Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Batik Pasiran: Wujud Kearifan Lokal Batik Kampung Pasir Garut Kartika, Nyai; Dienaputra, Reiza D.; Machdalena, Susi; Nugraha, Awaludin
PANGGUNG Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i4.1368

Abstract

Batik Pasiran merupakan wujud seni batik yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Pasir,Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Batik Pasiran tergolong batik yangbaru berkembang dan diperkenalkan oleh masyarakat Kampung Pasir. Batik tersebut memilikikeunikan dan nilai-nilai leluhur Kampung Adat Pasir, bentuk kearifan lokal masyarakatnya.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis budaya yang diharapkanmampu mengungkap dan menjabarkan bagaimana bentuk kearifan lokal yang dikiaskandalam Batik Pasiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitiankualitatif yang akan membantu mengabstraksikan pertalian antara bentuk seni dalam hal inibatik dengan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di dalam budaya masyarakat KampungPasir. Hasil penelitian menjelaskan bahwa corak motif Pasiran menggambarkan kehidupanmasyarakat yang menyatu dengan alam. Dalam hal ini batik, bukan hanya sekedar hasil budaya,lebih jauh lagi makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan ungkapan daripengalaman empiris dan keseharian masyarakat yang membentuk satu kesatuan budaya.Kata Kunci: Batik, Pasiran, Kearifan Lokal
Preserving Cultural Heritage Through a Traditional Ritual: A Case of Kabuyutan Ciburuy Kartika, Nyai; Dienaputra, Reiza D.; Machdalena, Susi; Sriwardani, Nani; Ekawardhani, Yully Ambarsih; Sudrajat, Dadang
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.2801

Abstract

The Seba ceremony in Kabuyutan Ciburuy is a tradition of preserving cultural heritage that has been carried out for generations. Currently, Kabuyutan Ciburuy is no longer actively used as an educational institution, nor are the contents of its ancient manuscripts used as a reference for the development of science. For this reason, this research tries to dissect why this happens. This research uses a qualitative research method which is believed to be a scalpel in research, thereby helping to explain the research object factually. The research step is to carry out participant observation, the researcher actively participates in the activities being researched. Also hold interviews with local cultural figures either formally or informally. The result of this research is a descriptive explanation of the Seba Ceremony as an effort to preserve cultural heritage. Because heirlooms refer to educational activities, such as the discovery of many manuscripts, one of which contains advice on old Sundanese character and ethics. This has become a high level of cultural wealth by continuing to carry out the Seba ceremony as a form of preservation so that it remains alive and relevant for future generations. Keywords: Seba Ceremony, Ciburuy District, Preservation, Cultural Heritage
Penanaman pohon di area gunung beser sebagai wujud aktualisasi kearifan lokal dalam memelihara sumber mata air Kartika, Nyai; Dienaputra, Reiza D.; Machdalena, Susi; Ismail, Nany; Agustina, Prima; Sundasari, Witakania; Hidayat, Rony
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21717

Abstract

AbstrakPenanaman pohon disekitar hutan gunung Beser penting dilakukan, karena fungsi pohon di hutan untuk ketersediaan sumber air dan penahan erosi jika terjadi hujan. Penanaman pohon dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan alam tersebut. Metode yang dilakukan adalah metode lapangan, dengan dua tahapan kerja yaitu, tahapan persiapan survey lapangan, di antaranyan menyiapkan bibit tanaman yang akan ditanam di hutan. Selanjutnya tahapan pelaksanaan, yaitu hari dimana dilakukan penanaman di hutan gunung Beser. Tujuan Pengabdian Pada Masyarakat dengan melibatkan mahasiswa KKN di Desa Nagarawangi dapat terjun langsung ikut serta dalam program penanaman kembali hutan. Dengan kegiatan ini diharapkan selain bernilai kebermanfaatan bagi masyarakat,dengan penanaman hutan gunung Beser dapat mencegah erosi, dan penghijauan kembali hutan, juga pengalaman berharga bagi mahasiswa peserta KKN dengan ikut serta bersama dengan Kelompok Tani Hutan Benteng Muda Mandiri. Kelompok Tani Hutan ini yang berkegiatan dalam basis tradisi mendapatkan kesempatan melaksanakan program Daya Desa Budaya pada tahun 2021 yang lalu. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu mengadakan berbagai pelatihan dalam upaya pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan terutama hutan dan mata air. Kata kunci: penanaman pohon; kearifan lokal AbstractPlanting trees around the Mount Beser forest is important, because the function of trees in the forest is to provide water sources and resist erosion when it rains. Tree planting is done as an effort to maintain natural balance. The method used is a field method, with two work stages, namely, the field survey preparation stage, including preparing plant seeds to be planted in the forest. The next stage of implementation is the day when planting is carried out in the Mount Beser forest. The aim of Community service is to involve KKN Student in Nagarawangi Village who can directly participate in the forest replanting program. With this activity, it is hoped that apart from being of value to the community, planting the Mount Beser forest can prevent erosion and reforest the forest, as well as being a valuable experience for student participating in KKN by participating together with Benteng Muda Mandiri Forest Farmer Group. This Forest Farmers Group, which carries out activityes on a traditional basis, had the opportunity to implement the Daya Cultural Village Program in 2021. The activities carried out include holding various trainings in efforts to preserve culture and preserve the environment, especially forests and springs. Keywords: tree planting; local wisdom
The Unspoken Meaning of Names: Cultural Dimensions in Translating Russian Anthroponyms into Indonesian Lukman, Fahmy; Kartika, Nyai; Machdalena, Susi
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra VOL 9, NO 2 (2025): ERALINGUA (Article in Press)
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v9i2.77863

Abstract

Translating Russian proper names into Indonesian poses linguistic and cultural challenges since Russian anthroponyms, comprising full names, patronymics, and diminutives, encode complex semantic and pragmatic meanings often overlooked in translation. This study aims to examine how these meanings are conveyed in Indonesian literary translations and what cultural implications arise from the process. Using a qualitative descriptive method, data were collected from four Russian literary works translated into Indonesian and analyzed for semantic, pragmatic, communicative, and cultural dimensions. The findings show that most translations fail to reflect the rich social and emotional nuances embedded in Russian anthroponyms. Diminutives, which express intimacy and social bonds, and patronymics, which signify respect and cultural identity, are frequently neutralized or omitted. The study concludes that Indonesian translators tend to prioritize linguistic equivalence over cultural accuracy, leading to the loss of socio-pragmatic depth. This research contributes to cross-cultural translation studies by underscoring the need for culturally sensitive approaches in translating personal names