Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

DINAMIKA KONFLIK ANTARA PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA DAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA Prasetiyo, Angga; Farida, Farida; SBK, Aulia Novemy Dhita
FAJAR HISTORIA: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Fajar Historia
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.146 KB)

Abstract

Persatuan Guru Republik Indonesia atau disingkat PGRI merupakan wadah organisasi yang menampung semua guru di Indonesia. PGRI memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam perbaikan kualitas guru di Indonesia. PGRI juga berperan aktif dalam pembangunan pendidikan dengan adanya universitas atau sekolah yang dikelola oleh PGRI. PGRI juga berperan dalam perlawanan guru-guru dalam kemerdekaan Indonesia. Selain itu perjuangan PGRI tidak terlepas dari dinamika setiap masa di Indonesia antara lain; masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi sampai sekarang. Dalam sejarah berdirinya PGRI sampai sekarang tidak terlepas dari tantangan dan hambatan yang muncul dari factor internal maupun eksternal. Pada masa orde lama menuju orde baru, muncul konflik didalam organisasi PGRI, yaitu dimana diakibatkan oleh oleh ikut campurnya PKI yang menyebabkan dualisme organisasi dan kepemimpinan. Dimana PKI membentuk sebuah organisasi serupa dengan PGRI, akan tetapi bermuatan paham komunis. Upaya PKI ini merupakan cara agar PGRI runtuh dan digantikan organisasi guru yang berafiliasi dengan PKI. Perseteruan ini muncul dalam kongres-kongres PGRI. Upaya yang dilakukan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI adalah mengganggu semua kegiatan yang dilakukan PGRI. Basis-basis kekuatan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI terdapat di beberapa daerah di pulau Jawa, sedangkan untuk diluar wilayah jawa dukungan untuk kelompok-kelompok ini sangat kecil, bahkan tidak ada. Setelah munculnya pemberontakan PKI yang gagal pada saat itu, berakhir juga kelompok-kelompok tersebut dalam menggangu kegiatan organisasi PGRI. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana PGRI mengokohkan kekuatan organisasinya dalam mempertahankan ideologi organisasi yang berlandaskan Pancasila dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh PKI dalam upayanya untuk menggangu kesetabilan oraganisasi PGRI. Tujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamikaperseteruan antara PKI dengan PGRI. Fase ini ditandai dengan bermunculan sekelompo orang yang berafiliasi dengan PKI dan berupaya membuat seluruh kegiatan PGRI terhambat dan 2) menjelaskan bagaimana berakhirnya perseteruan tersebut. Ada dua kesimpulan penting dalam tulisan ini yaitu: 1)Oranisasi PGRI sejak dibentuk memiliki dasar Ideologi Pancasila yang kokoh dan berhasil bertahan dari upay-upaya pembubaran organisasi tersebut; 2)PGRI merupakan wadah untuk para guru dalam memperjuangkan kesejahteraan guru. Metodologi yang digunakan adalah kajian literature dengan mengkaji berbagai referensi terkait gerakan guru di Indonesia dan kongres-kongres PGRI. Hal penting yang harus dilakukan oleh PGRI dalam mengkokohkan organisasi adalah memperkuat ideologi pancasila dan memperjuangkan kesejahteraan guru .Dalam pengambilan data penelitian ini, penulis mengambil dari beberapa sumber-sumber tertulis, dengan metode kualitatif.
Dinamika Pasar Sekanak di Kota Palembang 2010-2016 Vini Anggarini; Farida Farida; Alian Alian
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 1, April 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.941 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v7i1.12512

Abstract

Penelitian ini didasari oleh keinginan penulis untuk mengetahui tentang sejarah berdirinya Pasar Sekanak di Palembang yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan di Palembang serta melihat bagaimana keadaan Pasar Sekanak saat ini. Metode yang digunakan adalah metode historis dengan langkah-langkah dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi serta menggunakan beberapa pendekatan ilmu seperti geografi, ekonomi, dan sosiologi. Adapun permasalahan yang diangkat adalah bagaimana dinamika Pasar Sekanak dari tahun 2010-2016 serta melihat apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika dari Pasar Sekanak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan menjelaskan kondisi dari pasar sekanak saat ini serta faktor internal dan eksternal yang memperngaruhinya. Pasar Sekanak merupakan salah satu pasar tertua di Palembang yang perlu diamati. Guna melestarikan pasar ini perlu dilakukan perbaikan dan perubahan agar mampu bersaing dengan pasar lainnya untuk itu diperlukan kerjasama dukungan dari semua pihak terutama pemerintah, pengelola pasar dan pedagang selaku pemeran dalam aktivitas ekonomi di pasar. Kata Kunci: Dinamika, Pasar Sekanak, PalembangAbsractThis research is based on the desire of the author to find out about the history of the establishment of the Sekanak Market in Palembang which was once one of the trading centers in Palembang and see how the current situation of the Sekanak Market. The method used is the historical method with steps from heuristics, source criticism, interpretation and historiography and uses several scientific approaches such as geography, economics, and sociology. The problem raised is how the dynamics of the Sekanak Market from 2010-2016 and see what factors influence the dynamics of the Sekanak Market. The purpose of this study is to disclose and explain the conditions of the current market and the internal and external factors that affect it. Pasar Sekanak is one of the oldest markets in Palembang that needs to be observed. In order to preserve this market, repairs and changes need to be made in order to be able to compete with other markets, therefore cooperation from all parties is needed, especially the government, market managers and traders as actors in economic activities in the market.Key words: Dynamic,  Sekanak Market, Palembang
FABRICS IN PALEMBANG COMMUNITY LIFE FARIDA FARIDA; ROSMAIDA SINAGA
Sriwijaya University Learning and Education International Conference Vol 2, No 1 (2016): 2nd SULE-IC
Publisher : Sriwijaya University Learning and Education International Conference

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this paper is to describe the role of the fabric community inPalembang from time to time. Fabric is a vital necessity that can not be separatedfrom daily life of Palembang community. At the beginning, this vital need only bemet by using wood as a raw material. On the development, the processing of woodfiber materials was growing. In addition the use of cotton fabrics from India andChina silk is also increasingly becoming an integral part in the life of thearchipelago. Palembang occupied a special position in the cloth trade, especially asmost potential fabric lovers in Southeast Asia, together with Jambi. Both of theregions known as the Southeast Sumatra. The function of fabric for Palembangsociety is very diverse, ranging from meeting the needs of body armor consisting offabric, and scarves, to other functions. These functions among others, as a symbol ofone's status, prizes, a medium of exchange, pay fines, media peace, a symbol of thebond, the means of diplomacy, prestige and heritage, thus, the position ofPalembang as a connoisseur and developer of cloth until now continues. So normalthat until now Palembang is famous as the sole producer of the most beautiful fabricknown as the Queen of fabric which is Songket Fabric.
THE DIASPORA OF PALEMBANGNESE ZURIAT IN MALUKU Farida R Wargadalem; Nanda Julian Utama; Lukman Nadjamuddin
Sriwijaya University Learning and Education International Conference Vol 3, No 1 (2018): 3rd-SULE-IC
Publisher : Sriwijaya University Learning and Education International Conference

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is to provide an explanation and a description about the diaspora of Sultan Mahmud Badaruddin II and his descendants (Zuriat) descendants and his followers in Maluku islands. This study is limited to three regions; Ternate Island, Bacan Island, and Ambon City. The main problem in this research is what lies behind the occurrence of diaspora from zuriates of Sultan Mahmud Badaruddin II and his followers, and their roles in these three locations. Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) was one of the greatest and the most prominent Sultan in Palembang Sultanate. In addition, he was also respected because he dared to oppose foreign parties, especially Dutch and British who were eager to seizing Palembang's natural wealth which known had dominated the trade of tin and pepper as the result it led to several wars with the Sultanate. This battle was won by Dutch, which resulted in capturing and exiling of the Sultan and his followers to Batavia (1821) and Ternate in 1822. It was the beginning of the exile of Palembangnese into Maluku Islands. The second exile took place in 1825, after the resistance led by Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom, the son of Sultan Ahmad Najamuddin II. Fifty years later, the exile occurred again in the descendants of SMB II, and other Sultanate families. This second exile spread out to several points. It was the beginning of diaspora of Palembangnese zuriat began almost everywhere in Maluku Islands. It can be said that the concentration of the Palembangnese is more common in the three places mentioned above. They made relation, and created new cultural patterns. In addition, some of them are also considered important because they become ellites. It becomes the most interesting point to be discussed through a historical perspective, by prioritizing historical methodology and oral traditions that will become references as well as being the main source in this paper.
KERAJINAN GENTENG TRADISIONAL MAJU, LINGKUNGAN ALAM MUNDUR Farida R Wargadalem; Angga Prasetiyo
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v9i1.19833

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan lahir dan perkembangan dari industri kerajinan genteng, serta dampak negatifnya bagi kerusakan lingkungan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari pengumpulan data, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Adapun hasil yang diperoleh menjelaskan bahwa lahirnya industri genteng di Desa Gedung Rejo Kecamatan Belitang Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, karena terdesak oleh kebutuhan para transmigran terhadap atap genteng. Hal ini disebabkan bangunan yang disediakan oleh pemerintah hanya terbuat dari rumbia, sehingga mudah rusak. Tersedianya bahan baku di desa tersebut, membuat beberapa transmigran memanfaatkannya dengan membuat genting dengan alat cetak seadanya terbuat dari kayu. Keberhasilan usaha tersebut, membuat perajinnya semakin bertambah, yang bermakna meningkatkan perekonomian penduduk. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka makin banyak pula membutuhkan bahan baku tanah liat, kayu-kayu untuk pembakaran dan lainnya. Ini semua berdampak pada makin banyak lahan yang dibutuhkan, dengan penggalian yang semakin dalam dan kayu-kayu ditebang untuk memenuhi pembakaran. Semua itu mengakibatkan terjadinya perpindahan penduduk Komering ke lokasi lain, sebab mereka menjual tanah-tanah liat pekarangan, dan kebun untuk bahan baku pembuatan genting. Kondisi tersebut terus berlanjut di lokasi baru, sehingga posisi mereka semakin tersingkir. Di sisi lain, kerusakan lingkungan menyebabkan bencana banjir, perubahan topografi dan ekosistem alam.
Perbudakan dan Konflik di Kesultanan Palembang Farida Ratu Wargadalem
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 9, No 3 (2023): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020232297

Abstract

Tulisan yang membahas tentang perbudakan di Palembang ini, memiliki masalah tentang bagaimana hubungan antara perbudakan di Kesultanan Palembang dan tekanan dari Inggris dan Belanda agar menghapuskan perbudakan di daerah tersebut. Metode yang digunakan adalah metode Sejarah yang terdiri dari pengumpulan data, melakukan kritik terhadap sumber/data yang diperoleh. Selanjutnya, melakukan interpretasi sumber dan rekonstruksi. Hasilnya adalah bahwa Palembang adalah salah satu pusat perdagangan budak khususnya di kawasan barat Nusantara. Perbudakan terjadi tidak hanya di ibukota kerajaan juga di daerah pedalaman. Inggris yang berhasil memenangkan peperangan dengan Kesultanan Palembang (1812) menekankan masalah penghapusan budak di dalam perjanjian yang dibuat antara Palembang dan Inggris. Hal yang sama terjadi ketika menjelang perang antara Belanda dan Palembang juga dibuat perjanjian antara Sultan Ahmad Najamuddin III (Prabu Anom) pada April 1821, isinya  memuat permasalahan penghapusan perbudakan, tentang  pengangkatannya sebagai Sultan Palembang, dan menjadi sultan jika bersedia membantu Belanda melawan Kesultanan Palembang di bawah Sultan Mahmud Badaruddin II. Masalah perbudakan menjadi bahasan yang menarik, sebab perbudakan identik dengan sejarah manusia itu. Perbudakan terjadi jika terjadi hierarki dalam masyarakat dan pemerintahan (ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai), dan masalah perbudakan menjadi sumber penelitian yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Posisi sungsang dalam krisis perpolitikan di kesultanan Palembang awal abad 19 Farida Ratu Wargadalem
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 9, No 3 (2023): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020232298

Abstract

Masalah dalam tulisan ini adalah “bagaimana posisi Sungsang dalam Konflik Perpolitikan di Kesultanan Palembang Awal Abad 19”. Penulisan ini berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Sejarah, yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasilnya menunjukkan bahwa Sungsang yang berada di mulut Sungai Musi, sehingga pada dari awal hingga abad 20, khususnya awal abad 19 merupakan satu-satunya pintu masuk memasuki Kesultanan Palembang. Untuk itu maka Sungsang sebagai kawasan terdepan wajib menjaga keamanan, sekaligus menjadi mata-mata bagi penguasa di kota Palembang. Posisi khusus tersebut menempatkan nama pemimpin Sungsang adalah Ngabehi hanya Sungsang pemimpinnya bergelar demikian). Dalam krisis yang terjadi di Kesultanan Palembang, Sungsang otomatis menjadi garda terdepan dalam menghadapi musuh, khusus pada saat Inggris melakukan penyerangan pada tahun 1812. Sayangnya perpolitikan di kesultanan di mana adik Sultan Badaruddin II berambisi menjadi Sultan sehingga berkhianat dan memaksa agar Sungsang tidak dipertahankan. Menutup Sungsang dan memusatkan kekuasaan di Muntok Bangka menjadi satu kesatuan yang utuh guna mempertahankan dan memperbesar kekuatan. Perlawanan gigih rakyat Bangka menjadi kurang optimal karena terkendalanya bantuan dari Palembang, sebab Sungsang telah ditangan musuh.
Preserving Legacy: Developing an Interactive History Book for FKIP Universitas Sriwijaya Syarifuddin Syarifuddin; Farida Farida; Syafruddin Yusuf; Dedi Irwanto; Muhammad Reza Pahlevi; Safina Insyirah
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 2 (2025): JUNE 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i2.6474

Abstract

The Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) at Universitas Sriwijaya has played a critical role in shaping Indonesia’s education system by producing qualified educators. Despite its long-standing contributions, comprehensive documentation of its historical development remains scarce. This study aimed to develop an interactive digital history book for FKIP Universitas Sriwijaya. The research utilized a dual-method approach: historical research was used to gather and verify archival data, while the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) guided the development process. The book incorporated multimedia features such as archival photographs, background music, and a user-friendly interface to enhance engagement and learning. The interactive history book significantly improved students’ understanding of FKIP’s history. This was evidenced by a rise in average test scores from 37.5 (pretest) to 89.5 (posttest), with a statistically significant difference (p = 0.000) shown through paired sample t-tests. Additionally, 85% of surveyed students reported feeling more connected to FKIP’s legacy and expressed increased institutional pride. The integration of interactive elements was instrumental in increasing students’ comprehension and emotional connection to FKIP’s history. The digital format not only enhanced learning outcomes but also contributed positively to institutional identity. The interactive history book effectively documented FKIP’s legacy and fostered student engagement. Future research could explore its long-term impact on institutional reputation, including alumni involvement, student enrollment, and public perception at broader levels.
Needs Analysis of Project-Based Learning Integrated with Local Wisdom to Enhance Literacy in Elementary Schools Rusidah Rusidah; Santi Oktarina; Farida Ratu Wargadalem
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 4 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i4.7749

Abstract

Literacy in elementary education involves not only reading and writing but also critical, creative, and contextual thinking. However, students often face difficulties in writing due to limited exposure to contextualized learning models and culturally relevant materials. This study explores the need for a Project-Based Learning (PjBL) model integrated with local wisdom to enhance students’ writing literacy, particularly in composing folklore. This paper reports on the initial analysis phase of a broader model development effort using the ADDIE framework. A mixed-methods approach was employed, involving 61 fourth-grade students and 3 teachers from SD Negeri Air Balui. Data were gathered through validated questionnaires and semi-structured interviews and analyzed descriptively. The findings indicate a strong need for a culturally contextual PjBL model. Over 85% of students and 75% of teachers expressed that such a model would significantly support literacy development, particularly in writing. Students also identified difficulties in idea generation and writing processes, largely due to limited instructional support and media. Integrating local wisdom into PjBL is seen as an effective strategy to enhance literacy, foster cultural appreciation, and build essential 21st-century skills. The study emphasizes the importance of developing a contextual, collaborative, and meaningful learning model to support both academic and character development in elementary education.
The Role Of Pt. Pertamina Ep Asset 2 Field Pendopo In The Field Of Socio-Economic Community In Talang Ubi District Pali Regency In 2003-2015 Ari Supriyatno; Farida Farida; Supriyanto Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 1 (2018)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v7i1.114

Abstract

This paper is raised about the role of PT.Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo in the field of socio economic community in Talang Ubi Sub-District PALI Year 2003-2015. The problems in this research is how the establishment of PT.Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo in 2003, and how the role of PT.Pertamina EP Asset 2 Field Pendopo in the field of social and public economic field. In the social field observes the role of education, religious, health, and other social fields. While the field of economy covers how the role of the company in improving the community's economy kecang talang ubi.