Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Overview of Sanitation Hygiene of Food Stalls in the Working Area of the Bara-Baraya Health Centre, Makassar, Indonesia Annisa Y Febrianti; Najamuddin Najamuddin; Rosdianah Rahim; Purnamaniswaty Yunus; Rini Fitriani; Darmawansyih Darmawansyih
Physical Activity, Nutrition and Health Sciences Journal Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARY
Publisher : CV. Global Health Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65280/panhsj.v2i1.50

Abstract

Background: Food security remains a public health concern in Indonesia, particularly in informal food sectors such as food stalls, where inadequate knowledge and practices related to hygiene and sanitation may increase the risk of foodborne diseases. Poor sanitation conditions in food management sites can negatively affect community health and food safety. Aim: This study aimed to describe the hygiene and sanitation conditions of food stalls in the working area of the Bara-Baraya Health Centre in 2025. Method: This study employed a descriptive survey method conducted in October 2025. The research involved five food stalls that voluntarily participated in the study. Data were collected through direct observation using an environmental health inspection form based on the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 43 of 2014 concerning Sanitation Hygiene of Food Management Sites. Results: The results showed that only one food stall (20%) met the required hygiene and sanitation standards, while four food stalls (80%) did not meet the requirements. The most common deficiencies were related to kitchen cleanliness, separation of raw and cooked food, availability of soap at handwashing facilities, and inappropriate food handler behaviour. Conclusion: The implementation of hygiene and sanitation practices in most food stalls within the Bara-Baraya Health Centre area is still inadequate. Strengthened supervision, continuous coaching, and education for food handlers are needed to improve food safety and protect public health.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN ASFIKSIA DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA NEONATUS DI RSIA ANANDA MAKASSAR TAHUN 2022: THE RELATIONSHIP BETWEEN GENDER AND ASPHYXIA WITH THE INCIDENCE OF HIPERBILIRUBINEMIA AT RSIA ANANDA MAKASSAR IN 2022 Astrid Putri Shafira; Purnamaniswaty Yunus; Arlina Wiyata Gama; Henny Fauziah; Abdul Rahim Yunus
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i2.1124

Abstract

Hiperbilirubinemia pada neonatus merupakan kondisi yang sering terjadi pada minggu pertama kehidupan. Sebagian besar bersifat fisiologis, namun dapat berkembang menjadi patologis dan menimbulkan komplikasi serius seperti kernikterus apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dan asfiksia dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ananda Makassar Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 373 neonatus yang diambil menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 207 neonatus berjenis kelamin laki-laki dan 166 neonatus berjenis kelamin perempuan. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hiperbilirubinemia (p-value = 0,003). Sementara itu, terdapat 4 neonatus yang mengalami asfiksia dan 369 neonatus yang tidak mengalami asfiksia, dengan hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asfiksia dengan kejadian hiperbilirubinemia (p = 0,129). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus, sedangkan asfiksia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian hiperbilirubinemia.
Hubungan Pemberian Susu Formula dengan Kejadian Diare pada Bayi 0-6 Bulan: The Relationship Between Formula Milk Feeding and Diarrhea on Newborns Aged 0-6 Months Bunga Dhiaz Anggraini; Purnamaniswaty Yunus; Najamuddin; Rista Suryaningsih
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i3.4705

Abstract

Latar belakang: Diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak usia dibawah lima tahun. Salah satu penyebab terjadinya diare adalah pemberian susu formula. Pemilihan jenis susu formula dan kebersihan penyajian susu formula menjadi faktor penyebab terjadinya diare pada bayi usai 0-6 bulan. Tujuan: untuk mengetahui hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan di Puskesmas Pattingaloang dan Puskesmas Tamamaung Kota Makassar. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu observasi analitik dan deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 114 responden yang diambil menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pattingaloang dan Puskesmas Tamamaung Kota Makassar. Hasil: Bayi yang mengonsumsi susu formula paling banyak mengalami diare sebanyak 47 bayi (41.23%), sedangkan bayi yang tidak mengalami diare sebanyak 18 bayi (15.79%). Selain itu, bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif paling banyak tidak mengalami diare sebanyak 47 bayi (41.23%), sedangkan bayi yang mengalami diare sebanyak 2 bayi (1.75%). Hasil uji hubungan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p-value 0.000 yang lebih kecil daripada 0.05. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi susu formula dengan kejadian diare. Kesimpulan: Pemberian susu formula merupakan penyebab diare terbanyak pada anak usia 0-6 bulan. Susu formula yang paling banyak menyebabkan diare adalah susu sapi.
Relationship of Preeclampsia History of Pregnant Women with the Incidence of Neonatal Asphyxia Rezky Inayah Alfatihah; Rosdianah Rahim; Purnamaniswaty Yunus
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 8 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i8.5780

Abstract

Introduction: The neonate mortality rate (NMR) in Indonesia is still relatively high and has not met the predetermined target. One of the main causes of neonate mortality is neonatal asphyxia which can be caused by maternal factors, namely a history of preeclampsia in pregnant women. Objective: This study aims to determine the relationship between the history of preeclampsia in pregnant women and the incidence of neonatal asphyxia in RSUD Lanto Dg. Pasewang Jeneponto district for the period 2020-2021. Method: This study is a quantitative analytic study with a case control approach. the sample selection method is a purposive sampling technique of 364 samples consisting of 182 case samples and 182 control samples obtained from medical record data at Lanto Dg. Pasewang Jeneponto Regency for the period 2020-2021. The analysis technique used in bivariate analysis is the chi square test with a significance level of 5% (? = 0.05) with the help of statistical test software and the Odds Ratio (OR). Result: The results of the study based on the analysis obtained a p-value of 0.000 on the relationship between the history of preeclampsia of pregnant women with the incidence of neonatal asphyxia and the Odds Ratio (OR) value of 22.728. Conclusion: There is a relationship between the history of preeclampsia of pregnant women with the incidence of neonatal asphyxia at RSUD Lanto Dg. Pasewang Jeneponto Regency for the period 2020-2021 where a history of preeclampsia in pregnant women is 22.728 times more likely to cause neonatal asphyxia.