Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Between Tradition and Digitalisation: Negotiated Mediation in Early Childhood Parenting Among Kiai Families in Sumenep Indonesia Aziz, Thorik; Mahmud Arif; Nurjannah, Nurjannah
Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Islamic Early Childhood Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Education, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-athfal.2025.112-01

Abstract

Purpose – This study investigates how Kiai families in Sumenep, Madura, mediate digital technology in early childhood parenting through value-based filtering grounded in Islamic traditions.Design/methods/approach –  An ethnographic study with phenomenological sensitivity was conducted over four months. Data were collected through participatory observation of five kiai families and in-depth interviews with ten key informants (five kiai and five nyai). Thematic analysis was employed, involving open coding, axial coding, and interpretive synthesis to identify patterns of technology negotiation.Findings – Kiai families predominantly refused children's ownership of personal digital devices, prioritising direct parent-child interaction and physical play. Technology access was filtered through religious considerations, with children exposed only to pre-selected Islamic content under strict parental supervision. However, enforcement remained inconsistent due to practical constraints, and indirect exposure through extended family networks produced observable behavioural changes, including adoption of digital expressions, reduced participation in religious routines, and shifts from active to passive play. Nyai reported greater stress in managing boundary violations, revealing gendered dimensions of mediation labour. Interpretations of problematic change were contested across kiai, nyai, and non-kiai informants.Research implications/limitations – This study demonstrates that resistance to digital parenting reflects value-based negotiation rather than technological illiteracy, challenging dominant digital parenting frameworks widely used in scholarship worldwide. By introducing negotiated mediation, the study extends parental mediation theory by foregrounding religious authority and culturally embedded conceptions of childhood as analytically significant. Limitations include the small sample size, cultural specificity of the pesantren context in Sumenep, the four-month observation period, and potential researcher bias. Findings may not be directly transferable to other religious or non-religious settings.Practical implications – Community-based digital parenting programmes should integrate religious perspectives and involve local religious leaders to increase acceptance. Educational interventions must balance digital literacy with the preservation of community values rather than imposing universal models. Originality/value – This study introduces negotiated mediation as an analytical framework explaining how religious authority shapes parental responses to digitalisation through dialectical processes between Islamic values and technological realities. It addresses a gap in the digital parenting literature by foregrounding perspectives from a religiously conservative community, thereby challenging urban-centric and secular assumptions in existing research.Paper type Research paper
Implementasi Pendekatan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam pada Mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Sunan Kalijaga Eni Wahyuliani; Mahmud Arif; Nur Saidah; Fanida Susilowardani
Journal of Islamic Education and Learning Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Islamic Education and Learning
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syrari’ah Daru ‘Ulum (STSDU) Lampung Timur.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63761/jiel.v5i2.169

Abstract

Perkembangan pendidikan tinggi pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut proses pembelajaran yang adaptif, humanis, dan mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik mahasiswa. Secara ideal (das sollen), pembelajaran di perguruan tinggi keislaman diarahkan untuk mengembangkan potensi mahasiswa secara optimal sesuai dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajarnya. Namun, pada praktiknya (das sein), pembelajaran mata kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) pada mahasiswa berlatar belakang sains masih cenderung menggunakan pendekatan konvensional yang kurang responsif terhadap perbedaan karakteristik belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendekatan pembelajaran berdiferensiasi serta persepsi dan pengalaman belajar mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Sunan Kalijaga pada mata kuliah SPI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang didukung data kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert, observasi, dan dokumentasi terhadap 24 mahasiswa. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa nilai rata-rata (mean) dan disajikan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 4,12, mencakup diferensiasi konten, proses, dan produk. Persepsi dan pengalaman belajar mahasiswa juga berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 4,08. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memberikan kontribusi positif terhadap keterlibatan, pemahaman, serta pengalaman belajar mahasiswa dalam mata kuliah SPI.
Integrasi Asbab Al-Nuzul, Muhkam Mutasyabih, dan Nilai Pendidikan dalam Pengembangan Tafsir Tarbawi Royhan Ikhwan; Ru'uliyanah Sabrianti; Mahmud Arif; Jauhar Hatta
Journal Review of Islamic and Social Studies Vol. 1 No. 2 (2025): Journal Review of Islamic and Social Studies
Publisher : Atha Publishing Globalindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64845/riss.v1i2.100

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai teks-teks ethico-legal dan hirarki nilai Abdullah Saeed dalam menafsirkan teks ethico legal. Makalah ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan literatur buku Interpreting The Qur’an: Towards a Contemporary Approach karya Abdullah Saeed. Teks ethico-legal meliputi teks perintah hukum, hukuman terhadap kejahatan, sistem keyakinan, praktik ibadah, dan nilai-nilai universal (kulliyat al khams) seperti pemeliharaan agama, akal, jiwa, keturunan dan harta. Menginterpretasikan teks ethico-legal menurut Abdullah Saeed adalah hal sulit karena membutuhkan konsiderasi tidak hanya aspek linguistik teks tetapi juga dimensi sosio-historis. Dimana interpretasi sosio-historis sekaligus bisa menyingkap dimensi etis teks. Muatan etis seringkali diabaikan oleh mufasir dan orientasi hukum lebih mendominasi penafsiran mereka. Teks atau ayat dipahami secara harfiah terlepas dari pesan normatif-etis ayat. Teks hukum dalam Al-Qur’an disampaikan secara tidak terperinci, kecuali yang berkaitan dengan ayat-ayat ibadah. Untuk membantu menginterpretasikan teks ethico-legal, Saeed merumuskan apa yang dinamakan dengan hirarki nilai yang meliputi nilai-nilai fundamental (obligatory values), nilai-nilai fundamental (fundamental values), nilai-nilai perlindungan (protectional values), nilai-nilai implementasi (implementation values) dan nilai-nilai instruksional (instructional values).
Pendidikan Islam Berdasarkan Al-Qur’an: Kajian Perspektif Pendidikan Atas Q.S. Al-Mumtahanah Ayat 8-9 Ru'uliyanah Sabrianti; Royhan Ikhwan; Mahmud Arif; Jauhar Hatta
Journal Review of Islamic and Social Studies Vol. 1 No. 2 (2025): Journal Review of Islamic and Social Studies
Publisher : Atha Publishing Globalindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64845/riss.v1i2.103

Abstract

Makalah ini mengkaji nilai-nilai pendidikan Islam dalam Q.S. Al-Mumtahannah ayat 8–9 melalui pendekatan studi kepustakaan. Ayat tersebut memberikan pedoman etis mengenai hubungan sosial antara Muslim dan non-Muslim, terutama terkait prinsip toleransi, keadilan, kewaspadaan, dan keteguhan iman. Ayat ke-8 menegaskan anjuran untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada pihak yang tidak memusuhi umat Islam, sementara ayat ke-9 memberikan batasan agar tidak menjalin loyalitas dengan pihak yang memerangi atau menindas umat Islam. Melalui analisis konseptual, historis, dan tafsir, makalah ini menunjukkan bahwa kedua ayat ini relevan dalam menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer, termasuk isu moderasi beragama, keragaman sosial, dan penguatan karakter. Temuan penelitian menegaskan bahwa integrasi nilai toleransi, keadilan, dan kewaspadaan iman dapat memperkuat tujuan pendidikan Islam dalam membentuk peserta didik yang moderat, berakhlak mulia, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat multicultural.
KONSEP DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM : HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN KEPERIBADIAN MUSLIM DAN IMPLIKASINYA (PENDIDIKAN AGAMA DAN TANTANGAN GLOBALISASI) Hilmi Asrori; Mahmud Arif
TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol 8 No 01 (2026): Juni
Publisher : STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70281/pkfdma37

Abstract

Artikel ini membahas permasalahan mendasar terkait hakikat pendidikan karakter dalam perspektif filsafat pendidikan Islam mampu membentuk kepribadian Muslim yang tangguh serta relevansinya terhadap pendidikan agama di tengah tantangan globalisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan konsep dasar filsafat pendidikan Islam dalam membangun karakter, menjelaskan proses pembentukan kepribadian Muslim yang berakar pada nilai-nilai Islam, serta menganalisis implikasinya terhadap praktik pendidikan agama saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu menggunakan buku, jurnal serta literatur keislaman dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya berfungsi sebagai pembentukan moral, tetapi juga sebagai proses integral yang melibatkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial yang terarah pada pembentukan insan kamil. Pendidikan agama yang berlandaskan filsafat Islam terbukti relevan dalam menjawab krisis identitas dan dekadensi moral akibat arus globalisasi, serta menjadi fondasi strategis dalam menciptakan generasi Muslim yang berkepribadian luhur dan adaptif terhadap perubahan zaman.  
A comparative analysis of the education systems in Brunei Darussalam and Indonesia: Curriculum, Islamic education, and character development Dinna Nurul Izza Arofah; Mahmud Arif; Hajah Rafidah binti Haji Abdullah
Edulab : Majalah Ilmiah Laboratorium Pendidikan Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Laboratorium Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Colaboration with Persatuan Pranata Laboratorium Pendidikan Indonesia Tingkat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/edulab.2026.111.07

Abstract

Purpose - This study aims to comparatively analyze the education systems of Brunei Darussalam and Indonesia by examining educational governance, curriculum reform, Islamic education, and character development within the context of Muslim-majority countries. Design/methods/approach - This study employed a qualitative library research design using a comparative document analysis approach. Data were collected from 27 documentary sources, including academic books, peer-reviewed journal articles, government regulations, curriculum documents, and official institutional publications. The data were analyzed through qualitative content analysis involving document selection, thematic coding, cross-country comparison, and interpretative analysis. Findings - The findings reveal that Brunei Darussalam adopts a centralized education system in which educational governance, SPN21, Islamic education, and character development are systematically integrated through the philosophy of Melayu Islam Beraja (MIB). In contrast, Indonesia implements a decentralized education system that promotes institutional diversity through the Merdeka Curriculum, multiple pathways of Islamic education, and the Pancasila Student Profile. Although the two countries employ different governance and curriculum models, both successfully integrate Islamic values with twenty-first-century competencies to develop academically competent, morally responsible, and religiously grounded graduates. Research implication/limitation - The findings highlight that educational governance significantly influences curriculum implementation, the institutional integration of Islamic education, and character development. The study provides comparative insights that may inform educational reform and policy development in Muslim-majority countries. Originality/value - This study offers an integrated comparative perspective by demonstrating how educational governance shapes curriculum reform, Islamic education, and character development in two Muslim-majority education systems.
Tantangan Akidah Islam dalam Masyarakat Multikultural: Isu Pluralisme, Sinkretisme, dan Relativisme Kebenaran Nafi Lutfi 'Ulia Ristiana; Febri Amin Nurrohman; Mahmud Arif
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v8i1.30130

Abstract

Abstract; This article examines the challenges of the Islamic faith in the context of multicultural societies in the modern era by highlighting three main issues, namely theological pluralism, cultural syncretism, and relativism of truth. The development of an increasingly open society, supported by advances in digital technology, has accelerated interfaith and cultural interactions, while presenting complex theological problems for Muslims. Through a qualitative approach based on literature studies, this article analyzes various theoretical studies and cutting-edge research that addresses these dynamics. The results of the study show that the challenge of faith is not solely born from social diversity, but from the weakening of theological literacy and the shift of religious authority in the digital public space. This article argues that strengthening the Islamic faith in a multicultural society requires epistemological clarity, contextual da'wah, and the active involvement of scholars and academics in building authoritative and inclusive religious understanding. Keywords: Islamic creed; Multiculturalism; Syncretism; Theological pluralism; Truth relativism.   Abstrak; Artikel ini mengkaji tantangan akidah Islam dalam konteks masyarakat multikultural pada era modern dengan menyoroti tiga isu utama, yaitu pluralisme teologis, sinkretisme budaya, dan relativisme kebenaran. Perkembangan masyarakat yang semakin terbuka, ditopang oleh kemajuan teknologi digital, telah mempercepat interaksi lintas agama dan budaya, sekaligus menghadirkan problem teologis yang kompleks bagi umat Islam. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, artikel ini menganalisis berbagai kajian teoretis dan penelitian mutakhir yang membahas dinamika tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan akidah tidak semata-mata lahir dari keberagaman sosial, melainkan dari melemahnya literasi teologis dan pergeseran otoritas keagamaan di ruang publik digital. Artikel ini berargumen bahwa penguatan akidah Islam di masyarakat multikultural menuntut kejelasan epistemologis, dakwah kontekstual, serta keterlibatan aktif ulama dan akademisi dalam membangun pemahaman keagamaan yang otoritatif dan inklusif. Kata Kunci: Akidah Islam; Multikulturalisme; Pluralisme teologis; Relativisme kebenaran; Sinkretisme.
TUNTUTAN DAN PENGEMBANGAN STUDI ISLAM DI PERGURUAN TINGGI Indah Maysela Azzahra; Mahmud Arif
At Turots: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 Juni (2021): At Turots: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51468/jpi.v3i1.57

Abstract

Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan dan mengetahui makna studi Islam di perguruan tinggi, untuk menjelaskan dan mengetahui tuntutan studi Islam di perguruan tinggi, dan untuk menjelaskan dan mengetahui pengembangan studi Islam di perguruan tinggi. Metode penelitian ini digolongkan ke dalam jenis penelitian studi pustaka atau literature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang paling kompleks dalam memberikan studi islam bagi masyarakat khususnya pada mahasiswa yaitu perguruan tinggi islam, seperti UIN/ IAIN/STAIN/STAIS. Setiap fakultas dan jurusan yang ada diperguruan ke-Islaman ini sudah menerapkan kajian-kajian ke-Islaman di samping dari mata kuliah wajib program studi. Pengenalan atau orientasi studi keislaman di perguruan tinggi Indonesia tidak hanya sebatas di negara Indonesia saja tetapi juga meneliti pada dunia Timur dan Barat. Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji islam pada perguruan tinggi di Indonesia yaitu menggunakan lebih dari satu pendekatan yaitu menggunakan berbagai pendekatan seperti normative, historis, sosiologis, empiris, filosofis, Integratif, Interkonektif, fenomenologis, dan tipologis
IKHLAS SEBAGAI FONDASI AKHLAK KEPADA ALLAH: TINJAUAN KONSEPTUAL, AKTUALISASI, DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERILAKU KEAGAMAAN DI ERA MODERN Aufa Fatchia Rahma; Mahmud Arif
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.54749

Abstract

This study examines the concept of sincerity (ikhlas) as a fundamental dimension of moral conduct toward Allah SWT (akhlak terhadap Allah) in Islamic teachings, along with its actualization in contemporary life. The urgency of this research arises from the increasing tendency of religious activities to shift from genuine devotion toward self-promotion, particularly under the influence of digital media and modernization. This study employs a qualitative approach through library research, analyzing primary and secondary sources including Quranic verses, classical scholarly works, and contemporary academic journals. The findings reveal three main dimensions: first, conceptually, ikhlas is understood as the purification of intention exclusively for Allah, constituting the spiritual foundation that determines the acceptance of deeds; scholars such as Al-Ghazali, Al-Qusyairi, and Muhammad Abduh emphasize that ikhlas encompasses not merely outward action but the orientation of the heart, existing in three hierarchical levels: awam, khawas, and khawasul khawas. Second, in terms of actualization, ikhlas manifests across multiple life domains including personal worship, social relations, education, and professional conduct, transforming ordinary activities into acts of devotion when grounded in sincere intention. Third, regarding influencing factors, internal dimensions such as the condition of the heart and depth of faith, alongside external dimensions including social environment and digital technology, significantly shape the quality of one's sincerity; in the modern era, social media poses a particular challenge by potentially displacing sincere intention with the pursuit of public validation. These findings underscore that ikhlas is not a static state but a dynamic spiritual process requiring continuous cultivation through self-reflection, supplication, and disciplined spiritual practice.