Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengembangan UMKM Melalui Optimalisasi Branding dan Penggunaan Media Digital di Desa Sindangbarang, Kabupaten Cilacap Lutfiyani, Intan Qori; Hastadi, Andre Yasip; Wahyuningsih, Fetri; Wahyuni, Ane Tika; Fauzi, Ghizela Fineartha; Nurfaizah, Ani; Mustofa, Mustofa; Rohimah, Titi; Yanuar, Rahmat
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4240.127 KB) | DOI: 10.29244/pim.4.1.70-84

Abstract

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak bulan Maret 2020 telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan di masyarakat, termasuk aspek ekonomi. UMKM menjadi salah satu sektor yang paling berdampak akibat adanya pandemi Covid-19 ini. Dengan adanya pandemi dan pemberlakuan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat, menyebabkan produktivitas UMKM juga menurun sehingga berdampak pada penurunan pendapatan. Desa Sindangbarang merupakan sebuah desa inovatif dan potensial untuk pengembangan UMKM yang berada di Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap. Terdapat tiga UMKM potensial di Desa Sindangbarang diantaranya HI Binamitra Perkasa produsen minyak kelapa murni atau VCO (Virgin Coconut Oil), UMKM Keripik Pisang, dan UMKM Pisang Asap. Namun, potensi yang dimiliki belum dioptimalkan dengan baik dan masih terdapat berbagai permasalahan yang terjadi pada UMKM antara lain: 1) Kurangnya akses pasar; 2) Pemasaran masih secara konvensional; 3) Kemasan yang sederhana; 4) Belum memiliki brand; 5) tidak memiliki catatan keuangan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman pelaku UMKM terhadap pentingnya brand sebuah produk dan penggunaan media digital dalam pengembangan usaha. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat disusun tujuan yaitu: 1) Melakukan analisis potensi dan kendala UMKM dilihat dari lingkungan bisnis internal dan eksternalnya; dan 2) Optimalisasi branding dan pencatatan keuangan UMKM dengan mengadakan pelatihan dan pendampingan. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2021. Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan berupa analisis SWOT terhadap UMKM mitra, kegiatan mentoring, kegiatan pendampingan branding produk, pembuatan poster dan promosi online, serta pelatihan pencatatan keuangan digital. Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan dalam pengembangan UMKM terbukti bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan UMKM mitra.
Dampak Kemitraan Closed Loop Terhadap Pendapatan Dan Efisiensi Usahatani Cabai Yanuar, S.P, M.Si, Rahmat; Rachmaniah, Muthia; Yanuar, Rahmat; Tinaprilla, Netti; Rachmania, Meuthia; Harti, Heri
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 10 No. 1 (2022): Juni 2022 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2022.10.1.180-199

Abstract

Jawa Barat menjadi sentra komoditas cabai di Indonesia dengan urutan kedua penghasil cabai terbanyak Indonesia tahun 2020 sebanyak 14,32% dari produksi cabai nasional , tepat dibawah Jawa timur dengan produksi 28,28% dari produksi cabai nasional. Kemitraan adalah bentuk kerjasama yang bermanfaat bagi pihak yang telah bersepakat, biasanya kemitraan dibentuk dan dilakukan antara pihak yang telah bersepakat dan telah diikat oleh suatu perjanjian, SOP ataupun kontrak. Tujuan penelitian ini adalah apakah ada dampak kemitraan closed loop terhadap pendapatan petani cabai kemitraan dengan petani non mitra di Kabupaten Garut dan Sukabumi? Analisis data yang dilakukan meliputi metode analisis data kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif pada analisis keragaan usahatani. metode analisis kuantitatif menggunakan analisis pendapatan usahatani, analisis perbandingan penerimaan dan biaya (R/C Ratio)dan analisis uji beda untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani komoditas cabai petani mitra dan non mitra di Kabupaten Garut dan Sukabumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keuntungan usahatani cabai petani closed loop lebih menguntungkan (Rp 89 889 654/ha/musim dengan R/C=2.06). Walaupun produktivitas dan kualitas cabai yang dihasilkan oleh petani closed loop (8.691 ton/ha) relatif sama dengan petani non closed loop (8.491 ton/ha) namun terlihat bahwa harga yang diterima petani closed loop lebih tinggi (Rp 15 457/kg) dibandingkan dengan harga yang diterima oleh petani non closed loop (Rp 11 998/kg).
Willingness to Pay Generasi Muda terhadap Sayuran Organik di Wilayah Bogor dan Tasikmalaya Hasanah, Siti Nuriyah; Yanuar, Rahmat
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol. 12 No. 1 (2024): Juni 2024 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2024.12.1.175-189

Abstract

Generasi muda menjadi generasi yang memiliki awareness terhadap lingkungan dan kesehatan. Generasi ini cenderung memilih makanan yang bersih, organik, dan alami. Sayuran organik merupakan produk dengan tingkat konsumsi tertinggi diantara produk pertanian organik lainnya. Sayuran organik umumnya memiliki harga yang lebih mahal, namun diduga dapat memberikan manfaat lebih bagi kesehatan dibandingkan sayuran non organik. Tujuan penelitian yaitu (1) mengidentifikasi persepsi generasi muda terhadap sayuran organik dibandingkan sayuran non organik, (2) mengestimasi nilai willingness to pay (WTP) sayuran organik, dan (3) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi WTP. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online pada akhir Februari hingga awal Mei 2023. Jumlah responden sebanyak 200 responden yang tersebar di wilayah Bogor dan Tasikmalaya. Analisis data pada penelitian meliputi analisis faktor, contingent valuation method (CVM), dan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan (1) persepsi generasi muda terhadap sayuran organik meliputi persepsi kualitas sayuran organik, persepsi manfaat sayuran organik bagi lingkungan, persepsi kepercayaan terhadap sayuran organik, dan persepsi manfaat sayuran organik bagi kesehatan. (2) Sebagian besar responden (86%) menyatakan bersedia untuk membayar sayuran organik dengan harga lebih tinggi dan nilai WTP Bogor lebih rendah dibandingkan nilai WTP Tasikmalaya. (3) Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kesediaan responden membayar lebih yaitu persepsi kepercayaan terhadap sayuran organik dan persepsi manfaat sayuran organik bagi kesehatan.