Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) HOLISTIK PADA BIDANG KESEHATAN DI DESA SUKA MERINDU OGAN ILIR SUMATERA SELATAN Mustika Fatimah; Diana Sartika; Nova Mabela; Dinda Rahma; Rapi Dzaki Almugni; Devina Liya; Dita Rahmalia; Muslimah Putri Utami; Anisah; Harry Wahyudhy Utama; Devi Marlina; Bunga Anggreini Sari
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 3 (2024): Vol. 1 No. 3 Edisi Juli 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i3.154

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di bidang kesehatan di desa berkaitan kebutuhan akan peningkatan akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan pemberdayaan masyarakat setempat. Beberapa masalah bidang kesehatan di desa antara lain fasilitas kesehatan sering kali jauh dan tidak memadai, ada kekurangan tenaga kesehatan yang bersedia bekerja di daerah pedesaan, pendidikan kesehatan yang kurang memadai berakibat pada kesalahpahaman mengenai praktik kesehatan yang baik, dan desa-desa sering menghadapi beban penyakit yang tinggi. Desa Suka Merindu merupakan salah satu desa di Ogan Ilir dengan jumlah penduduk sebanyak 1111 jiwa dan luas wilayah 850 ha/m2. Fasilitas layanan kesehatan berupa puskesmas dan posyandu terletak menyebar di dekat beberapa desa di sekitarnya. Masalah kesehatan di Desa Suka Merindu bervariasi mulai dari masalah penyakit tidak menular, penyakit menular hingga penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA). Pengabdian ini dilakukan di Desa Suka Merindu pada bulan Januari 2024. Ada empat kegiatan PKM holistik yang dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi gratis kepada warga, penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia di kalangan remaja dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri Sekolah Menengah Atas (SMA), sosialisasi mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Hipertensi di Puskesmas, dan penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA di balai desa. Tahapan masing-masing kegiatan terdiri dari perencanaan, analisis situasi, studi literatur, survei awal, koordinasi perizinan dan kesediaan sasaran, persiapan materi, alat dan bahan, pelaksanaan yang terdiri dari tanya jawab awal, penyampaian materi, diskusi, dan penyerahan poster serta evaluasi. Sesuai dengan tujuan kegiatan, hasil kegiatan tercapai berupa penyampaian materi dan terwujudnya diskusi. Melalui PKM di bidang kesehatan, ada peluang untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam layanan kesehatan dan memperbaiki kualitas hidup penduduk desa. Ini juga membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan kesehatan yang spesifik dari komunitas yang mungkin tidak tercakup dalam kebijakan kesehatan yang lebih luas.
Faktor Risiko Sosiodemografi dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Jakabaring Devi Marlina; Ririn Noviyanti Putri; Nasrullah; Putri Amanda Irawan; Eka Safitri dayanti
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.249

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Faktor gaya hidup lainnya termasuk aktivitas fisik, pola makan, dan perilaku merokok Kadar glukosa darah meningkat pada orang yang menjalani gaya hidup aktif dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu aktif, merokok, dan bekerja sedentary. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko yang memengaruhi kejadian DM Tipe 2. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel studi ini yaitu aktivitas fisik, jenis kelamin, pekerjaan, usia, status pernikahan, perilaku merokok. dan kejadian DMT2. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Jakabaring dengan jumlah sampel sebanyak 95 responden. Besaran sampel didapat sebanyak 95 responden. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat, dan analisis bivariat. Pada analisis bivariate menggunakan uji hipotesis Chi Square IBM SPSS 26. Hasil : Responden dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2 dibandingkan mereka dengan aktivitas fisik sedang/tinggi, dengan PR = 1,8; 95% CI: 1,3–2,4 p < 0,05. Tidak bekerja juga terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2, dengan PR = 2.4; 95% CI: 1,4–4.0; p < 0,05, pada responden yang merokok memiiki hubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 dengan PR = 1,5; 95% CI = 1,0-2,0; p < 0.05. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik, pekerjaan, dan perilaku merokok dengan kejadian DM Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Jakabaring Kota Palembang
EFEKTIVITAS INTEGRASI EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN GIZI DALAM PENCEGAHAN RISIKO STUNTING PADA REMAJA PUTRI Ririn Noviyanti Putri; Devi Marlina; Rima Ernia; Septi Septi; Sakinah Hadirama
Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Vol 18, No 1 (2026): Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/bi.v18i1.1665

Abstract

Latar Belakang: Pernikahan dini dan stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dan gizi. Tujuan: Menganalisis efektivitas integrasi edukasi kesehatan reproduksi dan gizi remaja putri dalam pencegahan pernikahan dini dan risiko stunting. Metode: Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri X Tanjung Raja pada bulan Maret 2026 menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Populasi penelitian seluruh remaja putri kelas X–XII dengan teknik total sampling sebanyak 80 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan uji paired t-test. Hasil: Peningkatan signifikan pada skor pengetahuan dari rata-rata 57,80 menjadi 83,60 (p<0,05) dan skor sikap dari 2,68 menjadi 3,62 (p<0,05), terjadi peningkatan perilaku preventif remaja putri dalam pencegahan pernikahan dini dan stunting setelah intervensi diberikan. Saran: Agar sekolah, puskesmas, dan dinas kesehatan mengembangkan program edukasi kesehatan reproduksi dan gizi terintegrasi melalui kegiatan pembelajaran, UKS, dan kader kesehatan remaja secara berkelanjutan.Kata Kunci : Edukasi Kesehatan Reproduksi, Gizi Remaja, Stunting, Pernikahan Dini, Remaja Putri.
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Eka Safitri Dayanti; Nur Asbon; Devi Marlina
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i2.7947

Abstract

Abstrak Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terutama menyerang jaringan parenkim paru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain case control untuk mengidentifikasi hubungan antara berbagai faktor risiko dan kejadian TB paru. Analisis dilakukan melalui perbandingan antara kelompok kasus, yaitu responden yang telah didiagnosis menderita TB paru, dengan kelompok kontrol yang terdiri atas responden yang tidak menderita TB paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku merokok memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian TB paru (p = 0,018; OR = 7,5; 95% CI: 1,307–43,028). Kepadatan hunian juga terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian TB paru (p = 0,005; OR = 12,375; 95% CI: 1,828–83,767), riwayat kontak dengan penderita TB memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian TB paru (p = 0,001; OR = 27,000; 95% CI: 2,561–284,696), Sebaliknya, tingkat pengetahuan mengenai TB tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian TB paru (p = 0,097; OR = 0,156; 95% CI). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok, kepadatan hunian, dan riwayat kontak dengan penderita TB merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian TB paru. Sementara itu, tingkat pengetahuan mengenai TB tidak terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB paru pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas 7 Ulu Kota Palembang Tahun 2026   Kata Kunci: kepadatan hunian, pengetahuan tentang TB paru, perilaku merokok, Riwayat kontak dengan penderita TB