Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

RETRACTED: PENGEMBANGAN DESAIN MOTIF BATIK REYOG BULKIYO DALAM MENDUKUNG DESA WISATA KEMLOKO, KECAMATAN NGLEGOK, KABUPATEN BLITAR Ratnawati, Nurul; Ruja, I Nyoman; Wiradimadja, Agung; Bashofi, Ferdinan
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Following a rigorous, carefully concerns and considered review of the article published in Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial to article entitle “Pengembangan Desain Motif Batik Reyog Bulkiyo dalam Mendukung Desa Wisata Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar” Vol. 5, No. 1 (2022), DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um032v5i1p46-53. This paper has been found to be in violation of the Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial publication principles and has been retracted. The article contained redundant material, the editor investigated and found that the paper published in Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial, Vol. 4, No. 2 (2021), DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um032v4i2p55-61. The document and its content has been removed from Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial and a reasonable effort should be made to remove all references to this article.
Tradisi Tolak Bala ( Ruwatan Sengkolo) di Kelurahan Mergosono Kota Malang Meydyah Palupi, Kartika; Sunuyeko, Nurcholis; Rochsun, Rochsun; Bashofi, Ferdinan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.16

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan pulau hingga flora dan fauna, lebih terdiri dari puluhan ribu suku dan ras ataupun golongan. Jawa menjadi salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia dan yang kaya akan budaya dan tradisi. Masyarakat jawa mempunyai tatanan suatu budaya yang membentuk kepercayaan bahwa manusia yang dilahirkan membawa takdirnya sendiri yaitu takdir baik maupun buruk. Tradisi ruwatan dalam Masyarakat Jawa sebagai simbol untuk menolak bala yang ada pada sekitar mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tradisi Ruwatan Sengkolo, proses dan pandangan masyarakat terhadap Tradisi Ruwatan Sengkolo. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan di Kelurahan Mergosono, Kota Malang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tradisi Ruwatan Sengkolo terjadi karena adanya kesialan dan malapetaka di wilayah Kelurahan Mergosono, namun hal tersebut dapat terhindarkan dengan Tradisi Tolak Bala (Ruwatan Sengkolo). Makna Ruwatan sengkolo adalah menyucikan diri dari kesialan dan malapetaka dan dilakukan secara berkala (Sengkolo)
Makna Simbolis Tradisi Maligay Iraw Tengkayu di Kalimantan Utara Sari, Norita; Bashofi, Ferdinan
HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary Vol. 4 No. 3 (2026): HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/hijm.v4i3.6341

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik Maligay dalam tradisi Iraw Tengkayu masyarakat Tidung di Kalimantan Utara. Tradisi Iraw Tengkayu merupakan upacara adat yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut serta permohonan keselamatan. Maligay menjadi unsur utama dalam prosesi ritual karena berfungsi sebagai tempat sesaji dan simbol hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, serta alam semesta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi budaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tokoh adat serta masyarakat Tidung. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur Maligay, seperti tiga tingkatan bangunan, warna kain, jumlah tiang, dan sesaji, mengandung makna spiritual, sosial, dan kosmologis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Tidung. Penelitian ini penting sebagai upaya pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas budaya masyarakat Tidung di tengah arus modernisasi.