Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : NALARs

Kajian Ornamen pada Rumah Tradisional Madura Dyan Agustin; Nur Rahmatul Lailiyah; Mu'ammar Fadhil; M Ferdiyan Arya
NALARs Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.19.2.97-104

Abstract

ABSTRAK. Ornamen merupakan suatu hiasan yang dibentuk dengan mengembangkan dari bentuk-bentuk yang ada di alam. Ornamen pada bangunan tradisional berbentuk ragam hias dimana teknik maupun pengungkapannya dibuat menurut aturan-aturan, norma serta pola yang telah digariskan dan menjadi kesepakatan bersama dan diwariskan secara turun temurun.  Pada rumah tinggal Madura, terdapat ornamen dalam elemen arsitekturalnya dimana keberadaan ornamen tersebut tidak lepas dari adanya akulturasi kebudayaan antar suku yang menetap di Madura. Penelitian ini membahas akulturasi kebudayaan mana saja yang mempengaruhi bentuk, warna ornamen di rumah tradisional Madura serta makna dari masing-masing motif ornamen yang digunakan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deduktif untuk mengetahui rupa visual dari ornamen pada rumah tradisional di Madura. Hasil analisis menunjukkan beberapa motif yang digunakan pada rumah tradisional Madura antara lain motif flora, fauna antara lain motif ekor ular, naga, burung phoenix dan motif swastika. Pada motif flora-swastika merupakan akulturasi kebudayaan dari Cina, Jawa hindu, dan Madura. Motif flora fauna didominasi dengan hasil akulturasi budaya antara Madura dengan Cina. Untuk area penempatan ornamen bagian atap, dinding, pintu, kolom. Sedangkan penempatan ormanen pada komplek hunian Tanean Lanjhang adalah roma tongghuh (rumah induk) dan Roma na’poto (Rumah Anak). Sedangkan pada kobhung (langgar), tanean (halaman), dapor (dapur), kandhang (kandang) tidak terdapat ornamen karena tempat tersebut lebih diutamakan segi fungsinya. Kata kunci: Ornamen, Rumah, Madura ABSTRACT. Ornament is a decoration that is formed by developing from the forms that exist in nature. Ornaments in traditional buildings are in the form of decoration. The techniques and disclosures are made according to the rules, norms, and patterns that have been outlined and become collective agreements and passed down from generation to generation. In Madura's house, there is an ornament in its architectural element where the decoration's existence is inseparable from the acculturation of cultures between tribes who settled in Madura. This study discusses which cultural acculturation influences the shape, the colour of ornaments in traditional Madurese homes, and the meaning of each ornamental motif used. The method used is a qualitative method with a deductive research method to determine the visual appearance of ornaments in traditional houses in Madura. The analysis results showed several motifs used in traditional Madurese homes, including flora and fauna motifs, including snake-tailed motifs, dragons, phoenixes, and swastika motifs. The flora-swastika motif is an acculturation of culture from China, Hinduism, Java, and Madura. The motif of flora and fauna is dominated by the results of cultural acculturation between Madura and China. For the ornamental placement area of the roof, walls, doors, columns. The placement of people in Tanean Lanjhang residential complex is Rome Tongghuh (main house) and Roma na'poto (Children's House). While in kobhung (langgar), tanean (page), dapor (kitchen), kandhang (cage), there are no ornaments because the place is preferred in terms of function.Keywords: Ornament, House, Madura 
KAJIAN PENATAAN RUANG STUDIO GAMBAR PROGRAM STUDI ARSITEKTUR DI ERA NEW NORMAL PANDEMIC COVID 19 Dyan Agustin; Erwin Djuni
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.45-52

Abstract

ABSTRAK. Pada Program Studi Arsitektur salah satu proses kegiatan yang penting adalah kegiatan perancangan dengan beberapa tahapan antara lain membuat konsep, rancangan gambar dua dimensi dan tiga dimensi dan pembuatan maket. Kegiatan tersebut dilakukan di studio gambar dengan penataan dan bentuk pengelolaan desain ruang kuliah yang khusus. Pada saat sebelum pandemic desain ruang kuliah studio hanya didasarkan pada aktivitas di dalam kegiatan perancangan.Pada saat pandemic covid 19 sekarang ini mengharuskan sebuah desain ruang kuliah studio yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus. Metode yang digunakan adalah deduktif kualitatif dengan menggambarkan kondisi ruang kuliah studio dan penyebaran kuesioner kepada para mahasiswa melalui pengisian kuesioner online. Hasil dari penelitian ini adalah analisis desain penataan perabot ruang kuliah studio berdasarkan protokol kesehatan antara lain pada fasilitas fisik meliputi dimensi, desain wujud konfigurasi, desain pembatas antar kursi. Dimensi baru yang dihasilkan berdasarkan pertimbangan new normal adalah keefektifan sebesar 31,5% dengan jarak antar kursi minimal 1 meter. Sedangkan desain wujud konfigurasi yang paling optimal adalah tipe rectangle. Pada desain pembatas antar kursi dihasilkan desain partisi yang berfungsi menghalangi droplet antar mahasiswa dan dosen di dalam ruangan. Untuk sirkulasi dan sign diberikan tanda pada ruang kuliah studio agar arah masuk dan keluar tidak berpapasan. Dengan dihasilkannya desain ruang kuliah studio yang optimal di program studi arsitektur yang sesuai dengan kondisi pandemic covid 19 maka diharapkan akan tercapai peningkatan mutu pembelajaran juga bisa tetap mendukung program pemutusan mata rantai virus covid 19. Kata kunci:perabot, studio, arsitektur, new normal ABSTRACT. One of the essential activity processes in the Architecture Study Program is a design activity with several stages, including conceptualization, two-dimensional and three-dimensional drawing designs, and making mock-ups. This activity is carried out in a drawing studio with a particular arrangement and management of lecture room designs. Before the pandemic, the design of studio lecture rooms was only based on activities in design activities. At the time of the current Covid 19 pandemic, it requires a studio lecture room design that can adapt to health protocols' needs to break the chain of the spread of the virus. The method used is qualitative deductive by describing the studio lecture room conditions and distributing questionnaires to students through online questionnaire filling. This study analyses the design of studio lecture room furniture based on health protocols, among others, the physical facilities, including dimensions, configuration design, and barrier design between chairs. The new size produced based on the new normal considerations is the effectiveness of 31.5% with a minimum distance of 1 meter between seats.Meanwhile, the most optimal configuration design is the rectangle type. In the divider design between chairs, a partition design is produced, which functions to block droplets between students and lecturers in the room. For circulation and sign is given a warning in the studio lecture room so that the entry and exit direction does not cross. With the production of an optimal studio lecture room design in an architecture study program following the conditions of the Covid 19 pandemic, it is hoped that an increase in the quality of learning will be achieved and can continue to support the program to break the Covid 19 chain link. Keywords: furniture, studio, architecture, new normal