Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Persepsi Lingkungan Kerja Fisik terhadap Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Karyawan Lapangan PT Antang Gunung Meratus Rahmawati, Ade; Dewi, Rooswita Santia; Tanau, Meydisa Utami
Jurnal Kognisia Vol 3, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jk.v3i1.1450

Abstract

Teknik penelitian menggunakan teknik sampel jenuh dengan subjek penelitian berjumlah sebanyak 30 orang karyawan pekerja tambang yang bertugas di bagian lapangan yaitu divisi CPP Hauling. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil t hitung > t tabel (4,660 > 1.70113) dan signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel persepsi lingkungan kerja fisik dengan variabel kesehatan & keselamatan kerja fisik pada karyawan lapangan PT Antang Gunung Meratus diterima. Koefisien determinasi menunjukkan pengaruh persepsi lingkungan kerja fisik terhadap kesehatan & keselamatan kerja sebesar 43,7% sedangkan 56,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak disertakan dalam penelitian ini.
EFEKTIVITAS INTERVENSI PSIKOLOGI KOMPREHENSIF BERBASIS ACCEPTENCE AND COMMITMENT THERAPY UNTUK MENINGKATKAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING Radhiyyah, Nabilah Farah; Tanau, Meydisa Utami; Yuserina, Firdha
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 17 No. 1 (2025): JIP: Jurnal Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol17.iss1.art3

Abstract

ABSTRAK: Data statistik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Selatan tahun 2022 menunjukkan terdapat sedikitnya 678 korban penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi psikologi komprehensif berbasis ACT terhadap peningkatan kesejahteraan psikologis melalui peningkatan pemahaman dan komitmen untuk tidak menggunakan narkoba. Penelitian yang dilakukan melalui pendekatan kuantitatif melibatkan partisipan sebanyak 16 warga bina Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A Karang Intan, Banjarbaru. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling meliputi kriteria usia 21-27 tahun, menjalani 2/3 masa tahanan, serta sisa masa tahanan 5 tahun ke bawah. Hasil uji Paired Sample T-test diperoleh bahwa intervensi psikologi komprehensif berbasis ACT tidak signifikan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa psikoedukasi menurunkan secara signifikan terhadap pemahaman materi dan meningkatkan secara signifikan pada komitmen untuk tidak menggunakan narkoba. Kata kunci: Acceptance and Commitment Therapy, kesejahteraan psikologis, konseling kelompok, psikoedukasi. ABSTRACT: According to the 2022 statistics from the South Kalimantan Provincial National Narcotics Agency (BNNP), at least 678 individuals were identified as drug abuse victims. This study aimed to examine the effect of a comprehensive ACT-based psychological intervention on improving psychological well-being through increased understanding and commitment to abstain from drug use. Using a quantitative approach, the study involved 16 Class II A Karang Intan Narcotics Correctional Facility inmates in Banjarbaru, selected through purposive sampling. Inclusion criteria included ages 21–27, having served two-thirds of their sentence, and a remaining sentence of less than five years. Paired sample t-test results showed that the ACT-based intervention did not significantly affect psychological well-being. However, psychoeducation significantly increased understanding of the material and commitment to refrain from drug use. Key words: Acceptance and Commitment Therapy, psychological well-being, group counseling, psychoeducation.
EFEKTIVITAS INTERVENSI PSIKOLOGI KOMPREHENSIF BERBASIS ACCEPTENCE AND COMMITMENT THERAPY UNTUK MENINGKATKAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING Radhiyyah, Nabilah Farah; Tanau, Meydisa Utami; Yuserina, Firdha
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 17 No. 1 (2025): JIP: Jurnal Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol17.iss1.art3

Abstract

ABSTRAK: Data statistik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Selatan tahun 2022 menunjukkan terdapat sedikitnya 678 korban penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi psikologi komprehensif berbasis ACT terhadap peningkatan kesejahteraan psikologis melalui peningkatan pemahaman dan komitmen untuk tidak menggunakan narkoba. Penelitian yang dilakukan melalui pendekatan kuantitatif melibatkan partisipan sebanyak 16 warga bina Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A Karang Intan, Banjarbaru. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling meliputi kriteria usia 21-27 tahun, menjalani 2/3 masa tahanan, serta sisa masa tahanan 5 tahun ke bawah. Hasil uji Paired Sample T-test diperoleh bahwa intervensi psikologi komprehensif berbasis ACT tidak signifikan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa psikoedukasi menurunkan secara signifikan terhadap pemahaman materi dan meningkatkan secara signifikan pada komitmen untuk tidak menggunakan narkoba. Kata kunci: Acceptance and Commitment Therapy, kesejahteraan psikologis, konseling kelompok, psikoedukasi. ABSTRACT: According to the 2022 statistics from the South Kalimantan Provincial National Narcotics Agency (BNNP), at least 678 individuals were identified as drug abuse victims. This study aimed to examine the effect of a comprehensive ACT-based psychological intervention on improving psychological well-being through increased understanding and commitment to abstain from drug use. Using a quantitative approach, the study involved 16 Class II A Karang Intan Narcotics Correctional Facility inmates in Banjarbaru, selected through purposive sampling. Inclusion criteria included ages 21–27, having served two-thirds of their sentence, and a remaining sentence of less than five years. Paired sample t-test results showed that the ACT-based intervention did not significantly affect psychological well-being. However, psychoeducation significantly increased understanding of the material and commitment to refrain from drug use. Key words: Acceptance and Commitment Therapy, psychological well-being, group counseling, psychoeducation.
Analysis of Empathy Aspect Achievement in Reflective Narrative History Learning for Achieving 21st Century Competencies Susanto, Heri; Utami, Nurul Hidayati; Tanau, Meydisa Utami
Journal of Educational Sciences Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.10.1.p.803-819

Abstract

Empathy is vital for overcoming global challenges, such as humanitarian emergencies, political conflicts, violence, and other behavioral issues. Behaviors that reflect a lack of empathy include bullying, corruption, intolerance, radicalism, and violence—actions rooted in failing to consider others' perspectives. Between 2011 and 2019, the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) received at least 37,381 bullying reports. Empathy indicates achievement of 21st-century competencies, namely critical reasoning, creativity, communication, and collaboration. Low empathy undermines efforts to build communication and collaboration skills. This study develops reflective narrative history learning to enhance empathy and 21st-century skills. Using the Research & Development (R&D) method and the 4-D instructional development model (Define, Design, Develop, Disseminate), 21 history teachers and 1,000 high school students in Banjarmasin City participated. Data were collected through interviews, a learning preferences questionnaire, and the Interpersonal Reactivity Index (IRI) to gauge students' empathy levels. Qualitative data were analyzed interactively, and quantitative data were analyzed with statistical tests. Results show that reflective narrative history learning effectively develops students' empathic concern.
Technostress and Psychological Well-Being Among Work-From-Anywhere (WFA) Workers in Kalimantan, Indonesia Ramadhina, Novianti Rizky; Fauzia, Rahmi; Tanau, Meydisa Utami
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202614751

Abstract

Work From Anywhere (WFA) arrangements expand geographic flexibility but intensify reliance on information and communication technologies, potentially increasing technostress and undermining psychological well-being. This cross-sectional study examined the association between technostress and psychological well-being among WFA workers in Kalimantan, Indonesia. Using purposive sampling, 171 eligible digital/ICT workers (20–45 years; ≥3 months WFA; >40 hours/week; excluding interns and freelancers) completed an online survey (February–March 2025) including the Technostress Creators Scale and Ryff’s Psychological Well-Being Scale (PWBS). Participants were predominantly female (55.6%) and worked mainly in IT and digital marketing roles. Assumption checks supported normality and linearity. Simple linear regression showed that technostress was significantly and negatively associated with psychological well-being (B = −0.873, SE = 0.092, β = −0.591, t = −9.628, p < .001). The model was significant, F(1, 169) = 92.70, and explained 34.9% of the variance in psychological well-being (R² = .349; adjusted R² = .346). These findings suggest that technology-related demands constitute a substantial correlate of well-being in WFA settings and highlight the need for organizational practices that reduce techno-overload and techno-invasion, strengthen digital support, and protect recovery time. Future research should test mechanisms (e.g., strain and detachment) and incorporate key covariates using longitudinal or diary designs.   Abstrak: Pengaturan kerja Work From Anywhere (WFA) memperluas fleksibilitas geografis, namun meningkatkan ketergantungan pada teknologi informasi dan komunikasi sehingga berpotensi meningkatkan technostress dan menurunkan kesejahteraan psikologis. Studi potong lintang ini menguji hubungan antara technostress dan kesejahteraan psikologis pada pekerja WFA di Kalimantan, Indonesia. Dengan teknik purposive sampling, sebanyak 171 pekerja digital/ICT yang memenuhi kriteria (usia 20–45 tahun; menjalani WFA ≥3 bulan; bekerja >40 jam/minggu; tidak termasuk magang dan pekerja lepas) mengisi survei daring (Februari–Maret 2025) yang mencakup Technostress Creators Scale dan Ryff’s Psychological Well-Being Scale (PWBS). Partisipan didominasi perempuan (55,6%) dan terutama bekerja pada bidang IT serta digital marketing. Pemeriksaan asumsi mendukung normalitas dan linearitas. Regresi linear sederhana menunjukkan bahwa technostress berasosiasi negatif dan signifikan dengan kesejahteraan psikologis (B = −0,873, SE = 0,092, β = −0,591, t = −9,628, p < 0,001). Model signifikan, F(1,169) = 92,70, dan menjelaskan 34,9% variasi kesejahteraan psikologis (R² = 0,349; adjusted R² = 0,346). Temuan ini menunjukkan bahwa tuntutan terkait teknologi merupakan korelat substansial bagi kesejahteraan dalam konteks WFA, serta menegaskan perlunya praktik organisasi untuk menurunkan techno-overload dan techno-invasion, memperkuat dukungan digital, dan melindungi waktu pemulihan. Riset selanjutnya perlu menguji mekanisme (mis. strain dan detachment) serta memasukkan kovariat kunci melalui desain longitudinal atau diary.