Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Komunikasi Pemasaran dalam Penempatan Produk Kopiko terhadap Brand Image Miftahul Jannah; Perdhani Soemantri, Nathalia
Publish: Basic and Applied Research Publication on Communications Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/publish.v2i1.4994

Abstract

Perkembangan iklan yang semakin kreatif menjadi tantangan bagi pemasar menciptakan strategi baru untuk menjangkau khalayak luas. Dalam komunikasi pemasaran, strategi penempatan produk banyak digunakan oleh pemasar untuk meningkatkan merek atau produk. Namun, permen Kopiko sebagai produk lokal Indonesia melakukan strategi baru dengan cara penempatan produk dalam drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha. Kemunculannya menjadi sorotan penggemar drama Korea, maka tak heran berdampak pada brand image Kopiko. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui bagaimana aktivitas penempatan produk yang dilakukan permen Kopiko dalam drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha pada brand image Kopiko di benak penonton. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan jenis eksplanatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling sebanyak 100 orang yang merupakan followers Instagram @wowkdrama.id yang menonton di Netflix, yang memiliki temuan bahwa mayoritas responden yaitu perempuan dalam usia 18-25 tahun yang berstatus sebagai mahasiswi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran dalam penempatan produk iklan Kopiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Kopiko serta memiliki hubungan yang kuat. Sebesar 49% performa penempatan produk memiliki pengaruh terhadap peningkatan brand image Kopiko.
Gaya Komunikasi Politik Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Pada Masa Kerja Aktif 2016-2017 Frengki Ramadhan; Perdhani Soemantri, Nathalia; Afifah, Sayyidah
Publish: Basic and Applied Research Publication on Communications Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/publish.v3i1.6650

Abstract

Situasi politik kian memanas sejak menjelang Pilpres 2014, yang pada saat itu salah satu kandidatnya adalah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Terpilihnya Jokowi menjadi presiden RI di Pilpres 2014 menggeser kursi kekuasaan gubernur DKI Jakarta yang diduduki oleh wakilnya yaitu Ir. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Gaya komunikasi politik yang dimiliki oleh Ahok dikenal sangat berbeda dari gubernur sebelumnya. Ahok tidak sedikit terlibat dalam beradu argumen dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah. Ketika dalam diskusi memiliki sudut pandangan yang berbeda, Ahok tidak sungkan mengatakan dengan gaya komunikasi yang keras, to the point, dan tidak jarang terkesan seakan menyudutkan lawan bicaranya. Pada masa jabatan selama dua tahun memimpin pemerintahan DKI Jakarta, tidak sedikit Ahok terlibat pada beberapa konflik. Konflik yang paling mengemuka adalah kasus hukum penistaan agama yang mengakibatkan dirinya ditetapkan sebagai tersangka. Kasus ini membuat gaya komunikasi politik Ahok di periode tahun ke dua sedikit berbeda dengan tahun pertama. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif dengan pendekatan kualitatif. Konsep yang digunakan yakni komunikasi, komunikasi politik, dan gaya komunikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perubahan gaya komunikasi politik Ahok secara umum, namun terdapat sedikit lebih kalem dari biasanya, lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan komunikasi politik, serta lebih percaya diri secara psikologis.
Gimmicks and Habitus: An Analysis of Socio-Cultural Reproduction in the 2024 Indonesian Vice-Presidential Debate Yuniar, Ririt; Gembyeng Ciptadi, Suluh; Soemantri, Nathalia Perdhani
Athena: Journal of Social, Culture and Society Vol. 4 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Media Digital Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58905/athena.v4i1.490

Abstract

The 2024 Indonesian vice-presidential debate appears to feature more gimmicks than substantive discussions of the candidates’ visions and missions. This study aims to examine how the vice-presidential candidates reproduce socio-cultural values through their performances during the debate. Using Bourdieu’s theoretical framework of habitus (field, arena, and strategy), this research seeks to explore how the candidates construct the reproduction of socio-cultural values through their habitual practices. The study employs a qualitative method with text analysis as the primary data collection technique. The data analyzed consists of textual transcriptions from the fourth vice-presidential debate, broadcast on the official YouTube channel of the General Elections Commission (KPU) of the Republic of Indonesia, and used voyant.tools to determine dominant words from the comments. The findings indicate that the candidates’ habitus determines the type of socio-cultural reproduction displayed during the debate. The result of this research identified three key patterns: First, Attacking-question gimmicks reinforced dominance and control over debate narratives. Second, Emotional and satirical gimmicks provoked opponents and audiences while diverting attention from substantive content. Third, Youth-oriented gimmicks leveraged humor and relatability to attract younger voters. These performances reproduced a political reality that emphasized style over substance, signaling a shift toward performative politics in which image and symbolism dominate over ideas (knowledge), ethics, wisdom, and maturity in public speaking. This research is also relevant for researchers, political strategists, and media analysts.