Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Penggunaan Β-Blockers Pada Pasien Gagal Jantung Fraksi Ejeksi Menurun Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Dwi Delima, Febriany Syafitri; Batuul, Marindam; Saputra, Anugrah
Sanus Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v7i1.15792

Abstract

Pendahuluan: Pengertian dari gagal jantung adalah sebuah sindroma klinis dimana jantung mengalami kegagalan dalam menjalankan tugasnya baik. Fungsi dari Beta- blocker adalah menghambat adrenoreseptor beta di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Artikel ini menjelaskan mengenai kegunaan Beta- blocker pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang menurun beserta pengaruhnya terhadap komorbid kardiovaskular dan non kardiovaskular.Pembahasan: Beta-blocker merupakan terapi yang direkomendasikan diberikan pada pasien heart failure dengan ejection fraction yang menurun. Obat golongan beta-blocker membantu mencegah gejala heart failure, meningkatkan remodeling ventrikel kiri, menurunkan resiko rawat inap dan kematian dini. Beta-blocker tidak digunakan pada gangguan nafas fase akut karena dapat memperburuk gagal jantung, bradikardia atau blok jantung dan hipotensi. Pemberian beta-blocker juga direkomendasikan pada pasien aritmia karena berperan dalam kontrol laju ventrikel serta memperlihatkan mortalitas yang lebih rendah dan prognosis yang lebih baik pada pasien atrial fibrilasi yang mendapatkan terapi beta-blocker.Kesimpulan: Beta-blocker direkomendasikan sebagai terapi pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun. Tetapi, perlu diperhatikan adanya komorbid kardiovaskular maupun non-kardiovaskular yang dapat mempengaruhi pemberian terapi beta-blockers. Pemberian terapi beta-blocker diharapkan dapat mengurangi mortalitas atau morbiditas pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang berkurang (HFrEF).
Late diagnosis of Ebstein anomaly after pregnancy: A rare case report Lesmana, Jesse; Ramadhan, Muhammad; Barri, Muhammad; Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Nurusshofa, Zahra
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 8 No 01 (2024): Qanun Medika Vol 08 No 01 January 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v8i01.15327

Abstract

Congenital heart disease is a concerning disease among those affected since it affects the patient's quality of life. One of which is Ebstein Anomaly (EA), with a prevalence of 1 in 200,0000 births with a clinical characteristic of displacement of the tricuspid valve that causes atrialization of the right-side heart. Women of childbearing age are at risk because they especially have asymptomatic EA, compromised to hemodynamic consequences, and risk of maternal complications. A 25-year-old woman visited the emergency department with worsening shortness of breath since last week, during rest, accompanied by decreased physical activity tolerance, bilateral ankle edema, cyanosis to the lips, and nail bed. She had echocardiography and cardiac multi-slice computed tomography to identify EA before and after her first child's birth. She was well controlled with a loop diuretic, phosphodiesterase type 5 inhibitor, and beta-blocker but could not care for her child due to her condition. The patient was discharged after symptoms subsided, awaiting further interventional evaluation. Although EA is rare, it has high morbidity and mortality, especially in women of childbearing age since it may be asymptomatic during childhood. Therefore, early recognition of EA is probably necessary for women who are planning pregnancy.
Skrining Kardiovaskular pada Pasien dengan Sindroma Marfan: Suatu Laporan Kasus dan Tinjauan Singkat Purwowiyoto, Sidhi Laksono; Asanti, Rismarini
Health and Medical Journal Vol 6, No 2 (2024): HEME May 2024
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v6i2.1485

Abstract

Sindroma Marfan (SM) merupakan penyakit jaringan ikat herediter yang diturunkan secara autosomal dominant yang melibatkan multiorgan, salah satunya adalah sistem kardiovaskular. Tidak ada terapi kuratif, namun diagnosis dini, skrining dan pemantauan berkala, serta perubahan gaya hidup dapat memperbaiki prognosis pada penderita SM. Penegakan diagnosis SM dapat dikonfirmasi dengan revised Ghent criteria. Sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas yang utama pada pasien dengan SM, perlu dilakukan penapisan dan follow-up rutin untuk mendeteksi terjadinya komplikasi pada sistem kardiovaskular utamanya pada aorta dan katup mitral. Dipaparkan kasus laki- laki, usia 25 tahun, rujukan dari sejawat ortopedi dengan kecurigaan SM. Keluhan utama pasien hanya nyeri pada tulang ekor. Riwayat keluhan nyeri dada, sesak, dan berdebar disangkal oleh pasien. Hasil EKG menunjukkan adanya right atrial enlargement dan LVH. Pada pasien dikerjakan pemeriksaan transtorakal ekokardiografi sebagai bagian dari skrining kardiovaskular. Tidak dijumpai adanya dilatasi root aorta, katup- katup masih dalam batas normal, serta fungsi sistolik ventrikel kanan dan kiri baik. Follow up minimal 1 tahun sekali perlu dikerjakan untuk pemantauan serta pencegahan komplikasi kardiovaskular di masa mendatang.