Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Panggung

Revitalisasi Ragam Hias Batik Keraton Cirebon dalam Desain Baru Kreatif Komarudin Kudiya; Setiawan Sabana; Agus Sachari
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.699 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.116

Abstract

ABSTRACT Respecting traditions of the nation, which is preserving a batik tradition. Cirebon is the region that has a rich cultural treasures batik varied. Given its development, with a variety of Cirebon Kraton, Kraton Batik Cirebon products nowadays have more characteristics, e.g.: (1) Kasepuhan Kraton on Singa Barong’s ornament; (2) Kanoman Kraton on Paksi Naga Liman’s ornament; (3) Kacirebonan Kraton on Bintulu’s ornament and (4) Kaprabonan on Dalung’s ornament and motif without pictures of animals.This research needs to exploring, discovering, and formulating design elements (ornament, mate- rial, and color). This study used ethnographic method and experimental visuals method for ornaments on Kraton Batik Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan, and Kacirebonan based on historical cultural influences from Hinduism, Islam, China, and Europe.As long batik owned by all Cirebon Kraton which is available during this condition can not be iden- tified and their physical condition is damage. Thus in order to preserving the old batiks, it is necessary to reproduce a creative new batik designs with any dimensional aspects. Keywords: Revitalization, Kraton Batik Cirebon, Creative,    ABSTRAK Dalam kerangka menghargai tradisi suatu bangsa, yaitu melestarikan sebuah tradisi di an- taranya berkarya batik, yang merupakan warisan budaya Indonesia. Cirebon adalah wilayah yang memiliki kekayaan khasanah budaya batik yang variatif, baik yang masih tetap ada hing- ga kini, maupun yang sudah punah. Mengingat di dalam perkembangannya, Keraton Cirebon dengan aneka produk Batik Keraton Cirebon kini terbagi dalam tiga keraton dan satu peguron yang mempunyai ciri khas, antara lain: (1) Keraton Kasepuhan pada ragam hias Singa Barong; (2) Keraton Kanoman pada ragam hias Paksi Naga Liman; (3) Keraton Kacirebonan pada ra- gam hias Bintulu; (4) Peguron Kaprabonan pada ragam hias Dalung dan motif tanpa gambar hewan.Perlu dilakukan penelitian untuk menggali, menemukan, dan memformulasikan khusus- nya unsur teraga (ragam hias termasuk di dalamnya corak, bahan, dan warna). Penelitian ini menggunakan metode etnografi dan eksperimen visual terhadap ragam hias Batik Keraton Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan yang berlandaskan pada kesejarahan mulai dari pengaruh budaya Hindu, Islam, Cina, dan Eropa.Adapun batik-batik lama yang dimiliki oleh seluruh Keraton Cirebon yang ada selama ini kondisinya tidak bisa dikenali secara umum dan kondisi fisiknya sudah rapuh menuju kondisi rusak. Dengan demikian guna menjaga kelestarian batik-batik lama tersebut maka diperlukan penelitian agar bisa dibuat reproduksinya menjadi desain batik baru kreatif. Kata kunci: Revitalisasi, Batik Keraton Cirebon, Kreatif,
Kedudukan Workstation Canting pada Tata Ruang Workshop Batik Tulis Oey Soe Tjoen Rachmi Kumala Widyasari; Agus Sachari; Andar Bagus Sriwarno; G. Prasetyo Adhitama
PANGGUNG Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1882.984 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i1.1173

Abstract

Rumah batik Oey Soe Tjoen adalah salah satu workshopbatik tulis tradisional Nusantara yang mempertahankan orisinalitas dalam menghasilkan kain batik secara turun temurun. Proses produksi kain batik dengan canting memegang peranan penting dalam rumah batik Oey Soe Tjoen.  Tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau kedudukan proses pembuatan kain batik dengan canting pada usaha batik tulis tradisional, baik dalam lingkup proses kerja maupun dalam lingkup tatanan ruang. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi melalui studi literatur, observasi dan wawancara langsung kepada nara sumber. Data dipaparkan secara deskriptif dan dianalisis sehingga menghasilkan temuan bahwa, proses produksi kain batik dengan canting adalah sebuah proses yang signifikan dalam menghasilkan batik tulis secara tradisional. Sehingga ruang yang mewadahi proses ini menjadi ruang penting dalam tata ruang sebuah workshop batik tulis tradisional yang perlu dipertimbangkan guna mendukung kelancaran produktivitas kerja. Kata kunci: batik tulis, canting, hirarki, Oey Soe Tjoen, workstation