Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Media Perceptions on Press Council Regulation of AI in Journalism Practice Oktarinda, Anggi; Maryani, Eni; Yudhapramesti, Pandan; Adiputra, Andika Vinianto
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2025): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v18i2.7696

Abstract

Press Council Regulation No. 1 of 2025 concerning Guidelines for the Use of Artificial Intelligence in Journalistic Works marks a significant initial measure in ensuring that technological advancements do not undermine the fundamental journalistic principles in Indonesia. It reflects the nation’s commitment to preserving press integrity and ethical standards in the context of rapid AI adoption. This study examines the digital media’s perceptions and responses towards these guidelines in the early stages of their dissemination. Employing a descriptive qualitative method, the research utilizes case studies of Ayo Media Network—a network-based digital platform—and Bisnis Indonesia—a segmented newspaper expanding into digital media. Data were obtained through interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that digital media practitioners accepted the Guidelines, acknowledging their relevance, urgency, and alignment with the ongoing media industry’s digital transformation. In response, media organizations intend to realign their practices with these Guidelines to safeguard journalistic integrity and public trust. The principal challenge lies in the aspect of translating principles into practice, as well as institutional support to strengthen the internalization of ethical values. Strengthened socialization, coaching, and stakeholder collaboration are essential to establish these Guidelines as a foundational framework for responsible AI-driven journalism in Indonesia.
Just a Joke? Audience Interpretations of Sexist Humor in Ludruk Performances Rahmiati, Dyan; Maryani, Eni; Dida, Susanne; Hadisiwi, Purwanti
Communicare : Journal of Communication Studies Vol. 11 No. 2 (2024): Communicare: Journal of Communication Studies
Publisher : Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37535/

Abstract

Sexist humor has emerged as a controversial issue at the intersection of gender, communication, and traditional entertainment. While often dismissed as harmless amusement, such humor can reinforce gender stereotypes and normalize social bias, particularly in local performance contexts. This study explores audience interpretations of sexist humor in ‘Ludruk’, a traditional Indonesian theatre from known for comedy content that incorporates gendered themes. Adopting an Interpretive Phenomenological Analysis (IPA) approach. the research involves six participants who regularly attended Ludruk performances. Through in-depth interviews conducted in the local Javanese dialect, the study examined participants' interpretations, emotional responses, and the cultural and social context shaping their perspective. The findings indicate that participants generally view sexist humor as mere entertainment, rarely considering its broader societal implications. Male participants emphasize humor delivery and comedic timing, while female participants often rationalize their laughter as a means of social conformity, avoiding being perceived as overly critical. The immersive performance environment of Ludruk, combined with its improvisational and participatory nature, fosters social bonds among audience members and between performers and spectators. These cultural dynamics, deeply rooted in Javanese social norms and expectations of group harmony, contributed significantly to the acceptance and normalization of sexist content. This study highlights how humor operates within specific cultural contexts and how social laughter functions as a mechanism of social cohesion, even when problematic. It underscores the importance of critically examining traditional entertainment practices that may perpetuate gendered social norms under the guise of innocuous fun.
Selebriti dalam Digital Activism Tentang KekerasanTerhadap Perempuan di YouTube Maryani, Eni; Astari, Sarah
Manajemen Komunikasi Vol 3, No 1 (2018): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.55 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v3i1.20656

Abstract

Penelitian ini membahas keterlibatan para selebriti dalam film ’16 days of Activism’ terkait isu kekerasan terhadap perempuan yang diunggah dalam you tube. Isu kekerasan terhadap perempuan masih perlu disebarluaskan ke masyarakat akan tetapi kuatnya nilai-nilai patriarki menjadikan isu ini cenderung terpinggirkan. Merujuk pada fenomena tersebut maka penggunaan beragam media dan aktor menjadikan sangat penting bagi proses advokasi untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan. Metode yang digunakan studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Penelitian mengungkapkan bahwa sinergi sebagai survivor, selebriti dan juga aktivis menjadi kekuatan bagi Hannah Ar Rashid untuk mengangkat wacana tentang kekerasan terhadap perempuan dan melibatkan selebriti lain dalam produksi filmnya untuk advokasi, You tube adalah salah satu media digital yang mampu mempermudah advokasi melalui film. Film ‘16 Days of Activism’ di you tube merupakan salah satu bentuk digital activism yang dilakukan para selebriti. Film advokasi yang melibatkan para selebriti mampu menjadi daya tarik bagi khalayak untuk menerima dan memahami isu kekerasan terhadap perempuan
Keberlangsungan MQ TV sebagai media lokal nonjaringan di Bandung, Indonesia Maryani, Eni; Wibowo, S. Kunto Adi; Ratmita, Reksa Anggia
Manajemen Komunikasi Vol 6, No 1 (2021): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v6i1.35652

Abstract

Penelitian ini melakukan kajian terhadap MQ TV sebagai satu-satunya televisi lokal nonjaringan yang masih tersisa di kota Bandung. Televisi lokal lainnya seperti STV, IMTV, GarudaTV, BandungTV, PegiaTV telah beralih menjadi televisi berjaringan atau Stasiun Siaran Jaringan (SSJ). MQ TV didirikan tahun 2006 dengan Abdullah Gymnastyar sebagai pemilik atau investor pendiriannya. Pertanyaannya yang muncul adalah bagaimana MQ TV dapat bertahan sebagai media lokal nonjaringan?. Apakah pilihan sebagai TV lokal berbasis agama menjadi kekuatan bagi MQ TV? Melalui focus group discussion dan wawancara mendalam penelitian ini berupaya menggali dan menganalisis keberadaan MQ TV serta tantangan dan peluang yang dimilikinya sebagai media lokal nonjaringan di era digital. Hasil Penelitian menemukan bahwa MQ TV mengalami tantangan yang berat dan sempat terpuruk dengan hanya memiliki lima orang praktisi media yang terus menjaga agar MQ TV terus beroperasi. Terdapat beberapa faktor penting yang mendukung keberlangsungan MQ TV yaitu adanya investor lokal yang berkomitmen terhadap keberadaan MQ TV dan penggunaan media digital yang dapat terus memfasilitasi proses pengumpulan, pengolahan dan distribusi konten di MQ TV. Sementara itu keberlangsungan tersebut juga tidak lepas dari tantangan yang dimiliki seperti masalah keuangan, sumberdaya, dan respon khalayak yang masih terbatas. Adapun salah satu peluang yang menarik adalah penggunaan media digital oleh MQ TV dapat memberikan data terkait kunjungan khalayak pada MQ TV secara digital. Melalui data ini maka MQ TV memiliki data akurat sebagai dasar untuk menawarkan porogramnya pada pengiklan di media digital.
KOMUNIKASI VERBAL PADA ANGGOTA KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK INDIGO Arkandito, Gregorius Fendi; Maryani, Eni; Rahmawan, Detta; Wirakusumah, Teddy K.
Manajemen Komunikasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Manajemen Komunikasi Vol. 1 No.1 Otober 2016
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.747 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v1i1.9955

Abstract

      Gregorius Fendi Arkandito, 2016. “Komunikasi Pada Anggota Keluarga Yang Memiliki Anak Indigo”. Dibantu oleh Achwan Noorlistyo Adi, S.I.Kom selaku rekan peneliti dan Duddy Zein, Drs., M.Si selaku dosen Program Studi Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui komunikasi verbal pada keluarga dengan anak indigo. 2) Untuk mengetahui mengapa komunikasi verbal tersebut digunakan. 3) Untuk mengetahui proses penyampaian masalah anak indigo pada anggota keluarga lain. 4) Untuk mengetahui pengambilan keputusan pada keluarga tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Teknik utama dalam mengumpulkan data yaitu observasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa komunikasi verbal yang digunakan anggota keluarga yang belum mempelajari indigo lebih dalam, lebih memilih komunikasi satu arah dan komunikasi verbal bersifat memerintah. Anggota keluarga lebih intens mendekati jika anak indigo mengalami atau melakukan hal negatif. Serta pembinaan yang digunakan adalah pembinaan pedagogi. Sedangkan anggota keluarga yang mempelajari indigo secara dalam, menggunakan komunikasi verbal yang lebih instruktif dan informatif. Tetap menjaga kadar emosi dari anak indigo tersebut agar tidak melewati batas wajar dan menggunakan pola pembinaan andragogi.Kata Kunci       : Komunikasi, Komunikasi Keluarga, Anak, Indigo
KONSTRUKSI MAKNA HIGH VALUE MAN PADA KANAL YOUTUBE @PRIASERATUSPERSEN SEBAGAI NARASI PSIKOEDUKASI MASKULINITAS PRIA MUDA Erkananda, Rendy; Maryani, Eni; Trulline, Putri
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.409

Abstract

Media digital, khususnya YouTube, menjadi ruang penting dalam penyebaran wacana pengembangan diri dan maskulinitas pria muda. Salah satu kanal yang menonjol di Indonesia adalah @PRIASERATUSPERSEN yang mengomunikasikan konsep High Value Man melalui pendekatan psikoedukatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana makna High Value Man dikonstruksikan sebagai narasi psikoedukasi maskulinitas dalam konten kanal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui analisis konten video, kajian visual dan naratif, serta penelaahan interaksi audiens pada kanal YouTube @PRIASERATUSPERSEN. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa High Value Man direpresentasikan sebagai figur pria ideal yang menekankan rasionalitas, disiplin diri, stabilitas emosional, dan orientasi pencapaian. Psikoedukasi dikonstruksikan sebagai proses pengembangan diri yang bersifat individual dan berfokus pada kontrol diri serta tanggung jawab personal. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kanal @PRIASERATUSPERSEN berfungsi sebagai ruang psikoedukasi digital bagi pria muda, namun sekaligus mereproduksi standar maskulinitas normatif yang berpotensi membatasi pemaknaan maskulinitas secara lebih reflektif dan inklusif.
KONSER VIRTUAL SEBAGAI REKONSTRUKSI RELASI KOMUNIKASI ANTARA MUSISI DAN AUDIENS DALAM INDUSTRI MUSIK INDONESIA Adinur Zein, Muhammad Rifki; Maryani, Eni; Sjafirah, Nuryah Asri
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.410

Abstract

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial menyebabkan industri musik, khususnya konser luring, mengalami stagnasi sehingga promotor dan musisi terdorong mencari bentuk penyelenggaraan baru berbasis teknologi digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis konser virtual sebagai dinamika industri musik Indonesia sekaligus melihat bagaimana praktik tersebut merekonstruksi relasi komunikasi antara musisi dan audiens, dengan studi kasus Wave Djava Virtual Concert yang disiarkan melalui kanal YouTube Hellprint Official. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposif, observasi terhadap tayangan konser virtual di YouTube (termasuk karakteristik konten, jumlah penonton, dan interaksi di kolom komentar), serta studi literatur sebagai landasan konseptual. Analisis data dilakukan secara induktif dengan model Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan-verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konser virtual membentuk segmen penonton baru dan memperlihatkan adaptasi musisi serta promotor terhadap teknologi digital, sehingga memperluas jangkauan audiens dan menjaga keberlanjutan aktivitas industri musik di masa krisis. Konser virtual juga merepresentasikan konvergensi media, di mana unsur komunikasi tetap berlangsung namun bergeser ke medium digital sehingga interaksi menjadi tidak langsung dan berpotensi tertunda. Selain itu, praktik ini menguatkan hubungan komunikasi parasosial melalui kedekatan emosional yang dibangun lewat fitur platform dan pola konsumsi daring, serta mendorong terbentuknya kebiasaan baru dalam menikmati pertunjukan musik.
Developing Social Solidarity through Digital Media Maryani, Eni
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 3 No. 1 (2018): June 2018 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v3i1.144

Abstract

This research raises the issue on digital media by activists in an effort to gain wider public involvement towards the social transformation process based on social solidarity. The development of digital media broadens the space to raise a range of marginal issues in public spaces controlled by predominant social groups. Digital media provides elite and mainstream media an opportunity for counter public spheres to dominate issues. Data collection is conducted through interviews and observation. There are both opportunities and challenges in utilizing digital media in building social solidarity. Characteristics of digital media allows a faster reach of a wider and diverse audience as well as generate an increasingly fierce global competition. Technologically, digital media only gives a very short opportunity to hold the audience’ attention. Therefore, communication between humans is still needed to strengthen and build public trust. The occurrence of a communication has significant effect when online media that are parallel with activities and issues that are offline, demands both forms of communication to be used simultaneously.
Media Use and Gratification Sought by the Public during the Coronavirus Outbreak in Indonesia: A National Survey Rochyadi-Reetz, Mira; Maryani, Eni; Agustina, Anna
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 5 No. 1 (2020): June 2020 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v5i1.381

Abstract

The recent coronavirus outbreak is without a doubt a global crisis event that has affected almost all nations of the world. This study aims to contribute to crisis communication research from the audience perspective in Indonesia by presenting the public’s media use and gratification sought during the coronavirus outbreak based on a representative national mobile survey with 1,100 respondents. Results show that the majority of Indonesians intensively use (1) private television, (2-4) websites and social media accounts of actors providing information on the crisis and (5) public television to get information regarding the pandemic. The findings indicate that other types of media such as radio and local television are used to a much lower extent. Results also show that there are two media-use gratifications sought during the crisis: (1) information and direction gratification sought and (2) entertainment and comparison gratification sought. Sociodemographic factors such as gender, age and education level demonstrate some significant influence on public media use and the gratification sought during the coronavirus outbreak. Surprisingly, entertainment and comparison sought are demonstrated as having a higher effect on the increasing use of mass media, social media and messenger apps during the crisis event than the information and direction gratification sought.
Management and Psychological Aspect: Teenagers' Awareness of Privacy in Social Media Maryani, Eni; Rahmawan, Detta; Garnesia, Irma; Ratmita, Reksa Anggia
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 5 No. 2 (2020): December 2020 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v5i2.429

Abstract

Rising concern about the impact of internet usage among teenagers needs to be continuously addressed. Teenagers’ awareness of online privacy was the focus of this study on account of frequent sharing of private information in social media. This study is an exploratory research which tries to map and understand the psychological and cultural aspects of vulnerable online privacy practice by teenagers. The data were collected through a survey and interviews with high school students in Bandung, Indonesia. This study found that teenagers’ knowledge, awareness, and management of online privacy was relatively low. Psychologically, teenagers often need others to talk to. To maintain relationship, some cultural aspects, such as togetherness, friendliness, and openness to strangers were perceived as important. However, those aspects were the causes of poor online privacy practices. A call for increased media literacy and the development of cyber law that can anticipate internet-based crime especially against teenagers, were discussed.