Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP TINDAKAN TIDAK AMAN PADA PEKERJA WORKSHOP DI PT BUKAKA TEKNIK UTAMA BALIKPAPAN Fuadi, Yan; Swandito, Adji; Rusba , Komeyni; Fadillah , Nur
IDENTIFIKASI Vol 8 No 2 (2022): IDENTIFIKASI
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v8i2.242

Abstract

Bukaka Teknik Utama Balikpapan was founded on November 21, 2000 with a temporary office on Jl. Milono Gunung Sari Village - Central Balikpapan is a business unit of PT. Bukaka Teknik Utama which is engaged in Engineering, Fabrication, Construction Offshore & Onshore and Maintenance Services. In 2005 PT. Bukaka Teknik Utama Balikpapan Branch established an office & workshop on Jl Mulawarman KM 21 Manggar - East Balikpapan. This company has a workforce of 711 people. So many potential hazards that can occur during remanufacturing work. Based on the PPS finding data that has been carried out in the last 3 months, the washing engine area is in first place with the most findings, namely five unsafe behaviors. The five unsafe behaviors include positioning and body movement, risk of un-ergonomic positions, not using PPE, holding objects and reaching and grabbing objects. Of the 55 samples of the knowledge level of PT Bukaka Teknik Utama Workshop workers in the high category, there were 49 workers (89.1%). And the results of research on workers' knowledge of unsafe behavior have a strong relationship. In the unsafe actions of workers, the most dominant category was the safe category, namely 51 respondents (93%).
PENGUKURAN KEBISINGAN AREA PRODUKSI BATCHING PLANT PADA PT. BALIKPAPAN READY MIX DI BALIKPAPAN Swandito, Adji; Rusba, Komeyni; Antika, Sri Dewi
IDENTIFIKASI Vol 11 No 4 (2025): November 2025
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v11i4.748

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu faktor risiko fisik yang umum dijumpai di lingkungan industri, termasuk di area produksi batching plant. Paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dapat berdampak negatif terhadap keselamatan dan kesehatan kerja seperti gangguan pendengaran, stres, dan penurunan konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan di area produksi batching plant PT. Balikpapan Ready Mix serta persepsi pekerja terhadap kebisingan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, serta pengukuran menggunakan Sound Level Meter (SLM) di empat titik: hopper, weight hopper, mixer, dan conveyor. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dua dari empat titik melebihi NAB sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018, yakni di titik mixer (96,7 dBA) dan conveyor (95,0 dBA). Dari hasil wawancara terhadap 10 pekerja, mayoritas menyatakan terganggu oleh suara mesin yang menghambat komunikasi dan menyebabkan ketidaknyamanan saat bekerja. Temuan ini diharapkan menjadi dasar evaluasi dan perbaikan sistem pengendalian kebisingan di perusahaan.
PENGUKURAN KEBISINGAN AREA PRODUKSI BATCHING PLANT PADA PT. BALIKPAPAN READY MIX DI BALIKPAPAN Swandito, Adji; Antika, Sri Dewi
IDENTIFIKASI Vol 11 No 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v11i3.786

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu faktor risiko fisik yang umum dijumpai di lingkungan industri, termasuk di area produksi batching plant. Paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dapat berdampak negatif terhadap keselamatan dan kesehatan kerja seperti gangguan pendengaran, stres, dan penurunan konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan di area produksi batching plant PT. Balikpapan Ready Mix serta persepsi pekerja terhadap kebisingan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, serta pengukuran menggunakan Sound Level Meter (SLM) di empat titik: hopper, weight hopper, mixer, dan conveyor. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dua dari empat titik melebihi NAB sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018, yakni di titik mixer (96,7 dBA) dan conveyor (95,0 dBA). Dari hasil wawancara terhadap 10 pekerja, mayoritas menyatakan terganggu oleh suara mesin yang menghambat komunikasi dan menyebabkan ketidaknyamanan saat bekerja. Temuan ini diharapkan menjadi dasar evaluasi dan perbaikan sistem pengendalian kebisingan di perusahaan.
ANALISIS POTENSI BAHAYA DAN RISIKO PADA BIDANG PEMELIHARAAN JARINGAN DI PT. PLN (PERSERO) UP3 BALIKPAPAN Swandito, Adji; Wulandari, Seftiana; Siboro, Impol
IDENTIFIKASI Vol 12 No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i1.828

Abstract

Kontak dengan listrik merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan kerja yang berakibat fatal, khususnya pada sektor ketenagalistrikan. Aktivitas pemeliharaan jaringan memiliki tingkat risiko tinggi karena melibatkan pekerjaan di ketinggian serta berhubungan langsung dengan aliran listrik bertegangan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi bahaya dan risiko pada pekerjaan pemeliharaan jaringan di PT PLN (Persero) UP3 Balikpapan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan metode Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC) untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menentukan langkah pengendalian yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan dari 16 risiko yang dianalisis, terdapat 6,3% kategori low risk, 37,5% moderate risk, 25% high risk, dan 31,3% extreme risk. Potensi bahaya yang ditemukan meliputi bahaya fisik, biologi, dan ergonomi. Meskipun dokumen HIRARC tersedia, implementasinya belum optimal karena adanya ketidaksesuaian prosedur kerja, penggunaan APD yang tidak konsisten, serta kurangnya pengawasan lapangan. Penelitian ini menghasilkan dokumen HIRARC yang diperbarui dan rekomendasi monitoring serta evaluasi untuk meningkatkan efektivitas pengendalian risiko. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkuat sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang lebih berkelanjutan di lingkungan kerja PT PLN (Persero) UP3 Balikpapan.
ANALISIS SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN AKTIF DI GEDUNG ANGGREK HITAM RSUD dr. KANUJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN Solihin, Wahyu Jabar; Hardiyono, Hardiyono; Swandito, Adji
IDENTIFIKASI Vol 12 No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i1.1221

Abstract

Keselamatan kebakaran di rumah sakit merupakan aspek kritis mengingat kompleksitas bangunan, keberadaan pasien dengan mobilitas terbatas, serta penggunaan peralatan medis dan bahan kimia yang rentan terhadap kebakaran. Permenaker No. 02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran menjadi regulasi utama di Indonesia yang mengatur standar teknis sistem alarm, termasuk persyaratan detektor, suara alarm, dan pemeliharaan. Namun, implementasinya di banyak rumah sakit seringkali menghadapi kendala seperti keterbatasan anggaran, teknologi yang tidak terbaru, dan kurangnya kesadaran sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian instalasi alarm kebakaran di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan dengan regulasi tersebut serta mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung dalam penerapannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan . Data dikumpulkan melalui: Observasi lapangan instalasi alarm di setiap lantai. Wawancara mendalam dengan 3 narasumber (HSE Officer , Staff Engineering, dan Staff administrasi). Tinjauan dokumen (laporan inspeksi, sertifikat alat, dan kebijakan internal RS). Analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi dan pembandingan terhadap 5 pasal kunci dalam Permenaker No. 02/MEN/1983, khususnya terkait cakupan alarm (Pasal 2), sumber listrik darurat (Pasal 3), dan frekuensi pemeliharaan (Pasal 5). Temuan penelitian menunjukkan bahwa: Kalibrasi alarm hanya dilakukan 1 kali/tahun, tidak memenuhi rekomendasi Permenaker (6 bulan sekali).
PENERAPAN SISTEM TANGGAP DARURAT KEBAKARAN UNTUK MENINGKATKAN KESELAMATAN KERJA DI PT. BALIKPAPAN READY MIX PILE Ghani, Muhammad Abdul; Hardiyono, Hardiyono; Swandito, Adji
IDENTIFIKASI Vol 12 No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i1.1265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesesuaian penerapan sistem tanggap darurat kebakaran dalam upaya meningkatkan keselamatan kerja di PT. Balikpapan Ready Mix Pile. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kualitatif melalui observasi dan penyebaran kuesioner kepada 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sistem proteksi aktif, APAR memiliki tingkat kesesuaian 100%, sementara detektor asap hanya 33% dan sistem hydrant serta sprinkler belum tersedia sama sekali. Untuk sistem proteksi pasif, tingkat kesesuaian sebesar 40%, menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penjalaran api masih rendah. Sarana penyelamatan jiwa seperti jalur evakuasi, rambu, tangga darurat, dan titik kumpul telah tersedia dengan tingkat kesesuaian 80%, meskipun masih ditemukan kekurangan teknis seperti arah ayunan pintu dan minimnya pemeliharaan tangga. Hasil kuesioner memperkuat temuan ini, di mana mayoritas responden menunjukkan persepsi positif terhadap sistem yang ada, dengan 62% memilih “Setuju” dan 17% “Sangat Setuju”. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem tanggap darurat kebakaran di perusahaan telah diterapkan cukup baik pada beberapa aspek, namun masih perlu ditingkatkan terutama pada instalasi proteksi otomatis dan infrastruktur tahan api guna memastikan keselamatan kerja yang sesuai.