Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

KAJIAN PENGGUNAAN RUANG DAN WAKTU RUSA TOTOL (AXIS AXIS ) DI LINGKUNGAN ISTANA BOGOR JAWA BARAT Study of Spatial Use and Time of Deer (Axis axis) in Bogor Palace Environment. West Java Andi Chairil Ichsan
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2181.634 KB) | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5106

Abstract

Deer totol (Axis axis) is an animal that has high economic potential because it can produce meat, skin, and velvet (young horn). Observations on the daily behavior and spacing use of deer are one of the sequences representing a process for determining a sustainable management strategy in one area such as the tamper deer manipulation habitat within the Bogor Palace. Thus, this study aims to understand the pattern of space and time utilization of Deer Totol in the habitat of manipulation with various types of space contained in Bogor palace environment. Results of this study indicate that from all observation periods, it can be concluded that the daily activity of deer totol average concentrated on habitat type under shade compared with other habitat types, in addition, spotted deer activity is highest in the afternoon (16:00 to 6:00 p.m.), with the type of eating and moving activities. There is no relationship between spatial use and time-based activity with deer totol sex.Keywords: Deer Totol; Bogor Palace; BehaviorRusa totol (Axis axis )termasuk satwa yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, karena dapat memproduksi daging, kulit, dan velvet (tanduk muda). Pengamatan tentang perilaku harian dan penggunaan ruang pada rusa totol merupakan  salah satu rangkaian yang merepresentasikan proses untuk menentukan strategi pengelolaan yang berkelanjutan dalam satu kawasan seperti pada  habitat manipulasi rusa totol di lingkungan Instana Bogor. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memahami pola pemanfaatan ruang dan waktu Rusa Totol pada habitat manipulasi dengan berbagai tipe ruang yang terdapat pada lingkungan istana Bogor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari seluruh periode pengamatan, dapat disimpulkan bahwa aktivitas harian rusa totol rata-rata terkonsentrasi  pada tipe habitat dibawah naungan dibandingkan dengan tipe habitat lainnya, selain itu, aktivitas tertinggi rusa totol terjadi pada sore menjelang malam (16.0018.00), dengan jenis aktivitas makan dan bergerak.Tidak terdapat hubungan antara pemanfaatan ruang dan pemanfaatan waktu berdasarkan aktivitas dengan jenis kelamin rusa totol.Kata Kunci : Rusa totol; Istana Bogor; Perilaku
PENILAIAN KINERJA PEMBANGUNAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG (KPHL) RINJANI BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Andi Chairil Ichsan; Indra Gumay Febryano
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.245 KB) | DOI: 10.20527/jht.v3i2.1528

Abstract

Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Rinjani Barat mempunyai posisi dan peran penting dalam  mewujudkan  keberhasilan  pengelolaan  sumberdaya  hutan  di  tingkat  tapak.  Namun,  keberhasilan  pengelolaannya  tidak  terlepas  dari  berbagai  dinamika  dan  persoalan,  seperti  masih  tingginya  konflik antara masyarakat dan pemerintah, belum selesainya proses rekonstruksi tata batas, dan belum adanya jaminan keamanan terhadap investasi berbagai pihak di wilayah KPHL tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kinerja KPHL Rinjani Barat dalam pelaksanaan pengelolaan hutan di tingkat tapak dengan menggunakan kriteria dan indikator dari Forest Watch Indonesiaversi 1.0. Hasil penilaian menunjukkan ratarata keseluruhan dari kriteria yang dinilai berada pada rentang cukup, yang berarti KPH Rinjani sudah cukup siap  untuk  mewujudkan  fungsinya  sebagai  unit  pengelola  hutan  di  tingkat  tapak.  Beberapa  kriteria  perlu menjadi perhatian, yaitu kemantapan kawasan, rencana kelola, dan mekanisme investasi, sehingga harus diperkuat untuk menjamin operasionalisasi KPHL di tingkat tapak.Kata Kunci: Hutan Lindung, Kinerja, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung
ANALISIS KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) SENARU DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PARTISIPATIF Andi Chairil Ichsan; RF Silamon; H. Anwar; B. Setiawan
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1541

Abstract

Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Senaru seluas ±225 Ha yang berlokasi di Desa Senaru, Kabupaten Lombok Utara merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai Hutan Pendidikan dibawah pengelolaan Universitas Mataram. Kawasan ini dipersiapkan untuk dapat melayani berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.  Penelitian ini bertujuan; (1) Untuk mengetahui sejarah penggunaan lahan di Kawasan KHDTK Senaru. (2) mengetahui tingkat kesejahteraan dan bentuk penghidupan masyarakat dikawasan KHDTK Senaru. (3) mengetahui pola interaksi masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan KHDTK Senaru.  Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Rezim pengelolaan kawasan hutan senaru, secara umum dibagi kedalam empat fase, meliputi rezim pengelolaan oleh masyarakat adat, rezim pemerintah, rezim pengusaha, dan Rezim perguruan tinggi. Mayoritas sumber penghidupan masyarakat desa senaru terletak pada sector pertanian kemudian di ikuti oleh sektor-sektor lainnya. sebagian besar masyarakat senaru juga masih termasuk dalam kategori miskin. Masyarakat desa senaru secara tidak lansung menggunakan pendekatan agroforestry dalam mengelola lahan garapan mereka, yang mengabungkan antara tanaman hutan dengan tanaman MPTS yang lebih produktif.Kata Kunci : Hutan, Masyarakat, Partisipatif
ANALISIS ATURAN PENGELOLAAN PROGRAM MODEL DESA KONSERVASI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI Andi Chairil Ichsan
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i2.7306

Abstract

This study aims to provide an overview of the rules used in the management of the conservation village model program in TNGR which has implications for the mechanism of regulating community rights in national park management. This research was designed using a case study approach. Research data was collected through several data collection instruments such as field observations, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature studies. The results of this study indicate that changes in the control of rights over resources that are not well socialized and the unclear regulation of community rights in the use of resources in the implementation of MDK, have implications for the multi-interpretation of the rules of implementing MDK that causes MDK cannot become powerful social control tools. This study proves that although legally the management of national parks has high authority through the regulatory mandate inherent in its management system, it cannot be fully used as an effective instrument in controlling the actions of other parties towards the area. On the other hand, complex regulatory mechanisms at the constitutional level do not guarantee the effectiveness of program implementation in the field, if the regulation structure does not function as an incentive and runs simultaneously at all levels of regulation.
ANALISIS FINANSIALPOLA PENGGUNAAN LAHAN MANGROVE Indra Gumay Febryano; ML Salampessy ML Salampessy; Andi Chairil Ichsan; C Asmarahman C Asmarahman; Riba’i Riba’i
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i3.2251

Abstract

Perluasan budidaya perikanan di daerah pesisir telah menjadi penyebab utama deforestasi mangrove. Hal tersebut telah berlangsung dalam skala masif dan berdampak terhadap aspek-aspek sosial, ekonomi, dan ekologi di daerah pesisir. Penelitian  ini  bertujuan  untuk menjelaskan nilai sumberdaya mangrove melalui kajian analisis finansial  dari beberapa pola penggunaan lahan mangrove. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa pola penggunaan lahan mangrove yang terdapat di Kabupaten Pesawaran, yaitu: tambak udang intensif, pembibitan mangrove, dan ekowisata, secara finansial layak untuk diusahakan. Nilai pola penggunaan lahan mangrove yang tinggi bila diusahakan menjadi tambak udang intensif dibandingkan pola lainnya dapat menjelaskan mengapa pengusaha memiliki kepentingan tinggi untuk menguasai sumberdaya mangrove tersebut. Bila tambak udang intensif memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya, serta pembibitan mangrove yang terkendala oleh pemasaran, maka ekowisata memiliki potensi besar dalam perlindungan mangrove beserta keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya dan pemberdayaan masyarakat setempat.The expansion of aquaculture in coastal areas has become a major cause of mangroves deforestation. That has been taking place on a massive scale and impact on the social, economics, and ecology aspects in coastal areas. This study aims to explain the value of mangrove resources through the study of the financial analysis of some mangrove land use patterns. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The results showed that some landuse patterns of mangrove in Pesawaran Regency are intensive shrimp farming, mangrove nursery, and ecotourism that financially feasible to be developed. The high value of landuse patterns for intensive shrimp ponds created a high interest on the bussinesmen to own the mangrove. When intensive shrimp farms have a negative impact to the environment and its surrounding communities, also the constrain of mangrove nursery by market, then ecotourism gives great potential to mangrove protection and its biodiversity along the empowerment of local communities.