Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Aural Myasis: Systematic Review Andri Sakarisa, Shanti; Handoko, Edi; Soehartono
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Aural myiasis adalah infestasi larva lalat pada liang telinga yang jarang terjadi, terutama pada pasien dengan ulkus kronik atau keganasan kepala-leher. Kondisi ini ditandai dengan larva aktif, sekret purulen, ulkus pada kanalis akustikus eksternus (KAE), nyeri, gatal, dan gangguan pendengaran. Faktor predisposisi utama meliputi ulkus tumor, sekret berbau, jaringan nekrotik, kebersihan lokal dan lingkungan, serta usia lanjut yang menurunkan kemampuan perawatan diri. Tujuan: Laporan ini menyajikan kasus aural myiasis pada pasien laki-laki 66 tahun dengan Basosquamous Cell Carcinoma KAE pasca tindakan biopsi.Metode: Penelusuran literatur dilakukan pada September 2025 melalui PubMed, Google Scholar, dan Cochrane Library menggunakan kata kunci “aural myiasis”, “head and neck myiasis”, “management of myiasis”, dan “ivermectin in myiasis”. Dari 110 artikel awal, 7 artikel yang relevan dipilih berdasarkan fokus pada kepala-leher, metode penatalaksanaan, dan naskah lengkap tersedia. Hasil: Pasien ditemukan ulkus KAE kanan dengan larva aktif Chrysomya sp., sekret purulen, serta parese N. VII. Tatalaksana meliputi ekstraksi larva manual, debridement jaringan nekrotik dengan H2O2, povidone-iodine, NaCl, serta antibiotik oral (ciprofloxacin, metronidazole, cefixime). Pada kontrol 11 hari kemudian, larva tidak lagi ditemukan, pus mengering, dan jaringan granulasi terbentuk, menunjukkan keberhasilan terapi. Kesimpulan: Aural myiasis merupakan komplikasi jarang yang terkait dengan ulkus kronik atau keganasan KAE. Penatalaksanaan efektif meliputi evakuasi larva, debridement jaringan, dan antibiotik sistemik. Edukasi pasien tentang perawatan luka dan pemantauan ketat sangat penting untuk mencegah infestasi ulang.
Korelasi Volume Mastoid Air Cells dengan Keberhasilan ProsedurTimpanoplasti Tipe 1 dengan Graft Fascia di Rsud Dr. SaifulAnwar pada Periode 1 Januari 2024 – 31 Desember 2024 Nugrahanitya, Yulia; Handoko, Edi; Wahyudiono, Ahmad Dian
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Mastoid air cells (MACs) berperan dalam ventilasi dan regulasi tekanan telinga tengah. Pneumatisasi mastoid yang baik diduga dapat memengaruhi keberhasilan timpanoplasti karena berfungsi sebagai reservoir udara bagi telinga tengah. Namun, hubungan antara volume mastoid air cells dan keberhasilan timpanoplasti masih menunjukkan hasil yang bervariasi pada berbagai penelitian. Tujuan: Mengetahui hubungan antara volume mastoid air cells dengan keberhasilan prosedur timpanoplasti tipe I menggunakan graft fascia temporalis di RSUD Dr. Saiful Anwar. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien yang menjalani timpanoplasti tipe I dengan graft fascia temporalis di RSUD Dr. Saiful Anwar pada periode 1 Januari–31 Desember 2024. Volume mastoid air cells diukur menggunakan HRCT mastoid melalui DICOM viewer dengan batas −1024 hingga −200 HU menggunakan metode ABC/2. Keberhasilan operasi dinilai dari status graft membran timpani setelah evaluasi 3 bulan pascaoperasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Sebanyak 23 pasien memenuhi kriteria penelitian. Rata-rata volume mastoid air cells adalah 2,46 ± 2,06 mL. Keberhasilan graft timpanoplasti didapatkan pada 16 pasien (69,5%), sedangkan kegagalan graft pada 7 pasien (30,4%). Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi Pearson r = 0,018 dengan p = 0,934, yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara volume mastoid air cells dengan keberhasilan graft timpanoplasti. Kesimpulan: Volume mastoid air cells tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan timpanoplasti tipe I. Faktor lain seperti kondisi telinga tengah, fungsi tuba eustachius, ukuran perforasi, dan teknik pembedahan kemungkinan memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan keberhasilan operasi.