Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Teori Dan Metode Perancangan Le Corbusier Luthfiah
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 4 No 1 Maret (2012): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v4i1 Maret.147

Abstract

Teori dan metoda seorang arsitek dalam merancang karya-karyanya, dapat dipahami dengan menelaah tentang biografi arsitek tersebut untuk mengetahui latar arsitekturnya, mendengar atau membaca pernyataan-pernyataan arsitek tersebut tentang apa yang menjadi dasar perancangannya, serta membedah karya-karya arsitek tersebut untuk mengetahui hal-hal fundamental dalam setiap karya-karyanya. Ketiga metoda ini akan digunakan untuk mengetahui dan memahami teori, metoda dan aplikasi dari seorang arsitek Ada tiga dasar yang digunakan Le Corbusier dalam merancang karyanya, yaitu: Nature & Natural Light, Scale & Geometry dan Movement. Untuk menerjemahkan “Nature & Natural Light” dalam rancangan, Le Corbusier selalu mempelajari Kondisi site sebelum memulai desainnya. Dalam setiap rancangannya Le Corbusier berorientasi pada lingkungan antara lain aspek iklim. Dalam hal ini iklim dipandangnya sebagai data yang tidak pernah berubah.(Sumalyo; 1997) [6]. Untuk menerjemahkan “Scale & Geometry” Le Corbusier selalu mempertimbangkan proporsi dalam desainnya. Dengan mengembangkan sistem perhitungan dimensi proporsi yang didasarkan pada skala manusia yang dikenal dengan sistem Modulor. Konsep teori “Movement” atau pergerakan Le Corbusier selalu menciptakan kesan perjalanan dalam setiap desainnya baik berupa perjalanan waktu yang akan menyetukan ruang dalam dan ruang luar dari setiap karya desainnya yang dapat dilihat dengan pergerakan sinar matahari ataupun pergerakan manusianya sendiri.
RESILIENSI ARSITEKTUR MASJID PASCA-BENCANA : KAJIAN PERAN MASJID SEBAGAI PUSAT MITIGASI BENCANA DI KOTA PALU Salenda, Hariyadi; M, Munarsi; Malik, Sutrati Melissa; Luthfiah; Irfandi; Syahrullah, M. Rachmat Syahrullah
Teknosia Vol. 19 No. 02 (2025): Vol. 19 No. 02 (2025): December 2025
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/teknosia.v19i02.44936

Abstract

Palu City is one of the areas with a high level of disaster risk, particularly earthquakes, tsunamis, and liquefaction. The disaster on September 28, 2018, revealed that mosques, besides functioning as places of worship, also play a crucial role in social life and serve as emergency shelters. This study aims to examine the potential of mosques as disaster mitigation centers by assessing community emotional attachment, accessibility, supporting facilities, as well as building design and safety. A mixed-method approach was employed through in-depth interviews and Likert-scale surveys with six respondents who were survivors sheltered in the Baiturrahim Grand Mosque, Palu. The findings indicate that the community’s social and emotional attachment to mosques is very strong, yet significant weaknesses remain in emergency facilities and evacuation signage. Meanwhile, the mosque structure is perceived as relatively strong and ready to serve as a temporary shelter. These results highlight the importance of strengthening the technical capacity of mosques through the provision of emergency facilities, basic logistics, and clear information systems, so that their role as disaster mitigation centers can be more effective in the future.