Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH TRADISI KRITIK BARAT DAN ASIAN VALUES DALAM MEMBENTUK TRADISI KRITIK INDONESIA: Pengaruh Tradisi Kritik Barat dan Asian Values dalam Membentuk Tradisi Kritik Indonesia Permana, Rangga; Darsa, Undang; Sumarlina, Elis
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.220

Abstract

Tradisi kritik mulai tumbuh dan berkembang pada masa Pencerahan (Enlightenment era) di Eropa. Era Pencerahan membawa perubahan pemikiran manusia menjadi lebih logis, sistematis dan kritiks. Pencerahan meletakkan landasan intelektual bagi tradisi kritik Barat dengan mengedepankan nalar, individualisme, hak asasi manusia, dan komitmen terhadap penyelidikan empiris. Jauh setelah itu, pada masa Orde Baru, pemerintah Indonesia memberlakukan “Asian values” (“nilai-nilai Asia”) yang coba diimplementasikan melalui Pancasila. Asian values-lah yang membentuk tradisi kritik khas Indonesia yang muncul pada masa Orde Baru. Melalui kajian ini, penulis ingin mengemukakan bahwa terdapat dua konsep yang memengaruhi tradisi kritik di Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tradisi kritik Barat dan Asian values memengaruhi terbentuknya tradisi kritik Indonesia yang kita kenal sekarang. Penulis menggunakan metode kajian literatur dalam artikel ini. Penulis mengumpulkan berbagai referensi, mulai dari buku, artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, hingga sumber-sumber referensi yang berasal dari internet. Seluruh sumber tersebut mencakup konsep-konsep mengenai kritik secara umum, tradisi kritik Barat, Asian values dan referensi-referensi lain yang relevan dengan konsep-konsep tersebut. Hasil menunjukkan bahwa terdapat dualisme tradisi yang memengaruhi tradisi kritik Indonesia, yaitu tradisi kritik Barat yang ciri-cirinya dipengaruhi era Pencerahan di Eropa dan tradisi kritik yang dipengaruhi Asian values dan otoritarianisme. Di satu sisi, sejumlah kritikus dan budayawan Indonesia cenderung menggunakan cara kritik Barat yang lahir dari era Pencerahan dalam karya-karya yang mereka hasilkan. Di sisi lain, Asian values juga memegang peranan penting dan memiliki pengaruh besar dalam terbentuknya tradisi kritik Indonesia yang bersifat tidak langsung dan mengedepankan harmoni.
KRITIK MENGENAI MARJINALISASI ORANG KOTA TERHADAP ORANG DESA DI FILM-FILM SI KABAYAN Permana, Rangga; Sumarlina, Elis; Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.252

Abstract

Dongeng-dongeng mengenai Si Kabayan sudah dikenal luas sejak zaman dahulu di tengah masyarakat Sunda di Jawa Barat. Tujuan utama dari dongeng-dongeng Si Kabayan adalah untuk menghibur, tidak jarang pula ada beberapa pencipta yang juga memasukkan unsur-unsur nilai moral, pendidikan, sampai kritik pada karya-karyanya. Dalam perkembangannya, dongeng-dongeng tersebut juga telah bertransformasi menjadi berbagai medium, mulai dari tradisi lisan sampai yang terbaru adalah serial yang ditayangkan di platform YouTube. Salah satu bentuk media yang dapat menjadi medium utnuk menyampaikan pesan-pesan bernada kritik sosial adalah film-film fitur Si Kabayan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai film-film Kabayan sebagai medium kritik, terutama kritik mengenai marjinalisasi yang dilakukan oleh orang-orang kota terhadap orang-orang desa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana scene-scene dari film Si Kabayan dan Anak Jin (1991) dan Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) menggambarkan kritik dengan tema marjinalisasi orang kota terhadap orang desa. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks yang terdapat dalam scene-scene kedua film tersebut. Penulisan ini berfokus untuk mencari dan menganalisis data yang berkaitan dengan perkataan, sikap dan perilaku orang kota yang memarjinalisasi orang desa. Penulis mengambil tiga unit analisis dari dua film Si Kabayan di atas. Hasil menunjukkan bahwa scene pertama yang diambil dari film Si Kabayan dan Anak Jin (1991) mengkritisi sikap arogan orang kota terhadap orang desa. Sedangkan scene kedua dan ketiga yang diambil dari film Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) mengkritisi sikap orang kota yang selalu merasa lebih superior dibandingkan orang desa, dan menganggap bahwa semua hal dan keinginan bisa dicapai dengan kekuatan uang.
DARI IDE KE AGENDA PUBLIK: ANALISIS PRODUKSI KREATIF PROGRAM NEWS MAGAZINE SATU INDONESIA NET. Permana, Rangga; Sujudi, Shan
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.357

Abstract

Television as a mass medium plays a crucial role in shaping public perception through its audiovisual power, issue selection, and creative production strategies. In this context, NET.’s news magazine program Satu Indonesia serves as an intriguing case of how television combines the functions of information, entertainment, and public agenda-building through creative approaches. This study aims to analyze the development of creative ideas and production planning in Satu Indonesia, with a focus on the application of mass communication theory, journalism, news magazine format, agenda-setting, and television creativity. A descriptive qualitative method was employed, utilizing observation, interviews, and literature review, with data analysis conducted through Miles and Huberman’s interactive model. The findings reveal that Satu Indonesia employs narrative storytelling, aesthetic visualization, and multiplatform integration to present inspiring and timeless features. The program applies agenda-setting by prioritizing human interest and social solidarity issues, while framing reality from a positive perspective consistent with NET.’s identity as “Televisi Masa Kini.” Creativity emerges as the core of production, generated through collective collaboration among multitalented teams who balance journalistic professionalism with industry pressures. These findings affirm that modern television is not merely an information channel, but also a strategic site for the construction of social meaning.