Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Manajemen risiko pada pengelolaan limbah medis padat bahan berbahaya beracun (B3) di rumah sakit Volleyta, Devita Anggun Trey; Trigunarso, Sri Indra
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1969

Abstract

Background: Hospitals have a high risk of occupational diseases and accidents. Medical waste can transmit disease to waste management personnel. Therefore, efforts are needed to minimize accidents and disease transmission. Purpose: To understand medical waste management, conduct hazard identification, risk analysis, risk evaluation, and implement risk management in the hazardous medical waste management process in hospitals. Method: This quantitative study was conducted at Hermina Hospital, Lampung, in 2025. Observations and interviews were conducted with the Head of K3RS and the medical waste management officer. Data analysis in this study involved conducting a risk analysis by determining the likelihood and consequences of the risk, with the aim of ranking the existing risks. Results: Potential risks or hazards identified in this study included exposure to sharp objects (syringes, broken laboratory equipment, ampoules, and other sharp objects), slipping, unpleasant odors while working in the hazardous medical waste management process, exposure to chemical fluids, exposure to blood, muscle and back pain, and fatigue due to long working hours. Conclusion: The highest risk was reported for complaints of muscle and back pain during the handling and transportation of hazardous solid medical waste, with a risk score of 10 (high category).   Keywords: Hazard Identification; Risk Analysis; Risk Evaluation; K3RS.   Pendahuluan: Rumah Sakit memiliki risiko tinggi terhadap penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Limbah medis dapat menjadi sarana penularan penyakit pada petugas pengelola limbah. Sehingga, diperlukan upaya meminimalisasi kecelakaan dan penularan penyakit. Tujuan: Untuk mengetahui pengelolaan limbah medis, melakukan identifikasi bahaya, analisis risiko, evaluasi risiko, serta melakukan pengelolaan risiko pada proses pengelolaan limbah medis B3 di Rumah Sakit. Metode: Penelitian kuantitatif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Hermina Lampung pada Tahun 2025. Observasi dan wawancara dilaksanakan dengan Kepala K3RS dan petugas pengangkut khusus pengelola limbah medis.. Analisis data pada penelitian ini yaitu melakukan analisis risiko dengan menentukan nilai peluang terjadinya risiko (likelihood) dan besaran risiko (consequences) dengan tujuan menetapkan peringkat risiko yang ada. Hasil: Potensi risiko atau bahaya yang ditemukan pada penelitian ini adalah terkena benda tajam (jarum suntik, pecahan alat laboratorium, ampul, dan benda tajam lainnya), terpeleset, mencium bau tidak sedap ketika bekerja pada proses pengelolaan limbah medis B3, terkena cairan kimia, terkena cairan darah, nyeri otot dan punggung, serta lelah akibat kerja karena jam kerja yang Panjang. Simpulan: Nilai risiko tertinggi terdapat pada keluhan nyeri otot dan punggung saat proses pewadahan dan pengangkutan limbah medis padat B3 dengan nilai risiko 10 (kategori tinggi).   Kata Kunci: Analisis Risiko; Evaluasi Risiko; Identifikasi Bahaya; K3RS.
Pendampingan program penanggulangan TB paru dengan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) Trigunarso, Sri Indra; Muslim, Zainal; Hasan, Amrul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i10.1960

Abstract

Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. It is estimated that approximately one-quarter of the world's population has been infected with the TB bacteria. Generally, people infected with TB do not feel sick and are not contagious. The Indonesian Ministry of Health is maximizing efforts by creating a national standard that serves as a benchmark for all healthcare workers in handling pulmonary TB cases. The development of a digital application program is essential to obtain up-to-date and real-time data, enabling healthcare workers to intervene more accurately and expeditiously in handling and managing TB cases. Purpose: To provide knowledge and assistance in using the pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU) application. Method: Community service activities were conducted in the P2TB Section of 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, with data input from 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, Lampung Province. Participants were 30 Community Health Center TB officers and PMOs. The educational activities provided participants with understanding and knowledge in implementing and developing a pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU). Participants' knowledge and skills after the education were measured using a system usability scale (SUS) questionnaire. Results: The system usability scale (SUS) test showed that 9 participants (30.0%) were in the very good and accepting category, 10 (33.3%) were in the good and accepting category, and 11 (36.7%) were in the good but passive acceptance category. The score of 89.76, with an acceptability range classified as marginally high, graded on the scales, indicated a very good level of usability. Conclusion: Educational and mentoring activities in the implementation of the Pulmonary Tuberculosis Patient Treatment Monitoring Information System (SISFOTBPARU) application have positively contributed to the monitoring and treatment of pulmonary tuberculosis patients. The SISFOTBPARU application also improves the effectiveness of healthcare workers in monitoring and treating pulmonary tuberculosis patients. Suggestion: The SISFOTBPARU application is expected to be implemented sustainably and across a wider range of community health centers (Puskesmas). The application developers are also expected to continue improving the SISFOTBPARU application by keeping up with the latest technological developments. Keywords: Application implementation; Community health; Education and mentoring; Pulmonary tuberculosis Pendahuluan: Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan sekitar seperempat populasi dunia telah terinfeksi bakteri TB. Umumnya, orang yang terinfeksi TB tidak merasa sakit dan tidak menular. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memaksimalkan upaya dengan menciptakan suatu standar secara nasional yang menjadi patokan untuk setiap tenaga kesehatan dalam melakukan penanganan kasus TB Paru. Pengembangan program berupa aplikasi digital harus dilakukan untuk mendapatkan data yang up to date dan secara realtime dapat di akses, agar penanganan dan penanggulangan kasus TB menjadi lebih tepat dan cepat bagi petugas kesehatan untuk melakukan intervensi. Tujuan: Memberikan pengetahuan dengan pendampingan dalam menggunakan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Seksi P2TB 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung dengan input data berasal dari 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Peserta kegiatan adalah petugas TB Paru Puskesmas dan PMO dengan jumlah 30 orang. Kegiatan berupa edukasi memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada peserta dalam menerapkan dan pengembangan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta setelah edukasi yang diberikan menggunakan kuesioner system usability scale (SUS). Hasil: Berdasarkan uji system usability scale (SUS) menunjukkan bahwa peserta yang dalam kategori sangat baik dan dapat menerima adalah sebanyak 9 orang (30.0%), yang dalam kategori baik dan dapat menerima adalah sebanyak 10 orang (33.3%), dan yang dalam kategori baik tetapi pasif menerima adalah sebanyak 11 orang (36.7%). Hasil skor 89.76 dengan acceptability ranges tergolong marginal high, grade scales termasuk nilai A, dan mengindikasikan tingkat usability yang sangat baik. Simpulan: Kegiatan edukasi dan pendampingan dalam penerapan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) memberikan kontribusi positif terhadap pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Aplikasi SISFOTBPARU juga memberikan peningkatan efektifitas kinerja petugas kesehatan dalam melaksanakan pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Saran: Diharapkan aplikasi SISFOTBPARU dapat diterapkan secara berkelanjutan dan untuk sebaran wilayah Puskesmas yang lebih luas. Diharapkan juga kepada pihak pengembang aplikasi, untuk terus membuat aplikasi SISFOTBPARU agar menjadi lebih sempurna dengan mengikuti perkembangan teknologi terbaru. 
HUBUNGAN MEDIA SARANA DAN BANGUNAN RUMAH DENGAN KEJADIAN NASOPHARYNGITIS AKUT PADA BALITA DI KELURAHAN KUPANG KOTA WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUPANG KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2026 Lestari, Ayu Widia; Ferizal Masra; Suami Indarwati; Trigunarso, Sri Indra
Khazanah: Jurnal Mahasiswa Vol. 18 No. 1 (2026): Khazanah: Jurnal Mahasiswa
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/khazanah.vol18.iss1.art2

Abstract

Nasofaringitis adalah infeksi saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan pada nasofarin. Penyakit nasofaringitis ini rentan menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun, 3-6 kali dalam setahun. Nasofaringitis disebabkan oleh rhinovirus, coronavirus, bakteri streptokokus grup A. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara media sarana dan bangunan rumah dengan angka kejadian Nasofaringitis Akut pada balita di Kelurahan Kupang Kota wilayah kerja Puskesmas Kupang Kota, Bandar Lampung Tahun 2026. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan rencana penelitian Cross Sectional dengan cara pendekatan, observasi, atau pengukuran variabel dalam satu waktu. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling dengan total sampel 279 rumah yang memiliki balita, di Kelurahan Kupang Kota Wilayah Kerja Puskesmas Kupang Kota Bandar Lampung Bulan Januari-April Tahun 2026. Hasil penelitian yang dilakukan, empat variabel yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan kejadian Nasofaringitis diantaranya variabel perumahan (nilai p: 0,000 ), lantai rumah (nilai p: 0,019 ), dinding rumah (nilai p: 0,005 ), serta langit-langit rumah (nilai p: 0,000 ). Diharapkan masyarakat dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.