Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PELATIHAN MEMBACA UNTUK PENGENTASAN BUTA AKSARA DI WILAYAH KOTA LANGSA Hariadi, Joko; Bania, Allif Syahputra; Hidayat, Muhammad Taufik
Jurnal Vokasi Vol 2, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.534 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v2i2.723

Abstract

Pemberantasan buta aksara merupakan salah satu program pendidikan non formal yang menjadi upaya pemerintah untuk mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan. Buta aksara adalah ketidakmampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Hal ini menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat Kota Langsa. Adapun beberapa faktor penyebab buta aksara dapat diidentifikasi dari kemiskinan penduduk, putus sekolah dasar (SD), dan kondisi lingkungan sosial masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimanakah metode/teknik pelatihan membaca yang efektif untukpengentasan buta aksara di wilayah kota langsa. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Langsa yang mengalami buta aksara. Potensi yang dimiliki adalah memberikan pengetahuan kepada warga yang mengalami buta aksara tentang pentingnya pendidikan. Kemudian, mengurangi jumlah warga yang mengalami buta aksara di wilayah Kota Langsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ceramah, tanya-jawab, dan latihan mandiri. Kegiatan ini diawali dengan pelatihan teknik/metode membaca untuk mengaplikasikan materi pelatihan yang telah diberikan. Setiap peserta yang mengalami buta aksara mempraktikkan cara membaca. Metode ini digunakan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat buta aksara agar memperoleh pelajaran pendidikan secara bermutu sehingga menjadi insan yang produktif dan meningkat kesejahteraannya. Hasil penelitian ini ditemukan informasi tentang pemahaman masyarakat Kota Langsa terhadap teknik, cara, dan metode-metode yang bermanfaat dalam membaca. Teknik, cara, dan metode- metode yang bermanfaat dalam membaca yang diberikan oleh masyarakat Kota Langsa memperlihatkan hal tersebut. Semua kegiatan yang direncanakan telah berhasil dilaksanakan dan mendapat dukungan yang sangat baik dari semua pihak.Kata kunci: pelatihan, pengentasan buta aksara, membaca, Kota Langsa
Kemampuan Memahami Terjemahan Intralingual oleh Siswa Sekolah Dasar Bania, Allif Syahputra; Najihatul Faridy; Nuraini, Nuraini
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 3 No. 01 (2023): Artikel Riset Periode Mei 2023
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v3i01.2579

Abstract

Komunikasi dalam kaiatan perkembangan bahasa merupakan buah dari manifestasi pikiran dan perasaan anak untuk dapat menjabarkan informasi dengan makna dan maksud tertentu dari simbol atau tanda yang berkaitan dengan sebuah tata bahasa yang terstruktur kepada orang lain sehingga apabila ketersampaian informasi ini terjadi maka anak dianggap telah memiliki perbendaharaan bahasa yang cukup. Oleh karena itu, anak sekolah dasar akan diberikan tes untuk mengukur pemahaman mereka dalam hal penerjemahan intralingual pada benda-benda yang umum dijumpai agar didapatkan pengukuran pemahaman berbahasa anak usia dini di sekolah dasar. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif-kualitatif yang menguraikan penjelasan secara deskriptif berkaitan dengan data penelitian yakni berbentuk kata dengan pelaksanaan analisis metode padan intralingual dengan cara menghubung-bandingkan pengalihbahasaan dengan cara penjelasan ulang atau klarifikasi dari bahasa sumber ke bahasa target dalam kategori bahasa sama atau satu bahasa. Berdasarkan hasil jawaban siswa diatas terhadap pertanyaan dalam konteks kata berupa ayam, buku, kursi, meja dan Zebra menghasilkan jawaban benar secara mutlak bagi seluruh siswa yang menjadi objek penelitian serta jumlah jawaban salah adalah nihil secara keseluruhan. Siswa mampu menjelaskan atau mendefinisikan kata-kata tersebut sesuai dengan kebenaran yang berasal dari kamus secara terstruktur. Kemampuan penerjemahan intralingual dari seluruh siswa adalah baik karena pertanyaan yang diajukan sesuai dengan fase siswa sekolah dasar yang diambil dari kata sederhana yang berasal dari bahasa Indonesia sehingga mereka tidak kesusahan dalam menganalisis dan menyampaikan ulang penjelasan secara intralingual terhadap pertanyaan yang diajukan.
Quality of translation via google translate in comedy texts Bania, Allif Syahputra; Faridy, Najihatul
Englisia Journal Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ej.v11i1.19364

Abstract

A translation process of considerable quality should possess the ability to effectively communicate a clear and definite meaning from the source language to the target language. While Google Translate serves as a useful tool for comprehending translated textual content in a general sense, it is important to note that automated machines still possess inherent weaknesses and limitations. The translation of jokes within comedic texts, particularly in relation to language and cultural differences, proves to be a challenging task. This research was undertaken utilizing a qualitative-descriptive approach, with the bilingual comedy book titled "Jokes in English-Book 1" serving as the subject of study. The primary objective of this research is to assess the level of translation quality achieved by machine translation in terms of accuracy, acceptability, and readability, and to compare these results with the translations provided in the bilingual book. The findings of this research indicate that 62.5% of the translations exhibit a high level of accuracy, while 37.5% are somewhat less accurate. Furthermore, 37.5% of the translations are deemed acceptable, while 62.5% are regarded as less acceptable. Finally, 37.5% of the translations demonstrate a high degree of readability, whereas 62.5% exhibit a moderate level of readability. Upon comparing the translation results obtained from Google Translate with the original translations presented in the bilingual book, it was determined that 100% of the translations in the book were found to be satisfactory in terms of accuracy, acceptability, and readability. Although the translations from English to Indonesian of comedy texts via Google Translate are deemed satisfactory, there is still room for improvement and ongoing development in order to enhance the quality of these translations.
PELATIHAN PEMBUATAN AGAR-AGAR U TEUTOT REMPAH SEBAGAI SUPLEMEN DAYA TAHAN TUBUH PADA MASA COVID-19 Bania, Allif Syahputra; Nursamsu, Nursamsu; Faridy, Najihatul
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v4i2.467-473

Abstract

U teutot is a typical drink passed down from generation to generation from the time of the Aceh sultanate. U (Coconut) as a basic material for PKM training is one of 17 plant species for Acehnese special food that comes from intensive cultivation. Perior's problems are the increasing need for immune supplements against the COVID-19 pandemic that is effective and has a selling value from ingredients that are easily obtained by PKK mothers in Gampong Bayeun, Birem Bayeun District, East Aceh Regency, especially coconut and spices and the lack of knowledge of PKK mothers in the use and process of entrepreneurship for immune supplements. Justification of Solutions to Partner Problems is training in making jelly from spice-roasted coconut as an immune supplement for PKK mothers in Bayeun Village during the COVID-19 outbreak and increasing the empowerment of mothers in the entrepreneurial process and making natural immune supplements in the form of jelly from spice-roasted coconut during the COVID-19 pandemic. Implementation methods are field survey, schedule determination, preparation, training, implementation, monitoring and evaluation.Â