Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Studi Fenomenologi Perilaku Pencegahan Penularan HIV oleh Pasangan Serodiskordan di Kabupaten Pamekasan Farhana, Nova Dwi; Ariyanti, Fajar
Journal of Religion and Public Health Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Health Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v1i1.12537

Abstract

HIV/AIDS masih menjadi infeksi yang berbahaya karena infeksi oportunistis yang ditimbulkan. Pamekasan merupakan Kabupaten dengan prevalensi HIV/AIDS tertinggi kedua di Pulau Madura pada tahun 2014. Beberapa kasus menunjukkan adanya ODHA usia produktif yang hidup dengan memiliki pasangan negatif (pasangan serodiskordan). Perilaku pencegahan penularan HIV harus dilakukan oleh pasangan serodiskordan karena berpotensi meningkatkan insiden HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana perilaku pencegahan penularan HIV oleh pasangan serodiskordan di Kabupaten Pamekasan tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam. Informan utama adalah 4 pasangan serodiskordan yang terdiri dari 4 ODHA dan 3 pasangan negatifnya. Informan kunci adalah konselor VCT. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasangan serodiskordan memiliki persepsi ancaman, persepsi manfaat, isyarat untuk bertindak dan efikasi diri yang baik dan semua pasangan dengan status HIV positif memiliki hambatan. Sebagian besar perilaku pasangan serodiskordan tergolong baik namun juga ditemukan pasangan yang berperilaku kurang baik dalam mencegah penularan HIV, yaitu pada pasangan yang menemukan banyak hambatan. Sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS terlebih pada pasangan dengan status HIV negatif. Konseling berpasangan yang dijadwalkan secara berkala disarankan agar pasangan serodiskordan memahami sepenuhnya fungsi dan manfaat dari upaya pencegahan yang dilakukan, selain itu konselor juga diharapkan memberikan konseling terkait masalah psikososial yang dihadapi pasangan serodiskordan serta senantiasa mengingatkan ODHA terkait efek samping yang diberikan.
Burnout Pada Perawat Di RSU Daerah: Apa Penyebabnya? Alawiansyah, Salsabila Putri; Kusumawardani, Riastuti; Nurrizka, Rahmah Hida; Ariyanti, Fajar
Journal of Religion and Public Health Vol 7, No 1 (2025): .
Publisher : Faculty of Health Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v7i1.44957

Abstract

Background: Burnout is a condition of physical, emotional, and mental exhaustion caused by high work pressure, often experienced by healthcare workers such as nurses. Nurses at the Depok regional government hospitals experienced the highest burnout rates found in the ICU unit at 40%. Objective: This study aims to identify the factors associated with burnout among nurses at RSUD Kota X, West Java Province, in 2024. Methods: This research is a quantitative study with a cross-sectional design involving 84 respondents selected using random sampling techniques. Results: Nurses working at RSUD Kota X, West Java Province, experienced moderate burnout at a rate of 56.3%, while 41.7% experienced low burnout. Factors associated with burnout among nurses include age (p-value = 0.035), gender (p-value = 0.019), job control (p-value = 0.037), workplace recognition (p-value = 0.036), and social support (p-value = 0.039). Conclusion: Age, gender, job control, workplace recognition, and social support are significantly associated with burnout among nurses at RSUD Kota X, West Java Province, in 2024. Nurses are encouraged to manage stress by thinking positively, engaging in hobbies, and supporting one another to prevent burnout.Keywords: Burnout, Nurses, District Hospitals.
How Risky People of Getting COVID-19 based on Their Daily Activities? Ariyanti, Fajar; Mustakim, Mustakim; Al Ayubi, Moch T A; Marlisman, Desty Pratiwi
Kesmas Vol. 16, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia at the end of 2020, COVID-19 cases were increasing and predicted to continue, as it had not yet passed the peak of the pandemic curve. The government had implemented mobility restrictions to reduce exposure to COVID-19. This study aimed to identify the risk of people getting COVID-19 based on their daily activities. Using a cross-sectional design, this study took 315 respondents under non-probability sampling from September to October 2020. Thedata were analyzed using the Chi-square test with α 0.05. This study showed that the risk percentage of people infected with COVID-19 based on their daily activities was 15.56% at low-risk, 63.81% at moderate-low risk, 17.14% at moderate risk, and 3.9% at moderate-high risk. Factors that were significantly related to the risk of getting COVID-19 in terms of daily activities were sex, attitude, and COVID-19 preventive behavior. In brief, the risk of getting COVID-19 could be assessed from daily activities carried out during the pandemic's peak.
Exploring The Resilience of Primary Health Care during COVID-19 Health Crisis: A Case Study in Depok City, Indonesia Mutia Nasir , Narila; Ariyanti , Fajar; Baequni, Baequni; Yulianty Permanasari , Vetty; Surya Darmawan, Ede
Journal of Health Education Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: During COVID-19 pandemic, the primary health care must have its resilience during the health crisis. The first case of COVID-19 in Indonesia was found in Depok City. Therefore the objective of this study is to explore the resilience of primary health care during COVID-19 pandemic as a health crisis situation in Depok City, Indonesia. Methods: This study used a qualitative design by using a case study approach, Focus Group Discussion (FGD) was conducted to10 Heads of Public Health Center in Depok City as the main informant in August 2022. The data were analyzed using content analysis. Results: Public Health Centers in Depok City had a good resilience during COVID-19 pandemic. However, they had a low resilient in financing. Conclusions: COVID-19 pandemic has helped the primary health care to identify the resilience which is crucial to maintain and develop to face other health crisis situation that might be occurred in the future.
Studi Responsivitas Sistem Kesehatan dalam Pelayanan Tuberkulosis di Puskesmas Tangerang Selatan, Indonesia Rahim, Ulya Mutia; Ariyanti, Fajar; Nurrizka, Rahmah Hida; Wardani, Riastuti Kusuma
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 2s (2025): Special Issue: The 3rd International Conference on Health Sciences 2024
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i2s.3796

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia (969.000 kasus) terutama di Banten (23.343 kasus). Pada tahun 2023, Kota Tangerang Selatan ditemukan sebanyak 1.107 kasus. Sistem kesehatan yang responsif memiliki peran dalam mengelola penyakit tuberkulosis, seperti mengurangi penyebaran dan meningkatkan hasil pengobatan. Berdasarkan studi pendahuluan di lima puskesmas Kota Tangerang Selatan ditemukan bahwa waktu tunggu yang lama, fasilitas tempat duduk yang kurang memadai dan kurang meratanya pelayanan kunjungan rumah menjadi penyebab masalah responsif pada pelayanan tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran Responsiveness pada pelayanan tuberkulosis di puskesmas Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini melibatkan 96 pasien tuberkulosis di lima puskesmas di Kota Tangerang Selatan yang dipilih secara cluster random sampling dan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Pelayanan tuberkulosis di puskesmas Kota Tangerang Selatan sudah responsif seperti pasien merasa informasi dirahasiakan (92,7%), pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan (90,6%), pasien diberikan pilihan pengobatan (89,6%), petugas ramah (88,5%), komunikasi yang jelas (86,5%), diberikan dukungan tenaga kesehatan (81,3%), kualitas pelayanan bagus (76%) dan waktu tunggu yang cepat (51%). Pelayanan tuberkulosis menunjukan hasil yang responsif, namun waktu tunggu pasien masih menjadi masalah pelayanan tuberkulosis. Oleh karena itu, puskesmas perlu meningkatkan pelayanan yang lebih efisien dengan memperhatikan lama waktu tunggu.
Studi Fenomenologi Perilaku Pencegahan Penularan HIV oleh Pasangan Serodiskordan di Kabupaten Pamekasan Farhana, Nova Dwi; Ariyanti, Fajar
Journal of Religion and Public Health Vol. 1 No. 1 (2019)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v1i1.12537

Abstract

HIV/AIDS masih menjadi infeksi yang berbahaya karena infeksi oportunistis yang ditimbulkan. Pamekasan merupakan Kabupaten dengan prevalensi HIV/AIDS tertinggi kedua di Pulau Madura pada tahun 2014. Beberapa kasus menunjukkan adanya ODHA usia produktif yang hidup dengan memiliki pasangan negatif (pasangan serodiskordan). Perilaku pencegahan penularan HIV harus dilakukan oleh pasangan serodiskordan karena berpotensi meningkatkan insiden HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana perilaku pencegahan penularan HIV oleh pasangan serodiskordan di Kabupaten Pamekasan tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam. Informan utama adalah 4 pasangan serodiskordan yang terdiri dari 4 ODHA dan 3 pasangan negatifnya. Informan kunci adalah konselor VCT. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasangan serodiskordan memiliki persepsi ancaman, persepsi manfaat, isyarat untuk bertindak dan efikasi diri yang baik dan semua pasangan dengan status HIV positif memiliki hambatan. Sebagian besar perilaku pasangan serodiskordan tergolong baik namun juga ditemukan pasangan yang berperilaku kurang baik dalam mencegah penularan HIV, yaitu pada pasangan yang menemukan banyak hambatan. Sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS terlebih pada pasangan dengan status HIV negatif. Konseling berpasangan yang dijadwalkan secara berkala disarankan agar pasangan serodiskordan memahami sepenuhnya fungsi dan manfaat dari upaya pencegahan yang dilakukan, selain itu konselor juga diharapkan memberikan konseling terkait masalah psikososial yang dihadapi pasangan serodiskordan serta senantiasa mengingatkan ODHA terkait efek samping yang diberikan.
ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) Financial Management for Health Programs at BAZNAS BAZIS DKI Jakarta AlJannah, Eine Kiswah; Ciptaningtyas, Ratri; Nurmansyah, Muhammad Iqbal; Kusumawardani, Riastuti; Ariyanti, Fajar; Amelia, Erika
Journal of Religion and Public Health Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v6i1.38144

Abstract

Philantrophy is an activity that viewed as supporting tool to elevate community healthy. Islamic philantrophy, such as Zakat,Infaq,Shadaqah(ZIS) has been a method to help low economic people but the allocation to health sectors is not well studued. This study aims to reveal the financial management of ZIS at BAZNAS BAZIS DKI Jakarta for their Health Program “Jak B Sehat”. This research is qualitative with an intrinsic case study. Data collection was conducted by in-depth interviews from 3 BAZIS employees and 2 beneficiaries, and document review. In general, financial management at BAZIS DKI is well executed because it has demonstrated a lawful source of funds, the financing management mechanism is carried out according to Shari'a, and the allocation of funds has a high impact on beneficiaries. However, there are obstacles that create less efficient task, such as technical problems and a lack of human resources. Jak B Sehat as a result of the financial management process has a positive impact among the beneficiaries, such as removing tatoos and ambulance delivery. Therefore, more human resources number is recommended to avoid double tasks and accelerate ZIS collection.Keywords: ZIS Financial Management, Jak B Sehat