Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pemeriksaan Kesehatan dan Pengobatan Dasar bagi Para Lansia di Klinik AGAPE HKBP Kedaton Lupiana, Mindo; Mulyani, Roza
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v2i1.238

Abstract

Lansia merupakan suatu proses tahap akhir dari kehidupan manusia yang akan dijalani oleh setiap orang. Menjadi tua merupakan suatu keadaan dimana seseorang akan mengalami kemunduran fisik, mental, sosial secara bertahap sehingga tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari atau terjadinya kemunduran fisik. Proses penuaan ditandai dengan perubahan degeneratif pada kulit, jantung, pembuluh darah, tulang, syaraf dan jaringan tubuh lainnya. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia dapat memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yang muncul jika lansia sehat, aktif dan produktif sedangkan dampak negatifnya lansia dapat menjadi beban akibat masalah kesehatannya yang berakibat pada peningkatan biaya perawatan kesehatan, peningkatan kecacatan, kurangnya dukungan sosial dan lingkungan yang tidak kondusif serta menjadi beban bagi keluarga. Metode yang digunakan adalah pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada lansia, penyuluhan tentang gizi pada lansia dan senam lansia. Program pemeriksaan kesehatan dan pengobatan dasar bagi lansia di Klinik Agape HKBP Kedaton berhasil meningkatkan kualitas hidup lansia melalui layanan kesehatan komprehensif dan berkelanjutan. Pemeriksaan kesehatan yang mencakup pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat, serta edukasi mengenai gizi dan pola hidup sehat, membantu lansia mengelola penyakit dan mendorong perubahan positif dalam gaya hidup mereka. Kegiatan olahraga rutin seperti senam lansia dan gerak jalan santai juga memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan fisik dan mental, memperkuat interaksi sosial, dan meningkatkan semangat hidup. Keberhasilan program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam mendukung kesejahteraan lansia dan diharapkan dapat dilanjutkan di masa mendatang.
Hubungan konsumsi protein harian dan status gizi dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen pada siswa sekolah dasar Sutrio, Sutrio; Rahmadi, Antun; Purnomowati, RR. Ratnasari Dyah; Sumardilah, Dewi Sri; Mulyani, Roza
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1607

Abstract

Background: Dental caries is a common oral health problem in school-aged children, particularly in the lower permanent first molars, which are susceptible to decay. Daily protein intake is thought to play a crucial role in dental health because protein contributes to the formation of hard dental tissue and saliva acts as a natural defense against caries. Purpose: To analyze the relationship between daily protein consumption and nutritional status and the incidence of caries in the lower permanent first molars in elementary school students. Method: A cross-sectional study design was used, involving 150 fourth- and fifth-grade students selected using total sampling. Nutritional status was determined based on Body Mass Index for Age (BMI/A). Caries examinations were performed clinically by dental health professionals. Data were analyzed bivariately using the Chi-Square test. Results: 67.6% of children with insufficient daily protein intake experienced caries, compared with 36.8% in the adequate intake group (p = 0.001; OR = 3.57). Meanwhile, 62.5% of children with abnormal nutritional status experienced caries compared to 50% of children with normal nutrition, but this relationship was not statistically significant (p = 0.24; OR = 1.67). Conclusion: There is a significant association between daily protein consumption and the incidence of caries in the lower first permanent molars.   Keywords: Dental Caries; Nutritional Status; Permanent Molars; Protein Intake; School Children.   Pendahuluan: Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang umum pada anak usia sekolah, khususnya pada gigi molar pertama bawah permanen yang rentan mengalami kerusakan. Asupan protein harian diduga berperan penting dalam kesehatan gigi karena protein berkontribusi pada pembentukan jaringan keras gigi dan fungsi saliva sebagai pertahanan alami terhadap karies. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara konsumsi protein harian dan status gizi dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen pada siswa sekolah dasar. Metode: Desain penelitian cross-sectional dengan sampel 150 siswa kelas 4 dan 5 yang dipilih secara total sampling. Status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh per umur (IMT/U). Pemeriksaan karies dilakukan secara klinis oleh tenaga kesehatan gigi. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 67.6% anak dengan asupan protein harian kurang mengalami karies, dibandingkan dengan 36.8% pada kelompok asupan cukup (p = 0.001; OR = 3.57). Sementara itu, 62.5% anak dengan status gizi tidak normal mengalami karies dibandingkan 50% anak dengan gizi normal, namun hubungan ini tidak signifikan secara statistik (p = 0.24; OR = 1.67). Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara konsumsi protein harian dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen.   Kata Kunci: Anak Sekolah; Asupan Protein; Gigi Molar Permanen; Karies gigi;  Status gizi.
Edukasi Peningkatan Pengetahuan tentang Stunting, Skrining Anemia dan Pemberian Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri Riyanto, Riyanto; Oktaviani, Ika; Sariyanto, Iwan; Mulyani, Roza
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.1159

Abstract

Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang stunting, skrining kejadian anemia pada remaja dan pemberian tablet Fe sebagai upaya optimalisasi pencegahan dan deteksi dini stunting yang dimulai sejak usia remaja. Metodologi: Desa Pujo Basuki, kabupaten Lampung Tengah sebagai tempat mitra kegiatan ini yang melibatkan 136 remaja. Metode pendekatan edukatif dan pemberdayaan masyarakat digunakan dalam kegiatan tersebut. Indikator dan dampak yang dicapai adalah meningkatnya pengetahuan dan pencegahan stunting, teridentifikasinya remaja yang mengalami anemia dan status gizi, serta intervensi pemberian tablet tambah darah. Pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kadar hemoglobin, pengukuran antopometri, dan pemberian tablet Fe. Hasil: Hasil kegiatan pengabdian masyarakat diperoleh peningkatan pengetahuan tentang stunting dari rata-rata pretest 5,3 (min-max: 2-8) menjadi rata-rata posttest 6,76 (min-max: 5-10). Remaja putri yang terdeteksi anemia 40,1%, status gizi tidak normal 27,7% dan diberikan tablet Fe untuk meningkatkan kadar hemoglobin sebagai pencegahan dini stunting. Kesimpulan: Remaja telah memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang stunting dan pencegahannya. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin untuk deteksi anemia dan pemberian tablet tambah darah.
Integrated Approach to Stunting Prevention and Treatment: Catfish Cultivation as a Sustainable Solution in Pujo Basuki Village- Trimurjo District, Central Lampung Regency Oktaviani, Ika; Sariyanto, Iwan; Riyanto, Riyanto; Mulyani, Roza
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT KOMUNITAS KESEHATAN Vol 2 No 01 (2024): JUNI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47718/jb.v2i01.2338

Abstract

Introduction: Stunting is a significant health problem in Indonesia, especially in rural and remote areas. Central Lampung Regency, namely Pujo Basuki Village, has been designated as a stunting locus area since 2022 because the prevalence of stunting is 15.8%. The aim of this activities had to raise public awareness in efforts to reduce and prevent stunting in the Pujo Basuki Village area, Central Lampung, Lampung Province. Method: Through the planning and preparation, implementation and monitoring, evaluation and reporting stages of an integrated approach to preventing and handling stunting through training in catfish cultivation and how to make catfish feed, Providing catfish assistance, nutritional education to residents with stunted children and KEK pregnant women. Results: Training was carried out and the creation of catfish ponds and distribution of catfish seeds at 3 location points in village subsections. It was carried out for 2.5 months. The harvest is given to families with stunted toddlers and pregnant women with KEK. There was an increase knowledge about nutrition and balanced menus for toddlers of cadres and families of stunting from 59% to 80%. Conclusion: Activities are carried out optimally, residents are enthusiastic in increasing their efforts to reduce the incidence of stunting and prevent stunting in the future. Catfish cultivation and education activities will continue in 2024 with the target of creating a processed menu made from catfish to revive the village's creative economy.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA SEHAT BEBAS STUNTING MELALUI OPTIMALISASI PEMANFAATAN PANGAN LOKAL DEMI MENINGKATKAN KECERDASAN BALITA: STUDI KASUS DI DESA CIPADANG, KECAMATAN GEDONG TATAAN, KABUPATEN PESAWARAN Nugroho, Arie; Indriyani, Reni; Mulyani, Roza
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37724

Abstract

Masalah gizi pada balita, seperti stunting, kerap kali disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, kurangnya asupan gizi sejak dini, serta minimnya edukasi kesehatan masyarakat. Program pengabdian masyarakat di Desa Cipadang, Pesawaran, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan gizi ibu balita, memanfaatkan pangan lokal, dan membentuk kader kesehatan sebagai pendamping masyarakat. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan partisipasi aktif mitra dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi hasil, meliputi penyuluhan gizi, praktik pemanfaatan pangan lokal, serta pembentukan kader kesehatan yang dilatih untuk memantau dan mengedukasi masyarakat. Penyuluhan dilakukan melalui materi interaktif, sementara evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan dari 60% menjadi 85% setelah penyuluhan. Pembentukan lima kader kesehatan aktif menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam memantau gizi balita. Kendala seperti keterbatasan akses bahan pangan lokal dapat diatasi melalui kerjasama dengan tokoh masyarakat. Simpulannya, program ini berhasil meningkatkan pengetahuan gizi dan kemandirian masyarakat melalui pemberdayaan pangan lokal. Disarankan agar program serupa diadakan secara berkala untuk memastikan dampak berkelanjutan, serta dukungan pemerintah dalam pengadaan bahan pangan lokal di wilayah lain sebagai upaya mencegah stunting.
Pengenalan Posyandu Terintegrasi Dan Upaya Pencegahan Penyakit Di Tingkat Desa Sebagai Langkah Mendukung Transformasi Layanan Primer Sariyanto, Iwan; Oktaviani, Ika; Riyanto, Riyanto; Mulyani, Roza
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23459

Abstract

Transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan menjadi fondasi utama dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia, dengan Posyandu sebagai ujung tombak. Namun, di Kampung Pujo Basuki, Kecamatan Trimurjo, Posyandu belum terintegrasi secara optimal, menyebabkan masih tingginya prevalensi stunting, anemia, dan kasus Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Tujuan pengabdian ini adalah memperkenalkan Posyandu terintegrasi, dan mengimplementasikan upaya pencegahan penyakit guna mendukung transformasi layanan primer. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan luring (teori dan praktik) bagi kader posyandu. Pengabdian ini dilaksanakan pada Bulan April Hingga November tahun 2025. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kader Posyandu. Sebelum pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan, sebanyak 13 dari 21 kader (61%) menunjukkan tingkat pemahaman yang belum memadai, sementara hanya 8 kader (38,09%) yang memiliki pemahaman baik. Pasca-intervensi, terjadi pergeseran positif yang substansial; proporsi kader dengan pemahaman yang belum memadai menurun menjadi 4 orang (19,05%), sedangkan proporsi kader yang memahami meningkat menjadi 17 orang (80,95%). Simpulan dari kegiatan ini adalah bahwa intervensi pengabdian masyarakat mampu meningkatkan kapasitas. Disarankan untuk meningkatkan komitmen perangkat desa dan mengimplementasikan Posyandu terintegrasi secara penuh.
HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN ANAK BATITA DI KECAMATAN PANJANG KOTA BANDAR LAMPUNG Lupiana, Mindo; Mulyani, Roza; Muliani, Usdeka; Yunianto, Andi Eka
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 2 No. 3 (2021): September 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v2i3.2458

Abstract

Stunting is a disorder and problem for children's growth and development if it is handled early so that. This study aims to determine the relationship between stunting and the development of toddlers. The study used a cross-sectional research design. This research was conducted in Panjang District, Bandar Lampung City. The subjects of this study were toddlers aged 1-3 years with stunting with a total sample of 84 children. The chi-square test was used to analyze the relationship between stunting, mother's education, mother's occupation, and toddler development. The results showed that there was a significant relationship between stunting and the development of toddlers p = 0.002, while education (p = 0.371) and mother's occupation (p = 0.229) had no relationship with the development of toddlers. The conclusion is that the status of efforts that can be made to deal with stunting toddlers is to improve the abilities and skills of mothers and cadres in providing stimulation to the development of stunting children optimally and strive for the child's developmental body to take place in harmony both in terms of physical, mental and psychosocial and improve sanitation. environment and hygiene as a preventive effort against infectious disease attacks in stunting toddlers.