Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Evaluation of Irrigation Performance at Tertiary Level (A Case Study in Padi Pomahan Irrigation Area Mojokerto East Java) Mohamad Bagus Ansori; Nastasia Festy Margini; Danayanti Azmi Dewi Nusantara; Nadjadji Anwar
IPTEK Journal of Proceedings Series No 6 (2017): The 3rd International Conference on Civil Engineering Research (ICCER) 2017
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.362 KB) | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i6.3294

Abstract

Padi Pomahan Irrigation Area has a lack of sufficient amount of water at the downstream area in dry season. This problem is caused by some factors such as the exploitation of drinking water, climate change, land use change, and the damage of irrigation channel. The performance of irrigation channel and its facilities compared with the situation nearly 20 years later has never been evaluated and measured due to the limited of the preliminary data. With the area of 4309 hectares managed by two offices (UPT Pugeran and UPT Tangunan), the coordination become more complex to manage the irrigation water in this area. This paper aims to analyze the irrigation performance at tertiary level to measure the performance of six indicators/criterions such as physical infrastructure, plant productivity, personnel organization, operation and maintenance (OM), documentation, and institutional condition of water user associations (P3A / GP3A / IP3A). The results of its performance are expected to obtain the handling priority at the tertiary level in this irrigation system by Indonesian government. The total irrigation performance In Padi Pomahan obtains 61.0%. The result model of AHP (Analytic Hierarchy Process) obtains the result of personnel organization 28.9% (rank 1), plant productivity 20.3% (rank 2),  physical infrastructures 16.8% (rank 3), operation and maintenance (OM 14.2% (rank 4), institutional condition of water user associations ( P3A / GP3A / IP3A) 10.5% (rank 5) and   documentation 9.3% (rank 6). The ARP model obtains CGI value 0.13 and Consistency Ratio (CR) 0.036.
Analysis of Main Morphometry Characteristic of Watershed and It’s Effect to The Hydrograph Parameters I Gede Tunas; Nadjadji Anwar; Umboro Lasminto
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 28, No 1 (2017)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.029 KB) | DOI: 10.12962/j20882033.v28i1.2220

Abstract

Until today, the development of synthetic unit hydrograph model is still based on morphometry characteristic of watershed or combine with other parameters. According to Sri Harto (1985), There are at least four main characteristic morphometry of watershed which highly influenced to the hydrograph and can be easily quantified namely watershed area (A), main river length (L), main river slope (S) and form factor (FB). This research aim is to analyze and verify these four factors and it’s effect to the three of hydrograph parameters i.e. peak time (TP), peak flow (QP) and base time (TB). This research was carried out in eight watersheds in Central Sulawesi Province  Indonesia as the base of variable preparation to develop synthetic unit hydrograph model. Main morphometry analysis of watershed was conducted by using geographical information system (GIS) software, referring to Indonesia Topographic Map (RBI) data combined with Digital Elevation Model-Shuttle Radar Topographic Mission (DEM-SRTM) data, to determine the area (A), main river length (L), main river slope (S) and form factor (FB) of every analyzed watershed. The research showed that eight observed watersheds had an area (A) of 23.88 km2 to 144.73 km2, main river length (L) of 10.31 km to 28.69 km, main river slope (S) of 0.03422 to 0.10812 and form factor (FB) of 0.21 to 0.49. From correlation analysis, It seen that the watershed area affected very well to peak flow (QP) with correlation coefficient of 0.98. The main river length also affected very well to the peak time (TP) with correlation coefficient of 0.99. Two others morphometry parameters namely main river slope (S) and form factor (FB) did not show the effect which could be concluded. These two parameters showed low correlation coefficient.
Peramalan Keseimbangan Air (Water Balance) untuk Manajemen Sumber Daya Air di DAS Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur Bagas Yoga Pratama; Umboro Lasminto; Nadjadji Anwar
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 1 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.934 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i1.11618

Abstract

Tujuan studi untuk memperkirakan ketersediaan sumber daya air 30 tahun kedepan dan menjadi acuan dasar peramalan keseimbangan air. Metode yang dilaukan analisa kebutuhan air, seperti metode pembangkitan data dengan formula pada Microsoft Excel dan menghitung kebutuhan debitnya menggunakan metode di SNI 19-6728.1-2002 Analisa irigasi terdapat 3 skema Pola Tata Tanam, sehingga menggunakan Cropwat 8.0. Analisa ketersediaan air ada beberapa metode yang akan digunakan. Metode tersebut yaitu Metode Aritmatika dan Metode Thomas Fiering. Hidrograf Satuan Sintesis SCS (Soil Conservations Services), metode RMSE dan metode NASH terdapat dalam HEC-HMS 4.8. Studi ini menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,3 dan NASH sebesar 0,936. Selain itu juga memberi saran untuk menggunakan Pola Tata Tanam ke-2 (Polowijo2-Padi-Polowijo1) dengan skema 4 (Debit Ketersediaan Total) yaitu nantinya terjadi surplus sebesar 195%
Simulasi Tampungan Bendung Gerak Sembayat Sebagai Longstorage Untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Baku Dan Irigasi Di Kabupaten Lamongan Dan Wilayah Utara Kabupaten Gresik Mona Is Aziza; Wasis Wardoyo; Nadjadji Anwar
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1659.144 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v15i2.2560

Abstract

Bendung Gerak Sembayat (BGS) terletak di Desa Sragen, Kecamatan Bungah, Gresik sekitar 29 km dari arah hilir sungai Bengawan Solo hulu hilir. Luas waduk BGS adalah dari Babat sampai ke Sembayat Barrage ± 1487 km2. DAS Bengawan Solo keadaan hidrologi Hilir dalam kondisi kritis, akibatnya, sebagian besar DAS Bengawan Solo hilir terletak di Kabupaten Gresik Utara dan Lamongan, setiap tahunnya dibanjiri oleh luapan air dari hulu. Sebaliknya hulu Lamongan selalu kekurangan air di musim kemarau. Studi ini akan memanfaatkan Bendung Gerak Sembayat sebagai reservoir penampung yang bisa menyimpan air selama musim kemarau dan bisa menguras air di musim hujan. Inflow waduk BGS diperoleh dengan metode pembangkitan data menggunakan Thomas Fiering. Data rata-rata debit harian setiap bulan selama 24 tahun dinaikkan menjadi data arus statistik yang bisa digunakan selama 50 tahun ke depan. Perhitungan kebutuhan air baku berdasarkan kriteria perencanaan air bersih Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2000, sedangkan kebutuhan air irigasi dihitung berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi (KP-01) pada tahun 1986. Ada 6 simulasi Untuk mendapatkan hasil yang paling optimal. Sebelas alternatif ini diproses dengan metode Water Balance untuk menganalisis kebutuhan air untuk perikanan, irigasi, domestik dan industri. Hasil simulasi alternatif diperoleh grafik kuadran optimal paling optimal yaitu pada neraca air Tanaman Biji-bijian yang ada dengan total kebutuhan air 61411.61 (106 m3)
REDESAIN WADUK KLAMPIS KECAMATAN KEDUNGDUNG KABUPATEN SAMPANG SEBAGAI BANGUNAN PEMBANGKIT TENAGA AIR Achmad Agung; Nadjadji Anwar; Danayanti A D Nusantara
Jurnal Hidroteknik Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.056 KB) | DOI: 10.12962/jh.v1i2.1670

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan pembangkit listrik yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).Waduk klampis yang terletak di Desa Kramat Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang merupakan waduk yang memiliki pontesi besar untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga air. Permasalahan utama yang dihadapi Waduk Klampis adalah semula waduk klampis di gunakan untuk mencukupi kebutuhan irigasi, sekarang akan direncanakan pembangkit listrik tenaga air. Dengan meninggikan tinggi mercu hingga di +35 agar kapasitas waduk lebih besar dan efektif. Untuk mengetahui debit yang akan digunakan agar kebutuhan irigasi dan pembangkit listrik tenaga air berjalan seimbang maka di perlukan analisa debit inflow dan outflow. Dari hasil analisa diperoleh debit banjir rencana periode ulang 1000 tahun sebesar 1098,098 m³/detik, volume efektif tertampung 15.302.727,00 m³, debit outflow yang melimpah di atas mercu sebesar 526.89 m³/detik. Mercu di desain dengan lebar 50 m dengan tinggi air sebesar 2.84 m dan panjang spillway 12,5305 m. Debit inflow dari metode FJ. Mock 2.42 m³//detik total setahun. Debit irigasi sebesar 26,745 m³/detik dalam setahun. Dengan mengunakan metode simulasi direncanakan 2 buah turbin dengan debit 1.1 m³/detik/turbin yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air, didapat dimensi intake 2 m x 2 m, diameter pipa sebesar 79 cm dengan tebal 4 mm dan dimensi saluran pembuang lebar 1.5 m tinggi air 0.9m, dari hasil perencanaan pembangkit listrik didapat energi listrik yang di hasilkan sebesar 1.259.757 KwH dalam setahun.
Studi Optimasi Pola Tanam Pada Daerah Irigasi Baru Banyuwangi Dengan Menggunakan Program Linier Lutfy Risfiyanto; Nadjadji Anwar; Nastasia Festy Margini
Jurnal Hidroteknik Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.697 KB) | DOI: 10.12962/jh.v2i1.4397

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki fokus khusus terhadap beberapa hal, salah satunya dibidang pertanian. Provinsi di Indonesia yang dikenal sebagai salah satu daerah yang berperan penting dalam produksi pertanian adalah Jawa Timur. Pada daerah Jawa Timur Daerah Irigasi Baru terletak di wilayah Sungai Kalibaru, sedangkan secara administratif pemerintahan terletak di Kabupaten Banyuwangi. Daerah Irigasi Baru pada wilayah Cluring yang memiliki luas 5.945  Ha, mendapatkan suplai air dari Sungai Kalibaru melalui penyadapan Dam Karangdoro.Daerah Irigasi Baru merupakan salah satu daerah irigasi yang mengalami penurunan kinerja. Daerah Irigasi Baru mengalami penurunan kinerja diantaranya dikarenakan pembagian air yang kurang proporsional sehingga menyebabkan tidak meratanya pembagian air. Kondisi yang terjadi di Daerah Irigasi Baru, saat musim kemarau terdapat sawah yang tidak terairi sehingga menyebabkan gagal panen ataupun sawah tidak bisa ditanami. Dikarenakan hal tersebut dilakukan optimasi agar didapatkan keuntungan maksimum dengan luas lahan yang optimal berdasarkan jenis tanaman dan keersediaan air. Untuk analisa ini digunakan program linier dengan program bantu POM-Quantity Methods for Windows 3. Debit andalan Sungai Kalibaru, kebutuhan air tiap alternatif pola tanam yang direncanakan, dan luas lahan maksimal dijadikan batasan pada program liniernya. Hasil dari iterasi program linier dapat mengetahui luas sawah yang bisa ditanami berdasarkan jenis tanaman dan musim tanamnya, serta keuntungan hasil usaha tani maksimal yang akan diperoleh selama satu tahunDari beberapa alternatif pola tanam yang direncanakan, diperoleh pola tanam yang menghasilkan luasan terbesar yaitu pada awal tanam November I dan November II dengan intensitas tanam yaitu 300% . Terjadi peningkatan sebesar 8,97 % dari intensitas tanam eksisting 291,07 %. Dengan pola tanam padi/polowijo/tebu – padi/tebu – padi/polowijo/tebu. Keuntungan maksimal hasil usaha tani yang diperoleh selama setahun adalah Rp 224.826.400.000,00 dengan awal tanam November I.
Optimasi Pola Tanam Menggunakan Program Linier (Waduk Batu Tegi, Das Way Sekampung, Lampung) Anindita Hanalestari Setiawan; Nadjadji Anwar; Nastasia Festy Margini
Jurnal Hidroteknik Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.707 KB) | DOI: 10.12962/jh.v2i1.4402

Abstract

Waduk Batu Tegi terletak di DAS Way Sekampung,SWS Way Seputih-Way Sekampung, Batu Tegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Waduk ini berfungsi sebagai penyedia air untuk irigasi, penyedia air baku, dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).Dengan keterbatasan volume air yang tersedia di waduk, dilakukan optimasi agar dapat mengoptimalkan kebutuhan air untuk irigasi yang menentukan intensitas tanam suatu lahan, air baku untuk sektor domestik dan non-domestik, dan potensi PLTA. Tujuan dari optimasi pola tanam adalah menentukan harga maksimal hasil panen yang dapat dihasilkan suatu lahan dengan jenis tanaman yang berbeda. Optimasi dalam kasus ini dilakukan dengan menggunakan program linier program bantu Quantity Methods for Windows. Perhitungan optimasi dengan pola tanam rencana dilakukan agar optimasi berupa intensitas tanam menghasilkan panen yang lebih maksimal jika dibandingkan dengan pola tanam eksistingDari hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa debit andalan 80%  waduk yang terbesar adalah 76,7 m3/detik yang terjadi pada Bulan Februari dan yang terkecil adah 4,30 m3/detik yang terjadi pada Bulan Oktober, model alternatif pola tanam yang menghasilkan luas lahan dan keuntungan hasil panen paling optimum adalah Alternatif 5, besar kebutuhan air untuk irigasi dari alternatif 5 adalah 346,2 x 10 6 m3dalam satu tahun, besar kebutuhan air untuk air baku saat kondisi jam puncak pada tahun 2010 adalah 27,69 m3 x 10 6 m3 dan kebutuhan air untuk PLTA adalah 734,8 m3 x 10 6 m3, serta keuntungan maksimal yang didapatkan dari hasil produksi lahan sawah dengan menggunakan pola tanam alternatif 5 adalah Rp 1.890.843.057.506,00.
STUDI PERENCANAAN PIPA TRANSMISI DALAM PEMANFAATAN SUMBER MATA AIR UMBULAN UNTUK KOTA SURABAYA Indra Cahya Purnama; Nadjadji Anwar; Wasis Wardoyo
Jurnal Hidroteknik Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.959 KB) | DOI: 10.12962/jh.v1i1.1662

Abstract

Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Timur berencana untuk memanfaatkan sumber air artesis di Umbulan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakatnya. Air tersebut akan dialirkan melalui pipa ke beberapa daerah, yaitu Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, dan Kota Gresik. Pipa yang akan terbentang dari Umbulan hingga Kota Gresik ini akan dibangun oleh Pemprov Jawa Timur. Pemprov Jawa Timur akan menyediakan offtake pada setiap kota yang dilewati pipa tersebut. Selanjutnya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masing-masing kota akan mengelola air tersebut dan didistribusikan kepada masyarakat. PDAM Surya Sembada Kota Surabaya direncanakan menerima debit 1000 liter/detik dari proyek ini. Saat ini Surabaya memiliki enam instalasi penjernihan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih warganya. Instalasi tersebut tersebar di dua tempat yaitu tiga unit di Ngagel dan tiga unit di Karang Pilang. Kapasitas dari instalasi tersebut adalah 10.830 liter/detik. Studi ini dilakukan terhadap pipa transmisi yang akan dibangun oleh PDAM Surya Sembada Kota Surabaya dalam pemanfaatan sumber mata air Umbulan. Analisanya meliputi perhitungan debit kebutuhan air di wialayah rencana pelayanan, dimensi pipa, volume reservoir, pemilihan tipe pompa dan analisa perkiraan biaya untuk membangun pipa transmisi tersebut. Dari hasil studi didapat pipa transmisi yang efisien dalam mengalirkan air umbulan ini adalah pipa steel berdiameter 500 dengan pompa bertekanan 70,23 meter.
STUDI OPTIMASI PEMANFAATAN WADUK WAY APU DI PROVINSI MALUKU UNTUK JARINGAN IRIGASI, KEBUTUHAN AIR BAKU, DAN POTENSI PLTA Radita Ahadunnisa; Nadjadji Anwar; Nastasia F Margini
Jurnal Hidroteknik Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.82 KB) | DOI: 10.12962/jh.v1i2.1667

Abstract

Waduk Way Apu terletak di aliran Sungai Way Apu dan masuk wilayah Kecamatan Waeapo di Pulau Buru, Provinsi Maluku. Secara geografis sesuai dengan koordinat UTM, Waduk Way Apu terletak di koordinat X = 260630,764 dan Y = 9608598. Waduk Way Apu mampu mengairi 5726 ha sawah padi. Waduk Way Apu direncanakan mampu untuk memenuhi kebutuhan irigasi, air baku, dan potensi PLTA. Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas, perlu adanya studi optimasi Waduk Way Apu untuk pemanfaatan irigasi, kebutuhan air baku, dan potensi PLTA. Dengan adanya studi optimasi dapat diketahui pengaturan cara pemberian air yang baik dan pengaturan pola tanam. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan studi optimasi antara pola tanam dan kebutuhan air baku serta potensi PLTA sehingga fungsi dari Waduk Way Apu dapat digunakan secara optimal. Untuk analisa ini digunakan program linier dengan program bantu POM-QM for Windows 3. Dari hasil analisa yang telah dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan yaitu Debit andalan yang digunakan untuk menghitung besar kebutuhan air adalah Debit Andalan 80% terbesar adalah 21.27 m3/detik dan Debit Andalan 80% terkecil adalah 0.95 m3/detik, Alternatif Pola Tanam yang paling optimal adalah Alternatif Pola Tanam 1 dengan masa awal tanam Nopember 1, besar kebutuhan air untuk kebutuhan air baku pada tahun 2012 pada kondisi jam puncak adalah sebesar 44.67 liter/detik, dan besar energi yang dihasilkan dari perhitungan potensi PLTA didapatkan daya sebesar 152.16 kW dengan Debit Andalan 90% sebesar 2.47 m3/detik.
Studi Alternatif Perencanaan Pola Operasi Dan Alokasi Air Waduk Titab I Putu Aldy Pradana Elsaputra; Nadjadji Anwar
Jurnal Hidroteknik Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.554 KB) | DOI: 10.12962/jh.v2i2.4407

Abstract

Waduk Titab terletak di DAS Sungai Saba, kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Waduk Titab dirancang sebagai penyedia air untuk irigasi, air baku dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Waduk ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Buleleng dan sekitarnya sebagai waduk serbaguna sehingga perlu adanya perencanaan operasional waduk yang baik.Waduk yang rampung pada tahun 2015 ini direncanakan akan beroperasi pada tahun 2016. Namun karena terdapat masalah struktur bada bendungan, pengoperasian diundur sampai tahun 2017. Pada awalnya dari pihak pembangun dari waduk ini sudah menyusun perencanaan pola pengoperasian waduk, akan tetapi penyusunan tersebut dilakukan ketika waduk masih belum selesai dibangun. Maka dari itu direncanakan alternatif pola operasi setelah waduk selesai dibangun sebagai pembanding pola operasi yang telah ada (eksisting).Dari hasil analisa yang telah dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan yaitu debit inflow waduk diperoleh dari perhitungan debit aliran rendah dengan metode FJ Mock, kemudian dibangkitkan untuk 30 tahun ke depan dengan metode Thomas Fiering. Hasil dari bangkitan debit inflow, debit maksimal sebesar 23,23 m3/detik dan debit terendah adalah 1,28 m3/detik. Untuk debit outflow maksimal sebesar 6,24 m3/detik dan debit terendah sebesar 3,55 m3/detik. Besar kebutuhan air irigasi maksimum untuk awal masa tanam Nopember I dengan luas daerah irigasi 3589,64 Ha D.I. Saba adalah 3,66 m3/detik dan untuk daerah irigasi puluran kebutuhan maksimum sebesar 1,02 m3/detik. Besar kebutuhan air baku untuk tahun 2017-2046 pada keadaan normal adalah sebesar 583,50 lt/dt. Sedangkan besar kebutuhan air baku pada hari maksimum adalah sebesar 671,02 lt/dt. Untuk jam puncak adalah sebesar 1021,12 lt/dt. Besar debit Andalan 80% yang digunakan adalah  sebesar 1.55 m3/detik untuk perhitungan potensi PLTA dan dapat membangkitkan daya sebesar 0,74 MW, serta energi listrik hingga mencapai 6510,61 MWh. Dan dari hasil perbandingan yang telah dibuat, dapat diketahui bahwa alternatif yang lebih baik adalah perhitungan perencanaan simulasi pola operasi hasil studi. Alasan dari penilaian ini adalah perencanaan hasil studi dilakukan setelah waduk sudah selesai dibangun, sudah dilakukan optimasi kebutuhan air yang diperlukan, dan tingkat keberhasilan waduk dari perencanaan studi yaitu rata–rata sebesar 98,50% yang mana tingkat keberhasilan tersebut lebih besar dari perencanaan pada eksisting.