Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Optimalisasi Peran Museum sebagai Sumber Pelestarian Budaya dalam Pembelajaran Sejarah Lokal di Sekolah Mohamad, Sutrisno; Hasan, Renol; Wantu, Asmun
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2024): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v1i3.147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi optimalisasi penggunaan museum sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah lokal di sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013, pembelajaran di lembaga pendidikan harus dilakukan dengan cara yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang, serta memotivasi siswa untuk aktif berpartisipasi. Dalam konteks ini, museum berperan sebagai media edukatif yang tidak hanya menyimpan artefak sejarah tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pustaka, yang mengandalkan kajian literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi terkait penggunaan museum dalam pendidikan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunjungan ke museum dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi sejarah, mengatasi monotonitas dalam pembelajaran, dan mendukung pelestarian budaya. Museum menyediakan berbagai artefak yang memungkinkan siswa untuk melihat dan memahami peristiwa sejarah secara langsung, sehingga memperkaya pengalaman belajar mereka. Penelitian ini menekankan pentingnya pemanfaatan museum sebagai sumber belajar yang efektif dan merekomendasikan integrasi kunjungan museum dalam kurikulum pendidikan sejarah untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang menarik dan memanfaatkan museum secara optimal merupakan kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pendidikan sejarah
DULAMAYO VILLAGE FROM 1941 TO 1999 Usman, Intan; Mohammad, Sutrisno; Hasan, Renol
Satmata: Journal of Historical Education Studies Vol. 3 No. 1 (2025): July: Satmata: Journal of Historical Education Studies
Publisher : CV. Fahr Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61677/satmata.v3i1.329

Abstract

This research aims to examine the history of the establishment of Dulamayo Village between 1941 and 1999, as well as its subsequent development. The method employed in this study is the historical method, which consists of four stages: heuristics (source collection), source verification or criticism—encompassing both external and internal criticism—interpretation, and historiography (historical writing). The findings reveal that Dulamayo Village was established in 1941 in Bongomeme District, approximately 25 kilometers from Gorontalo City. Prior to that, during the 17th and 18th centuries, Bongomeme was still a small hamlet that gradually developed into a larger district, eventually leading to territorial expansion that gave birth to Dulamayo Village. The name “Dulamayo” originated from an area where large wild mango trees grew abundantly, producing plentiful fruit; thus, since the mid-18th century, the area became known as Kampung Dulamayo. In the 19th century, this region was incorporated into Batudaa District before eventually becoming part of Bongomeme District. The period between 1941 and 1999 reflects significant development: in the early years, there were no schools, the community relied solely on subsistence farming, and the population remained small. However, by 1999, formal educational institutions had been established, agricultural products were being traded in markets, and the population increased substantially due to migration. Nevertheless, the tradition of Huhuyula, or mutual cooperation, continued to be preserved as a vital cultural identity of the community.