Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PRODUKTIVITAS PEMIJAHAN INDUK IKAN TUNA SIRIP KUNING DI KARAMBA JARING APUNG. Tridjoko, Tridjoko; Setiadi, Ananto; Gunawan, Gunawan; Hutapea, Jhon H.
FISHERIES : Jurnal Perikanan dan Ilmu Kelautan Vol 2, No 2 (2020): Oktober
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/fisheries.v2i2.42

Abstract

Teknologi pemijahan ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) yang dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan di Gondol Bali dengan managemen pemeliharaan induk di karamba jaring apung (KJA) secara terkontrol sampai saat ini sudah berhasil dengan baik. Namun demikian kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan masih fluktuasi.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontnyuitas pemijahan induk ikan tuna sirip kuning yang dipelihara di karamba jaring apung. Penelitian ini dilakukan di KJA yang berdiameter 48.8 m dengan kedalaman jaring 8 m diisi 50 ekor induk ikan tuna sirip kuning dengan bobot tubuh berkisar antara 50-70 kg per ekor. Pakan yang diberikan adalah : ikan segar, cumi-cumi  dan ditambahkan vitamin C dan vitamin E. Penelitian dilakukan selama 11 bulan dari Januari sampai dengan Nopember 2018. Parameter yang diamati adalah : Frekuensi pemijahan, jumlah total telur yang dihasilkan, diameter telur, diameter gelembung minyak, daya tetas telur dan nilai indek aktivitas kehidupan larva yang baru menetas (SAI). Sebagai data penunjang dilakukan pengamatan kualitas air yang meliputi : suhu, salinitas , dan kecerahan air di KJA. Analisa data dilakukan secara diskriptif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tuna sirip kuning dapat memijah setiap bulan. Jumlah total telur tertinggi yang berhasil dipanen adalah 5.885.646 butir pada bulan Nopember, dengan tingkat pembuahannya mencapai 94,69%. Daya tetas telur antara 55,0-94,0%. Indek aktivitas kehidupan larva yang baru menetas (SAI) adalah 1,5-3,6.
PENDEDERAN JUVENIL TERIPANG GAMAT (Sticopus horrens) DENGAN KEPADATAN BERBEDA Gunawan, Gunawan; Setiadi, Ananto; Sujaryani, Siyam; Buda, Made; Suprapta, I Nengah Gede; Rusmana, Dadang; Rifai, Ahmad; Muhdiat, Muhdiat
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.35-40

Abstract

Peningkatan pemanfaatan teripang sebagai bahan baku untuk farmasi telah menyebabkan peningkatan eksploitasi hingga terjadinya tangkap lebih. Alternatif pemenuhan kebutuhan pasar melalui usaha budidaya belum dapat memberikan hasil secara optimal karena ketersediaan benih dari hatcheri belum kontinu. Penelitian ini bertujuan mendapatkan padat tebar yang optimum dalam pendederan juvenil teripang gamat. Wadah penelitian menggunakan hapa ukuran 1,0 m x 0,8 m x 0,5 m sebanyak 12 buah. Perlakuan terdiri dari empat padat tebar, yaitu padat penebaran 100, 150, 200 dan 250 ekor/hapadengan masing-masing tiga ulangan. Rata-rata awal panjang total dan bobot tubuh juvenil: 0,50±0,06 cm dan 0,03±0,01 g.  Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, sintasan, persentase variasi ukuran juvenil pada akhir penelitian, serta kualitas air meliputi temperatur, salinitas dan pH. Analisis statistik menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan post hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan padat tebar yang berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan juvenil teripang gamat. Laju pertumbuhan benih pada perlakuan padat penebaran 100 ekor/hapa (108 – 128%) lebih tinggi dan  berbeda nyata dengan ke-tiga perlakuan padat tebar lainnya (P<0,05). Demikian juga dengan nilai sintasan tertinggi (79,00%) pada padat tebar 100 ekor/hapa dan terendah pada perlakuan padat tebar 250 ekor/hapa (34,27%) (P<0,05). Pada akhir penelitian, persentase juvenil yang berukuran besar pada perlakuan padat tebar 100 ekor/hapa mencapai 59,8% sedangkan pada ketiga perlakuan lainnya hanya mencapai 29,5–44,9% (P<0,05). Dengan demikian, pemeliharaan juvenil teripang gamat ukuran <0,05 g dengan kepadatan 100 ekor/hapa merupakan padat tebar optimum yang dapat diaplikasikan dalam dalam kegiatan pendederan.The increased use of sea cucumber as a pharmaceutical raw material has led to increased exploitation and has even reached overfishing. The alternative of fulfilling market needs through aquaculture has not been able to provide optimal results because the availability of seeds from hatcheries has yet to be continuous. This study aimed to determine the optimal stocking density for sea cucumber juveniles. As many as 12 mesh cages with a dimension of 1.0 m x 0.8 m x 0.5 m were used for the experiment. The juveniles were stocked at densities of 100, 150, 200, and 250 individuals/cage, in triplicate. The average initial total length and juvenile body weight were 0.50 ± 0.06 cm and 0.03 ± 0.01 g, respectively. The parameters observed were growth, survival, percentage variation in juvenile size at the end of the study, and water quality including temperature, salinity, and pH. One-way ANOVA with post hoc Tukey HSD was used to determine the differences among treatments. The results showed that different stocking densities affected the growth and survival of sea cucumber juveniles. The growth rate of sea cucumber juveniles at the density of 100 individuals/cage (108– 28%) was higher, and significantly different from the other stocking densities (P<0.05). The highest survival rate (79.0%) was at 100 individuals/cage and the lowest was at the density of 250 individuals/cage (34.27%) (P<0.05). At the end of the study, the percentage of large-sized juveniles at 100 individuals/cage density reached 59.8%, while at three other treatments was only 29.5 – 44.9% (P<0.05). Thus, it is concluded that the optimum stocking density for the nursery of sea cucumber juveniles sized <0.05 g is 100 individuals/cage.
The Survival, Growth, and Accelerating Morphological Development of Stichopus horrens are Affected by the Initial Larval Stocking Densities Sembiring, Sari Budi Moria; Setiawati, Ketut Maha; Widiastuti, Zeny; Hutapea, Jhon Harianto; Gunawan, Gunawan; Setiadi, Ananto; Haryanti; Giri, Nyoman Adi Asmara
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 32 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.32.1.233-240

Abstract

Stichopus horrens is highly exploited due to their use as a pharmaceutical ingredient. Since then, this species has become extinct; therefore, it is necessary to start aquaculture. Gonad maturation and broodstock spawning succeeded, but the optimum larval-rearing stocking density has not yet been determined. Therefore, the present study aimed to determine the optimal stocking density to improve survival and accelerate the development of larval morphology. Three treatments were used: 100, 150, and 200 larvae L-1, each with four replicates. Twelve 100-litre plastic containers filled with 80 litres of seawater as larval rearing media were placed in a concrete tank with a water-bath system using a heater and a thermostat (29.0°C±1.0°C). The larvae were fed a mixture of microalgae (Chaetoceros muelleri, Isochrysis galbana, and Nitzchia sp.) twice a day-1. The data collected included survival and growth rates, larval morphological development, and water quality. The fastest metamorphose from auricularia to the doliolaria stage occurred in 100 larvae L-1, 15 days after hatching. The highest survival rate, growth rate, and percentage of larvae metamorphose to the doliolaria stage were obtained in the 100 larvae L-1 as 26.38%, 26.4 µm day-1, and 65.27%, respectively, and were significantly different (P<0.05). A stocking density of 100 larvae L-1 was optimal for promoting survival and growth and accelerating the morphological development of auricularia to the doliolaria stage.
IDENTIFIKASI BAKTERI PADA LARVA IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) Mastuti, Indah; Setiadi, Ananto; Roza, Des; Mahardika, Ketut
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 4 No. 1 (2020): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.1

Abstract

Perbenihan tuna sirip kuning (Thunus albacares) telah dilakukan sejak tahun 2015 di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Gondol, Bali. Akan tetapi, dalam perbenihan tuna sirip kuning masih dihadapkan adanya tingkat kematian yang tinggi pada tahap larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri pada perbenihan larva tuna sirip kuning. Bakteri diisolasi dari larva umur 5, 10, 15, 20 hari setelah menetas pada media marine agar. Koloni bakteri yang tumbuh direisolasi berdasarkan morfologinya. Setiap isolat diidentifikasi secara molekuler berdasarkan urutan nukleotida dalam gen ribosom 16S menggunakan pasangan primer 27F dan 1492R. Kesamaan masing-masing urutan nukleotida dianalisis dengan BLAST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 isolat bakteri dari larva ikan tuna sirip kuning yang tumbuh dengan morfologi berbeda. Hasil Analisa BLAST, bakteri tersebut memiliki kemiripan dengan Bacillus cereus, B. methylotrophicus, B. amyloliquefaciens, Pseudomonas plecoglossicida, P. putida dan Vibrio sp. strain voc. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal tentang bakteri yang ada pada larva ikan tuna sirip kuning.
PERFORMA TELUR IKAN TUNA (Thunnus albacares) PADA PASCATRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP Hutapea, John H.; Gunawan; Setiadi, Ananto; Dharma, Tony Setia
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i3.34275

Abstract

Pasca transportasi telur ikan tuna pada umumnya menghasilkan tingkat penetasan dan kualitas larva yang belum optimal, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas larva pada pemeliharaan selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa telur dan larva yang dihasilkan pada transportasi dengan sistem tertutup. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya laut dan penyuluhan perikanan, Gondol-Bali. Perlakuan dalam kegiatan penelitian adalah kepadatan telur ikan tuna yaitu 25.000 butir/L (A), 50.000 butir/L dan 75.000 butir/L. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis sidik ragam. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat penetasan telur, kualitas prolarva dan parameter kulitas air (suhu, salinitas, DO, pH dan amoniak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap perlakuan kepadatan telur menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Perlakuan dengan kepadatan 75.000 butir/L menghasilkan persentase tingkat penetasan telur rata-rata tertinggi yaitu 69,33±3,78%, kemudian menyusul kepadatan 25.000 butir/L sebesar 68,33±3,33% dan 50.000 butir/L sebesar 63,33±3,56%. Penyerapan kuning telur terjadi pada hari ke 3 dan berakhir pada hari ke 5 dan 6. Pada hari ke 3 larva mulai membutuhkan makanan alami sebagai energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup embrio dan larva. Ketahanan pada larva yang baru menetas memiliki nilai sekitar 2,29 - 3,32, hal ini menunjukkan bahwa larva mampu tumbuh dan berkembang.
CHARACTERZATION OF ENDOGENOUS BACTERIA AS POTENTIAL PROBIOTICS IN LARVAL REARING OF YELLOWFIN TUNA (Thunnus albacares) Astuti, Ni Wayan Widya; Setiadi, Ananto; Gunawan, Gunawan; Hutapea, Jhon Harianto; Muzaki, Ahmad; Haryanti, Haryanti
Indonesian Aquaculture Journal Vol 20, No 2 (2025): (December, 2025)
Publisher : Agency for Marine and Fisheries Extension and Human Resources

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.20.2.2025.209-220

Abstract

The main objective of this study was to determine the profile of endogenous intestinal bacteria of yellowfin tuna, Thunnus albacares that can function as potential probiotics in the digestive system and used for the maintenance of yellowfin tuna larvae. Wild yellowfin tuna, T. albacares was collected from the waters of Gerokgak, Buleleng, North Bali, Indonesia. Intestinal bacteria were isolated, identified, characterized, and followed by enzymatic hydrolysis activity tests, antagonistic tests and pathogenicity tests to select candidate bacteria as probiotics. The results of the enzymatic hydrolysis activity test showed that there were 4 isolates of candidate probiotic bacteria that were active in enzymatic synthesis for amylase, lipase, casease, lecithinase, gelatinase. Identification through Sanger sequencing resulted in 4 potential bacterial isolates as probiotics, namely Bacillus subtillis strain T-A1, Bacillus amyloliquefaciens strain T-N2, Bacillus subtillis strain T-O4, and Paraclostridium bifermentans strain T-O6. These four bacteria were not antagonistic between varieties and were not pathogenic in Tuna fish. Yellowfin tuna fed probiotic supplements grew faster (5.5002 ± 0.2 mm) than the control (4.9002 ± 0.4 mm). The success of yellowfin tuna seed production is expected to be sustainable and its implementation in the private sector for aquaculture purposes.