Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat melalui Penyuluhan Gizi Seimbang sebagai Upaya Preventif Kejadian Diabetes Mellitus di Posbindu Pondok Terong Depok Saputri, Milla Evelianti; Widiastuti, Susanti; Riyanti, Riyanti
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 4 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i4.2435

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) penyakit yang disebabkan adanya gangguan metabolik sehingga mengakibatkan gula darah meningkat. Prevalensi kasus diabetes mellitus meningkat pada tahun 2014 seperti di Asia Tenggara mencapai 8,3% dan diprediksi akan meningkat menjadi 10,1% pada tahun 2035, Indonesia menempati peringkat ke tujuh sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes mellitus terbanyak di dunia yaitu sebesar 10,7juta jiwa sekaligus mengambil predikat sebagai satu-satunya Negara Asia Tenggara pada daftar tersebut. Penderita DM akan mengalami berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskular, neuropati, retinopati, serta mengalami penurunan produktivitas dan kualitas hidup di masa tua, Kelompok lanjuts usia adalah usia yang rentan terkena diabetes mellitus, hal ini terjadi karena lansia mengalami berbagai penurunan fisik, psikologis, sosial, spiritual dan kultural sehingga dapat menimbulkan resiko komplikasi yang lebih memerlukan perhatian, Prevalensi kejadian diabetes mellitus pada lansia meningkat dari 11,8% pada tahun 2013 menjadi 15,6% pada tahun 2018, kegiatan ini sangat penting dilakukan karena semakin tingginya masyarakat yang menderita diabetes akibat kebiasaan makan yang salah sepettitTingginya perilaku makan dan minum yang manis terbukti menjadi faktor resiko pencetus diabetes mellitus, tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk mengurani faktor resiko diabetes yang dapat dikendalikan melalui program pencegahan dan pengendalian, salah satunya dengan melakukan penyuluhan pola gizi seimbang untuk masyarakat Metode kegiatan pegabdian masyarakat ini adalah dengan cara melakukan skrining gula darah pada lansia dan memberikan penyuluhan kesehatan berupa konsep gizi seimbang sebagai upaya preventif untuk menurunkan kejadian diabetes melitus., kemudian dilakukan pre dan post intervensi, dari kegiatan tersbeut didapatkan hasil yaitu jumlah penderita diabetes di posbindu pondok terong dari 34 peserta yang hadir, sebanyak 76% peserta yang menderita penyakit diabetes dan sebanyak 24% yang tidak menderita diabetes. Hasil pengetahuan setelah di berikan edukasi peserta yang memiliki pengetahuan baik sebesar 85% dan masyarakat yang masih memiliki pengetahuan kurang sebesar 15%. Peserta mengalami peningkatan pengetahuan sebesar 56%.
Factors Related to Quality of Life among Elderly During COVID-19 Pandemic Fadila, Maulidiya; Argarini, Diah; Widiastuti, Susanti
International Journal of Nursing and Health Services (IJNHS) Vol. 5 No. 1 (2022): International Journal of Nursing and Health Services (IJHNS)
Publisher : Alta Dharma Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35654/ijnhs.v5i1.567

Abstract

Introduction: The elderly are one of the age groups most affected by COVID-19, with the highest percentage of deaths due to COVID-19. Several studies have shown that during the COVID-19 pandemic, the elderly experienced a decrease in their physical and psychological health level, which could lead to changes in the quality of life among the elderly COVID-19 pandemic. Objective: The study aimed to identify factors related to the quality of life among the elderly at the Tresna Werdha Budi Mulia 3 Nursing Home during the COVID-19 pandemic. Method: This study used a cross-sectional approach. The population is elderly without mental disorders living in the Tresna Werdha Budi Mulia 3 Nursing Home. A total of 88 samples were selected using the purposive sampling technique. The instruments used are QOL-Index, WHOQOL-BREF, and DSES questionnaires. Pearson Chi-Square analysis was used to identify the relationship between variables. Result: The results showed that the five factors were physical health (p=0.000), psychological health (p=0.000), social relationships (p=0.000), environmental (p=0.000), and spirituality (p=0.000) had a significant relationship with the quality of life among the elderly. Recommendation: It is hoped that the results of this study can be used as motivation for nursing home administrators and the elderly to improve the quality of life during the COVID-19 pandemic onwards.
EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN MELALUI VIDEO ANIMASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG BAHAYA ROKOK Hadi, Sulistiowati Kusuma; Aisyiah, Aisyiah; Widiastuti, Susanti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 11 No 3 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2023.v11.i03.p10

Abstract

Perilaku merokok pada remaja saat ini menjadi masalah yang masih tinggi di Indonesia. Masalah ini akan sangat berpengaruh bagi masa depan remaja. Para remaja mulai mengkonsumsi rokok karena rasa ingin tahu yang tinggi serta terpengaruh dari lingkungannya. Perilaku merokok pada remaja timbul akibat kurangnya informasi yang didapatkan yang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai bahaya rokok. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektifitas promosi kesehatan melalui video animasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya rokok. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan one group pre-test and post-test without control group design. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 111 remaja. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang yang telah diuji validitas dan reliabilitas, serta video animasi. Kuesioner tersebut terdiri dari 20 kuesioner pengetahuan dengan nilai koefisien cronbach’s alpha yaitu 0,971 dan 20 kuesioner sikap dengan nilai koefisien cronbach’s.alpha yaitu 0,952. Uji statistik yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor pengetahuan dan sikap remaja sebelum dan sesudah diberikan intervensi melalui media audio visual (video animasi) tentang bahaya rokok. Pada skor pengetahuan yaitu p value = 0,000 (p < 0,05) dan sikap remaja yaitu p value = 0,000 (p < 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa media audio visual (video animasi) mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap para remaja, sehingga pengetahuan dan sikap menjadi lebih baik.
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Sumber Informasi dengan Kesiapan Remaja Putri dalam Menghadapi Menarche di Sdn Pejaten Timur 05 Pagi Jakarta Jati, Raisha Oktaviani; Widiastuti, Susanti; Suralga, Cholisah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i4.17047

Abstract

ABSTRACT Adolescence starts from childhood to adulthood. Puberty, which is characterized by faster physical growth and development including bodily and hormonal changes, usually occurs in early adolescence. Women will experience menarche, but generally occurs at the age of 12-14 years more often occurs at a younger age, so many elementary school students experience menarche early.  To determine the relationship between knowledge, attitudes, information sources and readiness of adolescent girls in facing menarche in Jakarta Elementary School 05. This study used a quantitative, cross sectional approach with a total sampling technique totaling 53 respondents The research instruments in this study, namely the knowledge questionnaire, attitude questionnaire, information source questionnaire, and readiness questionnaire. This questionnaire has been tested for validity and reliability with a sig.2 tailed value of 0.05. Data were analyzed using univariate and bivariate with chi-square statistical tests to determine the frequency distribution and determine whether there is a relationship between the independent variable and the dependent variable. The results of this study indicate that there is no relationship between knowledge and the readiness of adolescent girls in facing menarche (p value 0.185) while for other variables there is a relationship between attitude and readiness of adolescent girls in facing menarche (p value 0.007) and information sources (p value 0.003). A good attitude, as well as a good source of information has a relationship with the readiness of adolescent girls in facing menarche.  Keywords: Menarche, Level of Knowledge, Attitude, Source of Information  ABSTRAK Remaja dimulai dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa pubertas, yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik yang lebih cepat mencakup perubahan tubuh dan hormonal biasanya terjadi pada awal masa remaja. Perempuan akan mengalami menarche, namun umumnya terjadi pada usia 12–14 tahun lebih sering terjadi di usia lebih muda, sehingga banyak siswa SD yang mengalami menarche lebih awal. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, sumber informasi dan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche di SDN Pejaten Timur 05 Pagi Jakarta. Penelitian ini menggunakan kuantitatif, pendekatan cross sectional dengan teknik total sampling yang berjumlah 53 responden Instrument penelitian dalam penelitian ini, yaitu kuesioner pengetahuan, kuosioner sikap, kuosioner sumber informasi, dan kuosioner kesiapan.Kuesioner ini telah di uji validitas dan reliabilitas dengan nilai sig.2 tailed 0,05. Data dianalisis menggunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik chi-square untuk mengetahui distribusi frekuensi serta mengetahui apakah ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche (p value 0,185) sedangkan untuk variabel lainnya terdapat hubungan antara sikap dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche (p value 0,007) dan sumber informasi (p value 0,003). Sikap yang baik, serta sumber informasi yang baik memiliki hubungan dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche.  Kata Kunci: Menarche, Tingkat Pengetahuan, Sikap, Sumber Informasi
Hubungan Tingkat Stres dan Aktivitas Fisik dengan Nyeri Menstruasi pada Remaja Putri di Kelurahan Ciganjur Jakarta Salsabila, Anindya; Argarini, Diah; Widiastuti, Susanti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i4.14133

Abstract

ABSTRACT Teenagers generally menstruate (menarche) at the age of 12 to 16 years. Dysmenorrhea can severely interfere with daily activities and activities. Most women experience discomfort in the lower abdomen during menstruation. Stress is a psychological condition caused by various factors. The level of physical activity can affect the risk of menstrual pain. This study aims to determine the relationship between stress levels and physical activity with menstrual pain in adolescent girls in Ciganjur Village, Jakarta. This study applies non-experimental quantitative research methods. This study used a cross-sectional research design. The sampling technique uses total sampling with a total of 61 respondents. The instruments of this study consisted of stress questionnaire (DASS 42), physical activity questionnaire (IPAQ), menstrual pain questionnaire (NRS). Data analysis uses Chi-Square to determine the relationship between variables. The results showed a significant relationship between stress levels and physical activity with menstrual pain with a variable value of P Value < 0.05. Stress Levels and Physical Activity Have a Significant Association ww ith Menstrual Pain. Keywords: Physical Activity, Menstrual Pain, Stress  ABSTRAK Remaja umunya akan mengalami menstruasi (menarche) pada usia 12 sampai 16 tahun. Dysmenorrhea dapat sangat mengganggu kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Sebagian besar perempuan mengalami ketidaknyamanan di bagian bawah perut selama menstruasi. Stres merupakan kondisi psikologis yang disebabkan oleh berbagai faktor. Tingkatan aktivitas fisik dapat mempengaruhi risiko nyeri menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan aktivitas fisik dengan nyeri menstruasi pada remaja putri di Kelurahan Ciganjur Jakarta. Penelitian ini menerapkan metode penelitian kuantitatif non eksperimen. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 61 responden. Instrumen penelitian ini terdiri dari kuesioner stres (DASS 42), kuesioner aktivitas fisik (IPAQ), kuesioner nyeri menstruasi (NRS). Data analisis menggunakan Chi-Square untuk mengetahui adanya hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan aktivitas fisik dengan nyeri menstruasi dengan nilai variabel P Value < 0,05. Tingkat stres dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan nyeri menstruasi. Diharapkan dapat menjaga kesehatan fisik dan mental. Sehingga dapat mengurangi stres dan memastikan tidak ada aktivitas fisik yang terlalu berat yang menyebabkan nyeri menstruasi. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Nyeri Menstruasi, Stres
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Flour Albus pada Mahasiswi S1 Keperawatan Reguler di Universitas Nasional Jakarta Selatan Ranamajaki, Nevasya Fauzia; Argarini, Diah; Widiastuti, Susanti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i4.14028

Abstract

ABSTRACT Maintaining reproductive organ health is crucial to prevent various problems, such as urinary tract infections, reproductive tract infections, scabies, cervical cancer, and flour albus. The incidence of flour albus is common among women of childbearing age who do not pay enough attention to hygiene and care of their private area. Flour albus is a fluid that comes out of the vaginal opening in addition to menstrual blood. Based on data from the World Health Organization (WHO), it is estimated that by 2021, around 75% of women in Indonesia will experience fluor albus at least once in their lifetime, and 45% of them will experience fluor albus more than twice. These prevalence rates indicate that fluor albus is a common problem among women in Indonesia. On a global scale, about 75% of women worldwide have experienced fluor albus. There is a significant difference, with only about 25% of women in Europe experiencing fluor albus. This suggests that this condition has a greater impact on the female population in Indonesia compared to some other regions of the world (Mita Wijayanti, 2022). Data from the 2018 Indonesian Reproductive Health Survey shows that flour albus affects mostly women (15-24 years old), and the percentage increases annually to 70%. These statistics show that about 50% of young women suffer from flour albus (Hanifah, 2023). Factors that affect flour albus are personal hygiene behavior, pantyliner use, and physical activity. If flour albus is not treated properly, it can cause physical problems and psychological problems. One of the common short-term side effects of flour albus is painful itching and may lead to infection. In addition, fluor albus can also cause psychological disorders, which will lead to excessive anxiety. This study aims to determine the relationship between personal hygiene behavior, pantyliner use and physical activity with the incidence of flour albus in undergraduate nursing students at the National University of South Jakarta. This study used quantitative methods with an analytic survey design and a cross-sectional approach. The results of this study indicate that there is a relationship between personal hygiene behavior, pantyliner use, and physical activity with the incidence of flour albus in undergraduate nursing students Regular National University of South Jakarta with a p-value of personal hygiene behavior towards the incidence of flour albus of 0.004 <0.05. The use of pantyliner to the incidence of flour albus with a p-value of 0.005 <0.05 and physical activity to the incidence of flour albus with a p-value of 0.002 <0.05. The conclusion of this study is that there is a significant relationship between personal hygiene behavior, pantyliner use, and physical activity with the incidence of flour albus in undergraduate regular nursing students at the National University of South Jakarta. Keywords: Physical Activity, Flour Albus, Personal Hygiene Behavior, Pantyliner Use.  ABSTRAK Memelihara kesehatan organ reproduksi adalah tindakan krusial untuk mencegah berbagai masalah, seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran reproduksi, kudis, kanker serviks, dan flour albus. Kejadian flour albus sering terjadi pada wanita usia subur yang tidak cukup memperhatikan kebersihan dan perawatan area pribadi mereka. Flour albus merupakan cairan yang keluar dari lubang vagina selain darah menstruasi. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diperkirakan bahwa pada tahun 2021, sekitar 75% wanita di Indonesia akan mengalami fluor albus setidaknya satu kali dalam hidup mereka, dan 45% di antaranya akan mengalami fluor albus lebih dari dua kali. Angka prevalensi ini menunjukkan bahwa fluor albus merupakan masalah umum pada wanita di Indonesia. Dalam skala global, sekitar 75% wanita di seluruh dunia pernah mengalami fluor albus. Terdapat perbedaan signifikan, di mana hanya sekitar 25% wanita di Eropa yang mengalami fluor albus. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ini memiliki dampak yang lebih besar pada populasi wanita di Indonesia dibandingkan dengan beberapa wilayah lain di dunia (Mita Wijayanti, 2022). Data Survei Kesehatan Reproduksi Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa flour albus menyerang sebagian besar wanita (15–24 tahun), dan persentase tersebut meningkat setiap tahunnya hingga 70%. Statistik ini menunjukkan bahwa sekitar 50% perempuan muda menderita flour albus (Hanifah, 2023). Faktor yang memengaruhi flour albus adalah perilaku personal hygiene, penggunaan pantyliner, dan aktivitas fisik. Dampak flour albus tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan masalah fisik hingga masalah psikologis. Salah satu efek samping jangka pendek yang umum dari flour albus adalah rasa gatal yang menyakitkan dan dapat menyebabkan infeksi. Selain itu, fluor albus juga dapat menyebabkan gangguan psikologis, yang akan menimbulkan rasa cemas yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku personal hygiene, penggunaan pantyliner dan aktivitas fisik dnegan kejadian flour albus pada mahasiswi S1 Keperawatan Reguler Universitas Nasional Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain survey analitik dan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan perilaku personal hygiene, penggunaan pantyliner, dan aktivitas fisik dengan kejadian flour albus pada mahasiswi S1 keperawatan Reguler Universitas Nasional Jakarta Selatan dengan nilai p-value perilaku personal hygiene terhadap kejadian flour albus sebesar 0,004 < 0,05. Penggunaan pantyliner terhadap kejadian flour albus dengan nilai p-value sebesar 0,005 < 0,05 dan aktivitas fisik terhadap kejadian flour albus dengan nilai p-value sebesar 0,002 < 0,05. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan signifikan antara perilaku personal hygiene, penggunaan pantyliner, dan aktivitas fisik dengan kejadian flour albus pada mahasiswi S1 Keperawatan Reguler Universitas Nasional Jakarta Selatan. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Flour Albus, Perilaku Personal Hygiene, Penggunaan Pantyliner
Perbedaan Pengaruh Pemberian Minuman Kunyit Asam dan Kompres Hangat terhadap Nyeri Haid pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Nasional Jakarta Apriyaningsih, Annisa; Widiastuti, Susanti; Suralaga, Cholisah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i4.13840

Abstract

ABSTRAK Dismenore adalah nyeri dibagian bawah perut dan biasanya disertai dengan gejala seperti sakit kepala, berkeringat, diare, dan muntah. Dismenore diklasifikasikan menjadi dua yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder. Kandungan yang dimiliki kunyit asam dapat mengurangi nyeri haid. Reaksi dari cyclooxygenase dapat menghambat inflamasi akibat dari kinerja curcumine dan anthocyanin sehingga dapat mengurangi kontraksi uterus. Mekanisme penghambat yang dihasilkan oleh curcumine terhadap kontraksi uterus dengan mengurangi influx ion kalsium (Ca2+) ke dalam kanal kalsium pada sel epitel uterus. Kompres hangat juga merupakan salah satu terapi non farmakologi yang dianggap efektif untuk mengurangi rasa nyeri haid dan spasme otot. Suhu yang panas dapat dialirkan melalui konduksi, konveksi, dan konversi. Nyeri akibat memar, spasme otot, dan arthritis berespon baik terhadap peningkatan suhu karena dapat melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah local. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian minuman kunyit asam dan komres hangat terhadap nyeri haid pada mahasiswa keperawatan universitas nasioanl Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperimen two grup pre and post test. Terdapat dari hasil penelitian rata rata skala nyeri sebelum diberikan minuman kunyit asam  (5.62) dan kompres hangat (5.77) dan setelah diberikan intervensi terdapat perubahan skala nyeri kelompok kunyit asam (1.92) dan kompres hangat (3.35). Hasil uji Wilcoxon dan Mann – Whitney diperoleh data p value 0.000 < 0.05 terdapat perbedaan signifikan pengaruh antara pemberian minuman kunyit asam dan pemberian kompres hangat terhadap nyeri haid pada mahasiswa keperawatan Universitas Nasional Jakarta. Bahwa pemberian minuman kuniyt asam lebih berpengaruh dibandingkan dengan pemberian kompres hangat. Kata Kunci: Dismenore, Kunyit Asam, Kompres Hangat  ABSTRACT Dysmenorrhea is pain in the lower abdomen and is usually accompanied by symptoms such as headache, sweating, diarrhea, and vomiting. Dysmenorrhea is classified into two, namely primary dysmenorrhea and secondary dysmenorrhea. The content of turmeric can reduce menstrual pain. The reaction of cyclooxygenase can inhibit inflammation due to the performance of curcumine and anthocyanin so as to reduce uterine contractions. The inhibitory mechanism produced by curcumine against uterine contractions by reducing the influx of calcium ions (Ca2+) into calcium canals in uterine epithelial cells. Warm compress is also one of the non-pharmacological therapies that is considered effective to reduce menstrual pain and muscle spasm. Heat can be transmitted through conduction, convection, and conversion. Pain due to bruising, muscle spasm, and arthritis responds well to increased temperature because it can dilate blood vessels and increase local blood flow. To determine the difference in the effect of giving sour turmeric drinks and warm compresses on menstrual pain in nursing students at the national university of Jakarta. This study uses quantitative methods with a quasi-experimental research design of two groups pre and post test. From the research results, the average pain scale before being given the turmeric acid drink (5.62) and warm compress (5.77) and after being given the intervention there was a change in the pain scale of the turmeric acid group (1.92) and warm compress (3.35). The results of the Wilcoxon and Mann - Whitney tests showed that the p value was 0.000 < 0.05, there was a significant difference in the effect between giving sour turmeric drinks and giving warm compresses on menstrual pain in nursing students at the National University of Jakarta. That the administration of sour turmeric drink is more influential than the administration of warm compresses. Keywords: Dysmenorrhea, Sour Turmeric, Warm Compresses
PENATAAN KAWASAN POLDER AIR HITAM UNTUK PENGUATAN FUNGSI PENGENDALI BANJIR DAN RUANG PUBLIK DI KOTA SAMARINDA Inuq, Noviana Chrisnadytia; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37074

Abstract

Samarinda City is one of the urban areas in East Kalimantan thet experiences a high level of flood vulnerability due to lowlad topography, inadequate drainage systems, and pressures from urban development. The Air Hitam Polder was constructed as a flood control infrasructure; however, over time it has also demonstrated potential as an urban public space. This study aims to formulate a spatial planning concept for the Air Hitam Polder area that strengthens its hydrological function while simultaneously enhancing the quality of public space. The research employs a qualitative-descriptive method with a spatial approach, utilizing field observations, interviews with relevant stakeholders, andanalysis of planning and policy documents. The analysis was conducted through several stages, including identification of existing conditions, evaluation of hydrological and social functions, and formulation of a zoning-based planning concept. The result indicate that the main issues of the Air Hitam Polder area include limited public facilities, weak integration between the technical functions of the polder and social activities, and low quality of open spaces. The proposed spatial arrangement consist of a hydrogical core zone, a passive recreation zone, and public activity zone integrated with pedestrian pathways and supporting vegetation. This study demonstrates that strengthening flood control function can be achieved in parallel with improving public space quality through integrated spatial planning and sustainable management. Keywords: Flood Control; Polder; Public Space; Samarinda City; Spatial Planning Abstrak Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi dataran rendah, sistem drainase yang belum optimal, serta tekanan perkembangan kawasan perkotaan. Polder Air Hitam dibangun sebagai infrastruktur pengendali banjir, namun dalam perkembangannya juga memiliki potensi sebagai ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep penataan kawasan Polder Air Hitam mampu memperkuat fungsi hidrologis sekaligus meningkatkan kualitas ruang publik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan spasial, melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan terkait, serta analisis dokumen perencanaan dan kebijakan. Analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi kondisi eksisting, evaluasi fungsi hidrologi dan sosial, serta perumusan konsep zonasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Polder Air Hitam memiliki permasalahan utama berupa keterbatasan fasilitas publik, kurangnya integrasi antara fungsi teknis polder dan aktivitas sosial, serta rendahnya kualitas ruang terbuka. Penataan kawasan diusulkan melalui pembagian zona inti hidrologi, zona rekreasi pasif, dan zona aktivitas publik yang terintegrasi dengan jalur pedestrian dan vegetasi penunjang. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan fungsi pengendali banjir dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ruang publik apabila didukung oleh konsep penataan terpadu dan pengelolaan berkelanjutan.
EVALUASI KETERSEDIAAN, KETERCUKUPAN, DAN PERSEBARAN FASILITAS SOSIAL DI KAWASAN APARTEMEN TOKYO RIVERSIDE PIK 2, KABUPATEN TANGERANG Owen, Jason; Suryadjaja, Regina; Widiastuti, Susanti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37075

Abstract

The growth of Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) as a new residential area in Tangerang Regency demands the provision of adequate social facilities to support the quality of life and welfare of residents. Tokyo Riverside Apartment as one of the main vertical residential areas in PIK 2 has experienced a significant increase in population, thus directly impacting the need for social facilities, especially educational, health, and religious facilities. This study aims to evaluate the availability, adequacy, and distribution of social facilities around Tokyo Riverside Apartment based on existing conditions, and compare them with the applicable population needs standards in accordance with urban planning provisions. The research method used is a quantitative and qualitative descriptive approach through an analysis of facility adequacy based on the Indonesian National Standard (SNI), supported by field observations, spatial accessibility analysis, and a study of facility utilization patterns by residents. The results show that educational facilities and religious facilities, especially Christian churches, are still limited and not evenly distributed to meet the needs of the area's residents, especially in the projected population in 2030. Meanwhile, health facilities are relatively sufficient in quantity, but the capacity of clinical services is estimated to be unable to keep up with the rate of population growth in the future. Overall, this study emphasizes the need to increase the number, capacity, and distribution of social facilities to support the development of a sustainable, inclusive, and livable PIK 2 area. Keywords: Availability Evaluation; PIK 2;  Social Facilities; Tokyo Riverside Apartments Abstrak Pertumbuhan Kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) sebagai kawasan hunian baru di wilayah Kabupaten Tangerang menuntut penyediaan fasilitas sosial yang memadai guna menunjang kualitas hidup dan kesejahteraan penghuni. Apartemen Tokyo Riverside sebagai salah satu kawasan hunian vertikal utama di PIK 2 mengalami peningkatan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga berdampak langsung terhadap kebutuhan fasilitas sosial, khususnya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan, ketercukupan, dan persebaran fasilitas sosial di sekitar Apartemen Tokyo Riverside berdasarkan kondisi eksisting, serta membandingkannya dengan standar kebutuhan penduduk yang berlaku sesuai dengan ketentuan perencanaan kawasan perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui analisis ketercukupan fasilitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), didukung dengan observasi lapangan, analisis aksesibilitas spasial, serta kajian terhadap pola pemanfaatan fasilitas oleh penghuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dan fasilitas peribadatan, khususnya gereja Kristen, masih terbatas dan belum tersebar secara merata untuk memenuhi kebutuhan penduduk kawasan, terutama pada proyeksi jumlah penduduk tahun 2030. Sementara itu, fasilitas kesehatan secara kuantitas relatif telah mencukupi, namun kapasitas pelayanan klinik diperkirakan belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk di masa mendatang. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan jumlah, kapasitas, serta pemerataan fasilitas sosial guna mendukung pengembangan kawasan PIK 2 yang berkelanjutan, inklusif, dan layak huni.
EVALUASI HIERARKI PUSAT PELAYANAN PERKOTAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SKALOGRAM DAN AKSESIBILITAS DI KOTA TANGERANG: KECAMATAN TANGERANG, KARAWACI DAN CIBODAS Amelia, Shalsadilla; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37076

Abstract

Abstract Tangerang City faces increasing demand for urban service centers that can provide equitable services in line with urban growth. This study evaluates the hierarchy of urban service centers by integrating scalogram analysis and transportation accessibility in Sub-Planning Area (SWP) A (Tangerang District) and SWP B (Karawaci and Cibodas Districts). The scalogram method and Centrality Index are used to assess facility completeness, while the Rank–Size Rule analyzes population distribution. The results indicate that Tangerang District has the highest level of facility completeness and is classified as an urban service center (order I), whereas Karawaci and Cibodas Districts are categorized as neighborhood-level service centers (order III). The integration of scalogram and transportation accessibility analyses shows that areas with more complete facilities tend to have better accessibility, while areas with limited accessibility exhibit lower and less evenly distributed service levels. These findings highlight the critical role of transportation accessibility in strengthening service center functions and promoting more balanced urban service provision in Tangerang City. Keywords: Centrality Index; Rank-Size Rule; Road Network; Scalogram; Service Center Hierarchy; Tangerang City; Transportation Accessibility Abstrak Kota Tangerang menghadapi peningkatan kebutuhan pusat pelayanan perkotaan yang mampu melayani masyarakat secara merata seiring pertumbuhan kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hierarki pusat pelayanan perkotaan melalui integrasi analisis skalogram dan aksesibilitas transportasi. Analisis dilakukan pada Sub Wilayah Perencanaan (SWP) A, yaitu Kecamatan Tangerang, serta SWP B yang meliputi Kecamatan Karawaci dan Cibodas. Metode skalogram dan Indeks Sentralitas digunakan untuk menilai kelengkapan fasilitas pelayanan, sedangkan Rank–Size Rule digunakan untuk menganalisis distribusi populasi wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tangerang memiliki tingkat kelengkapan fasilitas tertinggi dan dikategorikan sebagai pusat pelayanan perkotaan (orde I), sementara Kecamatan Karawaci dan Cibodas berada pada tingkat pusat pelayanan lingkungan (orde III). Integrasi hasil skalogram dan analisis aksesibilitas transportasi menunjukkan bahwa wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap cenderung memiliki aksesibilitas transportasi yang lebih baik, sedangkan wilayah dengan aksesibilitas transportasi terbatas menunjukkan tingkat pelayanan yang lebih rendah dan belum merata. Temuan ini menegaskan pentingnya peran aksesibilitas transportasi dalam memperkuat fungsi pusat pelayanan dan mendorong pemerataan pelayanan perkotaan di Kota Tangerang.