Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Analisis Kepuasan Pelanggan terhadap Implementasi ISO 9001: 2015 dengan Menggunakan Pendekatan Servqual (Studi Kasus: Institut Teknologi Telkom Purwokerto) Yudi Syahrullah; Atik Febriani; Bunga Zati Hulwani
JIEMS (Journal of Industrial Engineering and Management Systems) Vol 11, No 2 (2018): Journal of Industrial Engineering and Management Systems
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/jiems.v11i2.1185

Abstract

September 2018 is the deadline for an organization that has implemented an international standard quality management system ISO 9001: 2008 to switch the latest international standard ISO 9001: 2015. Telkom Institute of Technology Purwokerto is one of the organizations that have implemented the international standard ISO 9001: 2015 since early 2017 (Previously ISO 9001: 2008 implementation). The main objectives of the implementation of ISO 9001 are to improve customer satisfaction both external and internal, including students as the main user of the service organization as an external customer. Therefore, this organization needs to measure the level of student satisfaction with services provided by Telkom Institute of Technology Purwokerto after the organization is implementing ISO 9001: 2015. Data were collected using the questionnaire method consists of 24 questions that designed and analyzed by the SERVQUAL approach. Validity and reliability testing were done by using SPSS software and the measurement result of 24 question items stated Valid and Reliable. From the preliminary research, it was found that the institution should introduce ISO 9001: 2015 to the students at Telkom Institute of Technology Purwokerto. Using the SERVQUAL approach and analyzing GAP 5, comparing the expectations and perceptions of customers (students), the result is that organizations need to improve the speed of the service (academic/student affairs/staff) to students (GAP Value 1.11). In addition, institutions also need to increase the attention of students (GPA Value 1.06). Several efforts have been made with the construction of facilities such as a lecture building that continues to be implemented as well as changes in organizational structure to improve the quality of academic and non-academic services to students.
Analisis Beban Kerja Mental Perkuliahan Daring Mahasiswa Teknik Industri Unsoed dengan Metode SWAT dan NASA-TLX Aldy Febrian; Rani Aulia Imran; Yudi Syahrullah
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.277 KB) | DOI: 10.25105/jti.v11i2.9702

Abstract

Intisari— Pada saat ini, negara-negara di dunia terdampak oleh pandemi COVID-19, salah satunya di sektor pendidikan tinggi. Perubahan sistem perkuliahan secara pengajaran daring selama pandemi memberikan dampak bagi mahasiswa maupun dosen, termasuk di Universitas Jenderal Soedirman. Akibat dari perubahan sistem perkuliahan ini, mahasiswa banyak merasakan beban yang lebih besar terhadap banyaknya tugas kuliah dibandingkan pada saat kuliah seperti biasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis beban kerja mental mahasiswa akibat dari perkuliahan daring. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2020 sampai Januari 2021. Untuk mengukur tingkat beban mental dapat menggunakan metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) dan NASA Task Load Index (TLX). Responden dalam penelitian ini melibatkan 20 orang mahasiswa Teknik Industri Universitas Jenderal Soedirman dengan menggunakan purposive sampling dan pengambilan data dilakukan secara daring. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai pre test dan post test kemudian dengan metode SWAT adanya beban usaha mental dan waktu yang dominan, dan metode NASA-TLX menunjukkan adanya beban mental tinggi lebih dari 75%. Dapat disimpulkan adanya peningkatan pemahaman materi dan menunjukkan adanya beban kerja mental yang tinggi. Abstract— At this time, countries in the world are affected by the COVID-19 pandemic, one of which is in the higher education sector. Changes in the online teaching system during the pandemic had an impact on both students and lecturers, including at Jenderal Soedirman University. As a result of this change in the lecture system, many students feel a greater burden on the number of coursework compared to when they are studying as usual. The purpose of this study was to analyze the mental workload of students resulting from online lectures. The research was conducted from December 2020 to January 2021. To measure the level of mental load, the Subjective Workload Assessment Technique (SWAT) and NASA Task Load Index (TLX) methods were used. Respondents in this study involved 20 students of Industrial Engineering at Jenderal Soedirman University using purposive sampling and data collection was carried out online. The results of the analysis show that there is an increase in the pre-test and post-test scores then with the SWAT method there is a dominant mental and time load, and the NASA-TLX method shows a high mental load of more than 75%. It can be concluded that there is an increase in understanding of the material and indicates a high mental workload.
Perbaikan Kualitas Pada Proses Produksi Kabel Type NYA dengan Metode Quality Control Circle (QCC) Pada Perusahaan Manufaktur Kabel di Banyumas Aulia Annai Nashida; Yudi Syahrullah
JURMATIS (Jurnal Manajemen Teknologi dan Teknik Industri) Vol 3, No 2 (2021): August
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jurmatis.v3i2.1792

Abstract

Cable Manufacturer Company (PT. XYZ) is one of electronic companies which produce frequency cable, low voltage, audio video, and power cable. The production of cable certainly needs good quality control in order to become a superior competitor thus increasing the customer loyalty. The aim of this research is to control the quality of NYA cable by using the method of Quality Control Circle (QCC). The QQC method is a method which controls the quality of structured product, consists of 8 steps to make continuous improvements. At the step of searching for the defect type, it uses seven tools, namely the Pareto diagram. The highest defect type on 1,5 mm2 NYA cable caused by lumps and illegible printings. Then, target is determined based on the reject ratio data of 1,5 mm2 NYA cable which is equal to 0,50%. The target achievement could be done by knowing cause and effect of defect cable using fishbone diagram and lFailure lMode lEffect lAnalysis (FMEA). The QCC implementation result in PT. XYZ is product quality improvement due to illegible defect printing caused by human and machine factors so that becomes a main priority to be repaired. Perusahaan Manufaktur Kabel (PT. XYZ) adalah salah satu perusahaan elektronik yang memproduksi kabel frekuensi, low voltage, audio video, dan kabel power. Produksi kabel tentunya membutuhkan pengendalian kualitas yang baik agar dapat menjadi kompetitor yang unggul sehingga meningkatkan loyalitas pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengendalian kualitas kabel NYA dengan menggunakan metode Quality lControl lCircle (QCC). Metode QCC merupakan metode lpengendalian lkualitas produk yang terstruktur, terdiri dari 8 langkah untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Pada tahap pencarian jenis defect,  menggunakan alat bantu seven tools yaitu diagram pareto. Jenis defect tertinggi pada kabel NYA 1,5 mm2 disebabkan karena adanya gembung dan printing tidak terbaca. Kemudian target ditentukan berdasarkan data reject ratio kabel NYA 1,5 mm2 yaitu sebesar 0,50%. Pencapaian target dapat dilakukan dengan mengetahui sebab akibat defect kabel menggunakan diagram fishbone dan Failure Mode lEffect lAnalysis (FMEA). Hasil implementasi QCC di PT. XYZ adalah perbaikan kualitas produk akibat defect printing tidak terbaca disebabkan oleh faktor manusia dan mesin sehingga menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan. 
Penerapan Life Cycle Assessment (LCA) untuk Mengurangi Dampak Lingkungan pada Proses Produksi IKM Knalpot Purbalingga Katon Muhammad; Yudi Syahrullah
SPECTA Journal of Technology Vol. 6 No. 1 (2022): SPECTA Journal of Technology
Publisher : LPPM ITK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.158 KB) | DOI: 10.35718/specta.v6i1.287

Abstract

Isu sustainability untuk mengurangi dampak lingkungan saat ini menjadi perhatian besar bagi para pelaku Industri dan juga pemerintah di seluruh dunia. Menurut UNEP, aktivitas industri berkontribusi cukup besar terhadap pencemaran lingkungan, penggunaan bahan baku sebesar 40%, limbah padat 25%, limbah cair 25%, dan kontribusi terbesar lainya dari efek rumah kaca sebesar 40%. Disisi lain, Industri Kecil Menengah (IKM) knalpot di Kabuapaten Purbalingga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Perkembangan industri selain berdampak pada aspek sosial, juga berdampak pada aspek lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu studi komprehensif untuk mengevaluasi  dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas industri. Salah satu metode yang dapat digunakan ialah Life Cycle Assesment (LCA). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh konsumsi energi, pemilihan material dan aktivitas produksi pada IKM knalpot di Purbalingga. Didalam proses produksi IKM diukur penggunaan energi dan perhitungan life cycle assessment menggunakan pendekatan gate to gate. Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa penilaian impact assessment dengan menggunakan software SimaPro 9.1 nilai Single Score dari produk knalpot stainless steel memiliki nilai 1065.70 pt lebih tinggi dibandingkan dengan produk dengan bahan baku menggunakan plat besi 100.89 pt. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa plat besi dalam penggunaan sebagai material untuk bahan baku produk knalpot dinilai lebih ramah lingkungan.
Perbaikan Kualitas Pada Proses Produksi Kabel Type NYA dengan Metode Quality Control Circle (QCC) Pada Perusahaan Manufaktur Kabel di Banyumas Annai Nashida, Aulia; Syahrullah, Yudi
JURMATIS (Jurnal Manajemen Teknologi dan Teknik Industri) Vol. 3 No. 2 (2021): August
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jurmatis.v3i2.1792

Abstract

Cable Manufacturer Company (PT. XYZ) is one of electronic companies which produce frequency cable, low voltage, audio video, and power cable. The production of cable certainly needs good quality control in order to become a superior competitor thus increasing the customer loyalty. The aim of this research is to control the quality of NYA cable by using the method of Quality Control Circle (QCC). The QQC method is a method which controls the quality of structured product, consists of 8 steps to make continuous improvements. At the step of searching for the defect type, it uses seven tools, namely the Pareto diagram. The highest defect type on 1,5 mm2 NYA cable caused by lumps and illegible printings. Then, target is determined based on the reject ratio data of 1,5 mm2 NYA cable which is equal to 0,50%. The target achievement could be done by knowing cause and effect of defect cable using fishbone diagram and lFailure lMode lEffect lAnalysis (FMEA). The QCC implementation result in PT. XYZ is product quality improvement due to illegible defect printing caused by human and machine factors so that becomes a main priority to be repaired. Perusahaan Manufaktur Kabel (PT. XYZ) adalah salah satu perusahaan elektronik yang memproduksi kabel frekuensi, low voltage, audio video, dan kabel power. Produksi kabel tentunya membutuhkan pengendalian kualitas yang baik agar dapat menjadi kompetitor yang unggul sehingga meningkatkan loyalitas pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengendalian kualitas kabel NYA dengan menggunakan metode Quality lControl lCircle (QCC). Metode QCC merupakan metode lpengendalian lkualitas produk yang terstruktur, terdiri dari 8 langkah untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Pada tahap pencarian jenis defect,  menggunakan alat bantu seven tools yaitu diagram pareto. Jenis defect tertinggi pada kabel NYA 1,5 mm2 disebabkan karena adanya gembung dan printing tidak terbaca. Kemudian target ditentukan berdasarkan data reject ratio kabel NYA 1,5 mm2 yaitu sebesar 0,50%. Pencapaian target dapat dilakukan dengan mengetahui sebab akibat defect kabel menggunakan diagram fishbone dan Failure Mode lEffect lAnalysis (FMEA). Hasil implementasi QCC di PT. XYZ adalah perbaikan kualitas produk akibat defect printing tidak terbaca disebabkan oleh faktor manusia dan mesin sehingga menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan. 
Usulan Tata Letak Fasilitas Dengan Menggunakan Metode Systematic Layout Planning (SLP) Pada Departemen Coumpound Industri Manufaktur Sepatu Rahayu Ningrat, Siti Kurnaesih; Sibarani, Ayu Anggraeni; Syahrullah, Yudi; Setyaningrum, Dewi Tria; Prasetyo, M. Agung; Ambarwati, Sri
Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri) Vol 18, No 3 (2024): Jurnal PASTI
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/pasti.2024.v18i3.006

Abstract

Tata letak fasilitas yang optimal sangat penting untuk mencapai efisiensi dan efektivitas biaya dalam industri manufaktur, termasuk industri sepatu. Pada salah satu pabrik sepatu, khususnya dalam proses produksi compound, terjadi aliran silang akibat beberapa proses yang dilakukan bolak-balik. Aliran ini memperpanjang jarak tempuh antar stasiun dan meningkatkan biaya material handling. Oleh karena itu, perancangan ulang tata letak diperlukan untuk memperbaiki aliran material. Metode Systematic Layout Planning (SLP) dipilih karena kemampuannya dalam merancang tata letak yang efisien dengan meminimalkan material handling. Metode ini mempertimbangkan alur material dan produksi melalui Activity Relationship Chart, Activity Relationship Diagram, dan From-To Chart (FTC). Berdasarkan pengolahan data, diperoleh dua alternatif tata letak, dan alternatif kesatu dipilih karena menunjukkan perbaikan signifikan. Pada alternatif tata letak kesatu ini, total jarak antar stasiun berkurang dari 243,36 meter menjadi 167 meter, dan biaya material handling harian turun dari Rp 92.234,08 menjadi Rp 47.566,95. Penurunan ini menunjukkan bahwa tata letak usulan dengan metode SLP mampu meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional.
USULAN PERBAIKAN UNTUK MENGURANGI WASTE PADA MANUFAKTUR KABEL DENGAN PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA Syahrullah, Yudi; Nofandy, Danu Syukur; Sofiana, Amanda; Nando, Fiky Two
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 14 No 2 (2024): Inovatif Vol. 14 No. 2
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/industri.v14i2.11586

Abstract

Industri manufaktur kabel mengalami pertumbuhan yang signifikan, sehingga manufaktur perlu meningkatkan daya saing dalam memenuhi ekspektasi pelanggan, seperti: produk yang berkualitas, harga murah, dan tersedia tepat waktu. Saat ini industri manufaktur kabel di Banyumas mengalami kendala yang disebabkan oleh berbagai waste atau pemborosan, diantaranya pekerja yang mengganggur, defect, penumpukan wadah bahan baku, dan keterlambatan produksi yang dapat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi waste yang paling dominan pada kegiatan manufaktur kabel serta merekomendasikan usulan perbaikan untuk mengurangi waste tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan lean six sigma dengan metode Waste Assessment Model (WAM) untuk menentukan prioritas waste yang perlu diperbaiki dan konsep DMAIC untuk memberikan usulan perbaikan waste yang menjadi prioritas tersebut. Hasil pengolahan data dengan WAM menunjukkan ranking waste dari ranking yang tertinggi hingga terendah. Berdasarkan hasil analisis dengan WAM, waste kategori defect merupakan waste terbesar dengan kontribusi sebesar 21,55%. Waste kategori defect selanjutnya dianalisis secara lebih rinci dengan menggunakan tahapan Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control (DMAIC). Ditemukan defect untuk produk kabel NYA 1,5 mm² merupakan produk dengan tingkat defect tertinggi dan defect visual jenis benjolan merupakan jenis defect tertinggi untuk produk ini. Analisis dengan DMAIC menunjukkan bahwa panas yang tidak merata pada mesin insulation menjadi prioritas perbaikan dengan nilai RPN tertinggi sebesar 168, sehingga menjadi risiko tertinggi yang dapat menyebabkan terjadi defect benjolan. Oleh karena itu, usulan perbaikan direkomendasikan untuk mengatasi permasalahan pada mesin tersebut
Risk Mitigation Through Integration COSO-Enterprise Risk Management And ISO 31000 in Higher Education Syahrullah, Yudi; Annai Nashida, Aulia; Prakoso, Indro; Two Nando, Fiky
International Journal of Educational Management and Innovation Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/ijemi.v6i2.11547

Abstract

Background. Higher education institutions are given targets to meet key performance indicators (KPI) and to meet study program accreditation instruments. Several new requirements in study program accreditation make it difficult for universities to achieve their targets. Risk management can help organizations reduce risks that hinder them from achieving performance targets. This study aims to identify risks and provide risk assessments to produce mitigation proposals for the Department of Higher Education. Materials. The risk management framework used in this study is integration through ISO 31000 with COSO-ERM, where risk management is carried out comprehensively internally and externally. This research involved experts from a university in Central Java designing risk impact parameters, assessing risks, and designing risk mitigation. Results. The results of this study indicate that the residual risk assessment resulted in 8 low-category risks, 7 medium-category risks, 7 high-category risks, and 1 extreme-category risk. The risks given control (residual) increased by seven risks, and mitigation proposals must be provided. Then, 9 risks exceeded the tolerance limits set by top management, so recommendations for risk mitigation had to be proposed to achieve the Institution's performance targets. Conclusion. Risk Management can be applied to universities to achieve the set goals or targets. The integration of COSO-ERM and ISO 31000 methods can complement the stages in risk management, especially in risk identification, risk analysis, and setting risk tolerance limits in risk assessment, so that the risk mitigation designed is in line with the targets to be achieved by the university.
Analysis of Needs and Recommendations for Service Improvements at 2-Star Hotels through the Integration of SERVQUAL, Refined Kano, and TRIZ Fazrin, Dea Aulia; Syahrullah, Yudi; Sofiana, Amanda; Nando, Fiky Two
International Journal of Multi Discipline Science (IJ-MDS) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 Number 1 February 2025
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/ij-mds.v8i1.6983

Abstract

This study aims to analyse service needs, enabling hotel management to enhance the quality of hotel services. The method used to analyse customer needs integrates the Service Quality and Refined Kano methods to determine the attributes that must be prioritised and developed to improve hotel services. Proposed improvements to improve customer satisfaction using the TRIZ method. The sampling method employed was purposive sampling, a non-probability sampling technique. Using the service quality method, the study's results identified attributes that fell into the strong and weak categories. The study continued using the Kano Model method and received results for 3 Attractive category attributes, 8 Must-be category attributes, 6 One-dimensional category attributes, and 6 Indifferent category attributes. Next, Service Quality and Refined Kano integration were carried out to determine True Customer Needs. Eight attributes included in True Customer Needs must be prioritised in the High-valued, Adequate, and Critical categories. Attributes were analysed using the TRIZ method to identify proposed improvements for each priority set.
Penerapan Statistical Process Control (SPC) dan Fault Tree Analysis (FTA) dalam Pengendalian Kualitas Plywood untuk Mengurangi Defect pada Pabrik Kayu di Purbalingga chandrasari, surya harum; Syahrullah, Yudi
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v6i2.1884

Abstract

The plywood manufacturing  company (X) has 15 factories spread throughout Indonesia, one of which is Purbalingga. This company produces plywood with various glue types, thickness, and wood type variations. Based on the company's actual conditions, the number of product exports from January to July 2021 has increased by around 20%. Meanwhile, the company's historical data in the last 12 months shows that the percentage of product defects is approximately 15% or as much as 9429.8 m3 of the total production of 60835 m3. The percentage of defects is still above the maximum defect expected by the company, which is 11.5%. The rate of defects that do not meet the target results in several things, including increasing inspection costs, reducing quality standards from those set, increasing product and process design costs, and increasing production costs. Therefore, this research was conducted to analyze the dominant defect and design improvement proposals using the Statistical Process Control (SPC) and Fault Tree Analysis (FTA) methods. This study found that the dominant defect became the focus for improvement was Shortcore Less Width, with a defect percentage of 25.95%. Then on the control chart, it is found that a proportion of data is out of control. So it can be concluded that controlling the quality of plywood has not been well maintained, and it is necessary to make suggestions for improvement. Perusahaan manufaktur olahan kayu lapis X memiliki 15 pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya di Purbalingga. perusahaan ini memproduksi kayu lapis (plywood) dengan berbagai variasi dari segi glue type, thickness, dan wood type. Berdasarkan kondisi aktual perusahaan, jumlah ekspor produk pada bulan Januari hingga Juli 2021 mengalami peningkatan sekitar 20%. Sementara itu, data historis perusahaan dalam 12 bulan terakhir menunjukkan bahwa persentase defect produk sekitar 15% atau sebanyak 9429.8 m3 dari total produksi sebesar 60835 m3. Persentase defect tersebut masih di atas batas maksimum defect yang diharapkan perusahaan, yaitu sebesar 11,5%. Persentase defect yang tidak memenuhi target tersebut mengakibatkan beberapa hal, di antaranya menambah biaya inspeksi, mengurangi standar kualitas dari yang telah ditetapkan, menambah biaya desain produk dan proses, serta menambah biaya produksi. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis defect dominan dan merancang usulan perbaikan menggunakan metode Statistical Process Control (SPC) dan Fault Tree Analysis (FTA). Hasil penelitian ini menemukan bahwa defect dominan yang menjadi fokus untuk perbaikan yaitu Shortcore Kurang Lebar dengan persentase defect 25,95%. Kemudian pada peta kendali ditemukan adanya data proporsi yang out of control. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses pengendalian kualitas plywood belum terkontrol dengan baik dan d perlu dibuat usulan perbaikan.