Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : MEDIAN

MANFAAT NILAI EKONOMI HASIL HUTAN OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG FEF DISTRIK FEF KABUPATEN TAMBRAUW Azis Maruapey; Engelberta Martina Bame
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 9 No. 3 (2017): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.745 KB) | DOI: 10.33506/md.v9i3.13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan nilai manfaat ekonomi hutan oleh masyarakat kampung Fef Distrik Fef Kabupaten Tambrauw. Jenis-jenis hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat kampung Fef distrik Fef kabupaten Tambrauw berupa hasil hutan kayu dan non kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai kategori yaitu getah kayu, hasil hutan berupa minyak hasil sulingan, kulit kayu, buah biji dan daun, pohon tumbuhan khusus, binatang dan bagian binatang. Nilai manfaat ekonomi hasil hutan kayu maupun non kayu oleh masyarakat kampung Fef Distrik Fef Kabupaten Tambrauw dapat menunjang perekonomian mereka yaitu pendapatan masyarakat responden total adalah sebesar Rp. 35.000.000/bln. Dimana untuk hasil hutan kayu sebesar Rp. 26.000.000/bln  (74,28%), sedangkan hasil hutan non kayu Rp 9.000.000/bln (25,72%).
Komposisi Jenis Dan Zonasi Mangrove Di Kampung Gisim Kabupaten Sorong Lona Helty Nanlohy; Azis Maruapey; Yolanda Malaum
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v9i1.289

Abstract

Komposisi jenis merupakan formasi  jenis yang berada pada suatu tempat. Penyebaran vegetasi mangrove membentuk bentuk  khas yaitu membentuk  zonasi sejajar garis pantai. Terdapat zonasi  mangrove tertentu dari mulai arah pantai ke darat. Hal yang menarik adalah bahwa jenis-jenis mangrove yang menempati zona-zona tersebut tidak selalu sama untuk setiap daerah yang diteliti. Hal ini menunjukan adanya banyak faktor yang mengendalikan zonasi vegetasi mangrove.Metode penelitian  yang digunakan adalah penelitian  survey, dengan teknik  sampling sistematik menggunakan metode kombinasi antara metoda jalur dan metoda garis berpetak.Komposisi jenis mengrove di Kampung Gisim Kabupaten Sorong terdiri dari mangrove mayor (mangrove sejati)  sebanyak 5 jenis yaitu Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza,  Bruguiera sexangula,   Ceriops Tagal  dan  Nypa fruticans dan Mangrove  minor  yaitu jenis Xylocarpus granatum. Zonasi pada lokasi penelitian secara umum dibagi menjadi 3 zona, yaitu : zona proximal, zona midle, dan zona distal.  Zona proximal merupakan zona yang berbatasan langsung dengan laut dan merupakan zona dari jenis Rhizophora mucronata  Zona midle adalah zona pertengahan yang terletak diantara darat dan laut, jenis yang berada zona yaitu  jenis  Bruguiera sexangula  Bruguiera gymnorrhiza. Ceriops Tagal dan Xylocarpus granatum dan Zona distal adalah zona yang berada dibelakang zona middle  yaitu jenis  Nypa fruticans.
Analisis Kelayakan Finansial Kerajinan Rotan “Tunas Harapan” Di Kota Sorong Nurtika Tomagola; Azis Maruapey; Poni sri
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v10i2.294

Abstract

Penelitan ini bertujuan untuk  kelayakan  finansial  usaha rotan Tunas Harapan” di Kota Sorong. Profil industri kerajinan rotan “Tunas Harapan” di Kota Sorong terdapat 1 unit usaha industri kerajinan rotan yang mampu menyerap 5 orang tenaga kerja. Jangkauan pemasaran meliputi wilayah Kota Sorong dan sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan. Kendala-kendala yang dihadapi industri kerajinan rotan ”Tunas Harapan” di Kota Sorong antara lain kualitas dan keterbatasan bahan baku, strategi pemasaran yang masih kurang baik dan ketatnya persaingan dengan industri rotan maupun industri kerajinan berbahan baku lain dari daerah lain. Berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan usaha didapatkan hasil Net Present Value (NPV) dari industri kerajinan rotan ”Tunas Harapan” di Kota Sorong sebesar Rp. 450.182.700, nilai Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,60 dan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 45,04 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha industri kerajinan rotan ”Tunas Harapan” di Kota Sorong layak secara finansial untuk dilakukan dan dilanjutkan.
Studi Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Jati (Tectona grandis Linn.) Di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong Azis Maruapey; Irnawati Irnawati
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v11i1.478

Abstract

Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui biomassa dari tegakan Jati (Tectona grandis L.) di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong; untuk mengetahui sekuestrasi karbon pada tegakan Jati; danuUntuk mengetahui sekuestrasi karbondioksida (CO2) pada tegakan Jati          Metode yang dipergunakan adalah metode petak  tunggal. Penentuan areal lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja dengan mempertimbangkan petak ukur yang dibuat terdapat jenis tegakan Jati (Tectona grandis L.). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode petak tunggal dengan ukuran 20 m x 20 m (Fachrul, 2007). Dalam penelitian ini, untuk menghitung biomassa dalam kaitannya dengan estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati dilakukan melalui sampling tanpa pemanenan secara in situ yaitu metode ini merupakan cara sampling dengan melakukan pengkukuran tanpa melakukan pemanenan. Metode ini antara lain dilakukan dengan mengukur diameter atau tinggi pohon dan menggunakan persamaan alometrik untuk mengekstrapolasi biomassa dan estimasi sekuestrasi karbon. .           Nilai dari potensi biomassa yang terkandung pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong dimasukkan dalam persamaan Allometrik, menunjukkan bahwa berat biomassa dari hasil perhitungan 5 petak pengamatan (luasan 0,2 ha) adalah 26.161,13 g. Sehingga untuk mengetahui berat biomassa dalam luasan satu hektar maka hasil dari perhitungan setiap plot dikalikan lima, dengan asumsi rata–rata jumlah tegakan Jati sebanyak 1.100 tegakan per hektar maka jumlah biomassa yang terkandung dalam tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 130.805,65 g/ha.Estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong berjumlah 12.295,73 g, sekuestrasi karbon tertinggi terdapat pada plot atau petak pengamatan III yaitu sebesar 3.593,15 dan terendah pada petak IV yaitu sebesar 1.714,41. Jumlah karbon yang terkandung pada tegakan jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong sebesar 61.478,65 g/ha hasil ini diperoleh dari jumlah karbon pada setiap plot contoh dikalikan lima karena ukuran plot pengamatan hanya seluas 20 x 20 m2 sebanyak 5 petak. Jumlah sekuestrasi karbondioksida yang tersimpan pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 12.295,73 g, dengan demikian maka tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong mempunyai potensi serapan karbondioksida sebesar 45.125,33 g atau 225.626,65 g/hektar.
Etnobotani Masyarakat Dalam Pemanfaatan Serat Kulit Melinjo Sebagai Bahan Baku Pembuatan Noken Di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat azis maruapey; Ponisri Ponisri; Syarif Ohorella
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v12i2.963

Abstract

Tas rajutan tangan rakyat Papua, Noken, telah resmi masuk dalam daftar UNESCO warisan budaya. Pengakuan UNESCO akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken. Inskripsi UNESCO ini membuat kami melakukan penelitian etnobotani pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui etnobotani dan pengetahuan lokal (local knouwledge) masyarakat dalam memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo, proses dan kriteria pengambilan bahan baku serta proses pembuatan Noken oleh masyarakat di Kampung Esyo Distrik Aifat Kabupaten Maybrat.  Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural (semi structural interview). Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan etnobotani pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo dan disajikan dalam bentuk gambar.Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan serat kulit pohon Melinjo untuk pembuatan Noken oleh masyarakat Kampung Esyo ,,,,,’Distrik Aifat Kabupaten Maybrat, dengan memanfaatkan serat kulit pohon Melinjo dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan serat dengan cara ditebang dan menguliti pohon tersebut. Perlakuan bahan baku melalui perendaman, penjemuran, penghalusan dan pewarnaan dengan maksud agar serat kulit kayu tidak cepat rusak dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang disesuaikan dengan pola dan ukuran Noken yang diinginkan. Pemberian warna Noken memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan anggrek alam. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung.
Pengembangan Dan Analisis Black Box Hutan Sagu Alam (Hsa) Di Kabupaten Sorong Selatan (Studi Kasus Di Kampung Puragi Dan Bidare Distrik Matemani) Azis Maruapey
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v13i3.1625

Abstract

Permasalahan utama pengembangan Hutan Sagu Alam (HSA) di Kampung Puragi dan Bedare Distrik Metemani Kabupaten Sorong Selatan terutama disebabkan: pertama, pengolahan masih bersifat tradisional; kedua, pemasaran pati sagu yang masih terbatas; dan ketiga, mutu pati sagu masih rendah. Tujuan riset ini adalah mengetahui prospek pengembangan hutan sagu alam di Kampung Puragi dan Bedare; mengetahui strategi pengembangan potensi hutan sagu alamnya; dan mengetahui model analisis Black Box untuk pengembangan hutan sagu alamnya. Metode yang digunakan adalah metode survey langsung dan wawancara FGD dengan masyarakat. Hasil penelitian terlihat bahwa prospek pengembangan Sagu di Kampung Puragi dan Bedare meliputi a) sagu sebagai bahan pangan, dengan potensi hutan sagu alam yang besar, diyakini pati sagu akan menjadi  sumber makanan pengganti beras, dan berbagai industri; dan b) sagu sebagai konservasi air dan perlindungan lingkungan iklim makro guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Strategi pengembangan hutan sagu alam yakni:1) Pemberdayaan sumber daya manusia lokal dan kelembagaannya; 2) Penataan hutan sagu guna meningkatkan produktivitas per satuan area; 3). Menyediakan infrastruktur pengolahan sagu berbasis masyarakat; 4) Perencanaan air bersih untuk pengolahan sagu; 5) Menumbuhkembangkan pola kemitraan dan home industry;6) Penguatan kelembagaan usaha; dan 7) Dukungan kebijakan pemerintah daerah. Model black box pengembangan Hutan Sagu Alam terintegrasi melalui faktor dukungan input lingkungan dengan parameter rancang bangunnya yakni luas hutan sagu alam beserta potensinya yang besar dan kelembagaan masyarakat pemegang hak ulayat. Model pengembangan ini dipengaruhi oleh faktor input (terkontrol dan tidak terkontrol) dan output (yang diinginkan dan tidak diinginkan).
Penyulingan Minyak Lawang Tradisional Oleh Masyarakat Di Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan Fajrianto Saeni; Azis Maruapey
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.205 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i1.1668

Abstract

Minyak lawang merupakan hasil ekstrasi kulit pohon Lawang (Cinnamomun sp.) melalui penyulingan. Masyarakat Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan sejak lama telah memanfaatkan kulit pohon lawang untuk diambil minyak atsirinya, namun pengolahan masih secara tradisional dan sederhana. kegiatan ini dijadikan industri rumah tangga yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Tujuan ini adalah  mengetahui teknik penyulingan minyak lawang, jumlah minyak lawang yang dihasilkan, dan sistem dan marjin pemasaran minyak lawang oleh masyarakat di kampung Pasir putih Distrik Fkour. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara FGD. Analisis teknik pengusahaan minyak lawang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang didasarkan atas teknik penyulingan, jumlah dan sistem pemasaran.  Hasil penelitian terlihat bahwa teknik penyulingan minyak lawang oleh masyarakat dilakukan dengan dua cara yakni penyulingan dengan air (water destilation) dan penyulingan air dan uap (water and steam destilation). Jumlah minyak lawang yang dihasilkan sebanyak sebanyak ± 1,4 liter, dari rata-rata kulit kayu yang dikukus sebanyak ± 40 kg cacahan kulit. Biasanya satu pohon lawang dilakukan penyulingan 6 - 9 kali, tergantung diameter batangnya. Sistem pemasaran Minyak lawang dilakukan dengan menjual minyak lawang yang diperolehnya kepada pengusaha, yaitu yang bersifat mutlak dimana masyarakat harus menyerahkan hasil perolehannya kepada pengusaha sebelum proses penyulingan minyak lawang. Sedangkan kemungkinan kedua adalah hubungan tidak mutlak dimana petani penyuling biasanya tidak mempunyai hubungan ikatan kerja, dimana petani penyuling dalam melakukan proses pencarian bahan baku minyak lawang hinga proses penyulingan tidak tergantung dari pengusaha.
Etnobiologi Dan Interdependensi Masyarakat Terhadap Kawasan Konservasi (Studi Masyarakat Sekitar Taman Wista Alam Klamono Papua Barat Daya) Maruapey, Azis; Nanlohy, Lona Helti; Saeni, Fajrianto
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i3.4174

Abstract

As a conservation area, the Klamono Nature Tourism Park is also expected not only for tourism purposes, but also as a life support area for the surrounding community who are dependent on natural resources, both wood and non-timber forest products. The method used in this research is a descriptive method with survey techniques and semi-structural interviews. The results of the research show communally that the community in utilizing the Klamono Nature Tourism Park conservation area is farming, hunting and gathering which is of ethnobiological significance and interdependence (dependence) on the availability of forest resources in the park area. Ethnobiology and community interdependence are interpreted by the perception that forests are a source of food, forests are a source of medicines, forests are a source of building materials, forests are a source of firewood and forests are a source of cash income.
Potensi Dan Sebaran Diameter Batang Terhadap Dugaan Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Dipterocarpaceae Di Taman Wisata Alam Sorong Maruapey, Azis; Nanlohy, Lona H.; Saeni, Fajrianto; Ohorella, Syarif
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i1.3613

Abstract

This research was carried out in the Sorong Nature Tourism Park (TWA) Forest area from August 2023. This research aims to determine potential, biomass per diameter, biomass per unit area; and the amount of carbon stored in stands of Dipterocarpaceae species in the Sorong TWA forest. The potential stands of dipterocarpaceae species found in the Sorong TWA forest are 398 trees or an average of 39.8 trees/ha. The types of dipterocarpaceae stands found were Resak (Vatica papuana), Mersawa (Anisoptera spp.), and Merawan (Hopea sangol). The distribution of dipterocarpaceae stands is quite even, with the Vatica species being very dominant, namely 156 trees or 15.6 trees/ha, Mersawa with 132 trees or 13.2 trees/ha, and Hopea with 110 trees or 11.0 trees/ha. The total standing biomass of dipterocarpaceae species was 38.82 tonnes/ha, with details for the Vatica species contributing the most biomass, namely 16.58 tonnes/ha, Mersawa 12.49 tonnes/ha and Hopea 9.75 tonnes/ha. Meanwhile, the total biomass per area is 3.88 tons per hectare. The greatest amount of biomass is stored in stands of trees with a diameter > 30 cm compared to those with a diameter < 30 cm. The stored carbon reserve content of dipterocarpaceae stands is 1.78 tonnes/ha, so assuming the Sorong TWA forest has an area of ​​945.90 ha, it is estimated that the amount of carbon stored in dipterocarpaceae stands is 1683.70 tonnes.
Respons Publik Tentang Taman Deo Kota Sorong Sebagai Green Open Space (GOS) Maruapey, Azis; Maipauw, Nini Jeni; Nanlohy, Lona Helti; Saeni, Fajrianto
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 17 No. 3 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v17i3.5105

Abstract

Green Open Space (GOS) Taman DEO Kota Sorong merupakan taman kota yang berfungsi sebagai sarana olahraga, rekreasi, ekonomi dan sosial. Riset ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting dan respons publik tentang taman DEO sebagai Green Open Space. Metode dalam riset ini adalah metode deskriptif kuantitatif melalui teknik wawancara terhadap masyarakat saat menikmati areal Taman DEO Kota Sorong. Pemilihan sampel secara accidental sampling, yaitu tiap masyarakat yang secara kebetulan berada di Taman DEO. Hasil riset menunjukkan bahwa kondisi eksisting Taman DEO sebagai GOS sangatlah kecil dan termasuk jenis taman kota mini dengan ketersediaan fasilitas lapangan terbuka yang kecil, kursi-kursi taman, wahana permainan anak, areal parkir, dan kios jajanan yang ditutupi oleh berbagai jenis vegetasi pohon. Respons publik terhadap GOS Taman DEO Kota Sorong menunjukkan tentang aspek keindahan taman rata-rata 3,23 dengan kategori ”Cukup Baik”. Respons publik tentang aspek kebesihan taman rata-rata 2,93 dengan kategori persepsi ”Cukup Baik”. Respons publik tentang aspek keamanan taman rata-rata 3,62 dengan kategori ”Baik”. Sedangkan respons publik terkait dengan aspek sarana prasarana taman rata-rarta 3,14 dengan kategori ”Cukup Baik”.