Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

TRADISI WELASAN SEBAGAI MEDIA KECERDASAN SPIRITUAL DAN SOSIAL DI MASYARAKAT Salim, Luthfi; astuti, yuliana Widi; Sani, Nisvi
Socio Religia Vol. 4 No. 1 (2023): Socio Religia
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/sr.v4i1.16836

Abstract

Agama dan tradisi dapat hidup berdampingan yang saling mempengaruhi, karena memiliki nilai dan simbol. Agama merupakan sistem kepercayaan yang dilambangkan nilai ketaan kepada Tuhan. Tradisi merupakan sebuah kebiasaan yang diulang-ulang kegenerasi yang menjadikan sistem dalam kehidupan. Tradisi welasan pada konteks ini adalah bentuk ritual keagamaan berupa amalan-amalan dari para leluhur yang menceritakan Kisah Syekh Abdul Qodir AL-Jaelani dalam bermahabbah kepada Rosulullah. Agama pada tradisi welasan memiliki pengaruh dalam tatanan kehidupan, karena agama tanpa tradisi hanyalah kolektivitas yang tidak akan mendapatkan tempat atau berkembang sebagai agama pribadi. Studi ini bertujuan menjelaskan bagaimana tradisi welasan dalam membentuk kecerdasan spritual dan sosial pada masyarakat. Metode dalam studi ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data berupa observasi dimana peneliti mengamati secara langsung dilapangan, wawancara mendalam yang dimana peneliti berkomunikasi secara verbal dalam bentuk percakapan untuk memperoleh gambaran umum deskripsi lokasi penelitian. Dalam wawancara yang digunakan kepada informan menggunakan teknik purposive sampling, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi welasan memberikan kontribusi yang sangat baik dalam kehidupan sosial dan keagamaannya karena memiliki kecerdasan sosial dan spritual seperti menciptakan kerukunan, kepedulian, saling empati, serta memiliki wujud ketentraman hati dan jiwa, yang menjadikan masyarakat memiliki nilai-nilai kesalehan sosial.
Dramaturgi Instagram dan Perilaku Sosial Keagamaan Mahasiswa Mariati, Mariati; Salim, Luthfi
Socio Religia Vol. 4 No. 2 (2023): Socio Religia
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/sr.v4i2.20557

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak penggunaan Dramaturgi Instagram terhadap perilaku sosial keagamaan mahasiswa di era digital. Platform media sosial, terutama Instagram, telah menjadi panggung virtual di mana mahasiswa memainkan peran-peran sosial mereka, termasuk dalam konteks identitas keagamaan. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa menggunakan Instagram untuk membentuk, mengekspresikan, dan mengelola identitas keagamaan mereka, serta dampaknya terhadap interaksi sosial dan persepsi keagamaan.Metode penelitian yang digunakan melibatkan analisis konten terhadap akun Instagram mahasiswa yang secara eksplisit mengekspresikan identitas keagamaan mereka. Data yang dianalisis mencakup pemilihan foto, caption, hashtag, dan interaksi sosial. Penelitian ini juga melibatkan wawancara mendalam dengan sejumlah mahasiswa untuk mendapatkan wawasan tentang pengalaman dan pemikiran mereka terkait dramaturgi keagamaan di Instagram.Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan Dramaturgi Instagram secara aktif untuk menciptakan narasi keagamaan yang sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan mereka. Mereka memilih konten yang mencerminkan aktivitas keagamaan, berbagi kutipan agama, dan terlibat dalam interaksi sosial dengan komunitas keagamaan di platform tersebut. Dampak dari dramaturgi keagamaan ini juga mencakup pengaruh terhadap persepsi dan pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai keagamaan
Nilai Sosial dan Keagamaan pada Tradisi Wiwitan di Desa Wonodadi Utara Kecamatan Gadingrejo Salim, luthfi; Badiah, Siti; Ramadan, Helmi Rizki
Socio Religia Vol. 5 No. 1 (2024): Socio Religia
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/sr.v5i1.22275

Abstract

Tradisi Wiwitan merupakan salah satu tradisi leluhur masyarakat petani suku jawa yang dilaksanakan menjelang panen padi, saat padi sudah menguning segera siap panen dan ritual persembahan yang dilakukan oleh masyarakat petani suku Jawa sebagai wujud rasa syukur untuk memperoleh keselamatan serta keberkahan hasil panen yang melimpah. Tradisi tersebut terus dijalankan dari generasi kegenerasi atau sudah menjadi kebiasaan didalam sebuah masyarakat petani suku Jawa sehingga menjadi bagian dari ritual keagamaan yang dilakukan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana eksistensi tradisi Wiwitan di Desa Wonodadi Utara serta bagaimana nilai sosial dan keagamaan pada tradisi Wiwitan di Desa wonodadi Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat di Desa Wonodadi Utara Kecamatan Gadingrejo dengan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan sosiologis. Metode pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling. Kemudian menggunakan metode induktif dalam proses penarikan kesimpulan serta menggunakan teori Struktural Fungsional Talcot Parsons yang didalamnya  terdapat konsep adaptation, goal attainment, integration, dan latency untuk menganalisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sosial dan keagamaan pada tradisi Wiwitan di desa Wonodadi Utara yaitu terdapat enam nilai. Pertama gotong royong. Kedua keharmonisan antar masyarakat. Ketiga solidaritas, dalam tradisi Wiwitan. Keempat kesucian dan ketaqwaan. Kelima keimanan. Keenam keseimbangan dengan alam.Kata Kunci: Tradisi Wiwitan, Nilai Sosial Keagamaan
The Development of Religious Moderation in the Multicultural Community of Sindang Sari Village, Tanjung Bintang District, South Lampung Regency Ruslan, Idrus; Irham, Muhammad Aqil; Salim, Luthfi
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol. 23 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Services - UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/dms.2023.232.14366

Abstract

Multiculturalism is the nature of human life to live side by side, not in conflict. Sindang Sari Village is multicultural because it has various religions and ethnic groups. This potential needs to be managed by instilling valuesabout religious moderation. It does not have to wait for conflict to occur but needs to be done as early as possible as a preventive measure so that undesirable things do not happen. This service method is divided into two groups consisting of religious leaders, elder community leaders and youth leaders. Service provides pre-tests and post-tests to measure people’s understanding of religious moderation and tolerance. The results of the pre-test showed sufficient mutual respect without any social contact. After the service, the results of the post-test show a significant increase in understanding that religious moderation is not only done by respecting each other but by carrying out acts of mutual friendship, cooperation in cooperation, and mutual help.
THE HAUL TRADITION OF THE SUNDA STRAIT TSUNAMI Salim, Luthfi; Hidayat, Wahyu; Setiawan, Agus Mahfuddin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 13 No 01 (2025): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2025.13.01.01-25

Abstract

Tradisi Haul Tsunami Selat Sunda di masyarakat pesisir Lampung Selatan telah menjadi simbol penting rasa syukur atas keselamatan dari bencana dan pengingat akan kasih sayang Tuhan. Namun, penelitian yang mendalam mengenai bagaimana tradisi ini dapat mendukung kesiapsiagaan bencana masih terbatas. Di sini, kami menyoroti potensi tradisi Haul untuk diintegrasikan dengan upaya mitigasi bencana yang lebih formal, melalui edukasi informal, peningkatan kohesi sosial, dan pembangunan ketahanan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam untuk mengeksplorasi peran tradisi Haul dalam membentuk kesadaran masyarakat terhadap ancaman tsunami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Haul tidak hanya memperkuat ikatan komunitas, tetapi juga dapat menjadi media edukasi bencana yang efektif. Tradisi ini, ketika diselaraskan dengan program mitigasi teknis, seperti pelatihan evakuasi atau simulasi bencana, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi literatur kesiapsiagaan bencana, terutama dalam konteks kearifan lokal, dan merekomendasikan agar pembuat kebijakan mempertimbangkan peran tradisi seperti Haul dalam strategi mitigasi bencana nasional
Tradisi Ruwat Bumi Dan Harmonisasi Umat Beragama di Desa Ambarawa Barat Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu Putri, Ayu Melinda; Rosana , Ellya; Salim, Luthfi
RESIPROKAL: Jurnal Riset Sosiologi Progresif Aktual Vol. 6 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Prodi Sosiologi Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/resiprokal.v6i1.458

Abstract

This research aims to examine in depth the ruwat bumi tradition in West Ambarawa village as a form of religious harmony becoming a social norm that is adhered to by all members of the community. The Ruwat Bumi tradition, which is a traditional Javanese ceremony which aims to cleanse the village so that the harvest is abundant, the livestock have lots of children, the merchandise sells well and is kept away from various kinds of disasters is a tradition that has been passed down from ancestors from generation to generation, which turns out to be able to form harmony between people. religious. Community adherence to the Ruwat Bumi tradition makes this tradition a social norm that regulates how people act and behave. The researcher formulated several problem formulations, namely: How can the Ruwat Bumi tradition form the harmonization of religious communities in the village of West Ambarawa? The methodology in this journal uses descriptive qualitative research methods. The data collection method uses three methods, namely observation, interviews and documentation methods. In determining informants to be interviewed, the researcher used a purposive sampling technique where the researcher selected relevant informants to be interviewed according to related themes. The results of the research are that the Ruwat Bumi tradition in forming religious harmony takes several forms (1) cooperation (2) recognition of differences (3) similarities in heterogeneity (4) feelings of mutual belonging (5) consistent social norms that do not change . This is the rule for good behavior in the social life of the people of West Ambarawa village. The application of the norms that exist in the Ruwat Bumi tradition is a big asset for a harmonious and peaceful religious life.
Pelatihan Pembuatan Empek-Empek Sayuran sebagai Pengembangan Potensi Desa dan Pengentasan Stunting di Desa Trirahayu Pesawaran Zarkasi, Ahmad; Salim, Luthfi; Putra, Andi Eka
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.17768

Abstract

ABSTRAK Pemerintah desa memiliki peranan penting dalam strategi pembangunan daerah dan nasiaonal, karna memiliki potensi desa pada sekor pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan dll. Namun, masih terdapat permasalahan dalam pengembangan potensi desa karna, kurangnya aparat desa dan tenaga desa yang memiliki pengetahuan, wawasan dan ketrampilan dalam tata kelola pengelolaan dan pengembangan potensi desa. Untuk mengatasi permasalahan ini pengabdi memberikan pelatian dan pengembangan potensi desa melalui Tata kelola BUMDes dan UMKM. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan Metode Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan PKM sebagai bentuk pembelajaran dalam mengatasi masalah kesadaran akan pemanfaatan potensi desa. Kegiatan ini dilakukan oleh dosen tentang upaya peningkatan tenaga ahli desa dalam mengelola BUMDes dan UMKM sebagai bentuk program kemintraan masyarakat sebagai dalam meningkatkan kemandirian dengan berwirausaha pembuatan empek-empek berbahan sayuran serta dapat mennaggulangi permasalahan stanting. lokasi dan partisipan kegiatan, bahan dan alat, metode pelaksanaan kegiatan, metode pengumpulan data, pengolahan, dan analisis data. Hasil Pengabdian  menunjukkan banyak manfaat salah satunya mengurangi penurunan angka stantig dan menambah lapangan pekerjaan serta menyadarkan masyarakat bahwa mengembangan potensi desa itu sangat penting agar menjadikan desa yang mandiri dan sejahtera. Kata kunci: Pelatihan, Potensi Desa dan Stunting  ABSTRACT The village government has an important role in regional and national development strategies, because it has village potential in the sectors of agriculture, plantations, fisheries, maritime affairs, etc. However, there are still problems in developing village potential due to the lack of village officials and village personnel who have knowledge, insight and skills in governance, management and development of village potential. To overcome this problem, the service provides training and development of village potential through BUMDes and MSME governance. Method implementation of activities This community service uses Method Participatory Action Research (PAR) with a PKM approach as a form of learning in overcoming the problem of awareness of utilizing village potential. This activity was carried out by lecturers regarding efforts to increase village experts in managing BUMDes and MSMEs as a form of community partnership program to increase independence through entrepreneurship in making empek-empek made from vegetables and to overcome the problem of stunting.location and activity participants, materials and tools, methods of carrying out activities, methods of data collection, processing and data analysis.The results of the service showThere are many benefits, one of which is reducing the decline in unemployment rates and increasing employment opportunities as well as making people aware that developing village potential is very important in order to make villages independent and prosperous. Keywords : Training, Village Potential and Stunting
The Role of the Turun Tangan Lampung Community in Empowering Vulnerable Communities through Social Action Oktavia, Destiana; Zarkasi , Ahmad; Salim, Luthfi; Fitria, Vany
Journal of Southern Sociological Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Southern Perspectives in Contemporary Sociology
Publisher : Master's Program in Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Turun Tangan Lampung Community is a volunteer community that focuses on social activities and humanitarian actions for people in need. The Turun Tangan Lampung Community exists as a response to various social problems that have not been optimally addressed in the community, such as limited access to humanitarian assistance, minimal educational support for children, high social inequality and unequal opportunities for vulnerable communities to develop. The purpose of this study is to determine the programs run by the Turun Tangan Lampung Community and to determine the role of the Turun Tangan Lampung Community in building social awareness in vulnerable communities. This study uses a descriptive qualitative research type and uses a psychological and sociological approach. Data analysis was carried out using Max Weber's Social Action theory. The results of the study show that the Turun Tangan Lampung Community runs various programs, including Food Alms, Friday Sharing, Orphanage Assistance, Disaster Care Action, World Kaleidoscope, Milk Distribution, Book Donation, Beach Clean Up, Thousand Trees Project, Trash For Fruit. The role of the Turun Tangan Lampung community in fostering awareness among vulnerable communities includes empowerment, direct assistance, and education and literacy resources. Overall, the approach taken through these programs and roles has had a positive impact on vulnerable communities, improving their quality of life, fostering independence, and strengthening self-confidence.
Evaluasi Efektivitas Kebijakan Pelayanan Sosial Disabilitas Berbasis Network Governance Arista, Sasccanassa; Ba'diah, Siti; Salim, Luthfi; Muslimin, Muslimin
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.70523

Abstract

ABSTRAK Program Pelayanan Sosial Jejaring Masyarakat di Provinsi Lampung sebagai model network governance berbasis kearifan lokal untuk mengoprasionalkan penyandang disabilitas, namun pada pengoprasionalan pelayanan sosial masih jauh dari kata sejahtera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui evaluasi efektifitas kebijakan pelayanan sosial disabilitas berbasis network governance. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sosiologis melalui teknik wawancara dengan pejabat dinas sosial, aparatur lapangn lintas sektor, dan disabilitas beserta keluarga yang meneria manfaat. Hasil penelitian menunjukkan adanya diskoneksi struktural  antara idealisme regulasi makro dan realitas operasional di lapangan. Meskipun program ini berhasil memobilisasi tata kelola network governance yang melibatkan 18 fasilitator untuk menjangkau 100 penerima manfaat, sitem keberlanjutannya lumpuh akibat pemangkasan anggaran lokus daerah secara drastis dari 15 kabupaten menjadi hanya 4 kabupaten pada tahun 2026. Yansos Jejama mengalami reduksi fungsional karena terjebak pada pendekatan medis-karitatif jangka pendek seperti pembagian sembako, obat-obatan, dan alat bantu. Kesimpulan penelitian bantuan material musiman gagal membangun kapasitas kemandirian ekonomi, melainkan membuat stigma kelompok disabilitas sebagai objek santunan. Pasca-kunjungan tim, penyandang disabilitas masih berhadapan dengan stigma struktural, pengucilan sosial, dan diskriminasi fisik di tengah masyarakat. Studi ini berkontribusi mendekonstruksi klaim keberhasilan administratif sepihak, sekaligus menegaskan bahwa efektivitas tata kelola pelayanan publik harus menyentuh dekonstruksi stigma kultural pada tingkat mikro-interaksional masyarakat.Kata Kunci: Evaluasi Kebijakan, Yansos Jejama, Kesejahteraan Sosial, Penyandang Disabilitas, Lampung Timur, Network Governance.ABSTRACT The Community Network Social Services Program in Lampung Province is a network governance model based on local wisdom to operationalize people with disabilities, but the operationalization of social services is still far from being prosperous. The research aims to evaluate the effectiveness of network governance-based disability social service policies. The method used is qualitative with a sociological approach through interview techniques with social service officials, cross-sector field officials, and people with disabilities and families who receive benefits. The research results show that there is a structural disconnect between the idealism of macro regulation and the operational reality on the ground. Even though this program was successful in mobilizing network governance involving 18 facilitators to reach 100 beneficiaries, its sustainability system was paralyzed due to drastic regional budget cuts from 15 districts to only 4 districts in 2026. Yansos Jejama experienced a functional reduction because it was trapped in a short-term medical-charitative approach such as distributing basic necessities, medicines and assistive devices. The research conclusion is that seasonal material assistance fails to build the capacity for economic independence, but instead stigmatizes disability groups as objects of compensation. After the team's visit, people with disabilities still faced structural stigma, social exclusion and physical discrimination in society. This study contributes to deconstructing unilateral claims of administrative success, while emphasizing that the effectiveness of public service governance must touch on the deconstruction of cultural stigma at the micro-interactional level of society.Keywords: Policy Evaluation, Yansos Jejama, Social Welfare, Persons with Disabilities, East Lampung. Network Governance. 
Muakhi as a Relational Resource in House-of-Worship Disputes: Anjau Silau and FKUB Mediation in Bandar Lampung Zarkasi, Ahmad; Salim, Luthfi; Rosana, Ellya
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v7i2.9932

Abstract

Disputes over houses of worship in Indonesia are often treated as regulatory problems, although their development also reflects unequal majority–minority relations, contested building use, local opposition, and limited communication. This article examines how muakhi, a Lampung conception of brotherhood or socially constituted kinship, was interpreted and translated into anjau silau, a relational practice of visiting and dialogue, in the GKKD and GPIN disputes in Bandar Lampung. It also examines how the Forum for Religious Harmony (FKUB) connected these culturally grounded practices with formal mediation. The study employed a qualitative multiple-case design based on interviews with 11 purposively selected informants and relevant case documents. Within-case and cross-case thematic analyses were used to compare the disputes’ trajectories, cultural interpretations, communication practices, mediation processes, and immediate arrangements. The findings show that participants associated muakhi with brotherhood, mutual recognition, visiting, listening, and deliberation rather than with a single formal customary procedure. Its most observable enactment in the two cases was anjau silau. However, the documented visits occurred primarily after tensions had emerged and were perceived as helping reopen communication and limit further escalation rather than preventing the original disputes. FKUB connected these relational practices with multiparty meetings and administrative negotiations. Mediation produced a temporary worship arrangement in the GPIN case, whereas the available evidence does not establish a conclusive settlement in the GKKD case. The findings suggest that muakhi can provide a culturally intelligible relational resource for mediation when its application remains inclusive, consistent with religious rights, and connected to transparent institutional procedures.