Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

INTRODUKSI FORMULA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DARI RIZOSFER PISANG PADA BIBIT PISANG UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT DARAH BAKTERI (RALSTONIA SOLANACEARUM PHYLOTYPE IV) Yefriwati, Yefriwati; Habazar, Trimurti; Husin, Eti Farda
JURNAL AGROTROPIKA Vol 16, No 1 (2011): Agrotropika Vol.16 No.1 2011
Publisher : JURNAL AGROTROPIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.012 KB)

Abstract

Blood disease bacteria (BDB) caused by Ralstonia solanacearum Phylotype IV (Pseudomonas solanacearum) is one of the most important diseases on banana. Using biological agents such as arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) to control BDB is still not maximal result, based on that need to search a potensial indigeneous AMF specific location. The aim of this experiment were to study the stability of formulated AMF indigenous to control BDB and to increase growth of banana seedlings. This research was arranged by Factorial in Randomized Complete Design (RCD) on green house experiment with 5 replicate. The treatment consist of 2 factors : 1) enrichment of carrier of AMF, sand with rock phosphate (0, 10, 20 and 40 %). 2) incubation periode (0, 1 and 2 months). Banana seedlings were intruduced with formulated AMF at planting date. Two month old banana seedlings were inoculated with Ralstonia solanacearum Phylotype IV. The parameter were observed include: incubation periode, disease insidence, disease severity, discoloration of pseudostem, population density of Ralstonia solanacearum Phylotype IV, colonisation degree of AMF on banana root, spore density on rhizosphere, growth of banana seedlings.The results showed that all formulated AMF introduced on banana seedlings reduced BDB development and increase banana growth compare with control plants, especially the formulated AMF enriched with 30 % rock phosphate.Key Words: arbuscular mycorrhizal fungi, blood disease bacteria, biological controll agents, banana
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN UMBI TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum.L) DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN SUMETERA BARAT. yulianti, uzi; yefriwati, yefriwati
HORTUSCOLER Vol. 1 No. 02 (2020): Oktober
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jh.v1i02.254

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum.L) merupakan salah satu sayuran yang memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan. Produksi kentang di Indonesia masih rendah disebabkan salah satunya penggunaan mutu bibit yang digunakan mempunyai kualitas rendah dan pengetahuan yang kurang tentang budidaya. Optimalisasi produksi tanaman kentang dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam terhadap produksi umbi benih kentang dapat mempengaruhi persaingan dalam hal penggunaan air dan zat hara. Semakin rapat perlakuan jarak tanam semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman kentang, lebar daun, dan umbi yang berukuran kecil lebih banyak. Berdasarkan permasalahan tersebut telah dilakukan percobaan tugas akhir dengan judul “Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang (Solanum tuberasum. L)”. Tujuan percobaan ini adalah mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil umbitanaman kentang sebagaibibitdan untuk mendapatkan satu jarak tanam yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan umbi bibit tanaman kentang. Percobaan tugas akhir ini dilakukan mulai tanggal 26 Februari – 23 April 2019. Tempat pelaksanaan percobaan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Perlakuan menggunakan pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bibit tanaman kentang, dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 20 cm, 15 cm x 15 cm dan 10 cm x 10 cm. Parameter yang diamati pada percobaan ini adalah, tinggi tanaman, lebar daun, jumlah tunas, dan bobot umbi. Tahapan pelaksanaannya pertama perlakuan, kedua persiapan media tanam tanaman kentang, ketiga penyiapan bibit tanaman kentang, keempat pengukuran jarak tanam dan pembuatan lubang tanam, kelima penanaman umbi tanaman kentang, keenam pemeliharaan tanaman meliputi : penyiraman, penyiangan, pemupukan susulan, ketujuh pengamatan, kedelapan panen. Hasil percobaan ini adalah penggunaan jarak tanam 10 cm x 10 cm untuk pembibitan lebih optimal pertumbuhan dan hasil umbi yang didapatkan. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dikesimpulan bahwa, 1. Jarak tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil umbi tanaman kentang sebagai bibit. 2. Jarak tanam terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kentang sebagai bibit terdapat pada percobaan jarak tanam 10 cm x 10 cm. Sebaiknya pada pembibitan tanaman kentang untuk bibit menggunakan jarak tanam 10 cm x 10 cm.
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK TABUR (POT) DAN ZEOLIT UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHANDAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)DI PT.INDMIRA YOGYAKARTA yefriwati, yefriwati; Delvira, Ziela
HORTUSCOLER Vol. 2 No. 01 (2021): April
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jh.v2i01.380

Abstract

Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayur tropis yang banyak dikembangkan di Indonesia dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk mendukung pengembangan budidaya mentimun yaitu dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan Zeolit. POT merupakan pupuk organik tabur yang berasal dari bahan organik yang banyak mengandung hara makro (N,P, dan K) dan hara mikro (Ca dan Mg). Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Zeolit sering digunakan sebagai pembenah tanah.Tujuan percobaan ini yaitu (1) mengoptimalkan produksi tanaman mentimun dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit (2) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Kegiatan percobaan tugas akhir ini telah dilakukan selama 3 bulan dari bulan Maret sampai Mei 2019 yang bertempat di kebun percobaan PT. Indmira, Sleman, Yogyakarta.Alat yang digunakan, cangkul, seedbed, meteran, ember, gelas akua, alat tulis (spidol, pena dan rol), kaleng bekas. Bahan yang dibutuhkan adalah bibit mentimun, NPK mutiara, MPPH, zeolit , Pupuk POT, ajir, semat (bambu), dolomit, arang , sekam bakar, cocopeat, tali rafia, kantong plastik.Parameter yang diamatiya itu tinggi tanaman, jumlah duan, lebar daun, awal muncul bunga dan hasil. Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman mentimun dilihat dari tinggi tanaman (21,35 cm), jumlah daun (9,75 helai), lebar daun (17,10 cm), awal muncul bunga (2,70 buah), dan produksi (13,989 gr), dan dalam budidaya tanaman mentimun disarankan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit.
PENERAPAN PUPUK HAYATI JAMUR MIKORIZA DAN BAKTERI FOTOSINTAT PADA TANAMAN SAYURAN DI KELOMPOK TANI DAMANG SAIYO KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Yefriwati, Yefriwati; Rizki, Rizki; Achmad, Benny Satria; Rasdanelwati, Rasdanelwati; Darmansyah, Darmansyah; Alfina, Rina; Darlis, Olivia; Chan, Sari Rukmana Okta Sagita; Chairunnisak, Chairunnisak
PAKDEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 3 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/pakdemas.v3i3.256

Abstract

The Damang Saiyo farmer group operates in food crop and vegetable farming. Community service activities in the Damang Saiyo farmer group are conducted using training and application of organic fertilizer from mycorrhizal fungi and photosynthetic bacteria to overcome farmers' problems regarding fertilizer scarcity so that fertilizer is available for plants. One of the technologies applied is mycorrhizal fungi and photosynthetic bacteria. (PSB). Mycorrhizal fungi are a type of biological fertilizer with a mutualistic symbiotic relationship with plant roots, which is beneficial for plants so that plant growth is good. At the same time, photosynthetic bacteria (PSB) are autotrophic bacteria that can photosynthesize and have pigments called bacteriophages a or b. can produce red, green, and purple pigments to capture solar energy as fuel for photosynthesis. The objectives of this community service activity are as follows: (1). Providing information on how to apply Organic fertilizers/biological mycorrhizal fungi and photosynthetic bacteria to vegetable plants, (2). Increase farmers' insight into using biofertilizers for mycorrhizal fungi and photosynthetic bacteria to increase farmers' income. This community service activity occurred at Jorong Balai Kenagarian Batu Balang, Harau District, from June to October 2023. The results of the actions show that the community has been able to make organic/biological fertilizer for mycorrhizal fungi and photosynthetic bacteria and has been able to apply it generously to vegetable plants.
Peningkatan Kualitas Pupuk Hayati Diperkaya dengan Bakteri Pelarut Kalium, Fosfor dan Penambat Nitrogen Indigenous dari Berbagai Rizosfer Tanaman Padi Terhadap Kandungan Hara dan Jumlah Populasi Mikroba Elita , Nelson; Erlinda , Rita; Yefriwati, Yefriwati; Sari , Deliana Andam; Illahi , Ayu Kurnia
Agroteknika Vol 7 No 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v7i4.418

Abstract

Pupuk hayati merupakan pupuk organik mengandung sekelompok mikroorganisme yang beragam, berperan mendorong pertumbuhan tanaman dan menjaga kesehatan tanah. Penelitian sebelumnya pupuk hayati dengan penambahan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis. Kebaharuan penelitian ini adalah pupuk hayati diperkaya dengan bakteri pelarut kalium berasal dari berbagai rizosfer tanaman padi. Tujuan penelitian memperoleh jenis bakteri pelarut kalium efektif meningkatkan kandungan hara pupuk hayati. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan BK0 (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis), BKBM (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Bujang Marantau), BKMM (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Mundam). BKCK (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Cilalek), BKRK (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis, bakteri pelarut K varietas Rendah Kuning), BKSP (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis ,varietas Saganggam Panuah), BKKP (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis,, bakteri pelarut K varietas Keriting Putih), BKJG (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K dari varietas Junjuang). Parameter pengamatan suhu, pH, kadar air, C-organik, hara N total, P2O5 total, K2O dan pertumbuhan koloni bakteri pupuk hayati. Hasil pengamatan suhu tumpukan pupuk hayati mencapai puncak pada hari ke 18, kecuali pada BKJG hari ke 27. Nilai pH, kadar air dan C-organik biofertilizer paling tinggi pada BKJG. Kandungan hara N paling tinggi pada BKSP sedangkan kandungan hara P2O5 dan K2O pada perlakuan BKJG. Pengayaan bakteri pada pupuk hayati diamati jumlah koloni bakteri pada biakan murni diperoleh pada hari ke 7 jumlah koloni bakteri paling tinggi pada BKJG. Kesimpulan isolat bakteri pelarut K asal rizosfer varietas Junjuang dan Saganggam Panuah lebih efektif untuk diaplikasikan pada pupuk hayati.
Microbial Population and Nutrient Content of a Biofertilizer Containing Azotobacter sp. and Pseudomonas fluorescens with Different Carrier Materials After Storage Elita, Nelson; Erlinda, Rita; Yefriwati, Yefriwati; Yanti, Rinda; Sari, Deliana Andam; Illahi, Ayu Kurnia; Maulina, Fri; Hasan, Nor’ Aishah
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 9 No. 1 (2025): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/jaast.v9i1.365

Abstract

Biofertilizers contain N-fixing and P-solubilizing bacteria. The microbial population is dynamic and influenced by nutrient availability and storage temperature. Maintaining microbial populations requires appropriate carrier media to maximize microbial viability. The aim of the research is to determine the appropriate carrier material for the biofertilizer after storage based on the nutrient content and microbial population. The experiment utilized a completely randomized design with seven treatments and four replications, resulting in 28 experimental units. The treatments were as follows: B0 = Compost, B1 = Compost + Bacteria (Azotobacter and Pseudomonas fluorescens), B2 = Compost + Bacteria (Azotobacter + P. fluorescens) + Molasses, B3 = Compost + bacteria (Azotobacter + P. fluorescens) + CMC, B4 = Compost + bacteria (Azotobacter + P. fluorescens) + Arginine, B5 = Compost + bacteria (Azotobacter + P. fluorescens) + Sugar + CMC, and B6 = Compost + bacteria (Azotobacter + P. fluorescens) + Molasses + Arginine. The study results showed that the highest bacterial colonies were observed seven days after storage in treatment B2, reaching 156.33 CPU. The highest bacterial population growth in the first month was recorded in treatment B5; however, in months 2, 3, 4, and 5, treatment B2 exhibited the highest bacterial colony population. The pH remained more stable in treatments B2, B4, and B6. The highest nutrient content, including pH, N, P, K, and C/N ratio, was recorded in treatment B2, respectively, with values of 6.67, 2.49%, 2.04%, 1.77%, and 20.01. Findings in this study suggested the potential biofertilizer can be applied in the field to reduce dependence on chemical fertilizers to support sustainable agriculture.
PENGGUNAAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) EKSTRAK BAWANG MERAH DAN ROOTONE F TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF SETEK BATANG JAMBU AIR (Syzygium aqueum) VARIETAS MADU DELI HIJAU yefriwati, yefriwati; Putri, Nurka Rima
JURNAL HORTUSCOLER Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jh.v5i1.793

Abstract

Jambu air (Syzygium aqueum) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang tumbuh baik di daerah beriklim tropis, salah satunya di Indonesia. Tanaman jambu air dapat diperbanyak secara vegetatif dengan setek batang. Perbanyakan tanaman secara setek umumnya sulit dilaksanakan karena keterbatasan tanaman membentuk tunas dan akar, maka dari itu dibutuhkan zat pengatur tumbuh untuk keberhasilan penyetekan. Tujuan dari percobaan ini adalah mengetahui pengaruh ZPT ekstrak bawang merah dan Rootone F terhadap pertumbuhan vegetatif setek batang jambu air varietas Madu Deli Hijau dan menentukan ZPT yang terbaik terhadap pertumbuhan setek tanaman jambu air varietas Madu Deli Hijau. Percobaan ini telah dilakukan pada tanggal 04 Maret sampai 15 April 2022 di Balai Benih Induk Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat di Lubuk Minturun Padang Percobaan ini terdiri dari tiga perlakuan yaitu: A (Kontrol), B (Ekstrak Bawang Merah), C (Rootone F). Parameter yang diamati pada percobaan ini adalah persentase hidup, jumlah tunas dan jumlah akar.
Identification of Arbuscular Mycorrhazal Fungi on Chili Pepper Plants (Capsicum Frutescens) in Sarilamak Village, Harau District Hawari, Hawari; Yefriwati, Yefriwati; Darmansyah, Darmansyah; Ramadhano, Agung
Journal of Agriculture Vol. 4 No. 02 (2025): Research Articles July 2025
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/joa.v4i02.6813

Abstract

Chili pepper (Capsicum Frutescens) is one of the horticultural commodities that is in great demand and has economic value. The nutritional content of chili peppers includes fat, protein, carbohydrates, calcium, iron, phosphorus, vitamins A, B1, B2, C, and alkaloid compounds, namely flavonoids, capsaicin, oleoresin, and essential oils. Chili pepper production in Lima Puluh Kota Regency has decreased in the last five years; one of the causes is the continuous use of inorganic fertilizers. One technology that can improve soil quality and is also environmentally friendly is the use of biofertilizers, one of which is Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF). AMF are soil microorganisms that help in the nutrient cycle, the existence of mutualistic symbiosis between fungi and the roots of higher plants. However, the use of AMF in chili pepper plants, especially in Sarilamak Village, Harau District, has not been carried out, so research on the identification of AMF spores in chili pepper plants in Sarilamak Village is necessary. This research is the first identification of AMF diversity in Sarilamak Village. Soil samples were taken and observed descriptively and presented in tables and figures. The types of AMF spores found were Acaulospora sp, Glomus sp, Gigaspora sp, and Scutellospora sp. The most common type of AMF found was Acaulospora sp with 101 spores and the least was Scutellospora sp with 11 spores. Acaulospora sp spores showed potential inoculum intended for cayenne pepper cultivation in Sarilamak.
PEMANFAATAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) Chairunnisak, Chairunnisak; Yefriwati, Yefriwati; Darmansyah, Darmansyah
Jurnal Imiah Management Agribisnis (Jimanggis) Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Management Agribisnis (Jimanggis)
Publisher : Magister Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jimanggis.v5i2.256

Abstract

Pupuk organik cair adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik alami seperti sisa-sisa tanaman, hewan, atau limbah organik yang difermentasi serta dapat diaplikasikan dalam bentuk cair. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair sangat menentukan kualitas dari pupuk tersebut. Beberapa bahan baku yang dapat dijadikan sebagai pupuk organik cair diantaranya adalah daun tithonia (Tithonia diversifolia), daun kaliandra (Calliandra calothyrsus), serta limbah kulit pisang. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan unsur hara dalam berbagai pupuk organik cair. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei – Juli 2024. Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan pupuk organik cair, yaitu : 1). Daun Tithonia, 2). Daun Tithonia + Kulit Pisang, 3). Daun Kaliandra, 4). Daun Kaliandra + Kulit Pisang. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah Ph, C-organik, kadar hara makro (N,P,K,). Data yang dihasilkan dianalisis dengan membandingkan hasil variabel pupuk organik cair yang diamati dengan persyaratan teknis minimal pupuk organik cair sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261/KPTS/SR.310//M/4/2019. Hasil penelitian diperoleh kandungan hara N dan P tertinggi didapatkan pada pupuk organik cair daun tithonia yaitu N 0,081% dan P 0,020%. Sedangkan kandungan K dan C-Organik tertinggi diperoleh pada pupuk organik cair daun Tithonia + Kulit Pisang yaitu 0,280% dan 1,13%. pH tertinggi diperoleh pada pupuk organik cair kaliandra 3,97. Nilai kandungan unsur hara N, P, K, C-organik dan pH pada berbagai pupuk organik yang telah diuji masih belum memenuhi kriteria Permentan Nomor 261/KPTS/SR.310//M/4/2019