Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AdBispreneur

PENENTUAN KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM DENGAN PENDEKATAN SINYAL BELI DAN SINYAL JUAL PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR PADA LQ 45 Kostini, Nenden; Sukmadewi, Rani; Fahmi, Muhammad Ainul
Adbispreneur Vol 8, No 2 (2023): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v8i2.37433

Abstract

This research aims to determine the use of technical analysis as a basis for investors' considerations in making investment decisions in shares of banking sector companies registered on LQ 45 in 2018. The research method uses a quantitative approach by processing secondary data obtained from the results of further processing by primary data collectors. Technical analysis is used to analyze stock price movements using Moving Average Convergence Divergence (MACD) and RSI as indicators. The research population is banking sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) as many as 590 companies while the sample size is determined by purposive sampling, namely banking companies belonging to the LQ 45 index for the period February - July 2018 as many as 6 banking sector companies. The unit of analysis of this research is stock price data of companies in the banking sector. The results of data analysis show "buy signals" and "sell signals" cannot be used as the basis for determining and making stock investment decisions. This is because not all "buy signals" and "sell signals" provide accurate information to make decisions about investing in stocks.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan analisis tehnikal sebagai dasar pertimbangan investor dalam membuat keputusan investasi saham perusahaan sektor perbankan yang terdaftar pada LQ 45 pada tahun 2018.  Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis teknikal digunakan untuk menganalisis pergerakan harga saham dengan menggunakan Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan RSI sebagai indikatornya. Populasi penelitian adalah perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 590 perusahan sedangkan ukuran sampel ditentukan secara purposive sampling, yaitu perusahaan perbankan yang tergolong dalam indeks LQ 45 periode Februari – Juli 2018 sebanyak 6 perusahaan sektor perbankan. Adapun unit analisis penelitian ini adalah  data harga saham perusahaan sektor perbankan. Hasil analisis data menunjukkan “sinyal beli” dan “sinyal jual” tidak dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan dan melakukan keputusan investasi saham. Hal ini dikarenakan tidak semua “sinyal beli” dan ‘sinyal jual” mengindikasikan informasi yang tepat untuk membuat keputusan investasi saham.
TINJAUAN DIGITAL COLLABORATION NETWORK PADA START-UP DIGITAL DI PROVINSI JAWA BARAT: SEBUAH PENDEKATAN TRIPLE HELIX Sukmadewi, Rani; Purbasari, Ratih; Kostini, Nenden
Adbispreneur Vol 8, No 2 (2023): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v8i2.45629

Abstract

The digital era has triggered a new technological revolution, affect significant structural changes in the industry, and ushered in the era of start-up businesses. Start-ups encounter a number of challenges, including the demand for greater digital capabilities, a weak supporting ecosystem, and difficulty accessing funding. This study aims to use a start-up relationship pattern approach with universities and the government to get an overview of the current situation and digital collaboration models for start-ups in West Java. Based on the co-inform dimension, digital start-ups in West Java have formed partnerships with other industry players and government. Only a few start-ups have undergone education and training efforts in co-learn settings. According to the co-market dimension, collaborative efforts between digital start-ups and other players in the digital innovation ecosystem have been made to promote goods or services at start-ups in West Java. Co-operation, co-produce, and co-build have yet to run optimally. The government, academics, and start-up actors have collaborated through digital collaboration networks at Digital Start-ups in West Java. However, this effort unsuccessful yet. Because each program's sustainability process could be improved, planning is necessary to create an organised, integrated, directed, and sustainable activity programme.Era digital telah memicu revolusi teknologi baru, menyebabkan perubahan struktural yang signifikan dalam industri, dan mengantarkan era start-up. Start-up memiliki berbagai kesulitan, termasuk kebutuhan akan keterampilan digital yang lebih banyak, ekosistem pendukung yang lemah, dan kesulitan mengakses pendanaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan pendekatan pola hubungan start-up dengan perguruan tinggi dan pemerintah untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan saat ini dan model kolaborasi digital untuk start-up di Jawa Barat. Berdasarkan dimensi co-inform, start-up digital di Jawa Barat telah menjalin kemitraan dengan pelaku industri lainnya dan dengan lembaga resmi seperti organisasi pemerintah. Hanya beberapa start-up yang telah mengikuti upaya pendidikan dan pelatihan dalam pengaturan co-learn. Menurut dimensi co-market, upaya kolaborasi antara start-up digital dan pemain lain dalam ekosistem inovasi digital sudah dilakukan untuk mempromosikan barang atau jasa pada start-up di Jawa Barat. Co-operation, co-produce, dan co-build belum berjalan optimal. Pemerintah, akademisi, dan pelaku start-up telah berkolaborasi melalui digital collaboration network pada Digital Start-ups di Jawa Barat. Namun, upaya ini masih belum berhasil. Perencanaan diperlukan untuk menyusun program kegiatan yang terorganisir, terpadu, terarah, dan berkelanjutan karena proses keberlanjutan setiap program masih perlu ditingkatkan.