Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Maisi Sasuduik: Restrengthening the Implementation of the Concept of al-Ba`ah in some Minangkabaunese Traditional Marriages Busyro, Busyro; Asmara, Musda; Wadi, Fajrul; Manap, Norhoneydayatie Abdul; Tarihoran, Adlan Sanur
AL-ISTINBATH : Jurnal Hukum Islam Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jhi.v9i1.9619

Abstract

This article aims at restrengthening the implementation of the al-ba’ah concept in maisi sasuduik tradition of some Minangkabaunese marriage customs because some people think that this tradition is just a custom and has nothing to do with Islamic teachings. Maisi sasuduik is an obligation for a prospective groom before marriage. This research uses a qualitative approach by which the data were collected through interviews with several community figures and from relevant literature. The descriptive and inductive theories were used in analyzing the data. The results of the research showed that some people believe that this custom has nothing to do with Islamic teachings. The finding reveal that marriages are sometimes postponed and some are even annulled because the men do not agree to fulfill maisi sasuduik custom. According to the concept of al-ba’ah in Islam, a man must prepare a house for his wife to live in because he will take her there after marriage. For Minangkabaunese men, they are not required to prepare a house to live in before marriage because they will live in the wives’ house. Based on the concept of al-ba’ah, Maisi sasuduik describes a man’s al-ba’ah (ability) to perform a marriage. Therefore, the custom of maisi sasuduik is an implementation of Islamic teachings regarding the necessity of having an al-ba’ah before marriage.
Fiqh Review of the Determination of Eid al-Fitr in the Beliefs of the Satariyah Order of Bukittinggi Hendri; Wadi, Fajrul; Miswardi; Makdin, Hoirol Anuar bin; Rahmiati
Hikmatuna : Journal for Integrative Islamic Studies Vol 11 No 2 (2025): Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, December 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/hikmatuna.v11i2.8942

Abstract

This article examines the method employed by the Tarekat Satri community in Bukittinggi to determine the beginning of Ramadan and Eid al-Fitr. This method diverges from the Indonesian government’s official approach in 1445 AH. The study aims to provide a deeper analysis of the astronomical basis of the Satri community’s criteria for determining Eid al-Fitr. This research adopts a qualitative design, drawing on both primary and secondary data. Data were collected through interviews and document analysis. The findings reveal that the Satri method exhibits substantial weaknesses from an astronomical standpoint. First, determining the new moon relies heavily on subjective estimates, such as predicting the arrival of Shaʿban 8 by observing the moon's apparent size. Second, the process lacks systematic rigor because it does not utilize standard astronomical instruments to ensure the precision of observational data. These limitations contribute to the discrepancies between the community’s calendar and the Indonesian government’s official calculations.
Pandangan Masyarakat Terhadap Manompang Mamak Dalam Pernikahan Di Nagari Gurun Kabupaten Lima Puluh Kota Tinjauan Maslahah Mursalah Fitri, Zelina; Wadi, Fajrul
Jurnal EL-QANUNIY: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Syekh Ali Hasan Ahmad Addary State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-qanuniy.v11i2.17634

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman masyarakat, terutama pendatang, terhadap tradisi manompang mamak yang memiliki peran penting dalam sistem sosial dan adat pernikahan masyarakat Minangkabau. Tradisi ini wajib dilaksanakan oleh pendatang yang ingin menikah dan menetap di Nagari Gurun, Kabupaten Lima Puluh Kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi manompang mamak serta menganalisis pandangan masyarakat terhadap tradisi tersebut dalam tinjauan maslahah mursalah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data diperoleh dari niniak mamak, pelaku manompang mamak, dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manompang mamak dilakukan oleh pendatang dari luar Nagari yang akan menikah dengan syarat adanya kesamaan suku. Proses pelaksanaannya mencakup musyawarah (baiyo iyo), kesepakatan resmi (basuduik), dan pengenalan kemenakan baru kepada masyarakat. Berdasarkan tinjauan maslahah mursalah, tradisi ini termasuk kategori maslahah tahsiniyyah karena berfungsi mempererat hubungan sosial, memperkuat nilai moral dan budaya, serta menciptakan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Nagari Gurun.
Fiqh Review of the Determination of Eid al-Fitr in the Beliefs of the Satariyah Order of Bukittinggi Hendri; Wadi, Fajrul; Miswardi; Makdin, Hoirol Anuar bin; Rahmiati
Hikmatuna : Journal for Integrative Islamic Studies Vol 11 No 2 (2025): Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, December 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/hikmatuna.v11i2.8942

Abstract

This article examines the method employed by the Tarekat Satri community in Bukittinggi to determine the beginning of Ramadan and Eid al-Fitr. This method diverges from the Indonesian government’s official approach in 1445 AH. The study aims to provide a deeper analysis of the astronomical basis of the Satri community’s criteria for determining Eid al-Fitr. This research adopts a qualitative design, drawing on both primary and secondary data. Data were collected through interviews and document analysis. The findings reveal that the Satri method exhibits substantial weaknesses from an astronomical standpoint. First, determining the new moon relies heavily on subjective estimates, such as predicting the arrival of Shaʿban 8 by observing the moon's apparent size. Second, the process lacks systematic rigor because it does not utilize standard astronomical instruments to ensure the precision of observational data. These limitations contribute to the discrepancies between the community’s calendar and the Indonesian government’s official calculations.
Analisis Yuridis terhadap (Putusan Nomor 150/Pid.B/2022/PN Psb) Mengenai Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan oleh Pelaku Residivis dalam Perspektif Hukum Pidana Islam Yani, Darapitra; Wadi, Fajrul; Rahman, Ali; Hamdani, Hamdani
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan penjatuhan sanksi terhadap pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan dalam keadaan yang memberatkan, dan pelakunya itu adalah residivis atau disebut juga seseorang yang mengulangi perbuatan pidana Residivis di atur di dalam bab XXXI buku II Pasal 486,487, 488 KUHP, residivis adalah kelakuan seseorang yang mengulangi perbuatan pidana sesudah dijatuhi pidana dengan keputusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap karena perbuatan pidana yang telah dilakukannya lebih dahulu, dalam jangka waktu tertentu setelah pembebasan tersebut dia las an melakukan perbuatan pidana. Dan hukumanya di tambah 1/3 dari ancaman pidana. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian Yuridis las ane, pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Terkait pengumpulan data penelitian ini adalah dengan data primer dan sekunder. Data primer penelitian ini adalah Putusan Nomor 150/Pid.B/2022/las a dan data sekunder adalah data yang bersumber dari buku, jurnal ilmiah, literatur dan media online, yang berkaitan dengan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dalam kasus yang diteliti yaitu Putusan Nomor 150/Pid.B/2022/las a pencurian dengan kekerasaan dalam memberatkan telah diputuskan oleh majelis hakim berrdasarkan dakwaan alternatif ke satu primer penuntut umum yaitu melanggar pasal 365 ayat (2) ke-4 kitab Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan. Hakim memberikan hukuman dibawah minimal yang seharusnya 9 (Sembilan) tahun penjara namun disini hanya pidana penjara selama 5 (lima) tahun Dengan mempertimbangkan hal yang memberatkan, kekerasan fisik dilakukan pada organ vital korban. Dan hal yang menringankan yaitu terdakwa menyesali dan mengakui kesalahannya. Dalam hukum Islam dan tindakan pelaku bisa masuk kedalam kategori tindakan jarimah ta’zir, dengan las an jika pencurian tidak memenuhi syarat nisab (batas minimal nilai barang yang dicuri, yaitu sekitar seperempat dinar atau tiga dirham), maka hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman tak’zir bukan hudud (hukuman tetap seperti potong tangan).