Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

OPTIMASI GOOGLE PROFIL BISNIS UNTUK BRANDING DESTINASI: STUDI KASUS DESA AGROWISATA NGANGGRING (PENDEKATAN LOGICAL FRAMEWORK): Optimization of Google Business Profile for Destination Branding: A Case Study of Nganggring Agrotourism Village Using the Logical Framework Approach Yulias, Yanuar Reza; Pamungkas, Kasno; Novianti, Evi
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.677

Abstract

Agrowisata berbasis masyarakat di Indonesia telah memperoleh legitimasi formal melalui keputusan menteri yang mengklasifikasikan destinasi wisata sepanjang kontinum, mulai dari perintis hingga mandiri. Namun, di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, peningkatan status administratif tersebut tidak selalu diikuti oleh pertumbuhan jumlah wisatawan. Data wawancara dari Dinas Pariwisata Sleman menunjukkan bahwa sejumlah destinasi yang pernah berstatus “mandiri” atau “berkembang” kini menjadi tidak aktif, bahkan beberapa destinasi yang sebelumnya “maju” mengalami kemunduran ke tahap perintis akibat stagnasi kunjungan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran digital, khususnya pemanfaatan Google Profile Business, dalam meningkatkan visibilitas dan daya tarik wisata di Desa Agrowisata Nganggring. Dengan menggunakan pendekatan Logical Framework Approach (LFA) partisipatif, penelitian melibatkan para pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pengelolaan promosi digital. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2024 dipengaruhi oleh pola musiman, ketidakteraturan jadwal promosi, dan keterbatasan penjangkauan digital. Google Profile Business terbukti menjadi strategi pemasaran digital yang efektif karena hemat biaya yang mendukung pengambilan keputusan wisatawan melalui fitur ulasan, citra interaktif, dan pencarian berbasis lokasi yang berpengaruh terhadap peningkatan kunjungan sebesar 30%. Kebaruan studi ini terletak pada perumusan model pengoptimalan Google Profile Business yang mengintegrasikan konten lokal, seperti agrowisata salak dan edukasi susu kambing Etawa, untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dan memperkuat citra destinasi. Penelitian ini juga merekomendasikan integrasi Google Profile Business dengan media video pendek serta penguatan literasi digital pengelola sebagai strategi kunci menuju pariwisata berkelanjutan.
Strategi Pengembangan Lahan Sawah sebagai Daya Tarik Wisata di Desa Segaran Karawang Budiman, Christian Julianto; Pamungkas, Kasno; Endyana, Cipta
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.11362

Abstract

Desa Segaran di Kabupaten Karawang memiliki potensi lahan sawah produktif seluas lebih dari 300 hektar yang terintegrasi dengan Kawasan Percandian Batujaya yang bersejarah. Namun, pemanfaatan lahan sawah sebagai daya tarik wisata belum dikembangkan secara optimal, sementara penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengembangan agrowisata di daerah lain tanpa menyentuh potensi integrasi dengan warisan budaya. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan lahan sawah sebagai daya tarik wisata di Desa Segaran yang terintegrasi dengan kawasan percandian. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menggali secara mendalam persepsi dan pengalaman para pemangku kepentingan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 12 informan yang mewakili unsur pentahelix, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta pendekatan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi agrowisata Desa Segaran didukung oleh lanskap sawah yang asri, kedekatan dengan wilayah metropolitan, serta masyarakat yang telah terbiasa dengan pariwisata. Namun, pengembangan terkendala oleh keterbatasan infrastruktur, fasilitas pendukung, kapasitas sumber daya manusia, dan promosi. Berdasarkan analisis SWOT, dirumuskan empat strategi utama yang diintegrasikan ke dalam peta jalan empat fase: penguatan kapasitas komunitas, pengembangan produk dasar, ekspansi pasar, dan konsolidasi berkelanjutan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada pendekatan kualitatif yang tidak dapat digeneralisasi dan belum dikajinya aspek kelayakan ekonomi. Penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau campuran direkomendasikan untuk menguji efektivitas strategi yang dirumuskan.
Peran Pemerintah Desa dalam Pengembangan Desa Wisata Nagrog, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya Smesta, Bagas Lanang; Khadijah, Ute Lies Siti; Pamungkas, Kasno
Jurnal Manajemen Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pariwisata dan Perhotelan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/jmpp-widyakarya.v3i1.4653

Abstract

This research explores the role of the Nagrog Village Government in advancing the Nagrog Tourism Village located in Cipatujah District, Tasikmalaya Regency. Utilizing a qualitative approach with a case study method, data were gathered through in-depth interviews, direct observations, and literature reviews. The study's results indicate that the Nagrog Village Government holds a pivotal role in the tourism village's development by improving coordination with Pokdarwis and BUMDes, implementing Village Regulations (Perdes) as a legal framework, and enhancing tourism-related infrastructure. Despite these efforts, challenges persist, including the lack of long-term development plans, insufficient support for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), and ineffective promotional strategies. While the management of Tonjong Canyon as the main attraction has positively influenced the local economy, its contribution to Village Original Income (PAD) remains minimal. To achieve sustainable tourism village development, it is crucial to strengthen strategic planning, maximize digital marketing efforts, and improve MSME support.
Holistic strategy for preserving Sundanese dance digitally: Digitization, intelectual property rights, sustainable cultural regeneration Khadijah, Ute Lies Siti; Pamungkas, Kasno; Rafianti, Laina; Lusiana, Elnovani; Bifakhlina, Febriyanti
Jurnal Informatio Vol 6, No 2 (2026): 2026
Publisher : Faculty of Communication, Padjadjaran University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/inf.v6i2.67970

Abstract

Background: Sundanese traditional dance is an intangible cultural heritage that carries historical memory, embodied knowledge, aesthetic values, and collective identity. In the contemporary digital environment, this heritage faces intertwined challenges: declining regeneration among young people, weak documentation practices, limited digital capacity in community-based studios, and legal vulnerability caused by incomplete intellectual property protection. Purpose: This study aims to formulate and evaluate a holistic preservation strategy for Sundanese traditional dance by integrating digital archiving, community capacity building, intellectual property protection, and cultural sustainability planning. Methods: The study employed Community Action Research with Azka Studio Dance Community in Rancaekek, Bandung Regency. Data were collected through field observation, interviews with studio managers and participants, documentation studies, training records, metadata compilation, and reflective evaluation. The intervention was organized into four connected stages: diagnosing preservation gaps, planning community-based actions, implementing digitization and legal-literacy activities, and evaluating sustainability outcomes. Results: The intervention achieved the main targeted outputs: ten dance works were documented in high-definition video and described using cultural metadata; eight young digital cadres were trained to manage documentation workflows; thirty youths participated in dance regeneration activities; twenty artists received intellectual property training; five dance works were prepared for copyright registration; and digital dissemination through social media increased public visibility. Conclusion: The study demonstrates that preservation of intangible cultural heritage requires more than recording performances. A sustainable model depends on the integration of archival standards, community participation, legal awareness, and regeneration mechanisms. For Library and Information Science, the case contributes a practical model of community-based digital cultural archiving that connects documentation, metadata, access, rights management, and long-term stewardship.
Riset Bibiliometrik: AI Generative Content dalam Art and Designs (2020-2024) Elvina Nanda Meidiani; Kurniawan Saefullah; Kasno Pamungkas
PANGGUNG Vol 36 No 2 (2026): Visual and Performative Semiotics in Contemporary Art and Cultural Practices: Si
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v36i2.3743

Abstract

This paper analyzes the development of Artificial Intelligence Generated Content (AIGC) research in art and design from 2020 to 2024 using bibliometric methods. Addressing the limited systematic mapping of this field, it examines publication trends, dominant keywords, major institutions, and research clusters. A total of 341 Scopus-indexed articles were screened using PRISMA guidelines and analyzed with VOSviewer. Results reveal rapid growth after 2021, led by China, the United States, and the United Kingdom. Four main clusters emerged: AI technical foundations, creative applications, human–AI interaction, and computer vision. Hasselt University and the University of Antwerp were among the leading contributors. This study provides a structured overview of AIGC in creative fields and highlights computer-aided design and product design as promising directions for future research. 
Local Wisdom-Based Tourism Zoning in Yaro Wora Village, East Nusa Tenggara Hannif Andy Al Anshori; An Nuur Khairune Nisa; Dina Oktavia; Reiza Dienaputra; Bambang Hermanto; Heru Nurasa; Awaludin Nugraha; Kasno Pamungkas
PURBAWIDYA Vol. 15 No. 1 (2026): Vol. 15(1) Juni 2026
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2026.14165

Abstract

Yaro Wora traditional village, located in West Sumba Regency, East Nusa Tenggara Province, is a unique cultural landscape rich in indigenous wisdom, but it lacks a solid scientific basis for spatial planning and tourism zoning. The absence of empirical studies on customary-based tourism zoning has hindered the creation of an integrative model linking cultural preservation with tourism development. This study aims to formulate a cultural protection strategy for Yaro Wora by developing a tourism zoning framework rooted in local values, indigenous knowledge, and traditional Sumbanese spatial organization. Using a qualitative participatory approach, the research combines Participatory Rural Appraisal (PRA) and Focus Group Discussions (FGDs) to understand community perceptions of sacred, communal, and public spaces. Data were gathered through observation, interviews, and documentation, and then analyzed thematically through spatial ethnography and participatory planning principles. Findings show that implementing Community Use Zones (CUZs),  including core multifunctional areas, critical linkage areas, and service connectivity areas, creates a spatial management system that harmonizes ecological, cultural, and spiritual dimensions. This zoning model functions as both a cultural heritage protection tool and a governance framework supporting ecological sustainability and community empowerment. The study strengthens conceptual and empirical foundations for adaptive, inclusive, and equitable tourism zoning policies rooted in local wisdom within Sumba’s indigenous communities.
Attitudinal Meaning in Kevin Carter’s Suicide Note Eva Tuckyta Sari Sujatna; Meita Lukitawati Sujatna; Kasno Pamungkas; Nurul Hikmayaty Saefullah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7248

Abstract

This study explicates attitudinal meaning in a suicide note based on Systemic Functional Linguistic approach. This research aims to figure out the attitudinal meaning including affect, judgment, and appreciation in Kevin Carter’s suicide note. Kevin Carter was a photojournalist from South Africa who won a Pulitzer Prize in 1993 for a vulture patiently observing a little girl who collapsed in the forefront of hunger photograph who committed suicide in 33 years old. The method applied in this research is a qualitative research method. The data were taken from Kevin Carter’s suicide note, then they were classified based on the three types of attitude elements. The present writers draw the result of the three attitudinal meaning elements, firstly the affects (feeling) found in the Kevin Carter’s suicide note showed the emotions that deal with the negative feelings. Secondly, the judgment or ethics relate to attitude toward habit and behaviour delivered in the Kevin Carter’s suicide note deals with condemn as the negative moral. The last, the appreciation connects to aesthetics which involves the evaluation indicated in the Kevin Carter’s suicide note relates to the reaction which has a process type (affection) as an interpersonal. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan makna sikap di dalam sebuah catatan bunuh diri berdasarkan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional. Tujuan penelitian ini menggambarkan makna sikap yang meliputi afeksi, penilaian, dan apresiasi di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter. Kevin Carter adalah seorang wartawan foto dari Afrika Selatan yang mendapat Pulitzer Prize pada tahun 1993 mengenai foto seekor burung nasar yang sedang mengamati seorang gadis kecil yang jatuh pingsan di depannya karena kelaparan yang bunuh diri pada usia 33 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode riset kualitatif. Data yang digunakan berasal dari catatan bunuh diri Kevin Carter, kemudian data tersebut diklasifikasi berdasarkan tiga elemen utama makna sikap. Para peneliti mendeskripsikan hasil penelitian, pertama, afeksi yang berhubungan dengan perasaan yang ditemukan di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter menunjukkan emosi yang berhubungan perasaan yang bersifat negatif. Kedua, penilaian atau etika berhubungan dengan sikap mengenai kebiasaan dan perilaku yang terdapat di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter berhubungan dengan kutukan (celaan) yang bersifat negatif. Ketiga, apresiasi berhubungan dengan estetika yang melibatkan evaluasi yang ditunjukkan di dalam catatan bunuh diri Kevin Carter yang berhubungan dengan reaksi yang ditunjukan oleh tipe proses (afeksi) sebagai interpersonal.
Savoring Sundanese food: A discourse analysis of Instagrams powerful promotion of Bandungs culture and culinary Rosaria Mita Amalia; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Ekaning Krisnawati; Kasno Pamungkas
Studies in English Language and Education Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v11i1.29716

Abstract

Department of Culture and Tourism in Bandung harnesses the power of its official Instagram account, @disbudpar.bdg, to promote the citys diverse tourist attractions and cultural richness. This study conducts an in-depth analysis of the various topics presented on the account that showcase the multifaceted nature of Sundanese culinary traditions. The researchers collected culinary information from 642 posts on Instagram feeds, resulting in 118 data points considering various cuisines, both traditional and modern. The focus of this study is on 86 data points related to traditional meals and beverages in 2022. Employing van Dijks Critical Discourse Analysis within the micro-structure theory, the descriptive qualitative method was used for the analysis. The findings reveal four distinct classifications of topics related to culinary diversity. They are the diversity of traditional Sundanese meals (66 data), the diversity of traditional Sundanese beverages (2 data), restaurants offering traditional foods and beverages (16 data), and ingredients for traditional pastries (2 data). Additionally, the analysis uncovers the use of interrogative sentences, declarative sentences, and lexical choices that effectively support and describe the promotion of culinary diversity as a prominent tourist attraction in Bandung. Interrogative sentences engaged followers, declarative sentences provided factual insights, and diverse lexical choices enticed readers to appreciate Bandungs culinary offerings.
Tourism Village Resilience And Adaptive Strategies Amid Dual Policy Shocks: Empirical Evidence From Community-Based Tourism In Indonesia Hannif Andy Al Anshori; Muhammad Dzulkifli; Alfi Turni Aji Sulistyaningrum; Reza Permadi; Kasno Pamungkas; Awaludin Nugraha
Jurnal Kepariwisataan Indonesia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan Indonesia Vol. 20 No. 1 (2026): JKI Edisi Juni 2026
Publisher : Ministry of Tourism Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47608/jki.v20i12026.135-158

Abstract

This research aims to examine the impact of budget efficiency and study tour restrictions on the performance and economic resilience of tourism villages in Indonesia. The research focuses on two major policy interventions: Presidential Instruction No. 1 of 2025 concerning budget efficiency and the West Java Governor’s Circular Letter restricting school-organized study tours—both of which have reshaped patterns of public spending and tourism demand. Employing a descriptive survey approach, data were collected from 85 tourism village managers across Indonesia through an online survey conducted in the first quarter of 2025. The findings reveal that 48.2% of respondents experienced booking cancellations and revenue declines, primarily from institutional and educational markets, while 64% identified limited local government program support as the main barrier to economic recovery. Despite these policy pressures, most tourism villages demonstrated adaptive resilience by engaging in digital promotion, product innovation, and market diversification. Moreover, there was a notable spatial shift in visitor origins from West Java and Yogyakarta to Central and East Java, indicating proactive market repositioning to mitigate policy-induced demand shocks. Conceptually, these findings demonstrate that community-based tourism (CBT) resilience is not merely a passive capacity to absorb regulatory shocks, but a dynamic, evolutionary process governed by community agency and digital agility. Theoretically, this study advances tourism governance literature by demonstrating how localized adaptations can decouple rural destinations from institutional market structural dependencies. Ultimately, it underscores the need for an evolutionary framework in tourism policy that balances centralized structural regulations with community-led socio-ecological adaptation. The research concludes that sustaining tourism village resilience requires integrated, participatory, and cross-sectoral policy coordination connecting education, tourism, and local governance.
Strategi Pengembangan Lahan Sawah sebagai Daya Tarik Wisata di Desa Segaran Karawang Christian Julianto Budiman; Kasno Pamungkas; Cipta Endyana
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.11362

Abstract

Desa Segaran di Kabupaten Karawang memiliki potensi lahan sawah produktif seluas lebih dari 300 hektar yang terintegrasi dengan Kawasan Percandian Batujaya yang bersejarah. Namun, pemanfaatan lahan sawah sebagai daya tarik wisata belum dikembangkan secara optimal, sementara penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengembangan agrowisata di daerah lain tanpa menyentuh potensi integrasi dengan warisan budaya. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan lahan sawah sebagai daya tarik wisata di Desa Segaran yang terintegrasi dengan kawasan percandian. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menggali secara mendalam persepsi dan pengalaman para pemangku kepentingan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 12 informan yang mewakili unsur pentahelix, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta pendekatan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi agrowisata Desa Segaran didukung oleh lanskap sawah yang asri, kedekatan dengan wilayah metropolitan, serta masyarakat yang telah terbiasa dengan pariwisata. Namun, pengembangan terkendala oleh keterbatasan infrastruktur, fasilitas pendukung, kapasitas sumber daya manusia, dan promosi. Berdasarkan analisis SWOT, dirumuskan empat strategi utama yang diintegrasikan ke dalam peta jalan empat fase: penguatan kapasitas komunitas, pengembangan produk dasar, ekspansi pasar, dan konsolidasi berkelanjutan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada pendekatan kualitatif yang tidak dapat digeneralisasi dan belum dikajinya aspek kelayakan ekonomi. Penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau campuran direkomendasikan untuk menguji efektivitas strategi yang dirumuskan.