Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hubungan Paparan Asap Batu Bata dan Karakteristik Individu Pekerja Terhadap Kapasitas Paru Aditya Yudhi Aditama; Nur Isnaini
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i1.375

Abstract

Latar Belakang: Industri batu bata menghasilkan asap pembakaran yang mengandung zat berbahaya dan dapat mengganggu kesehatan pernapasan pekerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan asap dan keluhan pernapasan dengan kapasitas paru pada pekerja industri batu bata di Kecamatan Kemangkon. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan pada Juli 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran kapasitas paru menggunakan Peak Flow Meter. Hasil: penelitian menunjukkan sebagian besar pekerja terpapar asap selama 5–8 jam per hari (79,2%), dengan mayoritas mengalami gangguan kapasitas paru berat (67,5%). Uji Chi-square menunjukkan bahwa lama paparan asap tidak berhubungan signifikan dengan kapasitas paru (p=0,895), sedangkan keluhan pernapasan seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, dan dahak berlebih berhubungan signifikan dengan penurunan kapasitas paru (p<0,05). Kesimpulan: bahwa keluhan pernapasan memiliki hubungan bermakna dengan kapasitas paru pekerja batu bata, sementara lama paparan asap tidak berpengaruh signifikan.
HUBUNGAN LENGTH OF STAY (LOS) DENGAN TINGKAT STRESS PADA PASIEN DEWASA Naura Aryani; Nur Isnaini
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57109

Abstract

Length of Stay (LOS) merupakan salah satu indikator penting dalam menilai efisiensi dan kualitas pelayanan rumah sakit karena dapat menggambarkan keberhasilan proses perawatan pasien selama menjalani rawat inap. Selama masa perawatan, pasien dewasa dapat mengalami stres yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi penyakit, lingkungan rumah sakit, prosedur medis, serta keterbatasan aktivitas selama dirawat. Namun, hubungan antara lama rawat inap dengan tingkat stres pasien masih menunjukkan hasil yang belum konsisten pada berbagai penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Length of Stay (LOS) dengan tingkat stres pada pasien dewasa di Rumah Sakit Islam Purwokerto. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 54 pasien dewasa yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data tingkat stres dikumpulkan menggunakan kuesioner DASS-42, sedangkan data lama rawat inap diperoleh dari rekam medis pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki LOS pendek (1–3 hari) sebesar 83,3% dan tingkat stres normal sebesar 79,6%. Hasil uji statistik memperoleh nilai p-value 0,974 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Length of Stay dengan tingkat stres pada pasien dewasa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lain seperti kondisi penyakit, dukungan sosial, dan karakteristik individu diduga lebih berpengaruh terhadap tingkat stres pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Perbandingan Efektivitas Teh Muntingia Calabura L. dan Teh Moringa Oleifera Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 Meli Selsa Agustin; Tina Muzaenah; Nur Isnaini; Mustiah Yulistiani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62033

Abstract

Diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh resistensi insulin dan penurunan sekresi insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Pemanfaatan terapi herbal sebagai pendamping pengobatan medis berpotensi membantu mengendalikan kadar glukosa darah karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas teh Muntingia calabura L. (daun kersen) dan teh Moringa oleifera (daun kelor) dalam menurunkan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental comparative pretest-posttest. Sebanyak 60 responden dipilih menggunakan teknik non-probability purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok. Instrumen penelitian meliputi glukometer, SOP pembuatan teh, serta lembar pemantauan kepatuhan intervensi dan asupan makan harian. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis teh mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p=0,001; p<0,005). Namun, rata-rata penurunan kadar glukosa darah pada kelompok teh daun kersen lebih besar, yaitu 82,10 mg/dL, dibandingkan kelompok teh daun kelor sebesar 26,83 mg/dL. Uji Mann–Whitney menunjukkan adanya perbedaan efektivitas yang signifikan antarkelompok, sehingga teh daun kersen lebih efektif sebagai terapi herbal pendamping untuk membantu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe 2.
Analysis of the Schellong Test Measurement as a Screening Method for Orthostatic Disorders in Patients with Hypertension Nur Isnaini; Meida Laely Ramdani; Nurul Fatwati Fitriana
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 19 No. 2 (2026): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v19i2.14073

Abstract

The autonomic nervous system, cardiovascular system, and neurohormonal responses play complex roles in maintaining blood pressure stability. Disruption of these compensatory mechanisms may result in abnormal blood pressure fluctuations, either an increase or a decrease. This study aimed to evaluate the Schellong test as a screening method to identify orthostatic abnormalities in patients with hypertension. A quantitative observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. A total of 98 respondents were recruited from eight different locations using cluster random sampling. Participants were aged ≥40 years, had blood pressure >140/90 mmHg, had been diagnosed with hypertension for at least six months, were able to stand independently, and provided informed consent. Most respondents were pre-elderly (62.2%), female (85.7%), had Primary level education (92.9%), and were unemployed (68.4%). Approximately 51% were taking antihypertensive medication, 18.4% had a smoking history, and 50% had a family history of hypertension. Diastolic blood pressure was predominantly grade I (66.3%), while systolic blood pressure was mostly grade II (53.1%). Based on the Schellong test, 20 participants were classified in the normal zone, 23 in Zone 2 (asymptotonic hypotonic reaction), and 55 in Zone 1 (hypertonic reaction). These findings highlight the importance of assessing hemodynamic adaptation to postural changes from supine to standing positions to reduce the risk of falls and cardiovascular complications in patients with hypertension.