Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Analisis Determinan yang Mempengaruhi Pelaksanaan PHBS Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Sawangan Tahun 2021: Analysis of Determinants that Influence the Implementation of PHBS Household Orders in the Working Area of the Sawangan District Health Center in 2021 Wibisono, Al Farel Dimas; Ramadhani, Nur Rizky; Rahayu, Ade Ashar; Salsabillah, Sausan; Al-Fajr, Sayyed Muhammad Al; Damayanti, Siti; Saragih, Sukmawati Boru
Journal of Public Health Education Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Public Health Education
Publisher : MPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jphe.v2i2.107

Abstract

Background: Diarrhea is a disease with signs of changes in loose stools until they melt and an increase in the frequency of bowel movements 3 or more times a day. Based on the pattern of causes of death for all ages, diarrhea is the 13th leading cause of death with a proportion of 3.5%. Meanwhile, based on infectious diseases, diarrhea is the third leading cause of death after TB and pneumonia. The population in this study were residents of South Bogor City. Objectives: To find out the factors that influence the incidence of diarrhea in Bogor City to be used as an intervention and implementation step in an effort to reduce the incidence of Non-Communicable Diseases, especially diarrheal diseases in the South Bogor Health Center area. Method: The sample in this study was 33 respondents using the simple random sampling method. The data was collected using a questionnaire, then the data was processed and analyzed using the Microsoft Excel program. Data analysis included univariate analysis by looking for the frequency distribution. Result: The results of data collection showed that the percentage of several indicators, namely knowledge, latrine management and behavior, which were the trigger for the incidence of diarrhea was behavioral behavior with the results of good behavior as many as 18 (54.5%), and unfavorable behavior 15 (45.5)%. While knowledge, it was found that, for poor knowledge as many as 8 (24.2%) had good knowledge as many as 25 (75.8%) respondents. For latrine management, 10 (30.3%) had unhealthy latrine management and 23 (69.7%) respondents had healthy latrine management. Conclusion: The conclusion of this study, although respondents have a good level of knowledge, it is not necessarily the respondents have good diarrhea prevention behavior, because it is proven that even though respondents have good knowledge, they have poor diarrhea prevention behavior. For not applying it in behavior.
PENGEMBANGAN MODEL MANAJEMEN PROGRAM YANG MENDUKUNG KEBERHASILAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HIPERTENSI KABUPATEN SERANG Hariyanti, Istianah; Ramadhani, Nur Rizky
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.36016

Abstract

Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi merupakan salah satu Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan yang harus dipenuhi Pemerintah Daerah dengan target 100 %, sedangkan di Kabupaten Serang tahun 2023 baru mencapai 77,4 %. Manajemen Program yang tepat, efektif dan efisien sangat diperlukan untuk mencapai target SPM. Tujuan penelitian  ini untuk Pengembangan Model Manajemen Program melalui Evaluasi CIPP (Contex, Input, Proses, Product) dalam mendukung Keberhasilan Program Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi di Kabupaten Serang. Data telaah kualitatif didapatkan melalui pengamatan langsung, wawancara mendalam dan dokumentasi terkait program dari aspek konteks, input, proses manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan pengendalian serta produk yaitu keberhasilan program pencegahan dan pengendalian hipertensi di Kabupaten Serang. penelitian menunjukkan  aspek konteks yang meliputi kebijakan, strategi dan penetapan sasaran program sebagian besar sudah ada dan dilaksanakan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan, regulasi daerah diperlukan untuk memperkuat implementasinya. Aspek input masih kurang terutama sumber daya manusia baik jumlah, jenis, kompetensi maupun kapasitasnya, demikian juga sarana prasarana, alat, obat, media KIE maupun sarana pencatatan dan pelaporan sehingga masih butuh upaya pemenuhan. Aspek proses atau manajemen harus lebih diperkuat karena kekurangan (Sumber Daya Manusia) SDM dan kurangnya pelatihan untuk meningkatkan kapasitas manajerial SDM. Kemampuan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan pengendalian masih harus ditingkatkan.
Evaluation and Strategy to Strengthen the Implementation of Early Detection of Cervical Cancer Using the IVA Test Method Fitriani, Sulastri; Ramadhani, Nur Rizky; Susanti, Eva; Guspianto, Guspianto
Jambi Medical Journal : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2024): JAMBI MEDICAL JOURNAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v12i2.30503

Abstract

Background: The cervical cancer poses a significant global health threat with a noteworthy prevalence rate. Early detection through Acetic Acid Visual Inspection (IVA) has proven effective in reducing mortality rates and improving patient prognosis. However, the implementation of this early detection method stil faces challenges. Objective: This study aims to evaluate the implementation of VIA in the province of Jambi and devise improvement strategies. Method: A mixed-method approach was carried out, combining quantitative analysis through the assessment of Primary Health Centers (Puskesmas) and qualitative analysis through interviews with stakeholders. Results: The evaluation of IVA implementation reveals positive assessments in input (54.8% excellent, 37% good) and process (72.6% excellent, 27.4% good). There was variations in output were observed with 58.9% excellent, 21.9% good, 13.7% fair, and 5.5% unsatisfactory. However, improvements were still needed in input quality and program implementation to enhance overall output results. Conclusion: It is recommended to increase regional monitoring efforts, cooperation and partnerships, participation of community leaders, mass outreach and campaigns, increased budget allocation and supervision Keywords: Cervical Cancer; Early Detection; Evaluation Strategy
Faktor Penentu Kelelahan Mata Pada Pekerja Pengguna Laptop Di Claim PT X Sitepu, Meri Ani; Ramadhani, Nur Rizky
Health Publica Vol 5, No 2 (2024): Health Publica Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/hp.v5i2.8630

Abstract

The average use of laptops among workers in the Claim Department is at least 8 hours per day. Eye fatigue often occurs due to intensive laptop use, which can reduce productivity. This study aims to identify and analyze the relationships between age, gender, length of service, duration of laptop use, and viewing distance to the monitor screen related to eye fatigue among workers in the Claim Department of PT. X in 2024. The approach used in this research is Cross Sectional, with a total population of 60 individuals and sampling conducted through total sampling. The instruments used include questionnaires and measuring tools. Data analysis was performed using the chi-square test, as well as univariate and bivariate analyses. The analysis results showed that 53% of laptop users experienced eye fatigue. There are significant relationships between age (P-value 0.023), duration of laptop use (P-value 0.001), and viewing distance to the screen (P-value 0.001). The duration of laptop use variable shows the highest prevalence ratio (PR) of 15.889, meaning that duration of use increases the risk of eye fatigue by 16 times. To prevent and reduce complaints of eye fatigue, it is recommended that the company install UV radiation filters, adjust proper viewing distances, implement the 20-20-20 method, and conduct regular eye examinations for workers. The purpose of this research is to provide recommendations that can enhance workers' eye health and reduce the risk of eye fatigue due to prolonged laptop use.
ANALISIS IMPLEMENTASI INTEGRASI PELAYANAN KESEHATAN PRIMER DI KOTA CILEGON Rosita, Tita; Ramadhani, Nur Rizky; Purnamasari, Ratih
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46446

Abstract

Integrasi pelayanan kesehatan primer merupakan pendekatan baru yang digunakan untuk mengatasi kelemahan struktural dalam pelayanan kesehatan primer yang terlihat pada saat pandemi COVID-19 dan karena masih banyak masyarakat yang memandang puskesmas hanya sebagai tempat untuk perawatan kuratif dan rehabilitatif, tanpa menyadari peran pentingnya dalam pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi integrasi pelayanan kesehatan primer di Kota Cilegon. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain deskriptif melalui studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan dari Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, Tenaga Kesehatan, Kader dan Stakeholder lintas sektor serta melalui analisis dokumen sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi integrasi pelayanan kesehatan primer di Kota Cilegon telah meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, meskipun masih terdapat beberapa tantangan. Tantangan utama meliputi keterbatasan SDM, sarana prasarana, koordinasi antar sektor, adaptasi/respon masyarakat, dan teknologi informasi. Kesiapan infrastruktur dan SDM kesehatan belum sepenuhnya optimal, terutama di tingkat Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu. Faktor pendukung seperti kebijakan, dukungan pimpinan, dan anggaran juga belum sepenuhnya memadai, meskipun telah ada upaya koordinasi dan kolaborasi dengan pihak industri melalui program CSR. Rekomendasi yang diberikan mencakup penyusunan kebijakan yang lebih jelas, peningkatan koordinasi antar sektor, pengembangan kapasitas SDM melalui pelatihan, adopsi teknologi informasi yang lebih terintegrasi, dan peningkatan partisipasi masyarakat. Dengan demikian diharapkan integrasi pelayanan kesehatan primer di Kota Cilegon dapat lebih efektif dan berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui layanan kesehatan yang lebih dekat dan terjangkau.
KEPATUHAN MINUM OBAT, LAMA PENGOBATAN DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUALA TUNGKAL II Safrina, Safrina; Ramadhani, Nur Rizky
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46708

Abstract

Kualitas hidup mencakup pemberian kesempatan untuk menjalani kehidupan yang nyaman dengan menjaga keseimbangan antara kondisi fisiologis dan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan kualitas hidup menjadi hal penting sebagai tujuan pengobatan dan merupakan kunci untuk kesembuhan pasien tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat, lama pengobatan, dan dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien TB di Puskesmas Tungkal II. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross-sectional pada 55 responden dari populasi 100 pasien TB yang dipilih secara Stratified Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner WHOQOL menunjukkan mayoritas responden memiliki kualitas hidup kurang baik (58,2%), tingkat kepatuhan rendah (70,9%), berada dalam fase pengobatan lanjutan >4 bulan (58,2%), dan menerima dukungan sosial minimal (61,8%). Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis di Puskesmas Kuala Tungkal II Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah kepatuhan minum obat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien TB yang tidak patuh minum obat memiliki risiko 6,838 kali lebih besar untuk mengalami kualitas hidup yang kurang baik dibandingkan pasien yang patuh ((POR = 6,838; 95% CI: 1,752–26,682; p = 0,006). setelah dikontrol oleh variabel umur, pendidikan dan pekerjaan. Karena nilai p < 0,05 dan interval kepercayaan tidak melewati angka 1, maka hubungan ini dinyatakan signifikan secara statistik dan bermakna secara klinis.Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi terpadu berbasis edukasi dan penguatan dukungan sosial untuk meningkatkan kualitas hidup pasien TB dalam rangka keberhasilan terapi TB.
HUBUNGAN RIWAYAT ANTENATAL CARE, RIWAYAT PAPARAN SINAR MATAHARI PAGI DAN RIWAYAT FREKUENSI ASI DENGAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM DI BPM BIDAN DARATULLAILAH BOJONG GEDE BOGORTAHUN 2024 Pambudiningtyas, Titis Rahayu; Susaldi, Susaldi; Ramadhani, Nur Rizky
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 1 No. 11 (2024): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, November 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/pytc1r49

Abstract

Latar Belakang Ikterus neonatorum atau penyakit kuning adalah salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir, dengan prevalensi 25% hingga 50% pada minggu pertama kehidupan. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin dalam darah bayi, yang apabila tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kern ikterus dan keterbelakangan mental. Beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian ikterus neonatorum meliputi Riwayat Antenatal Care yang kurang baik, kurangnya paparan sinar matahari pagi, serta frekuensi pemberian ASI yang kurang. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui Hubungan Riwayat Antenatal Care, Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi dan Riwayat Frekuensi ASI Dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Di BPM Bidan Daratullailah Bojong Gede Bogor Tahun 2024. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel yang diambil sebanyak 49 bayi yang lahir di BPM Bidan Daratullailah Bojong Gede Bogor Tahun 2024 Periode Januari – Juni, dimana 33 bayi mengalami ikterus neonatorum. Hasil Penelitian Diperoleh bahwa hasil uji Chi-Square pada variabel Riwayat Antenatal Care diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05), pada variabel Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05), pada variabel Riwayat Frekuensi ASI diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05). Kesimpulan Terdapat hubungan antara Riwayat Antenatal Care yang kurang baik, Riwayat Paparan Sinar Matahari Pagi Yang kurang dan Riwayat Frekeunsi ASI yang kurang dengan kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru lahir. Dengan adanya penelitian ini, bagi responden dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya ikterus neonatorum dan pentingnya perawatan pada neonatal
Analisis Pengelolaan Limbah Medis Puskesmas di Kota Banda Aceh Sufiani, Dessi; Ramadhani, Nur Rizky; Lukman, Lukman
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 06 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i06.3267

Abstract

Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) menghasilkan volume limbah medis Bahan Berbahaya Beracun (B3) yang besar dan merata diseluruh Indonesia. Menurut data dari Kemenkes RI tahun 2020 Puskesmas yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai dengan standar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan limbah medis puskesmas di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus serta pengumpulan data dengan teknik wawancara, observasi dan telaah dokumen. Informan kunci dalam penelitian ini berjumlah 17 orang yaitu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh (1 orang), Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan (1 orang), Kepala puskesmas (5 orang), informan pendukung tenaga sanitarian (5 Orang), dan tenaga pelaksana pengelola limbah medis di puskesmas (5 orang). yang ditentukan melalui tekhnik purpose sampling. temuan emperis diketahui bahwa puskesmas diKota Banda Aceh telah melakukan pengelolaan sampah limbah padat mulai dari pemilahan, pengumpulan, penyimpanan dan pengangkutan, dalam pengelolaan limbah medis cair sudah menggunakan IPAL (Instalasi pengelolaan Air Limbah) yang disalurkan melalui wastafel khusus pada tiap ruangan, masih tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 68 Tahun 2016 karena membuang limbah medis cair langsung sedangkan pada limbah padat medis pada tahap pengelolaan dan pemusnahan masih tidak sesuai dengan Permenkes RI Nomor 18 Tahun 2020 yaitu penyimpanan sementara lebih dari 2 hari namun tidak menggunakan cold storage. Kesimpulan : Dinas Kesehatan diharapkan dapat merencanakan pengadaan Cold Storage, Rehabilitasi tempat penyimpanan sementara, rehabilitasi saluran IPAL dan peningkatan SDM pelaksana ( cleaning service) dengan OJT (on the job training ) yang disertai dengan sertifikat pelatihan.
Analisis Manajemen Central Sterile Supply Departement dalam Meminimalisir Terjadinya Healtcare Associated Infection Yulianingsih, Yulianingsih; Ramadhani, Nur Rizky; Rohman, Bakhtiar
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 06 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i06.3278

Abstract

Pusat sterilisasi mempunyai peranan sebagai salah satu penghubung dalam proses pengendalian infeksi dan juga mempunyai peranan dalam upaya menurunkan angka kejadian infeksi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis manajemen central sterile supply departement (CSSD) dalam meminimalkan terjadinya healthcare associated infection (HAIs) di RSUD Malingping Provinsi Banten meliputi fungsi manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Desain penelitian adalah analitik dengan pendekatan kualitatif yang dirancang dengan desain studi kasus (case study). Variabel yang diteliti mengacu teori manajemen meliputi aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Cara pengambilan informasi melalui wawancara adalah dengan purposive, yaitu pimpinan di tingkat manajemen hingga di tingkat pelaksana dengan total informan 6 orang. Analisis data pada penelitian ini dilakukan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perencanaan CSSD sudah berjalan dengan baik, namun pengorganisasian, pelaksanaan (meliputi penerimaan peralatan, pengemasan, pelabelan, sterilisasi, distribusi, dan penyimpanan), serta evaluasi masih belum sepenuhnya optimal, dan pengawasan dilakukan setiap enam bulan. Unit CSSD di RSUD Malingping perlu menambah sumber daya manusia untuk mengurangi beban kerja dan meminimalkan kesalahan. RSUD Malingping juga perlu melakukan pemantauan dan evaluasi rutin terhadap pelaksanaan dan pengorganisasiannya.
Gambaran Faktor Risiko Pasien HIV dengan Tuberkulosis di RSUD Kota Bogor Haryani, Leni; Ramadhani, Nur Rizky; Meirawan, Rizky Fajar; Burmanajaya, Bram
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 7, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis merupakan infeksi opportunistik yang mematikan. WHO melaporkan bahwa TB menjadi penyebab kematian 187.000 pasien HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko pasien HIV yang menderita TB berdasarkan karakteristik demografi, stadium klinis HIV, status sosial ekonomi dan faktor risiko HIV/AIDS di RSUD Kota Bogor tahun 2016-2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan cara purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 60 responden. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan jumlah pasien HIV TB (+) periode 2016-2021 di RSUD Kota Bogor sebagian besar berusia < 35 Tahun (73,7%), berjenis kelamin laki laki (90,2%), belum menikah (82,8%) tingkat pendidikan tinggi (71,7%), status tidak bekerja (80%), berada pada stadium klinis 3 dan 4 (82,6%) dan memiliki status sosial ekonomi kurang mampu (81,6%) serta faktor risiko perilaku seksual (72,4%). Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat tiga karakteristik yang dapat menyebabkan perbedaan status infeksi TB pada pasien HIV yaitu jenis kelamin dengan p value