Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pondok Persulukan dan Manajemen Perubahan Hasibuan, Armyn
Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah FDIK IAIN Padangsidimpuan Vol 5, No 2 (2023): TADBIR: JURNAL MANAJEMEN DAKWAH FDIK IAIN PADANGSIDIMPUAN
Publisher : FDIK IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tadbir.v5i2.10458

Abstract

AbstractThe purpose of this article is to provide an idea of renewal at the level of local wisdom in the Pondok  Persulukan in Tabagsel (South Tapanuli) so that in the practice of tasawuf tarekat using change management effectively and efficiently, not only relying on tradition and negating what has been passed down from generation to generation. Good management includes conceptual and action that can be tested as standard operating procedures (SOP). Tasawuf tarekat as part of Islamic teachings that are in the corridor of zany al-Dhilalah should be able to accept modernity such as the application of digital which greatly helps sheikhs, murshids, caliphs, founders, heads of foundations or other executors in storing data on tarekat students, the ins and outs of correspondence, let alone practicing the elements of management that should exist in the world of persulukan starting from designing, organizing, implementing, supervising to evaluating even though it is a non-formal educational institution. In the area of South Tapanuli (Tabagsel), almost all of the Tariqah shaykhs have not implemented a good managerial system in the Pondok Persulukan that they foster, seeming monotonous, static and not developing as expected, even though management in it is found in the arrangement of data and administration which is very important in the development of educational institutions in responding to contemporary life today. Allah Swt. also likes order, neatness and order that is beautifully arranged like an army in a prade line or like a neatly arranged and sturdy building. Many Quranic verses are related to management either explicitly or implicitly as found in Q.S.10:1 and 31, Q.S.13:2 and Q.S. 33: 5. Likewise, the hadith of the Prophet Saw. about leadership management that every leader will be held accountable which is interpreted broadly including how governance as an inseparable part of leadership and its work. Abstrak                Tujuan artikel ini memberikan ide pembaruan setingkat kearifan local pada pondok persulukan di Tabagsel  (Tapanuli Bagian Selatan) agar dalam praktik tasawuf tarekat memakai manajemen perubahan secara efektif dan efesien, tidak hanya mengandalkan tradisi dan memadakan apa yang ada secara turun temurun. Manajemen yang baik terdapatnya konseptual dan action yang dapat diuji coba sebagai standar operasional prosedur (SOP). Tasawuf tarekat sebagai bagian dari ajaran islam yang berada dalam koridor zany al-Dhilalah seharusnya dapat menerima modernitas seperti penerapan digital yang amat membantu syekh, mursyid, khalifah, pendiri, ketua yayasan atau pelaksana lainnya dalam menyimpan data data murid tarekat, seluk beluk persuratan apalagi memperaktekkan unsur unsur manajemen sudah selayaknya ada dalam dunia persulukan mulai perancangan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan sampai pengevaluasian meskipun sebagai lembaga pendidikan non formal. Di daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) hampir semua para syekh tarekat belum melaksanakan manajerial yang baik di pondok persulukan yang mereka asuh, terkesan monoton, statis dan tidak berkembang sesuai harapan, padahal manajemen di dalamnya ditemui penataan data data dan administrasi yang amat penting dalam perkembangan lembaga pendidikan dalam menyahuti kehidupan kontemporer dewasa ini. Allah Swt. juga senang kepada ketertiban, kerapian dan keteraturan yang tertata dengan indah bagaikan tentara dalam barisan prade atau bagaikan bangunan tersusun rapi dan kokoh. Banyak ayat alquran yang berkaitan manajemen baik secara eksplisit maupun implicit seperti terdapat pada Q.S.10/Yunus:31, Q.S.13/Arra’d:2 dan Q.S. 33 Al-Ahzab: 5. Demikian juga hadis Rasul Saw. tentang menanejemen kepemimpinan bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya yang dimaknai secara luas termasuk di dalamnya bagaimana tata kelola sebagai bagian takterpisahkan dari kepemimpinan dan pekerjaannya itu  
RELIGIOUS AND CULTURAL DEMARCATION: THE MYSTICISM DIMENSION IN THE PAJONJONG BAGAS TRADITION BY THE BATAK ANGKOLA MUSLIM COMMUNITY Hasibuan, Armyn; Miswari, Miswari; Nasution, Ismail Fahmi Arrauf
Islam Futura Vol 24 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v24i2.19585

Abstract

Abstract This study aims to determine the mystical dimensions of the pajonjong bagas ceremony, a series of rituals in building a new house, as part of the culture of the Batak Angkola community. In this traditional ceremony, several rituals contain mystical elements, to influence the beliefs of Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Based on the qualitative study, an ethnographic approach was employed, with data obtained through observation, interviews, and documentation of the entire pajonjong bagas ceremonial processes in the Batang Angkola sub-district, South Tapanuli. The results showed that the pajonjong bagas encompassed a high philosophical value and were highly beneficial for the community, specifically for those establishing new houses and still deeply rooted in local traditions or wisdom. However, several elements of the rituals were not explicitly studied or significant in the teachings of Islam. Various symbols were also used in the ceremony, such as coconut, sugarcane and palm sugar, chayote, and banana symbolizing usefulness, sweet speech actualization, continuity, and coolness. All these symbols were assembled and hung on the rabung bukkulan, a wooden structure used as a framework. This cultural accommodation was subsequently associated with local and Sufi mysticism.
Pengumpulan Zakat dan Permasalahannya Di Badan Amil Zakat Nasional Mandailing Natal Ongky, Ade Yonda; Hasibuan, Armyn; Handayani, Ricka
Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 13 No. 2 (2025): JMD
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah - Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/35fvkv86

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami proses pengumpulan zakat di BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam pengumpulan zakat di BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal, serta mengetahui upaya yang dilakukan oleh BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengumpulan zakat di BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal dilakukan melalui sistem payroll untuk gaji yang dibayarkan secara non-tunai dan melalui UPZ di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk gaji yang dibayarkan secara tunai. Permasalahan dalam pengumpulan zakat di BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal antara lain adalah rendahnya kesadaran dan kemauan muzakki untuk menyalurkan zakat melalui BAZNAS, serta kurang responsifnya ASN dalam menyalurkan zakat dan infaq. Untuk mengatasi masalah tersebut, BAZNAS Kabupaten Mandailing Natal melakukan berbagai upaya sosialisasi dan edukasi, baik kepada masyarakat umum maupun lembaga terkait. Sosialisasi tersebut mencakup penyebaran informasi mengenai PERBUP nomor 53 tahun 2022 kepada OPD di Kabupaten Mandailing Natal, serta kegiatan sosialisasi kepada masyarakat melalui metode diskusi, ceramah keagamaan, khutbah Jumat, dan lain-lain.
Menguak Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dan Interelasinya Dengan Islam Membentuk Moderasi Beragama Hasibuan, Armyn
Hikmah Vol 19, No 2 (2025): JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v19i2.18739

Abstract

This study aims to reveal the ethical and moral values embedded in local wisdom that shape the practice of religious moderation within the community of Batu Godang Village, Angkola Sangkunur Subdistrict, South Tapanuli. This village has been designated as a fostered village and is currently preparing to become a pilot village for the PTP2WKSS (Integrated Program for Enhancing Women’s Roles toward Healthy and Prosperous Families). The research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through participatory observation, in-depth interviews, and field documentation. Data analysis was conducted interactively following the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the Batu Godang community internalizes local wisdom values integrated with Islamic teachings—such as honesty (ṣidq), responsibility (amānah), justice (‘adl), and tolerance (tasāmuḥ)—in interfaith social life, particularly in fostering religious moderation. These values function as the foundation of religious moderation, aligning with the Islamic concept of wasathiyyah as well as the four indicators of religious moderation promoted by the Indonesian Ministry of Religious Affairs: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of local culture. The integration of Islamic ethical perspectives from Al-Ghazali and Ibn Miskawaih with religious moderation theory demonstrates that spiritual morality, when combined with local wisdom, contributes to the formation of a harmonious, plural, and civilized society