Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH KUNYIT ASAM TERHADAP PENURUNAN NYERI HAID SAAT MENTRUASI DI MAN 2 PAMEKASAN Umma, Fina Rohmatul; Rahagia, Rasi; Pamungkas, Putri
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 4 No 1 (2024): januari 2024
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v4i1.720

Abstract

Kunyit memiliki nama lain yaitu Curcuma Domestica Val yang memiliki kandungan kunyit efek positif sebagai agen anti-inflamasi. Di samping ituTamarind atau Tamaradus Indica mengandung senyawa kimia termasuk asam jawa asam malat, asam nitrat, asam gigik dan asam tetra.Orang Indonesia cenderung minum kunyit dan minuman asam mengurangi gejala dismenore. Kunyit sering digunakan ramuan tradisional untuk meredakan nyeri yang berhubungan dengan dismenore. produk jamu ini menjadi pilihan bagi wanita muda yang ingin mengurangi dismenore tanpa mendapatkan efek samping. Tujuan Penelitian : ini mengetahui pengaruh pemberian kunyit asam Nyeri dismenore pada remaja putri pada man 2 pamekasanJenis Penelitian Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan Quasy Eksperimen dengan rancangan non equivalent control group. Analisa Data : menggunakan uji wilcokson untuk mengetahui pengaruh kunyit asam terhadap penurunan nyeri haid.Pengumpulan data dilakukan melalui lembar kuesioner. Hasil Penelitian : Hasil penelitian ini statistik uji Wilcoxon untuk pengaruh pemberian kunyit asam terhadap penurunan nyeri haid sebanyak 57 responden, diperoleh ρ = 0,000 berarti ρ = ≤ α (0,05). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak yang artinya ada pengaruh kunyit asam terhadap penurunan nyeri haid saat mentruasi di MAN 2 Pamekasan.Kesimpulan dari hasil penelitian menyatakan bahwa adanya pengaruh kunyit asam terhadap penurunan nyeri haid mentruasi di MAN 2 Pamekasan
PEMBERDAYAAN KADER SURABAYA MELALUI METODE EXPERIENTIAL LEARNING DALAM PENANGANAN PERTAMA KASUS LUKA Zulkarnain, Octo; Pamungkas, Putri; Cahayanto, Heri Nur; hidayatillah, Ariska Putri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22090

Abstract

Anstrak: Penanganan luka sering kali tidak tepat dilakukan oleh masyarakat karena keterbatasan sumber informasi, kebiasaan lokal, dan kepercayaan. Pengabdian ini bertujuan mengembangkan kapasitas kognitif dan pengalaman kader dalam penanganan kasus cedera. Metode yang digunakan adalah Experiential Learning dengan melibatkan 12 kader Taman Gununganayar sebagai mitra. Di awal pertemuan, dilakukan pre-test untuk menilai pemahaman kognitif kader menggunakan lembar kuesioner. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, pemahaman kognitif kader hanya mencapai 41,6%, dan hanya 5 dari 12 kader yang mampu mempraktikkan penanganan luka. Setelah menjalani pelatihan, terjadi peningkatan yang signifikan. Rata-rata pemahaman kognitif meningkat menjadi 58%, dan seluruh kader mampu melakukan penanganan luka secara efektif. Hasil ini menegaskan efektivitas metode pelatihan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis kader, yang pada gilirannya mendukung peningkatan penanganan kasus luka di masyarakat secara keseluruhan. Hal ini menggambarkan pentingnya pendekatan eksperimental dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanganan cedera serta mengurangi risiko kesalahan yang dapat terjadi akibat keterbatasan informasi dan kebiasaan lokal.Abstract: The handling of wounds is often improperly done by the public due to limited sources of information, local customs, and beliefs. This dedication aims to develop the cognitive capacity and experience of cadres in handling injury cases. The method used is Experiential Learning involving 12 Taman Gununganayar cadres as partners. At the beginning of the meeting, a pre-test was conducted to assess the cognitive understanding of cadres using a questionnaire sheet. The results showed that before the training, the cognitive understanding of cadres was only 41.6%, and only 5 out of 12 cadres were able to practice wound management. After undergoing training, there was a significant improvement. The average cognitive understanding increased to 58%, and all cadres were able to effectively handle wounds. These results confirm the effectiveness of the training method in improving the understanding and practical skills of cadres, which in turn support the improvement of wound management in the community as a whole. This illustrates the importance of an experimental approach in enhancing the capacity of the community in handling injuries and reducing the risk of errors that can occur due to limited information and local customs.