Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Clustering Daerah Rawan Gempa di Pulau Jawa Berbasis Metode Algoritma K-Means Febriyani, Shinta; Buroiroh, Hafid; Wahyu, Narantaka; Tri Septiani, Nanda; Faiz, Muhammad
Simpatik: Jurnal Sistem Informasi dan Informatika Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/simpatik.v5i2.11246

Abstract

Peningkatan aktivitas gempa bumi dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius, terlebih dengan maraknya pembahasan mengenai potensi gempa megathrust di wilayah selatan Jawa. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemetaan kerawanan yang lebih akurat, mengingat Pulau Jawa merupakan salah satu area dengan intensitas seismik tinggi. Meskipun data historis gempa tersedia cukup lengkap, pemetaan sebelumnya masih bersifat umum dan belum mampu menggambarkan pola spasial secara detail. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat kerawanan gempa di Pulau Jawa menggunakan algoritma K-Means Clustering. Data diambil dari platform Kaggle berupa katalog gempa bumi periode 2008–2023, namun analisis difokuskan pada Januari 2021 hingga Januari 2023 agar sesuai dengan kondisi seismik terbaru. Proses klasterisasi dilakukan menggunakan RapidMiner dengan Euclidean Distance, sedangkan jumlah klaster optimal ditentukan melalui Davies-Bouldin Index (DBI), yang menghasilkan nilai terbaik sebesar 0,349. Hasil klasterisasi menunjukkan tiga tingkat kerawanan, yaitu Cluster 0 dengan 2.348 titik (kerawanan tinggi), Cluster 2 dengan 276 titik (kerawanan sedang), dan Cluster 1 dengan 12 titik (kerawanan rendah). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar aktivitas gempa khususnya yang berada di zona subduksi selatan Jawa yang berpotensi memicu gempa megathrust terkonsentrasi pada cluster berkerawanan tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai distribusi kerawanan gempa di Pulau Jawa, sehingga dapat menjadi dasar bagi BPBD dan BNPB dalam penyusunan strategi mitigasi dan sistem peringatan dini.
Religious Studies and the Production of Critical Religious Moderation: Epistemic Humility and Reflexive Habitus in Indonesian Higher Education Sa'ad, Aslam; Faiz, Muhammad; Masruri, Muhammad
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol. 9 No. 3 (2025)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/rjsalb.v9i3.48033

Abstract

This study analyzes the relationship between Religious Studies and the discourse of religious moderation in Indonesian higher education by challenging the dominant view that positions religious moderation primarily as a state-driven normative agenda or a mechanism for transmitting moral values. The purpose of this research is to explain how Religious Studies operates as an epistemic space that shapes intellectual dispositions for managing religious diversity, rather than as an instrument of normative harmonization. This study employs a qualitative approach, using in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with lecturers and students at Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga and Universitas Gadjah Mada, complemented by an analysis of curricular documents and institutional practices. The findings reveal three main results. First, Religious Studies systematically produces epistemic humility, enabling subjects to recognize the limits of truth claims without falling into relativism. Second, through the repetition of academic practices, a reflexive habitus emerges that shifts religious engagement from identity defense toward argumentative reasoning. Third, Religious Studies equips subjects with the capacity to manage tensions among religion, culture, and nationalism critically and contextually. This study offers an original contribution by proposing the concept of critical religious moderation as an intellectual-ethical capacity produced through scholarly practice. The implications of this research underscore the importance of protecting epistemic autonomy and strengthening reflective educational ecosystems within policies on religious moderation in higher education.