Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Konsep Kekuasaan menurut Byung-Chul Han dan Sumbangannya dalam Meminimalisir Anomali Kekuasaan di Indonesia Harjon, Yasintus; Wijanarko, Robertus
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan Vol. 4 No. 2 (2024): VOLUME 4 ISSUE 2, OCTOBER 2024
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v4i2.452

Abstract

Fokus artikel ini ialah berbicara tentang konsep kekuasaan Byung-Chul Han dan sumbangannya dalam usaha meminimalisir beragam anomali relasi kekuasaan di Indonesia. Pada dasarnya kekuasaan merupakan bagian integral dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuasaan berasal dari dan ada untuk melayani kepentingan semua orang agar terciptanya kesejahteraan, kesetaraan, dan common good. Pengejawantahan kekuasaan untuk kepentingan sepihak bukan menjadi sesuatu yang pantas dirindukan dan bukan menjadi tujuan utama yang harus dikejar. Namun, tidak dapat disangkal bahwa masih ada praktik kekuasaan yang tidak mengutamakan common good dalam kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini. Penyelewengan kekuasaan itu nyata dalam relasi antara pemerintah vs rakyat, atasan vs bawahan, dan mayoritas vs minoritas, yang mana cenderung otoriter, kekerasan, represif, dan dominatif. Kajian penulisan artikel ini menggunakan metode pustaka dengan membaca dan menelaah secara kritis tema yang digarap dan berbagai literatur yang mendukung. Tulisan ini menemukan bahwa menurut Byung-Chul Han, kekuasaan sejatinya adalah relasi ketergantungan timbal balik antara ego dan alter atas dasar kapasitas mediasi tertentu. Kekuasaan yang memiliki kapasitas mediasi yang tinggi akan melahirkan kekuasaan simetris, harmonis, dan tanpa represi. Sementara, kekuasaan minim atau tanpa mediasi cenderung asimetris. Baginya, beragam ketimpangan kekuasaan yang ada dalam masyarakat demokrasi Indonesia saat ini menandakan adanya relasi kekuasaan asimetris antara ego dan alter.
Ecological Colonialism and Local Resistance: A Genealogy of Power in the Style of Foucault and Sean McDonagh's Ecotheology in West Kalimantan Kwirinus, Dismas; Wijanarko, Robertus; Pandor, Pius; Emanuel, Fransiskus
Journal of World Science Vol. 4 No. 10 (2025): Journal of World Science
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jws.v4i10.1532

Abstract

This study explores the dynamics of ecological colonialism in West Kalimantan through the intersecting lenses of Michel Foucault's genealogy of power and Sean McDonagh's ecotheological discourse. Drawing upon a critical-theoretical framework, the research investigates how historical and contemporary environmental domination, often justified through state-corporate development narratives, constitutes a form of colonial violence against both nature and indigenous epistemologies. By employing Foucault's concept of power relations and discursive formations, the study deconstructs the mechanisms through which ecological control is normalized, particularly in extractive economies such as palm oil and mining. Simultaneously, McDonagh’s ecotheology offers a normative theological response that reframes the relationship between humanity, creation, and justice, providing a counter-narrative rooted in ecological ethics. The local resistance of communities in West Kalimantan is examined as a site of epistemic contestation, where indigenous cosmologies and spiritualities challenge dominant ecological paradigms. This research contributes to the broader discourse on political ecology, postcolonial theology, and environmental justice by bridging critical theory and contextual theology. It underscores the need to rethink environmental governance through plural epistemologies that honor both ecological integrity and sociocultural sovereignty.
Fenomena Digitalisasi dan Implikasinya: Tinjauan Kritis melalui Keraguan Metodis Descartes sebagai Critical Thinking Mengkala, Dian Labo; Wijanarko, Robertus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.273

Abstract

Fenomena Digitalisasi Dan Implikasinya: Tinjauan Kritis Melalui Keraguan Metodis Descartes Sebagai Critical Thinking Dian Labo Mengkala labomengkala21@gmail.com Robertus Wijanarko Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang Abstrak Fenomena digitalisasi bisa menjadi ancaman bagi eksistensi manusia sebagai subjek yang berpikir. Hal ini disebabkan ketergantungan secara berlebihan terhadap algoritma, sehingga yang penting bukan lagi hal yang dipikirkan atau dikehendaki oleh manusia sebagai subjek, melainkan apa yang disajikan oleh digitalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkritisi fenomena digitalisasi yang semakin mendominasi kehidupan manusia, dengan fokus pada bagaimana pengaruhnya membentuk dan berpotensi mengikis otonomi manusia sebagai subjek yang berpikir dan relasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data dikumpulkan melalui penelaahan literatur filosofis, sosiologis, dan teknologi terkait digitalisasi, serta pemikiran kritis dan filsafat Descartes. Keraguan metodis Descartes sebagai kerangka critical thinking menjadi landasan untuk melakukan pemikiran kritis terhadap asumsi-asumsi di balik realitas digital. Prinsip “cogito, ergo sum” juga menjadi landasan untuk memahami dan menegaskan kembali posisi manusia. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi melalui algoritma dan kurasi konten, secara halus menciptakan ilusi realitas yang memengaruhi persepsi dan memanipulasi preferensi pengguna. Tanpa sikap kritis, pengguna berisiko kehilangan kapasitas untuk berpikir secara independen. Melalui penerapan keraguan metodis Descartes sebagai critical thinking, secara sadar dan sistematis yaitu, dengan secara aktif mempertanyakan, menganalisis, dan memfilter informasi digital, setiap pengguna dapat mempertahankan dan memperkuat integritas kognitifnya. Ini adalah langkah fundamental untuk menegaskan kembali kendali atas nalar dan mencapai kebebasan berpikir
Literasi Digital: Upaya Meningkatkan Kompetensi Berkomunikasi Frater Pasionis Melalui Media Digital Pandor, Pius; Wijanarko, Robertus; Nirwana, Aditya; Ton, Sekundus Septo Pigang; Dagur, Oswaldus
Prima Abdika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/abdika.v4i3.3927

Abstract

Digital literacy is crucial for enhancing communication skills in the technology era. Through digital literacy, Pasionis "Gen Z" are encouraged to improve their communication abilities by becoming adept in digital media. However, based on the initial situation analysis conducted by the Community Service Team (2023), it shows that Pasionis "Gen Z" still lack awareness of the importance of digital literacy. The issues faced by Pasionis "Gen Z" include a lack of awareness about the importance of digital literacy, weak digital communication skills, minimal facilities supporting digital literacy programs, insufficient knowledge on how to enhance communication intelligence through digital media, and a lack of guidance in digital communication. Solutions to these problems involve conducting outreach and workshops to raise awareness about the importance of digital literacy, providing training on how to communicate through digital media, supplying facilities and infrastructure to support digital literacy programs, enhancing knowledge in developing communication intelligence through digital media, and offering guidance in digital communication training programs. The methods used include socialization, training, technology application, guidance, evaluation, and program sustainability. The community service activities were successfully and smoothly carried out, involving responsive Pasionis "Gen Z". The results of the digital literacy seminar demonstrate an improvement in understanding and skills among Pasionis "Gen Z" in becoming proficient in digital media communication.
POLITIK DINASTI DAN TANTANGAN DEMOKRASI: : KAJIAN FILOSOFIS MACHIAVELLI DALAM MEWUJUDKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG ADIL DI INDONESIA Gerri Parto, Hilarion; Nadila, Yulita; Wijanarko, Robertus
JISIPOL | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 9 No. 1 (2025): Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal JISIPOL Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena politik dinasti di Indonesia melalui perspektif filosofis Niccolò Machiavelli dalam rangka mewujudkan tata kelola yang adil. Politik dinasti, yang semakin meluas pasca-reformasi, memunculkan tantangan serius bagi demokrasi, terutama dalam hal transparansi, partisipasi rakyat, dan akuntabilitas pemerintahan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, mengkaji karya-karya utama Machiavelli, seperti Il Principe dan Discourses on Livy, serta literatur sekunder yang relevan dengan politik dinasti di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Machiavellian, seperti penggunaan kekuasaan untuk kepentingan stabilitas negara, dapat menjadi bahan refleksi dalam menghadapi tantangan politik dinasti. Namun, penting untuk menyesuaikan gagasan tersebut dengan nilai-nilai demokrasi modern. Artikel ini merekomendasikan penguatan institusi demokrasi lokal sebagai langkah strategis untuk mengatasi dampak negatif politik dinasti dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih adil di Indonesia.
Fenomena Digitalisasi dan Implikasinya: Tinjauan Kritis melalui Keraguan Metodis Descartes sebagai Critical Thinking Mengkala, Dian Labo; Wijanarko, Robertus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.275

Abstract

Fenomena digitalisasi bisa menjadi ancaman bagi eksistensi manusia sebagai subjek yang berpikir. Hal ini disebabkan ketergantungan secara berlebihan terhadap algoritma, sehingga yang penting bukan lagi hal yang dipikirkan atau dikehendaki oleh manusia sebagai subjek, melainkan apa yang disajikan oleh digitalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkritisi fenomena digitalisasi yang semakin mendominasi kehidupan manusia, dengan fokus pada bagaimana pengaruhnya membentuk dan berpotensi mengikis otonomi manusia sebagai subjek yang berpikir dan relasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data dikumpulkan melalui penelaahan literatur filosofis, sosiologis, dan teknologi terkait digitalisasi, serta pemikiran kritis dan filsafat Descartes. Keraguan metodis Descartes sebagai kerangka critical thinking menjadi landasan untuk melakukan pemikiran kritis terhadap asumsi-asumsi di balik realitas digital. Prinsip “cogito, ergo sum” juga menjadi landasan untuk memahami dan menegaskan kembali posisi manusia. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi melalui algoritma dan kurasi konten, secara halus menciptakan ilusi realitas yang memengaruhi persepsi dan memanipulasi preferensi pengguna. Tanpa sikap kritis, pengguna berisiko kehilangan kapasitas untuk berpikir secara independen. Melalui penerapan keraguan metodis Descartes sebagai critical thinking, secara sadar dan sistematis yaitu, dengan secara aktif mempertanyakan, menganalisis, dan memfilter informasi digital, setiap pengguna dapat mempertahankan dan memperkuat integritas kognitifnya. Ini adalah langkah fundamental untuk menegaskan kembali kendali atas nalar dan mencapai kebebasan berpikir.
Critical Ecospirituality for the Realization of the Bonum Commune and Agrarian Justice in Sekadau, West Kalimantan: A Postcolonial Deconstructive Approach Kwirinus, Dismas; Wijanarko, Robertus; Tjatur Raharso, Alphonsus; Dendi, Ignatius
International Journal of Multidisciplinary Sciences Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ijms.v3i4.5015

Abstract

Environmental degradation in Sekadau, West Kalimantan, demonstrates that the ecological crisis is also a spiritual and moral crisis rooted in structural inequalities between Indigenous communities and capitalist powers. This study aims to examine the theological and ethical dimensions of critical eco-spirituality as a transformative paradigm for advancing the bonum commune and agrarian justice within a postcolonial context. Using a literature review and hermeneutical theological reflection through critical discourse analysis of theological texts, agrarian policies, and Indigenous narratives, this research identifies forms of spiritual resistance emerging from the ecological and social experiences of the Dayak community. The findings show that critical eco-spirituality integrates ecological awareness with transformative ethical praxis that is inherently political, grounded in the intersubjective relationship between humans, nature, and the Transcendent, and challenges the exploitative logic of colonial and neoliberal legacies. The study concludes that local spiritual values such as cosmic harmony and ecological solidarity can serve as an alternative epistemology for justice-oriented development. Critical eco-spirituality thus offers a new theological paradigm capable of strengthening inclusive and participatory socio-political agrarian praxis while affirming the cultural autonomy of Indigenous communities in the face of modern hegemonic pressures.
Sweron as a Model for Integral Ecological Education in Papua: a Contextual Theological Study Yulko, Yulianus Korain; Bame, Athanasius; Wijanarko, Robertus
Journal of Asian Orientation in Theology Vol 8, No 1 (2026): Journal of Asian Orientation in Theology
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jaot.v8i1.13999

Abstract

This study examines Sweron as a model of integral ecological education in Papua: a contextual theological study. Sweron is a tradition of local wisdom passed down from generation to generation by the Papuan people, especially the Maybrat tribe, which functions as an ecological, social and spiritual mechanism in maintaining a harmonious relationship between humans, nature and God. This study aims to analyse the theological meaning of Sweron and its relevance as a model of integral ecological education amid the global ecological crisis. This study uses Gadamer's hermeneutic phenomenology method. Gadamer emphasises that hermeneutics is not merely a method for interpreting texts, but rather a philosophy of understanding rooted in dialogue between the interpreter and the interpreted reality. Understanding occurs through a process of fusion of horizons, namely the horizon of the researcher and the horizon of the text/subject. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, document study, documentation, and focused discussions with the community, traditional leaders, and those with a sufficient understanding of Sweron.Data analysis was carried out by combining three main frameworks: first, contextual theology, which views Sweron as a locus theologicus; second, Laudato Si' integral ecology, which emphasises the interconnectedness of the ecological, social, and spiritual dimensions; third, religion-nature-culture, which interprets Sweron as a form of ecological spirituality. The results of the study show that Sweron not only functions as a tradition-based environmental management system, but also contains theological values that affirm humanity's moral responsibility towards nature as God's creation. Sweron represents a model of integral ecology education that is holistic, contextual, and transformative, as a form of respect for nature that needs to be studied ecotheologically. This research contributes to the development of Sweron-based eco-theology by offering a new perspective for the Indonesian eco-theological discourse and enriching the dialogue between ecology, theology and culture in a sustainable manner.