk mengetahui seberapa besar biaya yang dihasilkan oleh masalah keandalan mesin. Data berupa Mean Time to Repair, Mean Time to System Failure dan Mean Downtime berguna untuk menilai kinerja sistem yang bekerja. Kemudian akan didapatkan hasil dari Reliability Analysis dari sistem mesin yang diteliti dengan dilakukan permodelan untuk menentukan sistem kritis menggunakan Reliability Block Diagram pada Analytical Approach, pada waktu 78 jam, masingmasing sistem memiliki nilai Reliability 22%, 23% dan 40%. Rata-rata nilai Maintainability masing-masing sistem pada t = 9, t = 6 dan t = 1 adalah 98%, 96% dan 85%. Nilai Inherent Availability setiap sistem adalah 98,530%, 98,135% dan 99,592% dan nilai Operational Availability setiap sistem adalah 99,690%, 99,845 dan 100%. Berdasarkan pada evaluasi yang telah dilakukan dengan menggunakan World Class Maintenance Key Performance Indicator, indikator dari leading dan lagging availability sudah mencapai target indikator yang diberikan. Hasil perhitungan Cost of Unreliability didapatkan biaya dari setiap sistem yang disebabkan oleh ketidakhandalan adalah Rp5.045.527.928, Rp5.128.013.994 dan Rp3.693.237.580 dan berdasarkan active repair time Rp8.364.232.761, Rp10.404.655.551 dan Rp6.017.568.031 berdasarkan pada downtime. Kata kunci: Reliability, Availability, Maintainability, Cost of Unreliability, World Class Key Performance Indicator, Reliability Block Diagram. Abstract PT.XYZ is one of the largest newspaper producing companies in West Java. Every day the company is able to produce nearly 100,000 copies every day. To fulfill daily newspaper orders on time. One way to minimize the losses that might have to be borne by the company is to increase the reliability of the production system itself and the Cost of Unreliability to find out how much the costs generated by machine reliability problems. The data in the form of Mean Time to Repair, Mean Time to System Failure and Mean Downtime are useful to assess the performance of the system that works.Then the results of the Reliability Analysis of the engine system examined by modeling are performed to determine the critical system using the Analytical Approach Reliability Block Diagram, at 78 hours each system has a Reliability value of 22%, 23% and 40%. The average value of Maintainability of each system at t = 9, t = 6 and t = 1 is 98%, 96% and 85%. The Inherent Availability value of each system is 98,530%, 98,135% and 99.592% and the Operational Availability value of each system is 99,690%, 99,845 and 100%. Based on the evaluation that has been done by using the world class maintenance Key Performance Indicator, indicators from the leading and lagging availability have reached the given indicator target. The result of the Cost of Unreliability calculation shows that the cost of each system caused by unreliability is Rp5.045.527.928, Rp5.128.013.994 and Rp3.693.237.580 and based on active repair time Rp8.364.232.761, Rp10.404.655.551 and Rp6.017.568.031 based on downtime. Keywords: Reliability, Availability & Maintainability, Cost of Unreliability, World Class Key Performance Indicator, Reliability Block Diagram.
Usulan Kebijakan Perawatan Berdasarkan Risiko Dan Evaluasi Keandalan Untuk Penjadwalan Perawatan Pada Mesin Escher Wyss Di PT. Kertas Padalarang Aldi Bastian; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Kertas Padalarang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Produksi kertas pada PT. Kertas Padalarang dari tahun 2014 - 2018 mengalami penurunan. Kegiatan corrective maintenance yang tinggi pada perusahaan tersebut mempengaruhi tingkat produksi kertas, tingginya tingkat kegiatan corrective maintenance berdampak pada meningkatnya downtime pabrik. Mesin yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah mesin escher wyss berdasarkan hal tersebut mesin ini digunakan sebagai objek pada penelitian ini. Dilanjutkan dengan perhitungan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) didapatkan hasil subsistem dryer part sebagai subsistem paling kritis. Dilanjutkan dengan perhitungan Risk Priority Number (RPN) dengan hasil didapatkan 3 komponen kritis yaitu selang flexible, bearing dan vant belt. Perhitungan nilai availability usulan pada komponen kritis mesin escher wyss mengalami kenaikan masing-masing diantaranya selang flexible mengalami kenaikan sebesar 4.2%, bearing sebesar 0.2% dan vant belt sebesar 4%. Komponen kritis dihitung nilai reliabilitas usulannya untuk digunakan sebagai interval waktu pada penjadwalan usulan hasil dari penjadwalan usulan komponen Selang flexible dilakukan inspeksi dengan frekuensi 33 hari sekali, bearing diberikan pelumas setiap 54 hari sekali dan vant belt dilakukan inspeksi 45 hari sekali.Kata kunci: Risk Based Maintenance, Fault Tree Analysis, Failure Mode Effect Analysis, Availlability Abstrack PT. Kertas Padalarang is a company engaged in manufacturing. Paper production at PT. Kertas Padalarang from 2014 - 2018 has decreased. High corrective maintenance activities at the company affect the level of paper production, the high level of corrective maintenance activities has an impact on increasing factory downtime. The machine that has the highest frequency is the machine escher wyss based on this machine is used as an object in this study. Followed by calculations using the Fault Tree Analysis (FTA) method obtained the results of the dryer part subsystem as the most critical subsystem. Followed by the calculation of the Risk Priority Number (RPN) with the results obtained 3 critical components namely flexible hose, bearing and vant belt. Calculation of the proposed availability value on critical components of the Wyss escher engine has increased respectively, including flexible hoses increasing by 4.2%, bearings by 0.2% and vant belts by 4%. The critical component calculated the reliability value of the proposal to be used as a time interval on scheduling proposals resulting from the proposed component scheduling. Flexible hoses are inspected with a frequency of 33 days, bearings are lubricated every 54 days and the belt is inspected every 45 days.
Analisis Nilai Daya Tarik Warranty Pendekatan Satu Dimensi Untuk Meminimalisasi Biaya Garansi Pada Produk Mesin Dryer 16kg Pemanas Lpg Di Pt Xyz Santy Agrasari; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Layanan purna jual diberikan oleh perusahaan sebagai strategi dalam memberikan pelayanan dan peningkatan kualitas produk kepada konsumen, yaitu garansi. Garansi diberikan berdasarkan keputusan kebijakan warranty yang sesuai. Warranty merupakan jaminan antara produsen dan konsumen bahwa produk tidak akan mengalami kegagalan selama rentang waktu tertentu. Daya tarik warranty terdiri dari tiga pengukuran antara lain masa warranty, biaya warranty, dan kebijakan warranty. Perhitungan biaya warranty dilakukan melalui pendekatan satu dimensi, hal ini dikarenakan objek penelitian yang digunakan adalah produk elektronik dimana pengukuran berdasarkan usia pemakaian produk. Uji distribusi yang terpilih menggunakan uji distribusi Weibull, dimana memiliki pola kerusakan yang tidak beraturan dan tidak dapat diprediksi. Banyaknya klaim konsumen yang diterima oleh PT XYZ pada produk Mesin Dryer 16Kg Pemanas LPG membuat perlu dilakukan peninjauan ulang mengenai pemberian masa warranty, biaya warranty, serta tindakan pemeliharaan pencegahan dengan tujuan dapat meminimalisasi biaya garansi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Kata kunci: warranty, kebijakan satu dimensi, daya tarik warranty Abstract After-sales service is provided by the company as a strategy in providing and improving product quality to consumers, namely a guarantee. Product warranties are given after obtaining a decision on the appropriate warranty policy. Warranty is an assurance between producers and consumers that a product will not fail for a certain period of time. The warranty appeal consists of three measurements including warranty period, warranty costs, and warranty policies. We discuss about the three attractiveness of warranty with one-dimensional approach, the object of this research is electronic products, namely the product Mesin Dryer 16Kg Pemanas LPG in PT XYZ which counting by ages the product under warranty. The selected distribution test value is Weibull, which has an irregular and unpredictable pattern of damage. The number of consumer claims reveived by PT XYZ makes it necessary to review the provision of warranty period, warranty costs, and preventive maintenance measures with the aim of minimizing the warrnaty costs incurred by the company. Keywords: warranty, one-dimensional policy, attraction warranty
Usulan Kebijakan Perawatan Mesin Bartek Pada Proses Produksi Esgotado Dengan Menggunakan Metode Risk Based Maintenance (RBM) Muhammad Rayhan Islamy; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak ESGOTADO merupakan pabrik industri tekstil yang berada di kota Bandung dan sudah menjadi salah satu seller besar di Indonesia, banyak toko ataupun perusahaan ternama yang sudah menjadi customer tetap. Produk dari Esgotado adalah tas, baju, sepatu, dan celana tetapi yang paling unggul adalah tas. ESGOTADO memiliki 4 jenis mesin yaitu Mesin Bartek, Mesin Jahit, Mesin Sablon, dan Mesin Obras, mesin – mesin tersebut berfungsi untuk menjalankan seluruh proses produksi tetapi setiap mesin sering mengalami kerusakan yang tentunya mengakibatkan banyak kerugian untuk pabrik. Pada penelitian kali ini penulis memilih Mesin Bartek sebagai objek karena Mesin tersebut digunakan untuk seluruh proses produksi dan mempunyai tingkat kerusakan paling tinggi diantara mesin lainnya. Fungsi Mesin Bartek adalah untuk mengunci jahitan pada bagian tertentu seperti saku atau daerah zipper. Pada penelitian kali ini penulis memfokuskan pengolahan data ke 3 komponen kritis yaitu Needle, Gigi Mesin Jahit, dan Sepatu Mesin Jahit. Dari hasil pengolahan data yang dilakukan dengan metode Risk Based Maintenance, Mesin Bartek memiliki risiko sebesar Rp 650.650.185 (5,721%). Risiko tersebut melewati kriteria penerimaaan perusahaan yaitu Rp 113.724.000 (1% pendapatan per tahun) maka dari itu diperlukannya Interval Perawatan. Interval Perawatan pada komponen Needle 315,36 jam, Sepatu Mesin Jahit 436,63 jam, dan Gigi Mesin Jahit 395,03 jam. Kata Kunci: Maintenance, Failure Mode Effect and Analysis, Risk Based Maintenance. Abstract ESGOTADO is a textile industry factory located in Bandung city. ESGOTADO has become one of the big sellers whose reach is all over Indonesia, many shops or well-known companies that become regular customers. Products from Esgotado are bags, clothes, shoes, pants but the most superior are bags. ESGOTADO has 4 types of machines that function to support the needs of the production process, However, at ESGOTADO there is also frequent damage to the engine which certainly can cause a lot of losses to the factory. In this study the author chose Bartek Machine as an object because this machine is used for all existing production processes and has the highest level of damage among other machines, the function of the Bartek Machine is to lock stitches in certain parts such as pocket or zipper area From the results of data processing carried out by the method of Risk-Based Maintenance the Bartek machine has a risk of Rp 650,650,185 (5.721%). These risks exceed the criteria for receiving the company, which is Rp. 113,724,000 (1% of income per year). The resulting maintenance interval is in the form of a restore task and discard task. The maintenance intervals in the Needle components are 315,36 hours, Sewing Machine Shoes are 436,63 hours and the Sewing Machine Gear is 395,03 hours. Keywords: Maintenance, Failure Mode Effect and Critical Analysis, Risk Based Maintenance.
Usulan Optimasi Jadwal Inspeksi, Remaining Life, Dan Multi Value Attribute Analysis Pada Storage Tank Di Pt. Xyz Menggunakan Metode Risk Based Inspection (rbi) Ida Bagus Wasudewa; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak dibidang energi meliputi energi dan petrokimia baik di dalam maupun di luar negeri. Vertical Storage Tank adalah tempat untuk menyimpan produk minyak sebelum produk tersebut didistribusikan kepada konsumen. Vertical Storage Tank untuk Bahan Bakar Minyak Penerbangan (BBMP) berbeda dengan Storage Tank untuk BBM pada umumnya. Perbedaannya terletak pada fasilitas dan peralatan khusus yang digunakan untuk menjamin mutu serta pengendalian mutunya. Pada Storage Tank Avtur dan Avgas harus dilengkapi dengan Floating Suction, lapisan Epicot, dan jalur Draining. Pada sistem tangki timbun, terdapat 12 subsistem yaitu : Vent (Free Vent & Pressure Vacum Valve), Manhole, Gauge Hatch, Floating Suction, Grounding Cable, Water Spray Piping, Dip Plate, Inlate & Outlet Pipe, Low Point Sum, Splash Plate, Level Indicator, dan Foam Piping. Risk Based Inspection (RBI) merupakan sebuah metode yang menggunakan resiko yang dapat ditimbulkan sebagai dasar untuk melakukan inspeksi. Metode RBI yang digunakan adalah RBI Semi Kuantitatif yaitu metode RBI yang menggabungkan antara RBI kuantitatif dan RBI Kualitatif dengan menggunakan standar API 581. Dalam pendekatan persentase kerusakan dapat menggunakan analisis Multi Attribute Value. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi umur sisa, usulan interval inspeksi, estimasi biaya inpeksi usulan, dan pemodelan decision tree pada sistem tangki timbun. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui estimasi umur sisa pada tangki adalah 46 tahun. Usulan jadwal interval inspeksi adalah 4 tahun. Biaya usulan jadwal interval inspeksi adalah Rp 491.686.272. Berdasarkan perhitungan decision tree analysis dengan menggunakan pemodelan Naive Bayes, didapatkan hasil kemungkinan kegagalan/kerusakan terjadi pada kode kerusakan KK05 dengan jumlah 57,69 %. Kata kunci: Risk Based Inspection, Multi Attribute Value, Atmospheric Storage tank, Remaining Life, Decision Tree, Naïve Bayes, Risk Matrix Abstrack PT. XYZ is a company engaged in energy that uses energy and petrochemicals both at home and abroad. Vertical Storage Tank is a place to store products before the product is sent to consumers. Vertical Storage Tanks for Aviation Oil Fuel are different from Storage Tanks for oil fuel in general. The difference lies in the special facilities and equipment used to meet the requirements and control their quality. The Avtur and Avgas Storage Tanks must be equipped with Floating Suction, Epicot layers, and Draining lines. In the tank storage system, there are 12 subsystems, namely: Vent (Free Vent & Pressure Vacum Valve), Manhole, Hatch Gauge, Floating Suction, Grounding Cable, Water Spray Pipe, Dye Plate, Inlate Pipe & Outlet, Low Point, Splash Plate, Level Indicators, and Foam Pipes. Risk Based Inspection (RBI) is a method that uses risks that can be caused as a basis for conducting inspections. The RBI method used is Semi Quantitative RBI, namely the RBI method between Quantitative RBI and Qualitative RBI using the API 581 standard. In the approach to percentage damage can use Multi Attribute Value Analysis. The purpose of this study was to determine the estimated age of acceptance, inspection of inspection intervals, estimated cost of inspection, and decision tree modeling on the tank storage system. From the results of this study, it can be seen that the estimated age remaining in the tank is 46 years. The proposed audit interval schedule is 4 years. The evaluation cost for the Evaluation interval schedule is Rp 491.686.272. Based on the calculation of decision tree analysis using Naive Bayes modeling, the results of the failure / damage that occurred in the KK05 damage code were obtained with the amount of 57.69%. Keywords: Risk Based Inspection, Multi Attribute Value, Atmospheric Storage tank, Remaining Life, Decision Tree, Naïve Bayes, Risk Matrix
Usulan Perancangan Interval Waktu Preventive Maintenance Dan Analisis Risiko Dengan Menerapkan Metode Risk Based Maintenance (rbm) Pada Komponen Kritis Mesin Bubut Di Pt Smart Teknik Utama Intan Adzani Yunus; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Smart Teknik Utama merupakan perusahaan manufaktur milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi bagian-bagian utama untuk kebutuhan rel kereta api, seperti: rodding system point. Dalam memproduksi produk tersebut, mesin yang digunakan meliputi mesin bubut, mesin milling & drilling, mesin skraf, serta mesin NC cutting. Berdasarkan dari data mesin yang memiliki kerusakan sangat signifikan dalam tiga tahun terakhir adalah mesin bubut. Dengan menggunakan risk matrix dalam pemilihan komponen terpilih yang signifikan terhadap kerusakan mesin bubut maka diperoleh yaitu komponen toolpost, headstock, dan leadscrew. Metode yang digunakan adalah Risk Based Maintenance dengan tujuan untuk mengetahui nilai risiko yang akan diterima oleh perusahaan apabila komponen prioritas termasuk dalam komponen kritis yang diakibatkan karena mengalami kegagalan fungsi. Berdasarkan dari hasil pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan dapat diperoleh risiko sebesar 1,2% dengan total biaya risiko Rp 7.317.595. Usulan yang digunakan untuk maintenance plan adalah interval waktu preventive maintenance untuk setiap tahun sebesar 78 jam, dalam skala setiap bulan sebesar 6,5 jam, dan skala setiap minggu sebesar 1,6 jam. Kata kunci: Interval Waktu Preventive Maintenance, Maintenance Plan, Risk Based Maintenance, Risk Matrix, Rodding System Point Abstract PT Smart Teknik Utama is a manufacturing company belonging to state owned enterprises (BUMN) that manufactures main parts for railway needs, such as: rodding system point. In producing the products, the machines used include lathe machine, milling & drilling machine, skraf machine, and NC cutting machine. Based on the history data machines that has a very significant damage in the last three years is lathe machine. By using the risk matrix in the selection of selected components that are significant to the damage of the lathe machine then obtained namely components toolpost, headstock, and leadscrew. The method used is Risk Based Maintenance with the aim of knowing the value of the risk to be accepted by the company if the priority component is included in critical components caused by malfunction. Based on the results of collecting and processing the data can be obtained at a risk of 1,2% with a total risk cost of Rp 7.317.595. The proposed maintenance plan is interval preventive maintenance for each year of 78 hours, on a monthly scale of 6,5 hours, and a weekly scale of 1,6 hours. Key words: Time Interval Preventive Maintenance, Maintenance Plan, Risk Based Maintenance, Risk Matrix, Rodding System Point
Perancangan Durasi Warranty Dan Perhitungan Estimasi Biaya Warranty Berdasarkan Analisis Ketahanan Hidup Pesawat Cn-235-220 Mpa Military Transport Di Pt Dirgantara Indonesia Dian Rahmania; Judi Alhilman; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Dirgantara Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dibidang kedirgantaraan dengan kompetensi inti dalam desain dan pengembangan pesawat, pembuatan struktur pesawat, produksi pesawat, serta layanan pesawat untuk sipil dan militer. Untuk memberikan jaminan bahwa produk berjalan dengan baik, PTDI memberikan kebijakan warranty untuk pesawat yang dijual. Selama periode 2017 hingga 2018 perusahaan mendapatkan 34 klaim kerusakan dari pesawat CN-235-220 MPA sehingga perlu mengeluarkan biaya warranty sebesar Rp 18,963,780,000. Biaya yang dikeluarkan tersebut cukup besar dan melebihi target perusahaan yang menargetkan biaya warranty sebesar 2% dari harga jual produk. Analisis ketahanan hidup sangat diperlukan untuk mengetahui seberapa lama pesawat tersebut dapat bertahan hingga mengalami kerusakan, dan estimasi biaya warranty dilakukan menggunakan kebijakan Free Replacement Warranty (FRW), sehingga didapatkan durasi warranty dan estimasi biaya warranty dari pesawat CN-235-220 MPA. Dari analisis perhitungan, didapatkan bahwa durasi warranty berdasarkan data MTTF adalah selama 0.5 tahun (6 bulan), dimana dengan waktu selama 6 bulan perusahaan hanya perlu mengeluarkan biaya warranty sebesar Rp 6,582,333,741.22. Biaya warranty yang dikeluarkan perusahaan pun dapat mendekati target yaitu 2% dari harga jual produk. Kata kunci: Warranty, Free Replacement Warranty (FRW), MTTF, Durasi Warranty, Biaya Warranty
Usulan Perancangan Pemeliharaan Kendaraan Load Lugger 03 Menggunakan Metode Reliability And Risk Centered Maintenance (Rrcm) Pada Pt Krakatau Jasa Logistik Zul Arffan; Endang Budiasih; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 9, No 3 (2022): Juni 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Krakatau Jasa Logistik merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa logisitik dan salah satunya internal handling untuk customer. Kendaraan load lugger 03 merupakan internal handling pada perusahaan yang digunakan selama 24 jam. Oleh karena itu, kendaraan dituntut untuk memenuhi kebutuhan konsumen berupa membawa raw material di perusahaan konsumen. Pada perusahaan PT Krakatau Jasa Logistik sudah menerapkan preventive maintenance dan corrective maintenance tetapi kegiatan pemeliharaan tersebut belum optimal dan menyebabkan pengeluaran biaya yang tinggi. Maka dari itu, penelitian ini menerapkan metode Reliability and Risk Centered Maintenance (RRCM). Tujuan dalam pemeliharaan ini untuk mengetahui usulan perancangan maintenance, waktu interval pemeliharaan, dan total biaya pemeliharaan. Dalam menentukan komponen kritis pada kendaraan, penelitian ini menggunakan metode Risk Priority Number dan didapatkan empat komponen kritis yaitu hose, ban, controller valve, dan jack hydraulic. Dengan menggunakan metode RRCM didapatkan proposed maintenance task dan total biaya pemeliharaan. Berdasarkan pengumpulan dan pengolahan data didapatkan ketentuan 5 proposed maintenance task dengan 2 (dua) scheduled on condition task dan 3 (tiga) scheduled discard task. Untuk scheduled on condition task pada komponen controller valve dilakukan pengecekan berskala selama 56 pekan sekali dan pengecekan berskala pada komponen hose selama 3 pekan sekali. Untuk scheduled discard task pada komponen pergantian ban dilakukan sebanyak 2 pekan sekali, pergantian komponen hose sebanyak 10 pekan sekali, dan komponen jack hydraulic sebanyak 25 pekan sekali. Total biaya pemeliharaan usulan didapatkan sebesar Rp206,024,342 memiliki selisih senilai Rp60,857,470 dari nilai biaya maintenance eksisting perusahaan. Perbandingan dari total biaya pemeliharaan eksisting dan usulan didapatkan bahwa perusahaan dapat menghemat biaya pemeliharaan sebesar 23%. ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.9, No.3 Juni 2022 | Page 1739 Kata kunci : Maintenance, Reliability and Risk Centered Maintenance, Proposed Maintenance Task, Maintenance Cost